Islamisasi, arabisasi. Kristenisasi, westernisasi

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

INDONESIA mirip sebuah market menggiurkan untuk memasarkan apapun. Dari produk otomotif, barang kelontong, obat-obatan, telekomunikasi, mainan anak, sandal jepit sampai agama. Penduduknya berjumlah besar (nomor 4 terbesar di jagat), super dinamis, unik, tahan banting, sangat majemuk dan sedikit bodoh, menjadi incaran siapapun untuk membuang produk-produknya agar dibeli.

Dagang agama

Agresif! Pilihan kata tepat untuk menggambarkan keinginan memasarkan semua jenis produk di negeri yang maha luas ini. “Kamu jangan main kayu (curang) ya dengan saya”, celoteh seorang marketer kepada sainganannya, setelah membaca peta persaingan yang dijalaninya bersaing tidak fair.

Kesemrawutan saling merebut pembeli menjadi masalah pelik yang sulit diatur di Indonesia . Apalagi dalam hal dakwah atau penyebaran ajaran agama untuk mencari jumlah pengikut yang lebih banyak. “Lama-lama kayak cari pembeli aja”, celoteh sebagian orang melihat maraknya para pendakwah. Kadang juga sering terjadi gesekan antara pemeluk agama dalam menjual ”dagangannya”.

Di Indonesia ada dua agama yang bertarung keras secara agresif merebut pemeluk baru, yaitu Islam dan Kristen. Pertarungan ini juga terjadi di bagian dunia lainnya, hanya saja berbeda-beda coraknya. Pergulatan itu di sini kadang bersentuhan, bergesekan dan menimbulkan panas bagi antar pemeluk agama.

Dalam masyarakat majemuk dengan semangat kebersamaan seperti Indonesia, memang perlu sebuah kearifan dalam berdakwah dan rambu yang berwujud peraturan pedoman penyiaran agama. Peraturan jelas sudah ada bahkan kadang direvisi dan sering dilanggar oleh penganut agama itu sendiri.

”Kalau orang berpendidikan yang berwawasan luas, ya ’gak masalah”, kata seorang cendikiawan. Masalahnya ada di kalangan bawah yang relatif tertutup dan alergi menerima ide-ide baru. Tingkat pendidikan yang rendah, sering membuat mereka kesulitan memahami keyakinannya kepada pemeluk agama lain.

Oktan tinggi

Islam dan Kristen diakui sebagai dua agama paling agresif bagai bahan bakar beroktan tinggi dalam menyebarkan keyakinannya. Dengan berbagai cara,  bisa halus, kasar, sadar, tanpa sadar, terselubung atau terbuka terang-terangan. Intensitas yang agresif membawa mereka terlalu jauh menganggap umat lain ”keluar dari jalan lurus”.

Apakah memang seperti itu yang diinginkan pada tiap-tiap agama? Sebagian besar menganggapnya seperti itu. Selebihnya menilainya sebagai jalan pikiran yang tidak harus diikuti. ”Yang penting islami, bukan harus menjadi pemeluk islam”, komentar seorang penulis masalah-masalah sosial.  Atau apakah semua orang harus menjadi penganut kristen?

Saya tertarik dengan pendapat seorang wanita yang juga tokoh penggiat agama Kristen dalam sebuah dialog agama di TV  membahas kasus di Temanggung beberapa waktu lalu. ”Yang diinginkan Jesus tidak harus membuat orang harus menjadi pemeluk Kristen, tetapi menyebarkan kasih sayang dan cinta sesamanya kepada manusia”.

Lalu apakah semua orang harus memeluk Islam? Oooh…tidak juga. Kalau hal itu diinginkan, Tuhan bisa melakukannya sejak dulu dengan cara mudah dan dalam hitungan detik. Tuhan membiarkan manusia berbangsa-bangsa dan beraneka ragam memeluk agama, kepercayaan masing-masing sesuka hatinya, bahkan yang tidak percaya kepadaNya pun disayangi.

Arabisasi dan westernisasi

Sedih rasanya melihat kebingungan masyarakat terhadap penyiaran agama. Siar agama Islam kini lebih cenderung menjadi arabisasi daripada islamisasi dan banyak orang melihat bahwa kristenisasi seperti westernisasi. Islam dan arab serta Kristen dan barat menjadi dua sisi dalam satu koin.

Islam memang lahir di tanah Arab, tetapi tidak sama dengan Arab. Begitu juga dengan Kristen. Di Indonesia Kristen datang dari barat dan mau tidak mau unsur budaya barat terbawa. Berbeda dengan corak agama kristen di Timur Tengah, yang kental dengan istilah Kristen Timur, yang tercampur lama dengan budaya setempat, dari segi bahasa dan semua prilaku keseharian.

Ada beberapa langkah cantik untuk mengurangi dampak negatif dalam caplok mencaplok mencari pengikut baru dalam siar agama. Menyiarkan ajaran agama semestinya dapat memperbaiki kondisi pribadi dan orang lain serta lingkungan.  Kalau perlu menyegarkan hal-hal yang tidak selaras dengan tujuan hidup dan penciptaan manusia.  Kearifan itu bisa seperti menjalin persaudaraan kemanusiaan, saling mengenal satu sama lain dan menyebarkan kedamaian (salam). Bukan semata menjadikan orang lain sebagai pengikut baru dari agama yang kita yakini. (*)

 

 

 

249 Comments to "Islamisasi, arabisasi. Kristenisasi, westernisasi"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  10 August, 2012 at 08:53

    HEI MELINDA,

    Terima kasih sudah membaca artikel saya. Silahkan…saya senang.

    Salam kenal

    IWAN SATYANEGARA KAMAH

  2. Melinda  10 August, 2012 at 08:12

    Good article, ijin share ya bang .. Spt nya sbgian masyarakat layak membaca dan memahami article ini. Thanks

  3. Fikrul  28 May, 2012 at 12:29

    Ini salah satu artikel yang layak dibaca khalayak ramai, ijin share mas.
    Terima kasih.

    Salam,

  4. alfi karima  14 April, 2012 at 18:32

    Islam itu seperti air. Di mana ia berada, begitulah bentuknya, tanpa mengurangi sedikitpun hakikatnya. Bahkan ketika ia berubah nama.

  5. Itsmi  9 April, 2011 at 14:02

    Iwan, saya hanya bisa ketawa hahahahaah

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  9 April, 2011 at 12:49

    Dengan ini, komentar dan diskusi dalam artikel ini saya nyatakan DITUTUP. Tok..tok…tok…

    Kesimpulannya:

    1. Itsmi seorang god-lover sejati. Dia harus kenal betul kekuatan dan kelemahan Tuhan, baru tidak mempercayai.

    2. Itsmi percaya Tuhan sepenuhnya, karena selalu berbicara kekuasaannya untuk menolak keberadaannya.

    3. Itsmi pembela Tuhan garda depan, karena selalu membela ateisme sehingga membuat orang makin membela Tuhan.

    Demikian kesimpulan saya buat. Terima kasih dan sampai bertemu di artikel berikutnya.

  7. IWAN SATYANEGARA KAMAH  9 April, 2011 at 12:45

    Bro, ini memang artikel terpanas ya? Bukannya tersaru?

  8. IWAN SATYANEGARA KAMAH  9 April, 2011 at 12:44

    Betul Om JC, kita tak perlu membahas dingklik atau injek buku telepon. Yang penting dekat tangga, biar ergonomis semuanya.

  9. IWAN SATYANEGARA KAMAH  9 April, 2011 at 12:43

    Kalau tepuk tangan, mirip tukanag abu gosok. Mereka sering tepuk tangan kalau selesai melayani pembeli.

  10. IWAN SATYANEGARA KAMAH  9 April, 2011 at 12:42

    Terima kasih juga untuk Nuchan yang berisik dan cerewet. Kamu memacu orang ateis agar saat orgasme tak perlu sebut OMG, tapi cukup tepuk jidat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.