Hari Penyiaran Nasional

Handoko Widagdo – Solo

 

Hari ini (1 April), 78 tahun yang lalu lahirlah sebuah siaran radio yang dipelopori oleh anak negeri di Surakarta. Solosche Radio Vereniging (SRV) adalah siaran radio pertama di Indonesia yang didirikan bukan oleh orang Belanda. Adalah K.G.P.A.A Mangkunegoro VII dan Insinyur Sarsito Mangunkusumo yang berhasil mewujudkan SRV itu.

Memang SRV bukanlah siaran radio pertama di Hindia Belanda. Sebab, sebelum itu sudah lahir beberapa siaran radio di Hindia Belanda. Di Jakarta lahir Bataviase Radio Vereniging (BRV) pada tanggal 16 Juni 1925. Berdirinya BRV ini diikuti dengan berdirinya siaran radio di berbagai kota, seperti Bandung, Medan, Semarang dan Jogjakarta. Namun harus dicatat bahwa SRV adalah siaran radio yang berbeda warna.

SRV berawal dari siaran radio amatir oleh Perkoempoelan Kerawitan Mardi Raras Mangkoenegaran dari halaman Puri Mangkunegaran Surakarta. Siaran radio dengan kode PK2MN ini secara sporadis menyiarkan gamelan yang ditabuh di halaman Mangkunegaran, kethoprak dan wayang orang dari Taman Partini (sekarang menjadi Taman Balekambang). Karena siarannya bersifat amatir dan tidak bisa berjalan rutin, maka atas titah Sri Paduka Mangkunegoro VII dibentuklah SRV.

Gedung SRV (sekarang gedung RRI Surakarta) berdiri di jalan Marconi di atas tanah hadiah dari Sri Paduka Mangkunegoro VII. Gedung SRV diresmikan oleh putri SPMN VII yang bernama Goesti Siti Noeroel Kamaril Ngarasati Koesoema Wardhani, yang juga adalah seorang penari, pada tanggal 29 Agustus 1936.

Peran SRV sebagai siaran ketimuran (radio anak negeri) mulai terlihat saat berhadapan dengan dominasi siaran radio yang direstui oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Nederlandsch Indische Radio Omroep Masstchapyj (NIROM). Selanjutnya NIROM memonopoli per-radio-an di Hindia Belanda. SRV mengorganisir radio-radio yang didirikan oleh anak negeri supaya tetap tegak.

Adalah Ir. Sarsito Mangunkusumo (yang saat itu adalah ketua SRV) bersama Mr Sutardjo Kartohadikoesoemo yang menginisiasi pertemuan antar penyelenggara siaran radio ketimuran. Melalui pertemuan Bandung pada tanggal 29 Maret 1937 berdirilah Perikatan Perkoempoelan Radio Ketimoeran (PPRK). Melalui organisasi inilah para pegiat siaran radio ketimuran bernegosiasi dengan pihak Hindia Belanda.

Pada masa penjajahan Jepang, SRV (yang namanya diubah oleh Jepang menjadi Solo Hoso Kyoku) harus tunduk kepada kebijakan Jepang untuk mempropagandakan Jepang. Namun, kesempatan ini justru diambil oleh SRV, dengan pimpinan Maladi, untuk mengobarkan rasa kebangsaan.

Pelarangan penyiaran lagu-lagu barat, diganti dengan lagu-lagu Indonesia yang bernuansa perjuangan. SRV pun memulai siarannya dengan gending Puspawarna dan mengakhiri siaran dengan Ayak-ayakan Kaloran yang penuh semangat. Karena siaran yang dianggap menyimpang, Maladi sampai harus dipanggil oleh Pemerintah Jepang untuk mempertanggung-jawabkan siaran SRV tersebut.

Peran SRV pada hari kemerdekaan memang tidak sebesar radio di Jakarta. SRV tidak ikut menyiarkan pembacaan proklamasi. Peran SRV baru terlihat kembali saat Sekutu kembali ke Indonesia antara tahun 1946-1949. SRV berubah nama jadi RRI Surakarta sebagai konsekuensi berdirinya RRI pada tanggal 11 September 1945. Segera setelah Hoko Kyonsu Solo diserahkan kepada Maladi, Maladi memindahkan pusat siaran ke Tawangmangu.

Pemindahan pusat siaran ini bertujuan untuk menghindari direbutnya RRI Surakarta oleh Belanda. Benar saja pada tanggal 25 November 1945 RRI Surakarta dibom oleh tentara Inggris. Namun RRI Surakarta tetap bisa siaran karena semua pemancar telah dipindahkan ke Tawangmangu. Dari Tawangmangu RRI Surakarta menyiarkan berita-berita perlawanan rakyat Indonesia. Siaran ini ditangkap di luar negeri, seperti Singapore, India, bahkan dikutip oleh Voice of America.

Melihat peran Solosche Radio Vereniging (SRV), layaklah kalau masyarakat Solo mengusulkan hari lahir SRV sebagai Hari Penyiaran Nasional.


(dirangkum dari berbagai sumber)

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

90 Comments to "Hari Penyiaran Nasional"

  1. Handoko Widagdo  4 April, 2011 at 07:59

    Mbakyu Clara, maturnuwun sanget kersa mampir wonten dhasaran kula saha ngicipi siaran radio mangkunegaran. Mugi para wasesa ing Jakarta saget mikiraken supados punapa ingkang dados krenteging wargo Solo saget kalaksanan

  2. Lani  4 April, 2011 at 01:40

    JENG CLARA halaaaaah kasih taunya mendadak dan dadag-an……..emank iso numpak becak soko KONA ke P’CIS wekekeke……..jelas aku kepingin ke LOURDES…….brp jauh dr MONTPELIER?

  3. Clara  4 April, 2011 at 01:14

    Lah Lance ikut jalan salib tiap Jumat , Aku mau ke Lourdes lagi kamis depan karo bojoku p.p. waé , biasa lah !Ayo melu ora ?, Ojo mentil waé mengko ora sido kumpul sapi karo boyo lho!!

  4. Lani  4 April, 2011 at 01:11

    JENG CLARA……wakakak……..dikau komentar disini……..membawa-bawa namaku……ya ginilah namanya sederek gemblunk………klu gak di senggol kangen ngono kkkkkkkk

  5. Clara  3 April, 2011 at 20:07

    Dimas Han matur nuwun undanganipun, menjadikan nostal.gila, karena dijaman asu ora enak, waktu saya masih kecil sekali, tapi masih ingat bertemu dengan beberapa tokoh almarhum yang Mas Han sebutkan,malah ada foto2nya (tetapi foto2nya ada di Indonesia!!) tetapi pada waktu bertemu beliau2 itu ya sudah boleh dibilang sudah sepuh2!!!Sejarah Penyiaran Nasional tsb sepantasnya diperingati karena termasuk peristiwa bersejarah ,tetapi kurang di-dengung2kan!!(memangnya lebah , Lha kok nantinya malah seperti Kanjeng ratu lebah Wilhelmina van Holland yang tidak berhenti mendengung dan mengentup!!)
    Untung pada waktu tahun2 tsb Nyai Loro Mentil von Kona belum mencongol , kalau tidak bisa2 adinda von Kona tsb mencalonkan diri jadi penyiar radio, bisa bubar kabeh, lha sing disiarké siaran wong gemblung sing gembèlengan!!
    Dimas Han, tak acungi jempol tangan & kakiku atas artikel ini yang menjadi bagian dari sejarah kita !!
    Maju terus , ojo mundur mengko kejegur ning Bengawan Solo!!
    Salam hangat dari Montpellier yang hawanya sering plin plan!!!

  6. Lani  2 April, 2011 at 11:59

    HAND lo, bukan misa ini cm ikut station of the cross masa lent tiap dino jum’at ngono………setelah rampung kmd dikasih makan malam…….

  7. Handoko Widagdo  2 April, 2011 at 09:29

    Selamat ke gereja Lani…awas kalau komune jangan cekikikan mikir mantili

  8. Lani  2 April, 2011 at 09:28

    AY…..pertanyaan mu kuwi patutnya ditujukan ke kang Anuuuuuuuu…….aku meh lungo gereja sediluk meneh yo……

    HAND betoooooooooool……….JC punya angels dayang2nya dirumah kita ini….

  9. Handoko Widagdo  2 April, 2011 at 09:21

    Kalau di holywood ada charlie angels, di Baltyra ada JC angels

  10. Anastasia Yuliantari  2 April, 2011 at 09:21

    Hahahhaa….Yu Lani……mentili sopo????? Hahhahahahaa.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.