Membaca Cerita Tia Yuliantari

Alfred Tuname

 

“There are three rules to writing a good story.

The trouble is no one knows what they are”

-Roland Fishman, penulis Creative Wisdom for Writers

(Sebuah Perspektif Sosiologi)

Membaca cerita-cerita pendek bagi kebanyakan orang adalah aktivitas yang sangat menyenangan. Membaca cerita pendek (cerpen) tidak membutuhkan kuantifikasi waktu yang cukup panjang, hanya sekali duduk. Hanya dalam beberapa menit saja orang dapat memahami dan penemukan jouissance dalam cerita. Alur cerita yang baik dan tekanan-tekanan dalam cerita membuat pembaca cerpen menikmati bacaannya.

Seperti membaca cerpen lain, penulis juga menikmati cerpen yang ditulis Tia Yuliantari. Membaca cerita Tia Yuliantri adalah membaca sastra. Membaca sastra berarti memahami realitas sosial yang terkait dengan realitas penulis sebab ia memberi pentunjuk akan sesuatu keadaan/realitas (Sansekerta, sas berarti mengarahkan, memberi petunjuk; tra berarti alat untuk).  Karya sastra adalah refleksi dan cemin sosial; sebuah refleksi atau cemin kehidupan masyarakat pada suatu tempt, waktu dan masa di mana pengarang itu menulis dan “membacanya”.

(artikel: http://baltyra.com/2010/10/11/seorang-perempuan-dan-kabut/)

Rene Wellek dan Austin Warren dalam bukunya Theory of Literature menulis bahwa “literature is a social institution, using as its medium language, a social creation”. Melalui bahasa, pengarang merekam “kehidupan”. Dalam bahasa itu pula sastra disampaikan kepada masyarakat sekaligus refleksi kehidupan masyarakat. Dikatakan refleksi sebab hasil imaginasi dan ciptaan pengarang atas amatannya. Sebuah dunia berada dalam pikiran penulis. Oleh sebab itu, karya sastra (cerpen) kadang boleh disebut sebagai mimesis realitas kehidupan riil.  Realitas sosial yang dimaksud adalah realitas masyarakat Manggarai, Ruteng, tempat pengarang itu bersosialisasi.

Pengarang, Tia Yuliantari, adalah juga bagian dari masyarakat Ruteng, Kabupaten Manggarai. Ia dibesarkan dengan adat-istiadat budaya Jawa. Lalu ia menikah dengan Maksimus Ambor, seorang pria dari kebudayaan yang sangat berbeda dengannya, budaya Manggarai. Sistem perkawinan Manggarai yang patriarkat membuat Tia Yuliantari harus mengikuti suaminya dan berdomisili di Ruteng, Manggarai, Flores, NTT. Di Ruteng, ia banyak menghasilkan cerpen hasil cengkramanya dengan realitas sosial Manggarai. Dengan menulis cerpen, ia sedang mengendapkan nilai-nilai budaya ke dalam dirinya sendiri. Ia menulis sekaligus mempelajari budaya, budaya Manggarai.

Di tengah budaya Manggarai yang lebih lekat dengan oralitas (oral literature-sastra lisan), Tia Yuliantari mengekstraksinya lewat budaya menulis, literal. Sekaligus, ia menulis budaya dalam cerpennya. Karena yang ditulis adalah budaya Manggarai, orang Manggarai yang membacanya turut memberikan apresiasi atas tulisan-tulisannya. Bahkah bukan saja orang Manggarai, tetapi semua orang yang ingin mengenal nilai dan budaya Manggarai.   Inilah yang dimaksudkan Wellek dan Warren dalam Theory of Literature, “(poet himself) is a member of society, possessed of a specific social status: he (she-red) receives some degree of social recognition and reward…” Dengan cerpen, pengarang memperkenalkan nilai budaya di selip imaginasi dan cerita.

Cerpen Tia Yuliantari memang belum ditemukan di media cetak, hanya ada di media online (www.facebook.com/tia.yuliantari dan baltyra.com/tag/anastasia-yuliantari sepengetahuan penulis). Tetapi media online ini membantu sebaran cerpen kepada pembaca. Dan pengarang telah menyerahkan sepenuhnya karyanya itu kepada pembaca. Melalui media ini, pembaca memberikan apresiasi kepada pengarang.

Apresiasi itu muncul bersifat langsung melalui komentar-komentar dalam media online di mana cerpen itu di-posting-kan. Apresiasinya sangat beragam dan sangat bergantung pada pemahaman dan minat pembaca atas cerpen yang dibaca. Cerpen Tia Yuliantari mendapat apresiasi selain karena gramatika dan keindahan diksi tetapi juga cerpen itu bermanfaat. Atau meminjam kata Horatio, dulce et utile. Itu berarti cerpen yang ditulis Tia Yuliantari merupakan susastra (sastra yang baik).

(artikel: http://baltyra.com/2010/06/28/spider-web-of-manggarai/)

Tentu saja, harapan pembaca (penulis) cerpen-cerpen Tia Yuliantari dapat dibaca dalam lembar-lembar teks (buku). Dengan lembar-lembar tersebut, karya sastra (cerpen) dapat mencapai  publik pembaca yang lebih luas. Sebab bagaimana pun masih banyak pembaca yang lebih menikmati dengan membaca buku (sastra). Semoga ada pihak yang mampu membuka jalan untuk merealisasi harapan ini suatu saat nanti. Akhirnya, kepada pengarang, teruslah menulis, teruslah berkarya. Seorang pengarang (cerpen) biasanya merasa senang berada di gurun kepengaran sehingga terus mengelitik kehausan untuk menulis dan menulis terus. Vita brevis ars longa!!!

 

Djogja, 27 Maret 2011

Alfred Tuname

 

37 Comments to "Membaca Cerita Tia Yuliantari"

  1. nevergiveupyo  1 April, 2011 at 19:16

    wah..kirain membaca tia yuliantari…ternyata cerita2nya yang dibaca ya….

    ini nih…contoh kepompong yg telah sukses menjadi kupu2… cantik binti ciamik mbak cerita2nya…
    bung alfret tks ya….

  2. Anastasia Yuliantari  31 March, 2011 at 09:56

    Yu Lani: nek gosong dipepe, njur digoreng campuri uyah…..(intip maksude) Hhehehehe.

  3. Lani  31 March, 2011 at 08:16

    AY : ya gitulah kakang Anuuuuuuuu tercinta…..jare mmg hrsnya mlumah-mengkurep dadi ora gosong ngono……….kkkkkk

  4. Lani  31 March, 2011 at 08:11

    akiiiiiiii………walah dalah kedisik-an iki aku………..wakakakak…….sampai krompyangan krn kebetulan lagek masak

  5. Lani  31 March, 2011 at 08:10

    ROSDA : mlumah = telentang
    umbah-umbah = cuci, cuci mencuci…..

    jd dua kata itu berbeda arti nya…….

    AY, aku bantuin ngejawab pertanyaan ROSDA

  6. J C  31 March, 2011 at 08:10

    Rosda: mlumah = telentang, umbah-umbah = cuci-cuci… karena kebetulan berirama saja itu belakangnya…pak Hand memang kreatip…huahahaha…

  7. Rosda  31 March, 2011 at 08:02

    Hidup Mbak Tiaaaa…!!
    Sekalian mau nanyak iki……..mlumah…..umbah-umbah…apa artinya ??…Kayaknya aku keseringan nanyak nihh…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.