The Royal Wedding (1): Nenek moyangmu itu lho, Wills…

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

Pengantar dari Penulis

Ini ada rangkaian tulisan serial untuk Baltyra sebanyak 17 seri. Mudah-mudahan layak untuk dibaca. Tanggal 29 April 2011 akan ada peristiwa yang menarik sorot mata dunia: The Royal Wedding Pangeran William dan Catherine Middleton.

Mengapa kita harus merayakan perkawinan itu? Ada beberapa alasan:

1. Inggris adalah negara adidaya dalam banyak hal bagi dunia dan umat manusia. Budaya, bahasa, pengaruh, ilmu pengetahuan dan kekuatan ekonomi yang mendunia dan membekas di banyak benak bangsa-bangsa di dunia.

2. Inggris memiliki banyak kaitan dengan bangsa Indonesia. Mungkin tidak berlebihan kita bisa mengatakan bahwa, pengaruh kerajaan Inggris menjadi bagian dari sejarah perjalanan panjang bangsa Indonesia.

3. Kita sudah lelah dengan berita menyedihkan tentang perang, krisis ekonomi, bencana dan malapetaka manusia. The Royal Wedding akan menjadi aose oksigen untuk kita bernafas sedikit dari kelelahan melihat dunia yang selalu dirundung nestapa.

Serial ini mungkin lebih baik muncul hanya pada hari Senin sampai Jumat dan berakhir jauh sebelum hari 29 April 2011. Yang terpenting serial ini sangat ringan dan pendek. Hanya sekedar menyadarkan bahwa pesta di London itu menggetarkan ingatan kita akan masa-masa lalu dan masa depan dari peranan imperium paling besar dan populer di jagat, Kerajaan Inggris, yang kelak akan dipimpin oleh Pangeran William.

Terima kasih.

 

The Royal Wedding (1)

Nenek moyangmu itu lho, Wills…

APA gunanya tulisan ini disajikan di Baltyra? Apalagi dikaitkan dengan The Royal Wedding Pangeran William dengan Catherine Middleton bulan depan, 29 April 2011. Apa untungnya juga buat kita? Pangeran berusia 29 tahun itu, toh bukan tokoh dikenal di Indonesia, apalagi sampai menjadi raja di negeri ini.

Serial bacaan sangat ringan ini ditulis hanya untuk bacaan sekelebat. Seringan-ringannya dibuat. Seenteng kita menyadari bahwa si mempelai pria punya banyak kaitan dengan perjalanan panjang dengan kita sebagai kumpulan orang yang berdiam di Nusantara. Tentu bukan sang pangeran pribadi, tetapi nenek moyangnya itu lho…

Mengapa kita bangga dan mati-matian ingin belajar dan menggunakan bahasa Inggris? Dari percakapan sehari-hari, menulis status di facebook, catatan, ungkapan atau makian. Kalau bisa kita pakai bahasa Inggris, biar dibilang keren. “Nih lho gue. Lho tuh siapa sih?” Ini semua karena nenek moyangnya Pangeran William yang hebat.

Ini sekedar contoh, betapa nenek moyang Pangeran William ketika berkuasa menjadi raja dan ratu Inggris, mengembangkan pengaruh kerajaannya ke setiap sudut bumi di masa silam, hingga bahasanya (juga budayanya) menjadi bahasa wajib bagi umat manusia. Bukan bahasa Prancis, Rusia, Arab, Jepang atau bahasa Betawi pinggiran.

Di daerah mana tidak ada jajahan Inggris? Hampir semua pojok di bumi ada koloni Inggris. Hingga muncul julukan “negeri ketika matahari tak pernah tenggelam”. Belum lagi makam tentara Inggris. Di Ambon, di Ancol, di Menteng Pulo, di Malvinas, di Australia, Birma, India bahkan sampai di Prancis ada makam tentara kerajaan dari nenek moyang Pangeran William. Tradisi mereka harus mengubur tentaranya di tempat mereka bertempur.

Berapa banyak nama tempat di bagian dunia yang diambil  dari nama nenek moyang Pangeran William? Di Kanada, Australia, Selandia, Singapura, Malaysia, Pasifik atau di Karibia seabrek nama propinsi, kota, pulau, teluk diambil dari nama nenek moyang William. Contoh yang dekat saja, kota Georgetown di Penang, yang jaraknya ratusan kilometer dari Medan, diambil untuk menghormati Raja George IV, embahnya William.

Di Indonesia, hmm…banyak pengaruh Inggris membekas dan menjadi bagian dari hidup orang Indonesia. Peristiwa heroik di Surabaya bulan November 1945, sebuah kisah pertempuran antara rakyat Surabaya dengan tentara Inggris, adalah contoh baik bahwa sepak terjang nenek moyangnya William menjadi bagian ingatan kolektif bangsa Indonesia.

Jangan percaya kalau Belanda pernah berkuasa penuh di Indonesia tanpa perlawanan dari kekuatan lain. Kerajaan Inggris juga ingin sekali menguasai pantai utara Jawa, terutama Banten dan Jayakarta. Nah, atas perintah mbah-mbahnya William dulu, diserbulah Jayakarta pada malam Natal 1618. Pertempuran yang berlangsung seru di sekitar Kali Baru dan Teluk Jakarta itu, memaksa, penguasa Belanda waktu Jan Pieterzoen Coen kabur ke Maluku mengumpulkan bantuan dan kembali lagi mengalahkan armada Inggris.

Waktu itu yang memimpin armadanya Thomas Dale. Andai saja (kalau pakai teori berandai-andai), jika Dale mengalahkan Coen, maka Indonesia (waktu itu bernama Hindia Belanda) menjadi negara jajahan Inggris atau anggota persemakmuran. Apa enaknya menjadi negara persemakmuran jajahan Inggris?

Paling tidak, akan ada orang Indonesia bisa memakai gelar ‘Sir’ di depan namanya, yang diberikan Ratu Inggris atas jasa untuk kemanusiaan dan untuk kerajaan Inggris. Seperti Sir Elton John, Sir Paul McCartney atau Sir Bob Geldoff. Hanya orang warga persemakmuran yang berhak memakai di depan namanya. Kalau dia bukan warga persemakmuran, gelar itu hanya diletakkan di belakang namanya.

Misalnya cendikiawan Islam dari Indonesia Azyumardi Azra, CBE sebagai orang Indonesia pertama mendapat gelar kebangsawanan dari Ratu Inggris, berupa ‘Commander of the Order of the British Empire’ (CBE). Azra juga berhak dimakamkan di tanah Inggris. Gelar kebangsawan dari Inggris sangat presitisius bagi seseorang, karena bagitu hebatnya wibawa dan digdayaan kerajaan Inggris, yang nanti akan dipimpin Pangeran William.

Sejak Raja Egbert diakui sebagai raja pertama Inggris di tahun 770 silam, maka Pangeran William akan meneruskannya menjadi orang ke 65 yang memimpin tahta sebuah kerajaan yang turun menurun selama lebih seribu tahun tanpa terputus! Lengkap dengan beban sejarah dipundaknya yang begitu berat atas perjalanan umat manusia di muka bumi, yang pernah dipengaruhi oleh kerajaan Inggris. Tentu juga harta warisan trilyunan rupiah berupa aset kerajaan yang otomatis menjadi miliknya.

Rangkaian peristiwa pengaruh kerajaan Inggris yang begitu besar di dunia dan juga di Indonesia, terlalu sayang untuk dilewatkan. Apalagi kelak Pangeran William akan menjadi raja Inggris di abad modern ini. Untuk itu Baltyra menuliskannya secara serial untuk merayakan pernikahan The Royal Wedding Pangeran William dengan Catherine Middleton. Mohon Doa Restu, bunyi kalimat di pesta perkawinan di kampung-kampung. Selamat datang Raja William V. (tulisan bagian 2, Gara-Gara Bumbu Dapur Bikin Hancur)


 

 

 

 

84 Comments to "The Royal Wedding (1): Nenek moyangmu itu lho, Wills…"

  1. Lani  4 April, 2011 at 02:03

    ISK wakakak…..o gitu toh? pengantin baru gak duwe CD……ngirit to hahahah…….makane kado minyak kayu putih plg passssss………krn anti masuk angin krn angine mbrobossssssss

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  3 April, 2011 at 17:23

    Mon, belum denger tuh kabar spt itu. Lagian mau jadi istri pangeran paling nggak ada kaitan keturunanan dengan kerajaan. Jarang mereka kawin dengan seorang biasa, a commoner.

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  3 April, 2011 at 17:21

    Terima kasih Mita. Terima kasih juga atas kliknya di FB.

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  3 April, 2011 at 17:20

    Biasa aja lah Aichi tulisan beginian. Cuma nyari celah aja agar tidak sama dengan yang lain dan menghindari informasi yang sama dengan internet. Kalau sama, ya bacanya aja di internet, lebih banyak dan bejibun… Makanya dibuat beda… Gimana kabar di sana?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *