Siat Peteng

R. Wahyu

 

Gemerincing lonceng itu mulai mengitari komplek, termasuk tempat kostku. Ada tiga bayi laki-laki yang harus dilindungi. Anakku yang semula terlelap mulai terganggu suara lonceng dan do’a-do’a yang mengiringi. Dia mulai menangis, membuatku ikut-ikutan panik. “Ya Allah, lindungi kami..”.

Dadaku berdebar-debar, telingaku memanas dan bulu kudukku mulai berdiri. Aku masih mendekap bayiku juga Al-Qur’an. Jeritnya semakin keras seiring suara lonceng yang semakin mendekat, mulai berputar-putar mengelilingi rumah. Kami berpegangan tangan, dingin dan pucat seperti orang yang kehabisan darah.

Anjing-anjing berkerumun di bawah  kamboja dekat pura keluarga, mungkin sedang  menyaksikan sekumpulan makhluk lelembut yang ketakutan,  melihat Pemangku adat yang berkeliling sambil membawa lonceng. Mulutnya komat kamit melakukan tugasnya, melindungi penghuni mungilnya dari gangguan pencari roh suci.

Dukun beranak yang tinggal di sebelah menawariku dua bungkus garam kasar, beberapa jarum, paku, peniti dan beberapa bonggol bawang putih, bawang merah, cabe merah dan kunyit. Garam itu harus kusebar di sekeliling rumah. Bawang putih  harus kurangkai menyerupai dua buah kalung. Satu untuk anakku, satunya harus kugantung di pintu. Sementara peniti harus kusematkan di baju, jarum dan paku di bawah bantal. Beruntung, bawang merah, cabe merah dan kunyit harus diletakkan di atas pintu. Jika di bawah bantal, aku pasti sudah menolaknya.

“Ayah… Baca Al-Qur’annya kerasin dikit!..” aku berbisik di telinga suamiku.

Wajah kami menegang, kamar yang semula dingin berubah sedikit hangat, begitu juga belakang telingaku. Angin yang berhembus melalui jendela yang terbuka terasa dingin, aneh!. Kutanyakan ke suamiku, apakah dia merasakan hal yang sama?, ternyata tidak!, hanya aku yang mengalaminya. Ketakutan telah membuat diriku menjadi bagian ritual tengah malam keramat itu.

“Ya Allah.. Lindungi kami dari godaan setan, dari kejahatan malam yang gelap dan dari kejahatan sihir yang ditiupkan dari simpulnya” tak henti-hentinya kuucap dari bibirku.

“Mama, ngapain masih menyimpan benda-benda syirik itu?”

“Mana sih? Ada di dapur semua kok..”

“Ayah lihat masih ada bawang merah di atas pintu” suamiku berdiri mengambil raket nyamuk, “Ayah buang ya, baunya bikin mau muntah dan mata ayah jadi panas, berair. Anaknya menangis  gara-gara benda ini, pasti…!!”

Ketegangan sedikit mereda, rombongan kecil Pemangku dan tuan rumah sedang duduk bersemedi dengan do’a-do’anya. Aku mengintipnya dari balik tirai jendela. Sanggah itu berada tepat di depan dapurku. Aku bisa melihat ritual mereka.

Tiga laki-laki, salah satunya adalah Bapak kostku, seorang Pemangku adat dan satunya lagi mungkin asistennya Pak Mangku, begitu kami memanggil Pemangku adat. Mereka berpakaian serba putih, membawa dian kecil dan sebuah kendi, lonceng dan seikat ranting kayu, masih ada daun-daunnya.

Mereka duduk mengitari sesajen yang sudah disiapkan. Telapak tangannya yang semula menangkup didepan dada, salah satunya bergeser seperti  orang sedang melambai, ujung jarinya menyemat bunga. Sesekali air dari dalam kendi dia percikkan ke tengah tumpukan canang.

*********

Baru semalam aku melahirkan anakku, prosesnya lumayan lancar. Walaupun sempat panik karena air ketuban yang pecah tanpa disertai pembukaan jalan lahir, dua hari sebelumnya. Setelah menginap sehari semalam, aku membawanya pulang ke tempat kostku, dalam komplek keluarga Bali. Dia, bayi laki-laki yang sehat.

Dalam adat Bali, kehadiran seorang bayi, apalagi bayi laki-laki, harus mendapat perlindungan dari Pemangku adat setempat. Ini berhubungan dengan pertarungan antar Balian dan Leaker (pengguna ilmu Leak), sebenarnya di Bali, Leak hanyalah salah satu ilmu kesaktian.

Para pencari ilmu Leak biasanya bersemedi menyilangkan tangan, mengosongkan fikiran dan pada tahab tertentu mereka melepaskan roh dari raganya. Badan mereka terlihat kaku dan tak bernyawa, roh bisa  berpindah ke makhluk halus yang diinginkannya. Jika mereka tidak kuat imannya, roh akan tersesat di alam ghaib, Celaka, jika kemudian mereka lewat ditempat yang didalamnya terdapat orang sakit atau bayi-bayi. Kehadiran roh-roh itu akan membuat mereka kaget, ketakutan dan menangis.

Ada juga penganut Leak yang jahat, dirinya bisa berubah wujud menjadi makhluk berwujud Harimau, Babi ataupun makhluk berwajah seram. Untuk menambah kesaktiannya mereka menggunakan ramuan-ramuan organ manusia,mereka senang berburu di kuburan. Organ manusia hidup pun mencari incaran mereka, leak sejenis inilah yang membahayakan.

Pemangku dan orang tua bayi biasanya memagari rumahnya dengan mantra-mantra pengusir Leak,  rumah mereka juga diberi tulisan sebaris aksara Bali yang berarti ‘Penganut Leak Dilarang Masuk’.

************

Kembali suara lonceng berbunyi, perlahan, berputar mengelilingi sanggah dan merajan. Anakku kembali terbangun, kupeluk dan kembali kubacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Tiba-tiba anjing yang semula diam tertidur, kembali menyalak dan menggonggong panjang, mirip lolongan serigala. Anakku menjerit kaget, tangisnya kembali pecah di tengah malam. Bulu kudukku kembali berdiri, dadaku berdebar kencang.

“Ayah.! Baca ayat kursi!” pintaku panik.

Mendengar suara yang bersahut-sahutan antara alunan ayat suci, lonceng, suara anjing dan mantra-mantra membuat jerit anakku semakin keras. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, juga tubuhku.

Tiba-tiba….

Tok…tok…tok….  Ada yang mengetuk pintu.

Rupanya Pak Mangku, dia melihat wajah kami yang pucat ketakutan, “Nggak apa-apa anaknya menangis, dia baru saja melihat makhluk halus lewat. Sudah saya usir, beri minum beberapa sendok air putih saja, nanti dia akan tertidur kembali”.

“Iya, terimakasih sarannya, Pak Mangku” suamiku menutup pintu kembali.

Suara riuh perlahan menghilang, Pak Mangku dan rombongannya berpindah melaksanakan tugasnya di rumah yang lainnya. Tangis anakku mereda, kami kembali bisa bernafas lega.

“Ini air putih, Ma..” aku minum sepuasnya, “Hmmmm, segar ya, Yah..”

“Mama bisa keringetan begitu, pantaslah kalau minum, jadi seger…” ledeknya, melihatku mandi keringat.

“Anaknya terbangun dan menangis tadi bukan karena melihat makhluk halus, dia terganggu suara anjing, lonceng dan mantra-mantra. Apalagi Mama juga ikut-ikutan berteriak panik, anaknya juga tambah takut…”

Ada kabar yang kudengar pagi harinya, asisten Pak Mangku kesurupan makhluk halus, dia meronta-ronta di tengah malam, menari dan sebentar-sebentar pingsan. Katanya, saat membawa dian dan mengiringi rombongan, dia melamun dan jiwanya kosong. Roh penganut Leak melihatnya dan masuk kedalam raganya.

Beruntung kejadian itu sudah menjauh dari tempat kostku, tak terbayang jika mereka mengalaminya di dekat rumah. Tinggal di lingkungan Bali membuatku sering  mendengar kisah-kisah yang menyeramkan, namun jujur, aku belum pernah melihatnya sendiri.

Kubuka bingkisan dari dukun beranak tetangga sebelah. Beberapa bawang merah, bawang putih yang masih terbungkus plastik, kupindah ke meja dapur. Peniti, gunting, jarum kuletakkan di meja riasku dan beberapa paku kumasukkan ke kotak perkakas suamiku.

Beberapa onggokan canang bekas sembayangangan semalam masih menumpuk di dekat dapur, Dupanya masih menyala, bercampur Aroma miyik dan kukus arum.  Ada sesisir pisang raja kesukaanku, buah apel, jeruk, salak, anggur, beberapa kue basah dan kering juga sebungkus kerupuk.

“Hmm…sayang banget ya Yah?” kataku, suamiku mengambil kantong plastik dan memasukkan bebantenan  itu ke dalamnya. Aku menyerahkan bungkusan beberapa kiriman Dukun sebelah, bawang, paku, jarum dan teman-temannya.

“Ini, nggak jadi Mama manfaatkan” kataku berat.

“Ini haram dimanfaatkan dan haram juga dimakan!” katanya singkat sambil membawa kantong plastik itu pergi.

 

 

43 Comments to "Siat Peteng"

  1. R. Wahyu  6 April, 2011 at 15:46

    He he…ayak2 wae mbak Lani kiy…..

    Mbak Linda Siat Peteng artinya pertarungan penganut ajaran leak dan balian…

  2. R. Wahyu  6 April, 2011 at 15:44

    Iya…kangen mbk Lani dan Dewi….

    Memang paling uenak ya pisang raja……yg pake sajen itu, bukan raja yg gedhe2 itu….

    digoreng….wuih..enak…

  3. Linda Cheang  6 April, 2011 at 09:30

    bumbu dapur?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.