Kelimutu

RM

 

Hi all, numpang share perjalanan kami…

Keindahan dan keunikan danau Kelimutu sangat terkenal ke seantero dunia, tidak heran bila banyak orang tertarik untuk menikmati danau ini.

Untuk mengunjungi tempat wisata ini sangat mudah dan fasilitas penginapanpun tersedia. Lokasi tepatnya danau Kelimutu berada di pulau Flores, kabupaten Ende, desa Moni. Menuju ke Ende bisa melalui Kupang atau Denpasar, setelah tiba di bandara Ende, dilanjutkan dengan mobil sewaan ke desa Moni. Mobil sewaan ini bisa didapatkan dengan mudah di bandara Ende, sementara menunggu bagasi, kita bisa mendekati para penjual jasa, yang menawarkan penyewaan mobil, mengenai harga tergantung kesepakatan tawar menawar, misal bensin dan makan sopir siapa yang akan tanggung, supaya sama-sama enak.

Bila sedang low season, seperti pada bulan Maret saat kami berkunjung ke sana ga perlu booking penginapan. Kami menginap di Eco Lodge, tempat yang menyenangkan dan unik, kamar mandinya beratapkan bintang tetapi dilengkapi dengan air panas. Untuk makan kami cukup memesan di tempat kami menginap.

Sebelum menuju ke Moni, bila waktu memungkinkan, bisa memanfaatkan waktu untuk city tour, namun sayang, saat itu kami tidak bisa mengunjungi rumah pangasingan Bung Karno karena pagar dan pintu rumah tertutup.

Desa Moni merupakan desa paling akhir, sebelum kita mendaki ke danau Kelimutu alias danau tiga warna. Karna berada di daerah pegunungan, udara desa Moni terasa sangat dingin apalagi bila disertai angin bertiup…wuiiih rasa dinginnya bisa menembus kulit.

Perjalanan dari Ende menuju Moni adalah perjalanan mendaki menyusuri tepi-tepi pengunungan, dengan kelokan yang seakan-akan tiada habisnya ujungnya. Bagi yang tidak tahan dengan jalanan yang berliku-liku bersiap siaga terkena serangan mabuk darat.

Kami menginap di Moni hanya semalam, waktu itu pertimbangan kami adalah sudah jarang hujan jadi optimis bisa langsung naik ke Kelimutu esok harinya. Ternyata begitu sampai di penginapan sekitar pukul 14an, hujan turun, terus menerus tidak berhenti sampai kami tidur pukul 20.30 waktu setempat. Rasa dag gig dug muncul…jangan-jangan kalau hujan ga berhenti, habis sudah harapan untuk melihat keindahan Kelimutu.

Yang ada hanya rasa pasrah srah….sudah berusaha mengatur perjalanan dengan segenap daya upaya tapi kalau hanya berakhir di Moni, adalah kenyataan pahit yang harus diterima dengan lapang dada. Kami tidak bisa memperpanjang waktu di Moni karena jadwal penerbangan berikutnya sudah menanti. Mungkin karena menjelang tidur disertai rasa cemas yang dalam dan kuatir bangun kesiangan padahal sudah pasang alarm, tengah malam terbangun…muncul perasaan syukur dan secercah harapan karena hujan sudah berhenti, acara mendaki bisa dijalani.

Pukul 04.00 alarm bunyi..pintu kamar sudah diketuk supaya segera bersiap untuk berangkat, mata masih lengket mengantuk berat ditambah udara dingin…lengkap sudah godaan untuk meneruskan tidur. Tapi semua harus dilawan karena kami berpacu dengan waktu, bila terlambat alias kesiangan danau Kelimutu akan tertutup dengan kabut.

Sekitar pukul 04.30 kami berangkat untuk mendaki danau Kelimutu. Perjalanan menyusuri tepi pegunungan dengan jalan yang berliku-liku serta tikungan tajam menghadang. Kondisi sepanjang perjalanan yang gelap gulita sangat memerlukan sikap waspada dari pak sopir. Perjalanan lancar, tidak  ada aral yang merintang seperti tanah atau batuan dinding sisi jalan yang longsor maupun pohon yang tumbang. Sampailah di loket masuk Taman Nasional Kelimutu, berhenti sejanak untuk membayar tiket masuk Rp 2500/orang untuk tourist lokal dan kendaraan roda 4 Rp 6000/kendaraan, urusan tiket beres, kami meneruskan perjalanan sampai tempat perhentian di parkir area. Ternyata  kami sebagai orang yang pertama yang akan mendaki. Perjalanan dari desa Moni, tempat kami menginap menuju parkir area mungkin berkisar 30 menitan.

Pendakian dengan berjalan kaki dimulai. Pak sopir yang baik hati dan dengan senter di tangannya menemani kami mendaki puncak melalui jalan tanah, kondisi jalan cukup baik. Setelah jalan tanah berakhir, rute selanjutnya adalah menaiki anak tangga yang terbuat dari semen dengan pagar besi pengaman di samping kiri dan kanan. Ini adalah rute yang paling berat kami rasakan, tanjakan anak tangga terasa berat, membuat kami ngos-ngosan, napas hampir habis dan memaksa kami untuk beristirahat sejenak, memulihkan pola napas yang terengah-engah….entah berapa jumlah anak tangga yang kami daki, tidak sempat menghitungnya, tenaga dan konsentrasi diarahkan pada satu tujuan mencapai puncak Kelimutu. Kami tidak memperhatikan lama waktu pendakian, hanya merasakan perbedaan suasana dari awal pendakian yang masih gelap dan sampai di puncak dalam keadaan remang-remang.

The Peak alias puncak tertinggi Kelimutu adalah tujuan akhir dari pendakian. Di sini terdapat bangunan semacam tugu, untuk melihat dan menikmati keindahan ketiga danau Kelimutu. Sungguh suatu anugerah boleh menikmati semua keajaiban dan keindahan sunrise di danau Kelimutu. Perubahan suasana menanti munculnya sang mentari adalah suatu yang menakjubkan..wouw indah sekali, berbagai macam perasaan berkecamuk, perasaan syukur, kagum, seakan seperti mimpi berada puncak Kelimutu..semua rasa itu menyatu dalam hati, sulit dilukiskan dengan kata..hanya bisa berdiam diri dan menikmati semuanya, membiarkan semuanya mengalir di dalam hati.

Thanks God..give us the chance to visit a wonderful place. Angin dingin yang bertiup pagi itu, menyibakkan kabut yang menggelayut di atas danau, menggantinya dengan pemandangan danau yang begitu memakau keindahannya, menghamparkannya di depan mata. Seakan berkata nikmatilah keindahan Kelimutu…

Danau Kelimutu sering pula dikenal danau tiga warna. Perubahan warnanya berkaitan dengan aktivitas gunung. Saat kami berkunjung, Tiwu Nua Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Polo yang lokasi saling berdekatan, hanya dipisahkan oleh dinding danau/kawah, keduanya berwarna tosca, sedangkan Tiwu Ata Mbupu berwarna hitam. Menurut cerita Tiwu Nua Muri Koo Fai tempat beristirahatnya arwah orang muda, Tiwu Ata Polo untuk arwah yang berkaitan dengan tenung, sedangkan Tiwu Ata Mbupu untuk orang yang berkaitan dengan tenung, sedangkan Tiwu Ata Mbupu untuk orang tua.

Selain menikmati keindahan danau, kita dapat juga menikmati kopi di puncak Kelimutu. Bila cuaca cerah dan tourist ramai penjual kopi bisa mencapai 6 orang.

Di sekitar Moni ada beberapa obyek wisata lainnya, salah satunya adalah desa Wologai merupakan wisata rumah adat suku Lio, yang terletak di perjalanan antara Moni dan Ende.

Semestinya kita merasa bangga sebagai orang Indonesia, bangga dengan apa yang kita punya, datang dan kunjungi Kelimutu dan obyek wisata lainnya, tetap jaga kelestariannya supaya anak cucu kitapun tetap bisa menikmati keindahannya. Ok, all…cukup sekian dulu sharing dari kami, semoga bisa bermanfaat.

 

Salam,

RM

20 Comments to "Kelimutu"

  1. RM  6 September, 2011 at 14:13

    hi Santi…

    moga2 pas ke sana dpt tiga warna y…pasti keren d…

  2. Santi Hutabarat  1 September, 2011 at 20:08

    It’s very good, thanks akkang ku hasian bt info ny, smg suatu hari kelak saya bs ke sana
    Salam Kasih buat kak RM

  3. Santi Hutabarat  1 September, 2011 at 20:06

    It’s very good, thanks akkang ku hasian bt info ny smg suatu hari kelak saya bs ke sana
    salam kak RM

  4. R. Wahyu  5 April, 2011 at 18:58

    wah…bagus banget….indahnyoooo

    Jd pingin kesono…padahal kemarin2 dari Bali deket ya, kenapa gak kepikiran ke sana…..

  5. veronika  5 April, 2011 at 18:20

    thx infonya kt sdh ada rencana pengen kesana wkt baca di koran kompas tuh….begitu lihat foto2nya emang cantek nian tp serem gak sih kesananya maksudku aman dlm perjalanan kesana soalnya kok sepi2 aja ya…?

  6. RM  5 April, 2011 at 14:20

    hi all…salam kenal, thx bangeet dah baca sharingku, u/ yg make a wish to visit Kelimutu…smg tercapai..ayo donk kunjungi n cintai wisata dalam Indonesia, masih alami….
    @Pak Djoko Paisan…tetap semangat y pak, siapa tahu pas ke sana dapat yg tiga warna, kemarin keberuntungan saya dapat dua warna…Syukur kepada Allah

    Seperti tempat wisata yang lain biaya mengikuti trend, kemarin aq pas ke sana lagi low season….sewa mobil dari Ende ke Kelimutu Rp 500 ribu/hari plus kita kasih uang rokok sopir Rp 200 ribu, penginapan Rp 600 ribu/night include breakfast, kalo ada yang perlu info lainnya, yang gw bisa bantu…dengan senang hati akan gw sharingkan

  7. [email protected]  5 April, 2011 at 08:56

    PENGEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEN… kesini,
    kalo boleh nih… tulung dung email japri ke daku yaaa….

    biaya habis berapa nih kira2… =)
    pengen tau informasinya, mungkin… bisa kesini tahun ini atau tahun depan… pengen beneran…

  8. Kornelya  4 April, 2011 at 18:55

    RM, terima kasih reportasenya. Warna ketiga danau sekarang hampir sama ?. Salam.

  9. T.Moken  4 April, 2011 at 08:34

    RM, terima kasih photo-photo nya. Saya hanya pernah membaca saja namun bolehlah puas dengan photo-photo anda.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.