Belalang-belalang di Tengah Padang (3)

Cinde Laras

 

Bangku kosong di deretan paling depan itu mengingatkannya pada seseorang. Gadis manis bermata bulat dengan rambut berkuncir dua. Gadis cilik yang sedang tumbuh menjadi remaja. Harti rindu mendengar jawaban-jawaban cerdasnya, pada telunjuknya yang sering teracung ke atas saat ditanya, pada sapaan ramahnya setiap kali dia masuk kelas. Gadis belia yang sering membantunya membawa tumpukan buku PR ke kantor guru. Dipandanginya surat undangan sederhana berwarna biru yang baru saja diterimanya dari penjaga sekolah.

“Akan ada satu lagi murid Ibu yang akan menikah hari Minggu nanti…”, kabar penjaga sekolah itu. Harti terkesiap. Dan semakin terkejut ketika tahu Rukayah-lah yang akan dinikahkan dalam undangan itu. ‘Rukayah…, malang sekali nasibmu, Nak…’, batinnya. Air mata bening sempat menumpuk di sudut mata. Harti mengerjap, tak mau murid-muridnya melihat rasa sedihnya. Rukayah sudah tak tampak lagi di sekolah sejak hari itu.

Dan seperti yang sudah-sudah, Harti tak mampu berbuat apa-apa untuk mencegah adat kawin muda di desa  ini. Orang-orang tua itu sangatlah tidak sabarnya menunggu anak-anak mereka bertumbuh lebih lama menikmati kebebasan mereka menuntut ilmu di sekolah. Begitu haid pertama, mereka akan cepat-cepat mengawinkan anak perempuan mereka. Di kelas 6 ini, Rukayah punya prestasi sangat baik. Dia paling pintar dan selalu bersikap baik. Tapi perkawinan dini memang seringkali dijadikan solusi bagi keluarga miskin, 60% jumlahnya dari semua penduduk yang ada di desa ini. Harti sudah sering mendiskusikannya dengan Pak Lurah. Tapi tak ada tindakan nyata yang bisa diambil untuk menghilangkan kebiasaan mengawinkan anak-anak di bawah usia.

“Kalau Pak Lurah tak setuju anak saya kawin, apa Pak Lurah yakin bisa menjamin masa depan anak saya?  Apa Pak Lurah yang menjadi orangtuanya hingga Pak Lurah berani mengatur anak-anak kami?  Apa Pak Lurah yang memberi makan mereka? ”, protes seorang kepala keluarga yang ikut serta berembug dalam diskusi bersama perangkat desa. Yah…, bagaimana mungkin ajakan untuk tidak menikah di usia dini itu akan bersambut dengan penerimaan yang baik kalau bahkan banyak di antara para pegawai kelurahan pun masih menjalankan budaya yang sama?  Menikahkan anak-anak mereka di usia muda.

Itu sebabnya Harti ingin sekali bertemu dengan Rukayah siang nanti. Harti akan sengaja mampir ke sana untuk mencari tahu perasaan murid terkasihnya itu. Dia telah bersiap dengan sikap sinis orangtua Rukayah yang mungkin terlihat saat bertemu nanti. Itu sudah biasa. Di desa ini nama Harti sudah banyak dikenal orang sebagai penentang kawin muda usia. Menjadi orang dengan masa depan yang lebih baik adalah cita-cita yang ingin ditanamkannya dalam-dalam pada setiap hati murid perempuan. Meski tak semua setuju dengannya.

Dengan langkah pasti Harti menuju rumah Rukayah. Hanya setengah jam berjalan kaki sampai di sana. Mak Piah yang menyambut kedatangannya di muka rumahnya. Harti bersyukur ibu muridnya itu tak bersikap sinis seperti perkiraannya. Mak Piah malah berterima-kasih karena Harti sudi datang menengok anak perempuan ketiganya. Mak Piah memanggilkan Rukayah yang sedang sibuk menyetrika baju bapaknya. Itu sebagian tugas yang harus diselesaikannya selama tinggal bersama orangtua. Seperti semua anak yang lain yang sudah beranjak besar, dia juga harus ikut merawat rumah.

“Rukayah…, kemarilah…”, panggil ibunya di ruang depan. Rukayah berjalan mendekat, dan terkejut ketika melihat ibunya duduk berdampingan dengan Bu Guru Harti, orang yang paling dihormati.

“Bu Guru Harti ingin bertemu denganmu. Duduklah di sini…”, kata Mak Piah. Harti tersenyum melihat muridnya. Rukayah menyalami tangannya, lalu mengambil tempat duduk di sebelahnya. Mak Piah segera pamit ke belakang, dia ingin menyelesaikan memasak untuk makan siang.

“Apa kabarmu, Rukayah? ”, tanya Harti lembut. Rukayah memandanginya dengan mata berkaca-kaca. Tak perlu dijawab, Harti sudah tahu bagaimana hati murid terkasihnya itu.

“Tabahlah, Rukayah…. Kau tetap akan bisa belajar dari Ibu sampai kapanpun kau mau. Jangan menangis…”, ucapnya menghibur dengan nada sedikit tercekat. Dia terharu melihat sedihnya Rukayah yang tak berdaya melawan paksaan orangtuanya. Apa lacur?  Beginilah adat masyarakat yang ada….

“Bu Harti berjanji akan mengajariku banyak hal? ”, tanya gadis belia itu. Harti mengangguk. Tangannya kencang menggenggam kedua tangan Rukayah.

“Pasti, Rukayah…. Selama Ibu ada di desa ini, kamu bisa meminta Ibu mengajarimu apa saja, sejauh yang bisa Ibu ajarkan padamu. Masa depanmu masih panjang, Nak…”, hiburnya lagi. Rukayah menunduk, air mata bening mengalir membasahi pipinya yang ranum. Harti tak tega melihatnya. Diusapnya air mata muridnya itu dengan kedua tangan. ‘Jangan bersedih…. Jangan bersedih…’, mantra itu dibisikkannya dalam hati.

“Datanglah kapanpun kau siap. Ibu akan mengajarimu agar kamu bisa lulus ujian. Sekalipun kamu sudah tak lagi hadir di kelas, namamu belum akan Ibu coret dari daftar siswa. Biar Ibu yang bicara dengan membulat mendengarnya. ‘Benarkah?  Benarkan aku akan bisa lulus SD? ’, pikir Rukayah tak percaya.

“Tak perlu kamu kembalikan buku-buku pegangan itu. Datanglah ke rumah Ibu bila kamu kesulitan mengerjakan soal. Ibu akan berbagi soal ulangan kelas denganmu. Nilaimu akan Ibu masukkan dalam raport. Ibu benci bila murid terpandai Ibu tak bisa lulus karena alasan seperti yang kamu hadapi sekarang. Ibu harus berusaha agar kamu mendapat ijasah. Harus…”, ucapnya dengan bibir tergetar. Tiba-tiba saja semua orangtua yang telah berhasil memaksakan kehendak mereka pada anak-anak muridnya berubah menjadi seperti monster dalam bayangannya. Kejam….

“Rukayah akan belajar, Bu. Rukayah janji…”, timpal murid manisnya itu. Ada segunung kesungguhan dalam perkataannya, dan Harti yakin betul anak itu akan menepatinya.

“Datanglah tiap hari Minggu di rumah Ibu, Rukayah. Jangan kecewakan Ibu…”, pesannya. Gadis manis itu mengangguk.

Harti berpamitan setelah merasa cukup memberinya wejangan. Kawin bukan berarti akan hilang kesempatan menjadi lebih baik. Muridnya harus selesai sekolah. Setidaknya hal itu yang bisa dia lakukan. Rukayah mengantar kepergiannya dengan tatapan nanar. Harti menangkap bersit gelisah dalam hati gadis itu. ‘Jangan bersedih…. Jangan bersedih…’, bisiknya dalam hati. Harti tak mau membuang waktunya lebih lama lagi. Dia akan berkunjung ke rumah Pak Lurah lagi, hari ini!

Mak Piah mendekati Rukayah yang masih termangu di depan rumah. Dicoleknya bahu anak ketiganya itu.

“Ada urusan apa Bu Guru Harti datang mencarimu? ”, tanyanya penuh selidik.

“Tidak ada apa-apa, Mak. Bu Guru hanya minta agar Rukayah tidak lupa padanya. Bu Guru minta Rukayah sering main ke rumahnya. Itu saja…”, jawabnya berbohong.

“Sudah tidak jadi muridnya kok masih didatangi?  Nggak ada kerjaan, si Bu Guru Harti itu rupanya…”, celetuk Mak Piah. Rukayah enggan mendengarnya. Dia berbalik badan dan cepat-cepat masuk ke dalam….

*

“Sudahlah…. Tak akan ada yang bisa kita lakukan, Bu Harti…. Seperti yang sudah-sudah, adat desa ini masih dipegang teguh masyarakat. Justru sekarang tugas kita semua untuk membuat para orangtua itu terbuka matanya dengan memberi mereka pengertian. Bahwa masih ada masa depan lain bagi anak-anak mereka kecuali kawin di usia muda. Hhh…, saya mengerti kesedihan Bu Harti tentang murid terpandai itu. Tapi saya juga tak berani melarang. Bukan wilayah saya untuk melarang. Saya hanya bisa menghimbau agar hal itu tak akan pernah terjadi lagi di desa ini. Setidaknya selama saya menjabat Lurah di sini…”, kata Pak Lurah. Jawaban klise. Entah sudah berapa kali jawaban serupa didengarnya dari bibir para lurah desa ini. Para lurah…, karena ini adalah lurah kesekian yang menjabat di kantor desa ini. Lurah-lurah yang lalu juga menjawab dengan kalimat serupa tapi tak sama.

Harti merasa buntu. Harapan satu-satunya kini hanyalah bicara dengan calon suami Rukayah. Harti ingin tahu pendapatnya tentang pendidikan dan masa depan perempuan. Dengar-dengar, calon suami Rukayah sudah bekerja di kota. Penjaga sekolah yang bercerita padanya. Dunia ini memang sempit. Siapapun di desa ini saling mengenal dengan baik antara satu dengan yang lain. Bisa memahamikah calon suami Rukayah nanti?  Apakah dia juga akan memberikan kebebasan bagi Rukayah untuk menamatkan sekolah?  Hff…, Harti merasa PR yang dihadapinya sangat sulit terselesaikan seperti apa yang dia mau.

Harti terpaksa harus mulai bergerilya kini. Tak mungkin dia akan berpangku-tangan lagi menghadapi angkuhnya tembok kebiasaan masyarakat yang dengan alasan demi cepat mendapat jodoh, lalu anak-anak kencur mereka dikawinkan begitu saja. Seperti sapi. Harti berjanji akan menyediakan dirinya dan ilmu yang dimilikinya untuk menolong gadis itu. Tak peduli sebesar apa rintangan yang akan dihadapinya….

Rustam sampai di toko Babah Liem pukul 7 pagi itu. Gembok pintu toko masih terpasang. Rustam memutuskan untuk mengambilnya di rumah Babah Liem yang letaknya hanya di belakang ruko. Sebenarnya bisa saja Babah Liem tinggal di lantai atas ruko itu, tapi dia lebih suka meletakkan barang-barang dagangannya di sana. Praktis lantai 2 ruko itu hanya digunakan sebagai gudang. Rumah Babah Liem agak tersembunyi di gang samping toko, pintunya terbuat dari kayu jati tua dua pintu atas-bawah. Hanya pintu atasnya yang terbuka, selebihnya dikunci dari dalam. Pagi seperti ini biasanya Babah sudah bangun, bersiap untuk membuka pintu tokonya.

Rustam mengetuk pintu rumah itu tiga kali. Terdengar suara batuk kecil Babah Liem sebagai jawaban. Langkah Babah yang terseret terdengar nyaring bergaung di rumahnya yang memanjang seperti kereta. Kecil, tapi panjang. Bila orang hanya tahu rumah itu, mereka pasti tak akan mengira kalau Babah punya toko grosir besar di depan sana.

“Sebentar yaa…”, sahut Babah dari dalam. Sebenarnya bisa saja Rustam nyelonong masuk dengan membuka sendiri pintu bawah, tapi dia sungkan. Wajah Babah yang bulat semakin bundar dengan senyumnya yang selalu lebar.

“Haa…. Sudah datang yaa?  Ini kunci toko, dibuka dulu yaa? ”, kata Babah sambil mengambil segepok kunci pintu di saku celananya. Rustam menerima dengan tangan kanannya, lalu berbalik ke toko.  Gembok dan pintu berlapis dibukanya dengan hati-hati. Beberapa barang yang tersusun memenuhi toko diaturnya kembali, sebagian diletakkannya di teras agar tampak menarik. Sebentar lagi Babah Liem pasti akan segera menyusul. Pria Tionghoa tua itu tak pernah lupa memeriksa catatan pembukuan. Dia orang yang teliti.

Rustam mengeluarkan sepeda motor berbak persegi merek Samsan yang digunakan sebagai alat transportasi pengiriman barang. Ada tiga kendaraan yang sama yang digunakan untuk mengangkut barang ke toko-toko kecil langganan mereka. Rustam berharap hari ini pesanan barang yang datang akan lebih banyak lagi. Kalau kiriman barang banyak, artinya dia akan mendapat bonus upah lebih banyak lagi.

“Istrimu sudah hamil yaa? ”, tanya Babah Liem. Rustam nyengir.

“Belum, Bah…. Kasihan kalau hamil sekarang. Istri saya masih kecil…”, sahutnya enteng.

“Kecil-kecil sudah kamu kawin haa?  Kamu nggak mau rugi yaa? ”, tanya Babah Liem lagi. Rustam nyengir lagi.

“Saya kan dijodohkan sama dia, Bah…. Saya nggak berani menolak perintah Abah…”, tukasnya jujur, untuk kesekian kalinya.

“Alaa…. Kamunya juga mauuu aja. Kalo tidak mau kawin, jangan kawin haa…. Bikin pusiing…”, kata Babah Liem kocak sambil menepuk jidatnya. Rustam tertawa. Suasana toko berubah sibuk saat memasuki jam kerja kantor. Toko ini juga melayani permintaan pasokan barang dari beberapa koperasi dan kantin perusahaan yang banyak terdapat di sekitar toko. Rustam larut dalam kesibukan kerjanya mengantar barang hingga ke semua penjuru kota. Dan seusai maghrib barulah dia bisa bernapas lega, saat toko Babah Liem ditutup pemiliknya.

*

“Rukayaah…. Suamimu pulang itu!  Siapkan air untuk mandi dan makan untuknya…”, kata Mak Piah dari ruang tengah. Rukayah buru-buru bangun dari sajadah, melipat mukenanya, lalu cepat-cepat ke dapur. Begitulah kesehariannya sebagai istri Rustam. Menyiapkan air mandi, menyiapkan makanan, dan menemaninya tidur di kamar. Meski sampai saat ini mereka dirinya betul-betul hanya menemani, tak lebih. Rukayah bersyukur Rustam tak pernah memaksanya. Lelaki muda itu sangat santun. Sudah tujuh bulan sejak mereka menikah, dan hingga kini suaminya tak pernah sekalipun berbuat kasar. Kata-katanya halus dan sikapnya begitu baik.

Tak pernah Rukayah tahu, Rustam telah begitu kencang menggenggam keinginannya. Melihat perempuan itu tidur di sebelahnya, kadang terbersit nafsu melihat gunungan kecil di dada istrinya itu. Tapi Rustam tak ingin memaksa, meski seharusnya dia boleh meminta. Hanya saja, Rustam teringat sindiran Ponidi dan Kaspari yang juga sudah beristri. Keduanya tertawa sewaktu mereka tahu Rustam belum menyentuh istrinya.

“Jangan-jangan Rukayah suka dengan lelaki lain?  Kenapa setiap tidur harus memunggungi? ”,  kata Ponidi menghasut. Lelaki lain?  Hhmm….. Bisa jadi begitu. Bukankah selama ini perempuan itu juga begitu canggung di hadapannya. Seperti alergi bila bicara terlalu lama.

“Apa dia sering pergi sendiri? ”, tanya Kaspari tiba-tiba, membuat Rustam termenung. Beberapa minggu ini memang Rukayah sering berpamitan ingin berkunjung ke rumah Anjar. Tapi siapa juga yang tahu?  Rustam tak pernah benar-benar tahu kemana perempuan itu pergi. Ke tempat lelaki lain kah?  Gigi Rustam berkeriyut membayangkan. Sikap Rukayah yang menjaga jarak itu memang patut dicurigai. Istri-istri kedua temannya tidak bersikap sama. Lalu mengapa Rukayah begitu?  Rustam merasa buntu. Sudah sering kali dia mencoba memancing Rukayah bicara, tapi jawaban perempuan itu tak pernah membuat mereka makin akrab. Tidak menyakitkan, tapi tak akrab. Entah sampai kapan dia akan bertahan dengan sikap Rukayah….

Rukayah sudah berkunjung ke rumah Bu Guru Harti hingga 4 kali. Dia menemui Bu Guru tiap hari Minggu. Sesuai janji Bu Guru, Rukayah mendapat bekal pelajaran di sana. Biasanya dia akan pamit pada Rustam dengan alasan akan berkunjung ke rumah Anjar yang terletak di gang paling ujung dari desa ini. Rustam tak melarangnya. Itu juga yang sebelumnya Rukayah suka darinya, tak pernah melarang. Tapi hari Minggu terakhir kemarin Rustam tampak tak begitu senang dengan kepergiannya. Mukanya tampak masam. Dia bahkan tak menjawab saat Rukayah pamit padanya. Rukayah takut Rustam akan mengadu pada orang lain. Bakal celaka bila emaknya sampai mendengar keluhan suaminya. Keinginan yang besar memaksanya untuk bicara lebih banyak pada Rustam. Rukayah ingin bisa menyampaikan kegundahannya, dari hati ke hati….

“Kemana saja sebenarnya kamu pergi setiap Minggu? ”, tanya Rustam curiga saat berdua saja dengannya di dalam kamar. Nada bicaranya ketus. Matanya tajam menatap Rukayah yang terkaget-kaget mengetahui kalau ternyata suaminya pun bisa marah seperti ini. Dengan marah dipandanginya wajah perempuan belia itu. Matanya lalu tertumbuk pada gunungan kecil di dada istrinya, membuat jakunnya naik-turun. ‘Hhh…, aku ingin mendekapmu, Rukayah…’, derita hatinya. Rustam membuang pandangannya. Semakin lama dia menatap gunungan kecil itu, dia semakin tersiksa.

“Ak..aku…aku ke tempat Anjar, Kang…”, jawabnya berkilah.

“Kamu bohong! ”, kata Rustam dengan menuding.

“Ak…aku tidak bohong…. Sungguh…”, kilah Rukayah lagi.

“Kamu pikir aku mudah tertipu?  Aku sudah bertemu Anjar tadi pagi saat kamu pergi dari rumah. Anjar tidak pernah bertemu denganmu di rumahnya semenjak kita nikah. Kamu masih mengelak? ”, sudut Rustam.

Rukayah takut, dia sadar telah berbohong pada Rustam. Dan dia sadar telah melakukannya dengan sengaja. Tangan gadis itu gemetar. Dan air matanya tak terbendung menetes di pipi. Rustam benci melihatnya menangis. ‘Curang, kalau terdesak lalu menangis! ’, kesal hatinya bicara.

“Kamu masih tak mau menjawab? ”, tanya Rustam.

“Ak…aku…ke rumah Bu..Guru Har..ti…”, jawab Rukayah sesenggukan.

“Aku tak percaya kamu harus berbohong demi pergi ke rumah gurumu itu. Kamu pasti sudah mengarang cerita!”, tuduh Rustam kesal. Sudah banyak yang telah dibaginya dengan gadis itu. Gajinya, perhatiannya, dan meski benci – Rustam mengakui kalau dirinya cinta pada Rukayah. Rukayah menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah basah oleh air mata.

“Tidak, Kang….. Aku pergi ke rumah Bu Guru…. Aku belajar di sana…”, jawabnya berusaha meyakinkan. Rustam tak senang dibohongi.

“Kurang apa aku bersabar selama ini?  Aku sudah mengalah dengan mengiyakan perjodohan ini sejak dari mula. Iya…, aku memang suka padamu. Tapi aku tidak pernah bermimpi bakal menikah dengan cara begini. Aku mau berbagi upah kerjaku denganmu, tapi aku tak suka dibohongi! ”, akunya dengan gusar. Belajr dengan Bu Harti?  Huh, apa dia kira hanya dia saja yang ingin belajar? , keluh Rustam kesal dalam hati. Rustam berbalik badan dan bergegas keluar kamar. Mak Piah yang tak sengaja mendengar suara ribut di kamar Rukayah, sedang asyik menguping ketika pintu kamar itu tiba-tiba terbuka. Sejenak Rustam beradu pandang dengannya. Pemuda itu memiringkan badannya agar tak beradu dengan pundak mertuanya, dia lalu melenggang pergi. Mak Piah mengetuk pintu yang kini telah sepertiga terbuka….

“Rukayah…. Ada apa? ”, tanyanya cemas. Rukayah terduduk lesu di atas kasur, menangis.

*

Dengan wajah kusut Rustam menghadap abahnya. Lelaki paruh baya itu sedang asyik dengan kesibukannya memasukkan asam jawa ke dalam plastik pembungkus. Pak Mu’nim biasa menjual asam jawa ke pasar-pasar terdekat.

“Bah…, boleh aku bicara? ”, tanya Rustam. Pak Mu’nim menoleh, tak biasanya Rustam mampir sore-sore begini.

“Rus, dari mana? ”, dia balik bertanya.

“Dari rumah Rukayah, Bah. Aku tidak tahan, Bah. Aku mau cerai saja…”, kata Rustam tiba-tiba, memberondong seperti senapan. Pak Mu’nim terkejut. Tangannya yang sibuk memasukkan asam jawa ke dalam plastik itu langsung berhenti bekerja.

“Apa yang kamu maksud dengan cerai?! ”, hardiknya.

“Aku akan menceraikan Rukayah. Sepertinya lebih baik begitu. Aku tak tahan…”, ucapnya lelah. Ada pergulatan dalam batinnya, keinginan untuk menyentuh Rukayah….

Pak Mu’nim meletakkan plastik di tangannya ke atas meja. Dihampirinya Rustam yang sedang berdiri dengan napas memburu, lalu diajaknya lelaki muda itu duduk bersamanya.

“Kamu sudah menyentuh istrimu? ”, tanya Pak Mu’nim menyelidik. Rustam menggeleng. Pak Mu’nim menghela napas.

“Sudah setengah tahun lebih, dan kamu belum menafkahi istrimu…”, gumam Pak Mu’nim.

“Aku sudah menafkahinya, aku sudah memberikan separuh upah kerjaku padanya, Abah…”, jawab Rustam protes.

“Tapi kamu belum menyentuh istrimu. Kamu belum memberikan nafkah batin untuknya…”, kata Pak Mu’nim. Rustam nyengir dengan sinis, lalu menggerutu….

“Sepertinya dia belum butuh hal itu. Dia belum siap menerimaku…”, kata Rustam.

“Bagaimana kau tahu?  Kau belum pernah mencobanya…”, sindir Pak Mu’nim. Rustam cemberut.

“Seorang istri menolak disentuh di awal-awal pernikahan itu hal biasa, Rus. Suatu saat nanti pasti Rukayah akan menerimamu dengan sukarela. Kamu harus bersabar. Abah tak suka kamu bicara tentang perceraian. Itu hal yang dilaknat Allah. Apalagi cuma karena Rukayah belum bersedia kau sentuh. Itu tidak baik…”, Pak Mu’nim memberi wejangan.

“Abah tidak bisa merasakan….. Aku dipunggunginya saat tidur, dia tak suka bicara denganku. Hubungan ini mustahil, Bah. Aku memang suka dengan Rukayah, tapi sepertinya Rukayah tak suka padaku. Sebaiknya aku cerai saja…”, kata Rustam kesal. Pak Mu’nim bangkit dari duduknya lalu menepuk-nepuk pundak Rustam.

“Bersabarlah sedikit, Rus. Itu ujian untuk bisa menjadi suami yang baik. Banyak pengantin mengalami apa yang kamu alami. Jadi Abah pikir, hanya kesabaranmu yang akan membuat hidupmu lebih bahagia. Percayalah…… Nah, sekarang kamu pulanglah. Temani istrimu…”, pesannya. Pak Mu’nim lalu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Rustam yang termangu-mangu sendirian.

Kembali melihat perempuan itu dengan sikap kakunya, Rustam ingin sekali mendapati sikap manis darinya. Apakah itu keinginan yang sia-sia?  Tak pantaskah dia mendapat senyum penuh cinta dari Rukayah?  Seperti suami-istri lainnya……

 

9 Comments to "Belalang-belalang di Tengah Padang (3)"

  1. Cindelaras  6 April, 2011 at 08:37

    @Mbak Lani : Always No. 1

    @JC : Membuat cerbung lebih susah ternyata….. Apalagi novel ya ?

    @Linda : Bagi sebagian orang memang iya kalee ? Suka – kawin siri, gak suka – cerai siri. Ckckckck….

    @Oom DJ : Thanks, Oom. Masih panjang ini….

  2. Cindelaras  6 April, 2011 at 08:33

    RALAT : Ada yang kurang jelas nih. Ada yang hilang di alinea ke 4.
    Seharusnya tertulis….

    ” Yah…, bagaimana mungkin ajakan *untuk tidak* menikah di usia dini itu akan bersambut dengan penerimaan yang baik kalau bahkan banyak di antara para pegawai kelurahan pun masih menjalankan budaya yang sama? Menikahkan anak-anak mereka di usia muda.”

  3. [email protected]  5 April, 2011 at 10:09

    WAAAAH… kelewatan cerita yang ini… =)

    lanjuuuuuuuuuuuuuuuut

  4. Djoko Paisan  4 April, 2011 at 01:41

    Mbak C.L….
    Terimakasih untuk ceritanya…
    Dj. tunggu lanjutannya, semoga Rustam dan Rukayah bisa hidup dalam Damai.
    Karena mereka telah terlanjur dinikahkan, setidaknya mereka bisa menjalani hidup sebagia suami-istri yang baik. Bahkan Rukayah dan Rusta, ada kesempatan untzuk belajar.
    Salam manis dari Mainz…

  5. Lani  4 April, 2011 at 00:18

    akiiiiiiii buto bener komentarmu kuwi no 2 SAPI KALEEEEEEEEE……….sapi mah kapan saja gak kenal usia kawin sana sini………kkkkkkkk……..dolan? opo dolanan njur dadi anak??????? iki semangkin OOT……..

  6. nevergiveupyo  3 April, 2011 at 21:56

    Lha wong seharusnya masih dolan

    asal jangan kalau punya anak dianggep dolanan aja Oom But…

  7. Linda Cheang  3 April, 2011 at 19:34

    emangnya menikah dan kawin itu termasuk dolan, yah? aeh-aeh….

  8. J C  3 April, 2011 at 17:46

    Mbak Cinde, waduh…ini konflik mulai terbangun…si Rustam sudah mulai menunjukkan emosinya…

    Dan inilah cermin nyata kehidupan sebagian masyarakat Indonesia. Kawin muda dengan usia segitu, kestabilan emosi dan kematangan jiwa masih jauh sekali. Lha wong seharusnya masih dolan sana sini, kok dikawinkan… (sapi kaleeee… )

  9. Lani  3 April, 2011 at 11:16

    1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.