BINAR – Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar

Anwari Doel Arnowo

 

LUCUUUU …..

Tertawa  juga saya terbahak-bahak ! Meski sesungguhnya saya sediiihh.

Anda barangkali akan sama.

Orang ahli dalam maupun yang menggunakan Bahasa Indonesia banyak yang berasal dari orang dan bangsa asing. Ada seseorang  pada jaman dahulu, bernama Teeuw, seorang Professor asal dari belanda bertempat tinggal di negeri belanda. Dia ini ahli dan pengarang Kamoes Bahasa Indonesia; tetapi bagi yang pernah bertemu langsung dengan dia banyak yang mengatakan bahwa ucapan kata-kata bahasa Indonesianya banyak yang mèncas-mèncos mungkin karena kenyang makan keju.

Sekarang ada Andreé Möller, favorit (asal katanya: favorite, dari bahasa Inggris) saya, yang bertempat tinggal di Swedia, yang sering menulis di dalam kolom di halaman 15 di harian Kompas, yang membahas bahasa Indonesia. Sering disinggung oleh dia ini soal suasana sarana komunikasi di dalam bahasa Indonesia di seluruh Indonesia melalui mass media cetak dan electronik. Bisa anda simak segala sesuatunya dari salah satu tulisannya di link berikut:

http://m.kompas.com/news/read/data/2011.03.25.04171832

Rumah, Vila, dan Tanah

ANDRÉ MÖLLER

Saya pernah membahas bahasa iklan properti (Kompas, 12 Februari 2010) yang antara lain mengeluhkan pemahaman kaku atas kata strategis dan kata nego. Setelah membaca kolom menarik yang ditulis Rainy MP Hutabarat pekan lalu di rubrik ini mengenai istilah-istilah untuk tempat penginapan di Indonesia (hotel, wisma, losmen, asrama, dan seterusnya), saya jadi terinspirasi mengunjungi iklan-iklan properti lagi.

Pembahasan setahun yang lalu belum tuntas. Dalam kolom ini pembaca akan saya ajak menelusuri secara pendek beberapa kata yang paling lazim dipakai dalam bahasa properti.

Nah, kata yang paling sering muncul di iklan properti sudah barang tentu rumah. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa mengartikannya sebagai ’bangunan untuk tempat tinggal’ atau ’bangunan pada umumnya (seperti gedung)’. Sampai sekarang jelas-jelas saja tak ada yang perlu dipertanyakan. Tanda tanya baru muncul setelah melihat kata-kata sifat yang sering melekat dan menempel pada kata rumah ini.

Rupanya telah terjadi pergeseran makna yang agak substansial pada kata-kata ini. Inilah beberapa contoh: idaman sebetulnya berarti ’sederhana’, asri berarti ’dilengkapi dengan dua tanaman Adenium’, mungil dan manis berarti ’kecil dan terjepit di antara dua bangunan besar’, dan cocok untuk pengantin baru berarti ’sangat sederhana (mengingat pernikahannya sendiri menghabiskan dana dalam jumlah yang tak layak)’. Dengan kata lain, kata-kata ini sudah kehilangan arti dalam bahasa properti dan sama sekali tak dapat membantu pembeli.

Sebuah kata yang kian populer dalam bahasa properti adalah villa, yang selalu dieja secara salah dengan dua l. Seharusnya vila, menurut KBBI. Kata vila ini terutama dipakai di Bali dan Jawa Barat, setidaknya menurut telaahan mungil dan tak ilmiah saya, dan selalu muncul untuk menggambarkan rumah yang mewah, asri, dan mampu memikat hati. Rumah itu sendiri sering kali agak luas dan begitu pula dengan tanahnya. Kebunnya tertata rapi dan tak jarang ada kolam renang, dan barangkali lapangan tenis. Letaknya sering di ”kawasan elite”—entah apa itu. Kira-kira beginilah sebuah vila, menurut para pengiklan.

Lantas, bagaimana menurut KBBI? Barangkali orang-orang terpandang yang mengaku elite dan punya vila akan terperanjat dan kecil hati jika mereka tahu bahwa Pusat Bahasa mendeskripsikan rumah mereka sebagai ”rumah mungil di luar kota atau di pegunungan; rumah peristirahatan”. Kasihan.

Ketika membaca iklan-iklan properti, saya juga sering ternganga-nganga melihat kemampuan tanah dan rumah di Indonesia. Misalkan, kita tidak perlu mencari lama untuk ketemu sebuah potong tanah yang ”siap bangun”. Lho, memang lagi tidur? Bisa bangun sendiri? Hebat benar, tanah ini!

Mengenai rumah, juga tidak susah mencari yang ”baru selesai bangun”. Rasanya ingin sekali melihat rumah ini. Apakah setelah bangun bisa cuci muka sendiri juga? Namun, barangkali paling hebat adalah potongan-potongan tanah yang dinyatakan ”cocok untuk mendirikan vila”. Hebat, kan? Orang yang ingin punya rumah baru sepertinya cukup membeli tanah kosong karena tanahnya ini nanti berfungsi sebagai tukang bangunan. Ya, cocok sekali.

Akhirnya, tentu saja bahasa properti juga sering dibumbui dengan bahasa Inggris agar terasa lebih mantap. Maka, jangan heran kalau ada ”tanah view laut” atau ”rumah asri dan luxury”.

André Möller Penyusun Kamus Swedia-Indonesia, Tinggal di Swedia

Ya, kita boleh saja merasa malu dan tersenyum dan tertawa-tawa, seperti biasa dilakukan oleh sebahagian besar orang Indonesia kalau sudah sadar telah berbuat yang memalukan. Itu seperti “budaya” yang pasti tidak akan diakui.

Marilah kita, setelah sadar telah teledor bahkan abai melakukan pelecehan terhadap Bahasa kita sendiri, lebih berusaha untuk memerintahkan kepada diri sendiri, agar lebih perduli dan memaknai serta menggunakan Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar (BINAR ini nama salah satu Program di TVRI) sehari-harinya dengan tiada berkeputusan.

Mengapa saya serukan hal ini?

Ada beberapa sebab:

– Pada sekitar awal tahun 1990an ketika saya tiba-tiba saja, karena kepentingan bisnis, lebih sering berada di tengah-tengah hutan Kalimantan jauh dari aparat pemerintahan kita yang terendah sekalipun, tiba-tiba saya sadar bahwa saya sedang berkomunikasi dengan seorang asli suku Dayak yang telah lama sekali tidak pergi ke tempat di mana bertempat tinggal Kepala Desanya, menggunakan Bahasa Indonesia. Saya terharu sekali; apa yang bisa terjadi kalau saja dia ini tidak mampu berbahasa Indonesia? Bukankah saya tadi mendarat di dekat gubug kediamannya yang sederhana dan bersama tiga warga negara asing serta pilot helicopter yang juga berkulit putih? Orang dari Suku Dayak ini ternyata sudah berumur dan saya tanyai: sewaktu jaman penjajahan belanda pernahkah  bertemu dengan orang belanda atau berkulit putih lainnya. Ternyata dia menjawab tidak pernah.

– Bagaimana pada jaman penjajajahan Jepang dengan manusia Jepang. Jawabnya idem ditto : DIA TIDAK PERNAH. Jadi orang ini yang berbahasa Indonesia dan orang Indonesia dari suku Dayak, tidak merasakan penjajahan dan waktu berbincang dengan saya itu, malah masih jauh dari jangkauan aparat pemerintahan Republik Indonesia saat itu ?? Siapa yang mengayomi dia? Siapa yang mengarahkan dia agar benar dalam bercocok tanam atau menangkap ikan sungai serta berusaha mengumpulkan hasil hutan agar bisa dimanfaatkan untuk kehidupannya?? Kalau saja dia mendapatkan petunjuk serta tuntunan pemeritah masalah itu, pasti dia tidak akan tinggal di sebuah gubug sederhana seperti itu, karena di sekelilingnya amat melimpah ruah kekayaan alam yang bisa dimanfaatkan memakai aturan yang sederhana. Bukankah dia pandai berbahasa Indonesia dengan cukup komunikatif??

– Saya melihat bangsa kita sejak beberapa puluh dekade ini sedang dan masih gila atau bergila ria menggunakan bahasa asing, meskipun hampir semua yang menggunakan bahasa asing itu ada istilah padanannya di dalam khasanah Bahasa Indonesia. Itu terjadi sejak pagi kita bangun tidur sampai masuk tidur pada malam harinya. Diucapkan oleh Presiden, Menteri dan semua aparatnya sampai Lurah sekalipun, para selebriti (kok bukan selebritas, ya??), penyiar TEVE (harusnya kan bukan TIVI ?!), para guru dan para akademisi dan ilmuwan lain yang mengobral kata-kata bahasa Inggris.

– Ada ditulis kata Sekuriti yang dimaksudkan untuk arti keamanan, sedang sesungguhnya kan Petugas Keamanan saja cukup mangkus. Ada kerancuan di dalam pemakaian perkataan SEKURITAS yang dimaksudkan untuk SECURITIES di dalam bahasa aslinya. Mengapa UNIVERSITAS bukankah sebaiknya UNIVERSITI seperti orang Malaysia, karena bahasa aslinya menyebutkan UNIVERSITY. Masih banyak lagi perconto dan contoh kata-kata kita, Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar, yang sudah baku, tetapi masyarakat sedang menikmati suasana mabuk kepayang dengan membanggakan bahasa asing.

– Boleh berbahasa Inggris memang, tidak dilarang, tetapi sebaiknya diutamakan kemampuan menggunakannya yang baik. Di mata umum sekarang ini, mereka yang menggunakan bahasa Inggris atau asing lainnya dengan serampangan, itu bisa dinilai bagai manusia Indonesia yang kurang intelektual. Justru malah menurunkan gengsi (asal kata dari bahasa Arab: JINSI) dan justru citranya sendiri bisa coreng moreng.

– Merupakan wabah baru: Bahasa Baru yang seperti kependekan-kependekan kata-kata di sms, ditambahi dengan campuran bahasa Betawi, dicampur bahasa daerah-daerah lainnya. Saya, pada awalnya mengharapkan bahwa masyarakat akan bosan sendiri pada suatru saat. Tetapi telah lebih dari 10 tahun lamanya, harapan saya masih berupa harapan malah ditambahi dengan rasa khawatir, yang berkurang. Untuk itu dalam upaya saya membantu  para mahasiswa apalagi apabila sedang berhadapan langsung, selalu saya mencoba mengingatkan agar tidak terlalu membiasakan diri berlebihan dengan Bahasa Baru ini, karena saya yakin bahwa bahasa yang seperti itu tidak akan dapat dipakai untuk menulis skripsi, sebagai bukti tahap akhir dari masa belajarnya mahasiswa.

Makin dalam kita menjerumuskan diri ke dalam gaya hidup, gengsi dan kepalsuan keningrat-ningratan gelar akademis, anak cucu sendirilah yang akan menjadi peniru terdekat.

Apakah sesungguhnya Bahasa Indonesia itu kurang bagus, sehingga timbul keperluan menciptakan Bahasa Baru? Untuk itu perbaikilah bahasanya dengan menguasainya terlebih dahulu.

Janganlah malah ikut aktif merusaknya.

Bahasa Indonesia adalah Bahasa Kesatoean seperti diucapkan di Soempah Pemoeda pada tahun 1927. Dengan bahasa inilah saya telah pernah berkomunikasi dengan penduduk lokal di Kalimantan, Sorong, Timor, Bali dan Batak dan sebagainya di mana saja saya pernah berkunjung, di semua pulau-pulau di Nusantara.

Anwari Doel Arnowo

BintaroBantenIndonesia – 2011/03/29

CATATAN PRIBADI:

Saya selalu menulis belanda diawali dengan huruf kecil, sebagai protes pribadi karena pemerintah belanda belum pernah mau mengakui bahwa Repoeblik Indonesia pada tanggal 17 Agoestoes, 1945 telah dinyatakan merdeka dengan memakloematkan Proklamasi Kemerdekaan. Saya tidak mempunyai masalah dengan rakyat belanda, hanya dengan pemerintahnya. Mereka para belanda dan belandis ini, hanya mengakui Indonesia itu merdeka pada tanggal 27 Desember, 1949, waktu penyerahan kadaulatan dari belanda kepada Repoeblik Indonesia Serikat (RIS). Periode di antara kedua tanggal ini akan bisa berubah menjadi masa AGRESI belanda di Repoeblik Indonesia yang telah menjadi sebuah Negara Yang Merdeka Dan Berdaulat. Belanda akan dimulai disebut sebagai AGRESSOR, dan ini ditakuti oleh belanda akan disuruh membayar ganti rugi pampasan perang. Bisa bangkrutlah belanda karenanya. Tidak lama RIS ini eksistensinya, karena pada tanggal 17 Agoestoes 1950, Indonesia dinyatakan sebagai Negara Kesatoean Repoeblik Indonesia (NKRI) sampai dengan hari ini: tanggal 29 bulan Maret. tahun 2011. Undang-Undang Dasar NKRI adalah Undang-Undang yang dimakloematkan pada satu hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, yakni pada tanggal 18 Agoestoes, 1945.

 

 

19 Comments to "BINAR – Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar"

  1. Daisy  21 May, 2011 at 08:39

    Saya memakai KBBI pas jaman sekolah saja dulu untuk mencari padanan kata.
    Terima kasih artikelnya pak

  2. AH  5 April, 2011 at 21:01

    sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

  3. [email protected]  5 April, 2011 at 09:59

    Kornelya Says:
    apakah anda akan ikut bersama kami ke mall?”.

    singkatannya….
    mall… ikut ga? ………… *sambil mata liat ke yang mau diajak*
    (singkat, padat, jelas dan dimengerti)

  4. Lani  4 April, 2011 at 23:03

    PAM-PAM komen no 12 wakakakak………karo manggut-manggut

  5. Itsmi  4 April, 2011 at 23:00

    Anwari, bahasa itu hidup. Proses globalisasi berjalan terus jadi tidak heran kalau bahasa juga berubah dan bertambah kata asing dan ini bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi sedunia.

  6. Djoko Paisan  4 April, 2011 at 22:40

    Cak Doel…
    Terimakasih telah mengingatkan kita semuanya….
    Bagi kita yang tiggal diluar, terutama kalau ingin mengajarkan kepada istri 7 suami dan juga anak-anak,
    ya seharusnya kita menggunakan bahasa Indonesia yang baik.
    Kalau di Indonesia sendiri, memang banyak terdengar yang aneh-aneh ditelinga kami..
    Suami-istri saling memanggil dangan mama-papa, atau ayah-bunda….
    Pernah seorang pendeta memanggi istrinya dengan panggilan “mama”. teman perdeta ( orang Jerman ) yang dengar dan memang sedang belajar bahasa Indonesia. Dia cukup kaget dan bertanya….
    Saya pikir, dia itu istri anda dan bukan mama anda…???
    Dj. juga sering dengar, suami yang memanggil istrinya dengan kata ” Bunda “.
    Setau Dj. dulu dalam pelajaran bahasa Indonesia, kata bunda itu arinya “Ibu anda” disingkat menjadi bunda.
    Seperti juga memanggil suaminya dengan kata “ayah”
    Ya ampun, ternyata menikah dengan ayahnya….???
    Orang yang akan belajar bahasa Indonesia dengan benar, mendengar kata-kata tersebut akan sangat heran.

    Juga banyak orang tidak senang di panggi dengan kata “saudara”
    Contohnya saat di KBRI… Dj. hanya sekedar bertanya..siapa nama saudara…???
    Dari belakang ada yang kritik…enak aja panggil saudara..itu bapak tau…!!
    Lho bukannya “saudara” yang artnya sau= seribu dan dara= kekasih….???
    Bukankah sebutan ini lebih bagus…??

    Salam damai dari Mainz…!!!

  7. Kornelya  4 April, 2011 at 21:36

    Mempergunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam percakapan sehari-hari di Indonesia akan menjadi tertawaan orang-orang sekitar. Waktu anak saya bilang pada sepupunya ” apakah anda akan ikut bersama kami ke mall?”. Eeh, dibilang, ribet banget ngomongnya. Bagaimana mau mengerti bahasa Indonesia yang baik dan benar, kalau dalam bahasa sehari-harinya ber slank ria. Salam.

  8. [email protected]  4 April, 2011 at 16:08

    WAHAHAHAHAHHA….
    gimana bisa berbahasa dengan benar…
    wong dulu bahasa indonesia saya di raport paling mentok dapet 6, biasanya 4 atau 5….

    kan yang penting

    gue ngomong loe ngerti
    loe ngomong gue ngerti…
    rebes

  9. Lani  4 April, 2011 at 14:14

    wadoooooooh…….aku salah satu yg sgt jauuuuuuuuh dr BINAR……ngaku dosa lbh ringan hukumannya……..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.