Mereka Carnaval, Kami Pilih ke Hutan

Dewi Aichi – Brazil

 

Carnaval baru saja usai. Akan tetapi suasana dan nuansa carnaval masih terasa meriah di kota São  Paulo. Apalagi tanggal 11 Maret yang baru lalu ada desfile/pawai dari sekolah samba Vai Vai di Sambodromo sebagai pesta kemenangannya tahun ini.

Kemeriahan carnaval yang sebenarnya berada tidak jauh dari tempat tinggal kami terpaksa diacuhkan. Kami bisa menikmati kemeriahan carnaval di tengah hutan dengan melihat siaran langsung yang ditayangkan tv Globo. Siaran langsung carnaval ditayangkan selama 4 malam berturut-turut. Sabtu Minggu untuk São Paulo, Senin Selasa untuk Rio de Janeiro. Tayangan carnaval yang dimulai sekitar jam 23:00 hingga jam 7 esok hari. Untuk São Paulo, setiap grup tampil selama 55 Menit dengan toleransi waktu 15 menit, sedang Rio de Janeiro membutuhkan waktu 1 jam 22 menit thit..ngga boleh kurang, ngga boleh lebih, jika tidak tepat, akan mengurangi nilai.

Aku sendiri karena tidak kuat begadang, maka setelah 2 penampilan sekolah samba, sudah harus masuk kamar dan tidur pulas, apalagi seharian kerja ditambah perjalanan ke hutan. Udah capek duluan he he…mana suasana hujan, paling enak krukup sarung sampai pagi. Bangun siang ngga masalah, udah ngga perawan ini wkwkw..apa hubungannya coba?

Hubungannya memang ada. Dulu waktu masih abg kan aku tinggal sama eyang, nah..yang ti selalu bangunin aku kalau ngga mau bangun pagi, dengan diselipin kata pengantar,”perawan ora ilok tangi awan” perawan ngga baik kalau bangun siang. Yah..aku jawab saja sambil ngolet, menggeliat malas, udah ngga perawannnn…!

Eh..aku ngga niat cerita tentang carnaval dan lain-lain kok malah kepanjangan menceritakan yang bukan tujuanku he he sorry yaaa…! Aku kan mau berbagi cerita tentang acaraku di hutan, camping ceritanya, tapi camping di dalam rumah, hujan terus sih, gagal deh. Maka acara kami ya paling asik churrasco tiap hari, caipirinha, nyari buah-buahan, nyari ikan alias mancing, api unggun jika tidak turun hujan.

Gerimis dan mendung setiap hari, meskipun hal itu tidak terlalu mengganggu acara kami, tetapi mengurangi kemeriahan dan menggagalkan tenda-tenda kami yang rencananya akan kami dirikan di pinggir danau.

Di bawah ini adalah danau yang berada sekitar 10 meter di depan penginapan kami.

Akhirnya kami hanya di dalam condominium yang kami pesan 2 bulan sebelumnya. Di Brasil, tidak mudah mendapatkan tempat di luar kota saat libur panjang. Condominium atau bungalow ini berlokasi di tengah hutan. Tempatnya tertutup oleh hutan dan perbukitan, seperti kebanyakan tempat lainnya yang memang ditawarkan untuk mereka yang akan melewatkan liburan atau weekend di luar kota. Untuk menuju lokasi, hanya ada satu jalur dimana jalan tersebut tidak ada fasilitas lampu , dan disisi kanan kiri adalah pohon-pohon besar yang menambah suasana seram.

Gelap gulita hanya sorot lampu dari mobil-mobil kami satu-satunya penerangan. Kadang kami bercanda mematikan lampu serentak, hingga menjadi gelap gulita. Kami semua menjerit tetapi kemudian pada ngakak-ngakak. Nextel masing-masing nyala dan pada saling mencaci dalam canda dari mobil . Begitulah gaya kami saat berkumpul tertawa bersama-sama, bercanda, santai, bermalas-malasan, melupakan sejenak semrawutnya kota.

Setelah beberapa menit melalui jalan gelap, tampak di depan kami lampu-lampu condominium. Jalan mulai menurun, dan sampailah di pintu gerbang. Plang terbuka otomatis, kami menyebutkan data pribadi sesuai nama pemesan, kemudian menerima kunci pintu condominium. Dari pintu gerbang sampai tempat menginap ternyata masih cukup jauh. Lokasi ternyata sangat indah, begitu juga tempat penginapan kami. Jarak antar condominium sangat jauh antara 2 -3 km.

Cukup besar juga, ada 4 suite room, dan 2 kamar single. Sampai di tempat sudah hampir tengah malam. Hujan membuat kami bisa menikmati istirahat dengan nyaman setelah melakukan perjalanan beberapa jam dari rumah.

Foto ini aku ambil dari jendela kamar.

Esok paginya, bangun barengan dan membuat sarapan, yaitu dengan memanggang croissant keju. Susu hangat, hot chocolate, juice, ada yang bikin teh , ada yang santai-santai tinggal nyantap he he..

Begitulah acara kami saat menikmati liburan carnaval, setiap makan siang, menunya adalah churrasco atau bbq ala Brasil. Agak siangan, masing-masing cari acara sendiri. Ada yang mancing, ada yang dengerin musik, ada yang nyebur ke kolam renang meski cuaca tidak mendukung, ada yang manicure sampai-sampai ayampun di manicure. Ada yang nyari buah. Ada yang mengerjakan tugasnya di depan laptop. Pokoknya semuanya punya kegiatan masing-masing.

Cukup itu saja ya ceritaku, kalau kepanjangan ngga enak , nanti capek dan malas membacanya, bacaan yang lain yang lebih bermutu sudah menunggu he he…

Itulah sedikit cerita acara kami waktu liburan carnaval kemarin, Jumát malam kami berangkat dari rumah, Selasa malam kami nyampai rumah kembali. Rabu siang jam 12, seluruh Brasil mulai sibuk kerja lagi, pertokoan, perkantoran mulai buka. Yah..Rabu abu istilah umumnya, salah satu teman kami bercerita bahwa Rabu abu sebelum jam 12 siang, gereja-gereja penuh pengunjung, mereka pada mohon ampun setelah mengikuti carnaval he he..itu sekedar candaan teman saja kok.

 

Salam dari kami sekeluarga untuk Baltyra

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

90 Comments to "Mereka Carnaval, Kami Pilih ke Hutan"

  1. Lani  6 April, 2011 at 09:02

    DA……..haaaaaaah? baik tangan bojo dan konco sami mawon????? BERBULU PATING KRIWIL???? wuiiiiiiih……..keriiiiiiii

  2. Dewi Aichi  6 April, 2011 at 08:13

    Lani, weladalah warakadah..malah mbahas tangan berbulu ha ha..kuwi tangan e koncone bojoku, tapi tangane bojoku yo model e koyok ngono kuwi.

  3. Lani  6 April, 2011 at 08:08

    DA kuwi foto plg akhir sing nyekel CEKER & KEPALA AYAM tangane sopo????? wuiiiiiiiih bulu tangannya………bikin mrinding bulu kudukku……….pating kruwel………..hahahah……memedenikan

  4. Lani  6 April, 2011 at 05:34

    DA rak sah dirembug……….wis podo tuane…….podo ngertine……podo GEMBLUNK-E……wakakakakak

  5. Dewi Aichi  6 April, 2011 at 05:32

    Lani wkwkwk….njur kon urun opo? Urun rembug?

  6. Lani  6 April, 2011 at 04:23

    DA……..waduuuuuh malah urik banget iki, njur ming urun kemekelen…….dgn komentarku dan aki

  7. Dewi Aichi  6 April, 2011 at 03:48

    Komen 78,79,80……gara-gara mengkeret…aku kecapean ngakak hhehe…

    Linda: ayam canggih kan gitu, coba tanya Elnino, wong ayam goreng kok ditilpon…

    Yung: jangan sampe kalah centil sama ayam ya…!

    Wahyu: mana yg sexy? Mana…mana. Mana..!?.

  8. R. Wahyu  5 April, 2011 at 15:48

    Wah…dua gambar di bawah…sexy semua….ha ha…

  9. lembayung  5 April, 2011 at 15:38

    ayamnya centil,pake lipstick.

  10. Linda Cheang  5 April, 2011 at 14:13

    wah, baca artikel ini, koq, malah disuguhi gambar “balerina” ayam? hehehe…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *