Kisah Sultan & Sadath Safir di Negeri Banyak Pulau

Cechgentong

 

Perut Puteri Liong Tien makin besar seperti seorang wanita yang sedang hamil. Sementara Raja Campa sudah tidak dapat menahan malu karena Sang Puteri telah mengandung hampir 7 bulan tapi tidak bersuami. Akhirnya kesombongan Raja Campapun mulai luntur dan ini dikarenakan pengakuannya atas kelebihan ilmu Sultan yang berdasarkan kekuatan Ilahi.

Akhirnya Raja Campa memanggil Puteri Liong Tien untuk membicarakan langkah apa yang harus dilakukan untuk menutup malu tersebut. Raja mengatakan kepada Puteri Liong Tien bahwa sebaiknya Puteri Liong Tien pergi ke Negeri Banyak Pulau dimana Sultan tinggal. Di samping itu Sultan telah berpesan apabila usia kandungan Puteri telah sampai 7 bulan maka sebaiknya Puteri menyusul dirinya. Lagipula Sultan juag mengatakan kalau Sultan akan bertanggungjawab atas diri Puteri dan anak yang dikandungnya karena anak itu memang anak kandung Sultan.

Setelah mempertimbangkan masak-masak maka Puteri Liong Tien dan beberapa kerabat kerajaan Campa berangkat ke Negeri asal Sultan. Banyak barang yang dibawa oleh Puteri atas permintaan Raja Campa agar Puterinya tidak sampai menderita nantinya dalam perjalanan. Perhiasan emas, perak, piring dan gelas keramik yang bernilai tinggi serta barang berharga lainnya dibawa dengan menggunakan kapal Kerajaan Campa.

Perjalanan dari Kerajaan Campa ke Negeri asal Sultan melalui Selat Malaka dan diperkirakan membutuhkan waktu hampir 2 bulan sehingga saat sampai di Negeri asal Sultan maka kandungan Puteri berumur 9 bulan dan sudah saatnya untuk melakukan persalinan.

Tetapi apa mau dikata? Allah berkehendak lain. Saat kapal kerajaan Campa mulai memasuki wilayah perairan Negeri Banyak Pulau, badai besar menghantam kapal kerajaan. Ombak besar telah menggulung kapal tersebut yang menyebabkan lambung kapal pecah berantakan. Seluruh isi kapal termasuk orang-orang di dalamnya terhempas di tengah laut. Untung bagi Sang Puteri dan beberapa orang yang selamat berhasil meraih onggokan kayu yang berasal dari bagian kapal yang pecah. Sang Puteri dan beberapa orang kerajaan mengapung di tengah laut yang dingin.

Di tempat yang lain, Sang Sultan sedang duduk santai di pendoponya. Tiba-tiba ada kekuatan yang luar biasa membisikkan sesuatu kepadanya. Kemudian Sultan memanggil salah seorang kepercayaannya. Sultan mengatakan kepada orang kepercayaannya tersebut agar besok setelah Subuh untuk pergi ke pinggir pantai sebelah barat kerajaan Sultan dan pandangi dengan tatapan siaga ke arah laut. Apabila terlihat sebuah onggokan kayu maka segeralah ke tengah laut untuk membawanya ke pantai. Sultan tidak menyebutkan ada apa dengan onggokan kayu tersebut.

Keesokan paginya setelah Subuh, kepercayaan Sultan sudah menunggu dengan siaganya di tepi laut. Tak ada kata lengah bagi orang kepercayaan Sultan. Terus mengamati garis pantai dengan teliti. Benar saja setelah menunggu hampir 2 jam, tampak onggokan kayu yang mengapung di tengah laut. Segeralah diambil perahu kayu dan didayungnya ke arah onggokan kayu di tengah laut.

Betapa terkejutnya, Orang kepercayaan Sultan setelah melihat beberapa manusia dalam kondisi lemas yang terus memegangi onggokan kayu tersebut. Yang membuatnya lebih terkejut adalah seorang wanita hamil besar yang masih bertahan hidup dan dalam keadaan sadar. Luar biasa, pikirnya. Ada 2 orang perempuan dan 3 orang laki-laki yang selamat. Dibawalah mereka satu per satu ke pinggir pantai karena keterbatasan daya tampung perahu yang hanya cukup untuk 2 orang. Alhamdulillah mereka selamat.

Berita penyelamatan ini terdengar sampai di telinga Sultan sehingga dipersiapkan langkah penyelamatan dan pengobatan bagi mereka yang terapung. Rupanya Sultan sudah mengetahui siapakah gerangan mereka. Memang sudah diperkirakan kalau mereka adalah Puteri Liong Tien dan sisa rombongannya yang selamat. Akhirnya mereka sehat kembali setelah dirawat beberapa hari.

Akhirnya Puteri Liong Tien bertemu kembali dengan Sultan. Menjelang kelahiran bayi yang dikandungnya maka Sultan menikah dengan Puteri Liong Tien dengan cara Islam agar kelak saat lahir sang bayi sudah mempunyai bapak. Beberapa minggu kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki yang diberi nama Arya Kemuning. Arya berarti orang yang dihormati atau gelar dan Kemuning mengandung makna kuningan/emas yang berasal dari cerita bokor emas yang disimpan di balik pakaian Puteri Liong Tien.

Tanpa terasa Arya Kemuning telah tumbuh menjadi dewasa. Sebagai keturunan kerajaan, Arya Kemuning sangat menguasai ilmu agama, bela diri, berkuda dan keahlian memanah. Dalam beberapa kesempatan Arya Kemuning sering mengajak ibunya jalan-jalan menyelusuri wilayah kesultanan. Selain jalan-jalan, Arya Kemuning juga melakukan acara berburu.

Pada suatu hari Arya Kemuning dan ibunya singgah di sebuah pondok untuk istirahat sejenak menghilangkan rasa penat setelah seharian penuh berburu di hutan. Baru saja akan memasuki pondok tersebut, Puteri Liong Tien merasa kaget karena di dalam pondok sudah ada seorang laki-laki tua berjubah putih sedang duduk berzikir.

Setelah berulang kali diperhatikan maka teriaklah Puteri Liong Tien. Teriakan itu menarik perhatian laki-laki tua tersebut. Laki-laki tua tersebut tampak tersenyum gembira dan Puteripun langsung memeluknya sambil mengucapkan rasa syukur. Rupanya Puteri Liong Tien bertemu dengan orang yang selama ini dicarinya. Ternyata laki-laki tua itu adalah Syekh Sadath Safir. Puteri bisa langsung mengenalinya berdasarkan ciri-ciri yang telah diberitahukan oleh Sultan, suaminya.

Syekh Sadath Safirpun langsung mengenali Puteri Liong Tien berdasarkan lukisan Puteri Liong Tien yang pernah dibuat oleh Sultan sewaktu dalam perjalanan pulang ke Negeri Banyak Pulau.

Pada saat Puteri Liong Tien berpegangan tangan dengan Syekh Sadth Safir yang uzur sebagai ungkapan kegembiraan yang teramat sangat dari Sang Puteri, tiba-tiba Arya Kemuning masuk ke dalam pondokan. Tanpa banyak tanya, Arya Kemuning langsung memarahi ibunya dan memaki-maki Syekh Sadath Safir yang dianggap telah melakukan perbuatan yang tidak pantas. Berdua-duaan sambil berpegangan tangan di dalam pondok dan bukan mahromnya. Sungguh perbuatan dosa pikir Arya Kemuning.

Arya Kemuning menarik tangan ibunya dan memukul Syekh Sadth Safir. Syekh Sadth Safir dapat mengelaknya dan bergerak menjauhi Arya Kemuning, Arya Kemuning tampak makin emosi melihat pukulannya berhasil dielak oleh Syekh Sadat Safir. Arya Kemuning kembali menyerang tapi dapat ditangkis dan dielak oleh Syekh Sadath Safir. Walaupun Syekh Sadath Safir sudah uzur tapi masih mampu menghadapi Arya Kemuning. Sampai pada waktu yang tepat, Syekh Sadath Safir dapat mematikan serangan Arya Kemuning. Arya Kemuningpun tersungkur tanpa daya, berusaha untuk bangkit tapi tenaga sudah habis dan pingsanlah Arya Kemuning.

Atas kejadian tersebut, Puteri Liong Tien meminta maaf atas perbuatan anaknya yang menyerang dan berkata tidak sopan kepada Syekh Sadath Safir. Selama ini Puteri Liong Tien dan Sultan tidak pernah menceritakan kepada Arya Kemuning tentang sosok Syekh Sadath Safir. Akibatnya terjadilah perasaan sak waksangka Arya Kemuning kepada Syekh Sadath Safir yang merupakan sahabat terdekat keluarga Sultan.

Syekh Sadath Safir memaafkan perbuatan Arya Kemuning disebabkan oleh ketidaktahuan Arya Kemuning dan meminta maaf kepada Puteri Liong Tien atas tindakannya yang membuat Arya Kemuning pingsan. Syekh Sadath Safir sungguh merasa malu karena sebagai orang tua sudah tidak sepantasnya meladeni jiwa muda Arya Kemuning dengan cara yang emosional. Tetapi nasi sudah menjadi bubur.

Kemudian Syekh Sadath Safir memberikan pengobatan kepada Arya Kemuning yang sedang pingsan. Selanjutnya Syekh Sadath Safir mengatakan kepada Puteri Liong Tien untuk pamit diri dan meninggalkan pondokannya yang telah lama ditempati sebagai ungkapan rasa malunya dan menghindari hal-hal bruk yang tidak diinginkan.

Berulang kali Puteri Liong Tien memohonnya untuk tidak pergi dan tetap tinggal di pondokan. Karena Puteri sangat mengerti akan pentingnya pondokan tersebut dan makin susah saja bisa bertemu dengan Syekh Sadath Safir yang sangat mumpuni ilmu agama Islam. Permintaan Puteri ditolak oleh Syekh Sadath Safir dang langsung menghilang di dalam kegelapan hutan meninggalkan Puteri Liong Tien dan anaknya beserta rombongan kesultanan.


Petilasan Syekh Abdul Muhyi (sodinco.blogspot.com) 

Sejak saat itu, Syekh Sadath Safir menghilang dan tidak diketahui keberadaannya, Beberapa kali Sultan memerintahkan anak buahnya untuk mencari Syekh Sadath Safir tapi selalu gagal. Rupanya Syekh Sadath Safir tinggal di sebuah hutan sebelah selatan kota Tasikmalaya dan mendirikan pondok pesantren disana dengan menggunakan nama baru agar tidak dikenali oleh orang-orang suruhab Sultan. Bersama muridnya Syekh Wali Abdullah, Syekh Sadath Safir menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di daerah tersebut. Nama Syekh Sadath Safir berganti nama menjadi Syekh Abdul Muhyi.


Suasana di Makam Eyang Wali Abdullah 

================================================================================

”Kalimat tauhid akan sulit hadir pada seorang individu yang belum ditalqin dengan zikir bersilsilah kepada Rasullullah oleh mursyidnya saat menghadapi sakaratul maut”.

15 Comments to "Kisah Sultan & Sadath Safir di Negeri Banyak Pulau"

  1. [email protected]  4 April, 2011 at 13:14

    kalo begitu…… err….. *makin gak ngerti*…..
    lanjut dulu deh ceritanyaaaaa

  2. Edy  4 April, 2011 at 11:12

    Syukron jazilla ya Cech atas tutur tinular nya.

  3. cechgentong  4 April, 2011 at 11:06

    Kornelya, tunggu aja cerita berikutnya

  4. cechgentong  4 April, 2011 at 11:05

    Pak DP, terima kasih koreksi dan pisang gorengnya

  5. cechgentong  4 April, 2011 at 11:04

    Lani, hadiahnya terima kasih atas kunjungan pertamanya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *