Gadis Peniup Harmonika

Bamby Cahyadi

 

Saat aku masih kecil, kalau tidak salah ingat, di depan rumah kami ada sebuah kuburan. Aku biasa bermain-main di atas kuburan yang terbuat dari keramik berwarna hitam legam itu. Atau terkadang hanya sekadar duduk-duduk di atas pusara kuburan itu sambil tiduran dinaungi rimbunnya daun-daun kamboja.

Aku tidak terlalu ingat betul, agak samar-samar, biasanya menjelang senja apabila aku masih bermain di atas kuburan itu, pasti aku ditemani oleh seorang anak gadis yang umurnya kira-kira samalah denganku. Gadis itu juga selalu duduk di atas pusara sambil meniup harmonika. Ia duduk samping-sampingan denganku. Dan dengan tekun ia meniup harmonikanya, mengalunkan lagu-lagu syahdu dan setidaknya membuatku ingin menangis.

(123rf.com)

Aku pernah bertanya padanya, kenapa ia selalu meniup harmonika dengan melantunkan nada-nada sendu? Tapi ia hanya tersenyum sedikit, memperlihatkan gigi-giginya yang kecil-kecil dan sebagian dari gigi geriginya hitam-hitam seperti kebanyakan makan permen.

Mungkin juga gadis itu bisu. Tak mampu mengucap sepatah kata pun. Mungkin saja. Tapi seingatku, kalau ia seumur denganku tentu kami belum terlalu fasih untuk berbicara sebagai anak kecil. Yang menjadi pertanyaanku, mengapa ia begitu piawai memainkan harmonika dengan melantunkan lagu-lagu sedih yang begitu mengiris kalbuku saat itu, sementara usia kami belum genap tiga tahun.

Aku juga tidak begitu ingat apabila kami berpisah. Ketika suara ibuku menggelegar memanggil namaku, tiba-tiba saja gadis itu sudah menghilang entah kemana. Tentu saja aku tak begitu peduli, bukan kah aku akan bertemu lagi dengannya esok menjelang senja setiap harinya.

Seingatku, gadis itu akhirnya menjadi teman baikku. Ia selalu menemani aku saat aku bermain-main di kuburan berkeramik hitam legam itu menjelang senja hingga ibuku memanggil aku untuk masuk ke rumah. Tentu saja setiap pertemuan senja dengannya ia memainkan harmonikanya dengan lagu-lagu sedih. Aku tak ingat betul lagu apa yang ia lantunkan lewat tiupan harmonikanya itu, tapi sungguh lagu-lagu itu membuatku selalu ingin menangis tersedu-sedu.

Makanya, setiap selesai bermain dengannya, aku langsung bergegas masuk ke dalam rumah dan langsung memeluk ibuku sambil menangis sejadi-jadinya. Ibuku tentu saja terheran-heran melihat kelakuanku. Untuk membujukku agar tak menangis ibuku menyiapkan makan malam yang selalu enak untuk kukunyah.

Semua yang kututurkan memang samar-samar dalam ingatanku. Karena aku masih sangat kecil untuk mengingat sesuatu di masa laluku.

***

Ayahku seorang tentara. Ia berpangkat perwira. Rumah yang kami tempati adalah rumah dinas perwira muda. Mungkin karena itu, kami berumah di depan sebuah kuburan. Mana mungkin ayahku menolak perintah dari atasannya untuk mendiami rumah yang ada kuburannya.

Kata orang-orang kuburan itu adalah kuburan seorang nenek yang telah ditinggal mati oleh suaminya. Nenek yang malang, hidup sebatangkara dan mati sendirian. Menurut cerita, para tetanggalah yang menguburkan nenek tersebut di depan rumah kami yang saat itu tentu belum berdiri rumah dinas tentara di situ.

Nenek Kinarsih, begitu orang-orang memanggilnya. Sewaktu masih hidup, semenjak ditinggal mati suaminya, Nenek Kinasih selalu memainkan harmonika dengan melantunkan lagu-lagu pilu di depan beranda rumahnya menjelang senja hingga senja ditelan gelap malam.

Dan setiap orang-orang yang mendengarkan alunan suara harmonika yang ditiup oleh Nenek Kinarsih, maka tak pelak mereka akan menangis tersedu-sedu.

Begitulah setiap hari yang terjadi. Nenek Kinarsih meniup harmonika dan orang-orang akan menangis sedih. Hingga akhirnya Nenek Kinarsih meninggal di ambang malam, di kala hujan turun dengan derasnya. Ketika itu tak terdengar lagi lantunan suara harmonika yang menyayat hati dan mengiris perasaan setiap insan di desa itu.

Para tetangga Nenek Kinarsih pun memakamkan jasadnya di bawah sebuah pohon kamboja yang berdaun rimbun tidak jauh dari rumah nenek itu. Atas kebaikkan warga setempat pula, kuburan Nenek Kinarsih lalu diberi keramik berwarna hitam legam.

***

Aku tak terlalu ingat betul. Ketika itu ayahku dipindah tugas ke kota lain. Seperti biasa menjelang senja, aku bermain-main di sekitaran kuburan hitam legam itu. Dan seperti biasa anak gadis itu datang, lantas duduk di atas pusara memainkan harmonikanya.

Seingatku, aku lalu bertanya padanya, “Nenek Kinarsih, ya?”

Gadis itu hanya tersenyum sedikit memperlihat gigi geriginya yang hitam-hitam akibat kebanyakan makan permen. Lantas ia menangis tersedu-sedu, air mata berlinang-linang.

Samar-samar dalam pendengaranku ia berkata, “Suamiku, aku sangat merindukanmu.”

Ia menatapku dengan tatapan ganjil yang penuh kerinduan dan kembali meniup harmonikanya, melantunkan lagu paling sedih yang pernah kuingat.***

 

Jakarta, 24 Maret 2011

 

 

10 Comments to "Gadis Peniup Harmonika"

  1. anoew  4 April, 2011 at 09:33

    kok aku malah jadi keingat cerita waktu di SD, ada gembala peniup seruling…

  2. Handoko Widagdo  4 April, 2011 at 08:05

    Selalu mengejutkan akhir ceritamu BC

  3. HN  4 April, 2011 at 06:40

    menyedihkan kisahnya… jadi tiba2 sedih deh… *teringat besok senin dan sudah masuk sekolah lagi*

  4. Lani  4 April, 2011 at 00:16

    MAS DJ biar anak cm usia 3 th, kan dia punya indera ke 6,7 mungkin 10??????? wakakakak……nggemblung pertanyaannya mas………

  5. Sasayu  3 April, 2011 at 23:14

    Wihhhh, memang anak2 kecil punya indra lebih peka…

  6. nevergiveupyo  3 April, 2011 at 21:40

    ooo..sraaaam…….
    wedew… berapa waktu ini baltyra cukup diwarnai kisah2 keren macam ini…

  7. Djoko Paisan  3 April, 2011 at 17:45

    Bun Bamby…..
    Terimakasih untuk ceritanya…..
    Hanya sedikit agak bingung….
    Karena kecerdasan anak umur 3 tahun yang bisa bertanya…. ” Nenek Kinarsih y…??? ”
    Maklum sedikit o´on….

  8. J C  3 April, 2011 at 17:42

    Menyedihkan sekaligus seram…

  9. Lani  3 April, 2011 at 11:21

    apakah ini kisah nyata? menyedihkan sekali

  10. Lani  3 April, 2011 at 11:17

    satuuuuuuuuuuu juara meneh

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.