Persembahan

Odi Shalahuddin

 

Tubuh telanjang memanjang dalam pandang. Sinar rembulan malam ini, tergeragap dalam kantuknya. Mengintip dari dinding awan yang menghalangi cahayanya. Di danau, tubuh itu secara perlahan mulai bergerak menepi. Temaram, di tengah pergulatan malam, di sebuah danau, jauh dari desa.

Wajah menatap ke depan. Jejak kaki di dasar melangkah semakin menaik. Perlahan menyembulkan sosok tubuhnya. Dadanya terlihat. Menaik, perutnya terlihat. Menaik….. Menaik. hingga jejak kakinya benar-benar telah tiba di daratan. Lepas dari belaian air danau. Ia melangkah lurus. Perlahan. Kedua tangan di sisi kiri dan kanan, lurus ke bawah, lekat pada tubuhnya. Sekitar 50 meter dari bibir danau, ia berhenti, kemudian berbalik arah, memandang air danau yang muram kurang tertimpa cahaya.

Ia mengangkat kedua tangannya secara perlahan, dengan telapak menghadap bumi, membentang lurus ke samping. Berhenti, berlanjut lagi, hingga lurus ke atas. Ia balikkan telapak tangan hingga berhadapan, bersentuhan, menyatu.

Jemarinya terlihat bergerak perlahan, sesaat kemudian, menggerakkan tangan, menari, meliukkan tubuh, menyatukan diri dengan alam.  Memasukkan segenap unsur bumi ke dalam setiap tarikan nafasnya, yang terperangkap dalam gemulai jemari, seiring senandung semesta lirih berbalut luka. Setiap helaan nafasnya memuntahkan lahar beracun yang dihempaskan ke udara, menjulang tinggi, menembus atmosfer, mengangkasa, melayang-layang, mencari tempat bernaung.

Suara burung hantu. Suara burung gagak. Lolongan serigala. Memecah malam. Sempurna perpaduan membangun misteri dan aroma mistis.

Perempuan itu, masih menari. Meluruhkan segenap jiwa dalam aliran darah yang bergolak. Lentik jemari, gerak seluruh tubuh, bukan dari pikiran isi kepala. Ia ikuti, kemana mereka hendak menuju sebagai bagian-bagian yang merdeka.

”Itu menyekutukan Tuhan,” suara seseorang.

”Tidak berperikemanusiaan,” orang yang lain.

”Merugikan kaum perempuan. Mengapa mereka yang harus jadi korban,”

”Ini bukan jaman jahilliyah,”

”Jaman HP dan internet sudah masuk pelosok gunung, kok, mau kembali ke jaman primitif.”

Banyak sekali suara-suara yang hadir dalam pertemuan di desa itu. Membahas berbagai persoalan yang melanda dan tak pernah berkesudahan. Banjir, gempa, puting beliung, silih berganti. Pasti ada yang salah. Pasti ada yang bisa dilakukan untuk melakukan penebusan. Lantaran itulah, lahir usulan untuk membuat persembahan sebagaimana dilakukan oleh para leluhur. Semua orang menentang. Semua orang mencibir. Semua orang mentertawakan.

Hanya ada satu sosok yang memperhatikan secara seksama. Perempuan itu. Perempuan yang kini tengah telanjang di pinggiran danau.

Ia menjalani tradisi yang telah berpuluh tahun menghilang. Ia sendiri tidak pernah tahu, bagaimana upacara dilangsungkan. Ia hanya mengunjungi para orangtua, mendengar berbagai kisah, yang juga diturunkan dari kisah-kisah. Ia mencoba merangkai, memetakan, dan membangun imajinasi. Hingga terbentuk satu bangunan upacara yang akan dijalani sendiri. Diam-diam. Tak pernah ia menyampaikan niat ini kepada siapapun.

Kini, tengah malam memang telah lewat. Perempuan telanjang itu benar-benar sendiri. Ia memang telah mewujudkan niatnya. Niat untuk mengembalikan alam yang ramah kepada desanya. Ia rela mati untuk itu. Menjadi persembahan. Menjadi tumbal untuk kebaikan seluruh warga desa. Itulah. Itulah yang ada di pikirannya.

Sayang, senyap malam segera berubah. Obor-obor menyala dari berbagai sudut. Ratusan orang telah hadir dari berbagai balik rimbun pepohonan yang menghubungkan desa dengan danau ini.

”Ia menghidupkan kembali persekutuan dengan Syetan,”

”Musrik,”

”Menodai agama,”

”Kafir,”

Perempuan itu tetap menari. Merasakan dirinya bisa menyatu dengan alam semesta. Seakan tak mendengar dan menyaksikan orang-orang menenteng berbagai senjata yang semakin mendekat dengan berbagai umpatan.

(multiply.com)

 

Yogya. 09.02.11

 

33 Comments to "Persembahan"

  1. HN  4 April, 2011 at 06:42

    Lha kok fotonya gambar ini, Buto? hehehe. Gambar yang pernah bikin banyak orang pusing… gara2 putaran ke kiri dan ke kanan… hahahha

  2. Kornelya  2 April, 2011 at 23:16

    Wanita, dipuja, dilecehkan, dan disanjung. Ditunggu acara sesajenannya. Salam.

  3. Linda Cheang  2 April, 2011 at 22:56

    eh, ada hadiahnya, yah?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.