Senja di Chao Phraya (13)

Endah Raharjo

 

Bab 3: Menghalau Mendung Langit Jogja (4)

Laras mengemasi dokumen dan menutup laptopnya. Mega sudah menunggu di teras kantor. Sebagai relawan yang bertugas mengkoordinir para relawan dengan jam kerja fleksibel ia bisa datang dan pulang sesuai keperluan, kecuali bila ada rapat staf atau koordinasi dengan timnya.

“Nin, tolong buatkan jadwal meeting dengan Mbak Rika minggu ini ya. Untuk diskusi proposal EU. Saya yang menyesuaikan. Makasih, ya. Pulang dulu. Bye!” Laras berpesan pada sekretaris kantor yang merangkap sebagai humas. Di LSM kecil seperti kantor Laras, siapa saja harus mau melakukan apa saja. Tugas Laras tidak banyak, namun ia sering membantu Rika, direkturnya, menyusun proposal, menemaninya menemui mitra-mitra kerja dan presentasi di kantor-kantor pemerintah.

Melihat ibunya melangkah keluar, Mega beranjak dari duduknya, melangkah menuju mobil yang terpakir di pinggir jalan. Satu-satunya mobil keluarga itu dipakai berdua, bergantian. Angka memakai sepeda motor, termasuk di saat hujan. Bila Mega sedang berkejaran dengan banyak urusan, Laras menyerahkan mobil pada anak sulungnya itu, sementara dirinya diantar-jemput.

Siapa yang datang atau selesai duluan, ia yang menunggu. Cara ini mereka tempuh agar hemat, namun ada hikmahnya karena ibu dan anak jadi punya lebih banyak waktu bersama. Justru di dalam kendaraan itu mereka sering membahas hal-hal penting yang mereka alami sehari-hari.

Bersyukur atas dua anaknya yang jarang mengeluh sudah jadi ritual yang dilakukan Laras  begitu pagi datang. Sembari membuka jendela kamar, berbarengan dengan udara segar yang  berebut masuk ke kamarnya, rangkaian doa ia kirimkan lewat langit ke istana Sang Pencipta. Hidup, betapapun beratnya perlu disyukuri dan dirayakan setiap hari.

Bersyukur atas kemudahan dan kenikmatan serta bersabar menyikapi dan mengatasi kesulitan menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit takut yang sesekali menyerangnya. Bersyukur dan bersabar, sikap batin yang ringan di mulut namun berat untuk dikerjakan.

“Tampang Mama serius banget!”

“Oh, ya?” Laras terkekeh, menertawai diri yang sejak pagi begitu serius memikirkan berbagai hal.

“Eyang gimana, Ma?” Mega ingin segera mengetahui hasil pembicaraan Mama dengan kakek-neneknya.

“Mereka bisa mengerti. Namanya juga orang tua. Biar kita udah tua, masih dianggap anak terus. ”

“Jangan-jangan Mama juga begitu sama kami,” ledek Mega.

“Doakan saja Mama nggak begitu. Tapi nggak ada salahnya juga asal nggak kelewatan. Eyang cuma khawatir saja kok, demi kebaikan Mama juga.”

“Mega ingin tahu apa kata Eyang, Ma.”

Laras menoleh, memandang anak sulungnya yang sudah dewasa, yang selama ini menjadi sahabatnya. “Mau tahu semuanya?”

“Ya, dong, Ma!”

“Soal foto-foto itu. Mereka tadinya mengira foto-foto kayak yaaa…, yang kayak gitu itu lhooo…!”

“Haaa?” Mega menoleh sekilas dan mereka tergelak membayangkan foto-foto cabul yang banyak terpampang di internet. “Yaaah…, Eyang ada-ada aja!”

“Mereka kan nggak pernah pakai internet, cuma sering dengar berita dari sana-sini aja,” ujar Laras. “Apalagi Tante Sofi ceritanya ke Eyang heboh sekali. Rupanya dia juga udah cerita sama semua orang,” Laras mendengus. “Biar aja orang mau ngomong apa. Yang penting Eyang dan kalian udah ngerti.” Suara Laras melembut, sorot matanya membelai wajah anaknya dengan penuh cinta. Mega bisa merasakan cinta itu lewat getar halus yang mengelus hatinya.

Cinta seorang ibu pada anaknya sering tak terucap namun mewujud dalam gerak-laku keseharian, bahkan menghiasi tiap helaan nafasnya. Bagi Mega, selama lima tahun terakhir ibunya adalah jangkar sekaligus nakhoda keluarga. Ia rela terhempas karang agar bahtera mereka tak terombang-ambing air pasang kehidupan. Ia harus jeli melihat datangnya awan hitam pembawa badai yang mengancam; sigap menyusur dahsyatnya gelombang agar bahtera tidak tenggelam.

Meskipun ia tak pernah mengeluh kesepian, Mega tahu kalau sang ibu sesekali rindu akan kehadiran sosok lelaki. Mega juga tahu kalau ibunya berusaha mengabaikan perasaannya itu demi anak-anaknya. Bagai kapten kapal, ibunya rela berkorban, siap tenggelam, demi keselamatan para penumpang.

Namun kini Mega sudah cukup dewasa, cukup kuat membantu ibunya menjaga kemudi di saat sang ibu melempar jangkar. Mungkin tak lama lagi Angka segera fasih mengembangkan dan menggulung layar. Sudah saatnya mereka bahu-membahu mengurangi beban sang bunda, bukan hanya menjadi penumpang saja.

Ibu dan anak saling diam di dalam mobil kecil yang membawa mereka pulang. Laras menikmati suara Phil Collins yang melantunkan lagu ‘Another Day in Paradise’ sementara Mega memikirkan ibunya sambil mengemudi pelan-pelan di kepadatan Jalan Kaliurang.

“Mama belum bicara banyak pada Eyang tentang Osken,” Laras membuka kembali pembicaraan, “Mama punya hak untuk memilih pasangan hidup, tapi mereka tetap orang tua yang tidak akan Mama langkahi. Mama tidak mau menyakiti hati mereka. Eyang berdua juga udah berjanji tidak akan mempersulit apapun, yang penting semua jelas. Mama tidak akan berpikir jauh, dulu, Mega.” Ia berhenti sebentar, melihat reaksi Mega, “Kamu dan Angka tidak keberatan kan kalau Mama berteman?”

Mega terdiam sebentar sebelum menjawab. Ia tahu yang dimaksud ibunya, namun ia ingin memastikan. “Berteman dengan siapa? Osken?”

“Ya. Osken.”

“Maksud Mama hanya berteman?” Mega memberi tekanan pada kata ‘hanya’.

“Ya. Berteman dulu meskipun yang Mama rasakan lebih dari itu.”

“Maksudnya yang Osken dan Mama sama-sama rasakan?” Kini Mega memberi tekanan pada kata ‘sama-sama’.

“Ya. Kira-kira seperti itu.” Laras malu-malu, tertawa pelan.

“Ma, Mega udah dewasa. Mama tidak perlu beat around the bush, ya….” Dengan gaya bercanda Mega meminta ibunya untuk berterus terang.

“Ya. Mama hanya…,” Laras berhenti sebentar,  “Mama hanya nggak mau membuat semua berantakan.”

“Apanya yang berantakan?”

“Hubungan kita, Mega. Hubungan Mama dengan kamu dan Angka. Hubungan Mama dengan Eyang berdua.” Ia serius sekali dengan kata-katanya. “Mama mencintai Osken. Osken mencintai Mama. Itu benar. Kalian juga mencintai Mama dan Mama mencintai kalian. Osken itu hanya satu orang, sedangkan kalian paling tidak ada empat orang.”

“Tapi ini bukan matematika, Ma,” sergah Mega.

“Justru karena ini bukan matematika, Mega. Justru itu. Mama tidak ingin menukar yang satu dengan yang lain, meskipun Mama tetap harus berhitung. Semua harus dipertimbangkan dengan masak. Seandainya kehadiran Osken akan menjauhkan Mama dari kalian….”

Mega mengurangi laju kendaraan.

“Maaf. Seharusnya kita tidak bicara di jalan,” ucap Laras menengok ke kanan dan ke kiri.

“Tidak ada yang harus dipertukarkan, Ma. Kami akan mengerti. Aku dan Angka akan mengerti.” Mega ingin ibunya berhenti mengkhawatirkannya. “Mungkin Angka perlu waktu. Tapi dia akan mengerti.”

Cepat-cepat Laras mengalihkan pandangan ke kanan. Meskipun ia tak mampu melihat isi hati dan kepala anaknya, suara Mega yang bergetar sudah membuktikan bahwa kata-katanya tak perlu diragukan. “Terima kasih, Mega,” ucapnya sederhana namun keluar dari dasar jiwa.

Di batas langit, Puncak Merapi tertutup mendung tebal, yang terlihat hanya kakinya di belakang atap-atap bangunan. Dengan sang bunda duduk di sampingnya sebagai penumpang, Mega mengendarai mobil lurus ke utara. Pulang.

***

Seperti biasa, selepas makan malam, suasana rumah kecil berpenghuni tiga orang itu hening. Mega dan Angka berada di kamar, ada saja yang mereka kerjakan. Laras di meja kerjanya, di sudut ruang kelaurga, asyik menulis atau membaca. Hanya sesekali saja mereka menyalakan TV, itupun lebih sering untuk nonton film dari dvd. Namun malam ini Mega duduk di kursi ibunya.

Ia asyik berbincang dalam bahasa Inggris dengan seseorang di depan laptop. Sesekali terdengar gelak tawa karena Osken mengajaknya bercanda. Tak jauh dari Mega duduk, Laras memandang wajah anak perempuannya, mencoba mencari sesuatu yang tak tampak di sana. Ia ingin memastikan bahwa semua baik-baik saja, bahwa anaknya tidak sedang bersandiwara.

Ia tak ingin mengalami persitiwa seperti yang menimpa temannya. Sebelum menikah kembali, sahabatnya semasa SMA itu tidak menghiraukan keberatan tiga anaknya. Ia pindah dari rumah, mengikuti suami barunya. Meskipun anak-anaknya tetap menerima nafkah, namun hubungan mereka retak. Hanya beberapa tahun setelah pernikahan terjadi, ia tak kuat menahan beban perasaan yang terus menghantui. Hatinya terbelah antara anak-anak dan suami yang bukan ayah mereka. Pernikahan itu kandas dengan meninggalkan begitu banyak hati yang luka. Kini temannya itu berusaha keras merekatkan lagi serpihan-serpihan cinta tiga anaknya yang terserak.

Jalan hidup tiap manusia berbeda, justru karena itu Laras ingin berhati-hati. Ia tak mau tersesat hanya karena mau cepat, lalu menempuh jalan pintas yang tak tercantum di peta. Di usianya kini, dengan tanggung jawab dua anak yang beranjak dewasa, ia tak ingin menuruti hasrat petualangannya. Cukup pekerjaannya yang memberinya kesempatan berpetualang kesana-kemari, tak perlu mencoba mempertaruhkan keselamatan keluarganya demi petualangan pribadi. Tanpa suami, ia bahagia dengan dua anaknya. Bila menikah lagi, ia ingin kehadiran sang suami akan memperindah hidupnya dan dua anaknya, bukan sebaliknya.

*****

 

24 Comments to "Senja di Chao Phraya (13)"

  1. Lani  2 April, 2011 at 07:26

    DA…mbok ngaku saja……..km seneng ada yg ngintili….ono kancane drpd sendirian………rak sah selak/menolak ya

  2. Dewi Aichi  2 April, 2011 at 07:17

    Lani ha ha ha…aku iso ngakak kepuyuh puyuh ki, kowe ngintili aku, edyannnnn…ngakak nganti kram wetengku. Untung ra gek meteng, iso keguguran tenan nek ngene iki.

  3. Lani  2 April, 2011 at 07:13

    DA menghanyutkan???? emank dikau sampai kinthir kemana????????? hahahah

  4. Dewi Aichi  2 April, 2011 at 07:12

    Serial baltyra, ceritanya semakin menghanyutkan..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.