Pungli di Kereta Api Kelas Ekonomi ‘Progo’

Ratman Aspari

 

Beberapa oknum berseragam yang bertuliskan ‘OTC,  CV. Budi Karya’ melakukan pungutan liar (Pungli) di Kereta Api Kelas Ekonomi Progo,  jurusan (Lempuyangan (Yogyakarta) – Pasar Senen (Jakarta).  Awal kejadiannya pada hari Rabu (30/03/2011) ketika saya menggunakan jasa angkutan KA Progo dari stasiun Gombong, keberangkatan pukul 19. 15 WIB,  menuju ke Jakarta.  Sebagaimana para penumpang lain,  begitu KA datang sayapun langsung naik ke atas kereta,  tanpa memilih gerbong berapa,  apalagi di dalam karcis/tiket keretapun telah tertera ‘bebas tempat duduk’.

Tanpa sengaja begitu naik,  saya mendapatkan bangku dari kayu sebuah kotak/bok yang biasa untuk menyimpan peralatan kebersihan, tertutup rapi sehingga menjadi sebuah bangku yang layak untuk duduk, apa boleh buat daripada berdiri, pikir saya,  akhirnya saya duduk di situ.  Berada di sebelah kamar mandi atau depan pintu sebelah kanan (yang kebetulan tidak dibuka/sengaja dikunci), tepat di depan sambungan gerbong, satu rangkaian dengan gerbong restorasi. Di ujung bangku, tepatnya di depan pintu ada seorang penumpang dari Yogya,  melihat ransel dan potongan tubuhnya, serta setelah berkenalan rupanya ia seorang anggota ABRI dari pasukan khusus AD,  tidak berapa lama satu orang duduk di sebelah saya,  sehingga posisi saya berada di tengah.

Sementara di bangku dekat pintu sebelah kiri,  duduk dua orang petugas kebersihan,  dan satu orang lagi berdiri di belakang (di sambungan antar gerbong-red),  dari seragam yang dikenakannya,  di bagian depan tertulis ‘OTC’ sementara di bagian lain tertulis ‘CV. Budi Karya’,  berwarna abu-abu berpadu kuning dan coklat di sebelah atasnya.

Dari seragam yang dikenakannya ketiga petugas tersebut rupanya karyawan dari perusahaan sebagaimana yang tertera di seragamnya yang dipekerjakan sebagai tenaga kebersihan/cleaning service di KA Kelas Ekonomi Progo.  (Niat baik PT. KA untuk memberikan pelayanan kepada para penumpang,  patut kita acungkan jempol,  paling tidak kamar mandi di KA kelas ekonomi tersebut lebih wangi dibandingkan sebelum adanya mitra kerja dari petugas tersebut.  Walaupun terkadang sampah yang ada di KA kelas ekonomi masih menjadi obyekan para pembersih ilegal).

Namun sayang,  seribu sayang itikad dan niat baik dari PT. KA tersebut disalahgunakan oleh beberapa oknum berseragan CV. Budi Karya tersebut.  Ketika KA Progo mulai berjalan dari stasiun Gombong,  dengan serta merta salah seorang dari petugas berseragam CV. Budi Karya (yang berdiri-red) langsung menegur saya.

“Maaf Pak,  karcisnya ada. . . . ???”,  secara langsung saya menjawabnya sembari menyodorkan karcisnya.  “Ada,  nih. . . . . . . ” (dalam benak saya saat itu,  ada sesuatu yang ganjil antara bingung dan kurang paham,  biasanya yang menanyakan karcis/tiket adalah kondektur didampingi polisi khusus kereta api (Polsuska).  Lho ini hebat amat,  baru pakai seragam dari CV. Budi Karya sudah berani nanya-nanya karcis penumpang. . . . ???,  dalam hati saya)

“Maaf Pak,  kalau di gerbong restorasi ini dikenakan biaya tambahan dan harus bayar tambahannya sebesar ‘Rp. 15.000, -/per-orang,  seandainya bapak keberatan silahkan cari tempat di gerbong lain saja, ”kata petugas berseragam CV. Budi Karya yang tadi menanyakan karcis.

“Lho saya kan sudah punya karcis, masa masih harus bayar lagi, ”saya mencoba berargumentasi.  Rupanya petugas itupun tetap ngotot dan mempersilahkan saya untuk ke gerbong lain.  Namun karena ingin lebih tahu,  sekaligus sebagai investigasi kecil-kecilan, akhirnya saya tidak banyak membantah alias nurut saja, sembari menyodorkan uang dua puluh ribuan dan langsung dikembalikan lima ribu rupiah.

Sementara penumpang yang di samping saya,  rada ngedumel juga bahkan sempat melakukan tawar menawar,  dan rupanya si petugas berseragam CV. Budi Karya tetap bersikukuh dengan ‘pungutan liar’ sebesar itu,  (hal ini bisa dimaklumi karena kondisi KA Progo saat itu cukup padat,  jadi nilai tawar punglinyapun tinggi – red).

Tidak berbeda dengan kondisi bangku dekat pintu sebelah kanan, kondisi bangku sebelah kiri yang tadinya diduduki dua orang petugas berseragam dengan tulisan OTC,  CV. Budi Karya, juga cukup gaduh, setelah dua orang petugas berseragam CV. Budi Karya berdiri, ada seorang penumpang hendak duduk di situ, namun ketika diminta tarip tambahannya rupanya keberatan,  lebih baik memilih tempat di gerbong lain,  daripada duduk disitu dipungli Rp. 15. 000, -,  sembari ngeloyor berjalan ke arah, gerbong depan.

Tidak berapa lama,  dua orang petugas berseragam CV. Budi Karya yang tadi duduk pergi ke belakang dan datang lagi  diikuti lima orang anak muda,  dua orang laki-laki dan tiga orang perempuan.  Petugas berseragam mempersilahkan mereka duduk di dekat pintu sebelah kiri tersebut.  Namun karena kapasitas tempat duduknya cuma untuk tiga orang, maka terpaksa yang dua orang duduk di bawahnya sembari menggelar koran.  Kegaduhan kembali terjadi ketika kelima anak muda tersebut dimintai biaya tambahan, alias pungli masing-masing Rp. 15.000, -,  sehingga total untuk lima orang Rp. 75. 000, -.  Penumpang di samping saya yang tadi ngedumel berbisik kepada saya,  “Kasihan,  duduk di bawah gelar koran di gerbong restorasi seperti ini,  masih di pungli Rp. 15.000, – juga”.

Sayapun tersenyum,  antara kesal dan sedih.  Kesal,  karena tega-teganya oknum berseragam yang bertuliskan OTC,  CV. Budi Karya memperlakukan para penumpang seperti itu,  apa mereka tidak berpikir, mungkin di antara para penumpang itu ada yang berbekal pas-pasan.  Dan lebih kesalnya lagi,  apa perbutan oknum tersebut tidak diketahui oleh Polsuska atau Kondektur, atau jangan-jangan di antara mereka justru saling kong-kalikong, alias bagi-bagi lahan pungli.  Indikasi terjadi kong kalikong begitu kuat,  mengingat selama perjalanan sampai Jakarta,  kondektur,  petugas pencatut karcis,  cuma satu kali memeriksa, itupun ala kadarnya saja,  padahal biasanya sampai tiga kali diperiksa ketika kita berada di gerbong biasa.  (bagi-bagi lahan di KA Kelas Ekonomi Progo. . . . . ???,  mungkin saja. . . )

Dari situlah terjadi suatu obrolan seru seputar ‘Gerbong Restorasi,  dan hal lain di kereta api’ dari kami bertiga yang satu bangku,  penumpang di samping saya,  saya sendiri dan anggota ABRI yang ada di depan pintu.  Menurut anggota ABRI yang berada di samping kanan saya,  kalau mau duduk di dalam ‘Gerbong Restorasi’,  dengan bangku yang lebih nyaman dikenakan biaya tambahan Rp. 20. 000, -/per-orang,  bahkan dengan nilai sebesar itu bisa tanpa karcis, jelasnya.  Padahal untuk tarif KA Progo dari Lempuyangan (Yogyakarta) sampai Jakarta,  tarifnya sekitar Rp. 35 ribuan.

Sementara menurut penumpang yang ada di samping kiri saya,  bahwa ada satu gerbong khusus yang biasa digunakan oleh para pemakai jasa KA kelas ekonomi seperti ini yang biasa pulang ke daerah setiap hari Sabtu (istilah mereka perkumpulan-red),  dengan membayar tarif untuk kelas ekonomi sekitar Rp. 20 ribuan tanpa karcis,  dikoordinir langsung oleh salah satu oknum di lingkungan PT. KA.

Istilah perkumpulan yang biasa pulang ke daerah setiap hari Sabtu,  tanpa membeli karcis memang pernah saya dengar dari seorang tetangga ketika saya tinggal di Bogor,  bahkan tetangga saya yang waktu itu istrinya menetap di Semarang mengharuskan untuk sesering mungkin pulang.  Untuk pulang ke Semarang, kata tetangga saya tersebut, biasanya cuma memberikan salam tempel di atas KA ketika ada pemeriksaan,  besarnya salam tempel tergantung jauh dekatnya tujuan,  antara lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah, katanya.

Untuk mencari kebenaran hasil obrolan tersebut, sekaligus ingin mengetahui keberadaan para petugas kebersihan berseragam CV. Budi Karya yang sejak menerima pembayaran dari kelima anak muda tadi langsung raib entah kemana,  sayapun iseng-iseng duduk di Restorasi sembari memesan kopi,  ketika ada seorang petugas dari PT. KA dengan seragam warna telur asin (biru-red), saya iseng-iseng mengorek kebenaran hasil obrolan tersebut, entah kenapa petugas tersebut cuma senyum-senyum saja,  enggan untuk menjawabnya.

Apabila semua itu benar,  dengan asumsi sebagaimana tersebut di atas, seandainya setiap perjalanan untuk KA ekonomi dipukul rata 50 orang penumpang yang dikoordinir tanpa karcis,  untuk setiap penumpang dipungut Rp. 20 ribu dan masuk ke kantong oknum yang kurang bertanggung jawab maka bisa dibayangkan besarnya uang yang menguap di PT. KA bisa mencapai milyaran rupiah pertahunnya.

Ini baru satu kereta api kelas ekonomi ‘Progo’ jurusan Lempuyangan (Yogyakarta) – Pasar Senen (Jakarta),  lantas bagaimana dengan KA kelas bisnis dan eksekutif serta kereta api sejenis untuk tujuan yang lain. . . . . . . ???  Apa bisa dijamin tidak ada pungli,  entahlah. . . . . . . ??  Kondisi seperti ini lebih diperparah dengan pelayanan yang buruk,  kurang nyaman,  mulai ketika penumpang mengantri tiket,  duduk di atas kereta api,  sampai ketika turun dari kerata api sangat terasa,  terutama untuk kereta api kelas ekonomi,  sehingga terjadilah dua titik temu kepentingan tersebut.

Sedih,  karena para oknum tersebut menganggap bahwa ‘gerbong restorasi’,  ataupun ‘gerbong-gerbong khusus’ tersebut adalah lahan pribadi mereka,  dengan demikian mau diapakan lahan tersebut bebas-bebas saja,  seolah-olah merekalah yang punya.

Mereka tidak menyadari bahwa biaya perawatan KA,  gaji pegawainya,  aliran listriknya,  kecuali dari pemasukan uang rakyat yang nota bene membeli karcis,  termasuk juga uang pajak dari rakyat.  Kalau para oknum tersebut berlindung di balik alasan-alasan klise,  kecilnya gaji yang mereka terima,  dan lain sebagainya,  sungguh sangat tidak masuk akal.

Sudah seharusnya Menteri Negara BUMN,  Jajaran Direksi dan Direktur Utama Kereta Api harus turun tangan membersihkan oknum-oknum yang menyengsarakan rakyat seperti ini.  Para petinggi PT. Kereta Api jangan hanya bisa berteriak,  bahwa selama ini KA merugi,  tetapi harus bertindak tegas membersihkan oknum-oknum dilingkungan perusahaannya yang kurang bertanggung jawab,  yang sudah jelas menggerogoti keberadaan PT. KA itu sendiri.

Di sisi lain pentingnya penyadaran kepada warga masyarakat untuk malu tidak membeli karcis.  Namun saya yakin bahwa warga masyarakat,  apalagi untuk kelas ekonomi lemah sejatinya sangat nurut,  buktinya ketika loket karcis belum dibuka warga masyarakat yang akan menggunakan jasa angkutan kereta api, rela ngantri berjam-jam untuk sekedar membeli karcis/tiket kereta api, apalagi pada waktu hari libur atau hari raya tertentu.  Dari pantauan di lapangan prosentase bagi mereka yang tidak memiliki karcis untuk kelas ekonomi dalam kondisi saat ini untuk tujuan jarak jauh bisa dibilang kecil,  lain halnya untuk area Jabodetabek masih bisa dibilang cukup besar.

Pada prinsipnya rakyat akan sangat nurut dan patuh,  apabila sistem dan pelayanan yang diberikan juga sebanding dengan yang diterima oleh pemakai jasa transportasi tersebut.  Buktinya KA kelas ekonomi selalu dipadati oleh para penumpang,  rela berdesak-desakan.  Namun anehnya,  kok tetap merugi,  apa benar. . . . . ??.  * (ratman aspari).

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

21 Comments to "Pungli di Kereta Api Kelas Ekonomi ‘Progo’"

  1. phie  6 April, 2011 at 14:35

    endonesah gitu loohhhh…..mo kereta ekonomi atau eksekutif pun tak bebas mafia! adikku pp Jkt-Crb klo ga dpt karcis naik aja lgsg ntar byr di atas ama si kondektur 50rb bisa duduk nyaman pake AC hehehe…..tp klo di kelas ekonomi mgkn jatahya klining serpis yg malak tu ntar jg bagi2 ke kondekturnya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *