Maaf dan Keikhlasan

Yeni Suryasusanti

 

Memaafkan & melapangkan dada memang tdk semudah membalikkan telapak tangan. Tindakan ini memerlukan kerendahan & kebesaran hati. Namun, dalam beberapa kesempatan saya merasakan itulah satu-satunya cara untuk menempuh jalan menuju kebahagiaan sejati :)

”Maafkanlah mereka & lapangkan dada, sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya)” (QS. Al-Ma‘idah : 13)

Kata-kata di atas merupakan kutipan dari status facebook saya kemarin, yang cukup banyak memancing comment dari teman-teman yang menyatakan setuju bahwa hal itu berat, namun sangat indah jika berhasil dijalankan :)

Dalam beberapa kesempatan beberapa teman pernah curhat pada saya mengenai sakit hati.

Ada yang dikhianati pasangan, ditusuk dari belakang oleh sahabat dekat, dan kasus sakit hati sejenis lainnya.

Teman saya bertanya apa yang harus dilakukan, atau apa yang akan saya lakukan jika saya menjadi mereka :)

Jawaban saya pada intinya sama : “Tidak bisa seperti itu, karena saya bukan kamu. Hati dan rasa yang dimiliki setiap orang itu unik. Ada hal yang tidak bisa ditiru.”

Namun saya memberikan kuncinya pada teman saya : “Bertindaklah berdasarkan hasil akhir yang kamu inginkan. Boleh menggunakan perasaan, tapi jangan sampai terlalu terbawa dan dikendalikan hanya oleh perasaan.”

Pasangan berselingkuh, namun dia menyesal dan kembali padamu. Apakah kembalinya dia padamu worth it untukmu?

Jika ya, maafkan dan ikhlaskan. Kenali tanda-tanda awal perselingkuhan untuk dijadikan pelajaran agar bisa saling mengingatkan sebelum kesalahan besar terlanjur terjadi. Pupuklah selalu cinta dan kasih sayang agar terus bersemi :)

Kalaupun terkadang muncul rasa pahit ketika teringat kembali, simpan sendiri saja. Melampiaskan rasa pahit tersebut kepada pasangan yang sudah menyesal malah hanya akan menimbulkan kepahitan baru, karena manusia berpasangan pastinya mencari rasa nyaman. Jika kepahitan terus kita rasakan bahkan kita pupuk sehingga mempengaruhi pasangan, jangan heran jika akhirnya kesalahan besar kembali berulang.

Lebih baik minta bantuan Allah dengan doa dan dzikir untuk menetralkan hati kembali, untuk dihindarkan dari penyakit hati. Toh pada prinsipnya tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah, dimana kesalahan-kesalahan kecil yang kita buat sehari-hari pun jika dikumpulkan juga akan menjadi banyak ibarat satu kesalahan besar, meskipun juga bukan berarti manusia boleh memanfaatkan kelemahan itu dengan selalu berbuat salah bahkan terus menerus mengulang kesalahan yang sama :D

Namun, jika hatimu sakit dan tidak bisa mengikhlaskan kesalahan yang telah terjadi, ya lepaskan saja dia.

Jangan mengikat sebelah kakinya dengan menerima dia kembali namun terus mengungkit kesalahan yang pernah terjadi. It’s not fair. Bayangkan saja jika kita yang berbuat salah, dan kemudian terus dihakimi seumur hidup kita, ibarat hukuman penjara tanpa ada grasi bahkan remisi :(

Jadi, take it, or leave it, not in between. Just as simple as that :)

Ada lagi seorang teman yang berbuat kesalahan besar dalam hidupnya. Datang bercerita kepada saya dengan penuh penyesalan. Mengapa begini mengapa begitu, kalau tidak begini kan tidak akan begitu… menangis sambil berkata jika bisa malah ingin kembali ke masa lalu :)

Saya berkata, “Maafkan dirimu sendiri dan ikhlaskan kesalahan yang telah terjadi. Ambil saja pelajaran dari sana. Penyesalan saja tidak akan membuat waktu kembali. Mau jungkir balik kamu menangis pun segalanya tidak akan pernah sama lagi. Keep going, belajar dari kesalahan adalah yang paling penting. Yakin dengan begitu kamu malah akan mendapatkan segalanya menjadi lebih baik lagi…”

Dulu, saya termasuk orang yang pendendam. Jika ada seseorang yang menyakiti hati saya, maka saya akan terus mengingatnya bahkan tidak jarang berusaha membalas sakit hati saya. Hingga pada suatu saat seorang sahabat menceritakan sebuah analogi kepada saya, tentang membawa kebencian di dalam hati  ibarat seseorang membawa buah yang mulai berjamur dan kemudian membusuk, yang pada akhirnya yang menderita karena bau dan ulat yang muncul dari buah tersebut justru si pembawa buah.

“Ngapain coba Yen, loe masih aja inget dengan perasaan pahit, tapi orang yang loe sumpah serapahin tenang-tenang aja menjalani hidupnya, bahkan mungkin inget juga nggak dia pernah bikin loe sakit hati heheheh…” demikian komentar sahabat saya setengah geli.

“Kalo gitu gue bales deh sakit hati gue biar dia nggak tenang-tenang aja,” sahut saya ngeyel.

Sahabat saya menghela nafas panjang dan mulai menceramahi saya. Sungguh kata-katanya masih teringat dengan jelas oleh saya seperti baru kemarin diucapkannya,

“Loe suka nonton film kungfu seri dan baca Kho Ping Hoo kan? Don’t you get anything from that films and books? Sekali loe membalaskan dendam loe, loe hanya memancing kesengsaraan lebih besar dan lebih panjang. Iya kalo dia terima dan mengerti kalau itu balasan atas sikap awalnya juga, trus dia say sorry dan selesai. Nah kalo dia malah anggap loe yang nyakitin dia lebih dulu – itu bisa aja kan terjadi loe nggak sadar nyakitin hati orang – dan dia trus merancang balasan yang lebih canggih lagi utk nyakitin hati loe… apa nggak jadi lingkaran setan??? Loe mau menghabiskan hidup loe dengan balas membalas? Atau yang paling minimal membawa kepahitan terus di dalam hati dan membuat hati loe menjadi seperti batu dan akhirnya loe akan menjadi pribadi yang tidak menyenangkan?”

Sejak itulah teman, saya memutuskan belajar untuk berubah. Belajar menjadi wanita yang lebih pemaaf, belajar menjadi pribadi yang lebih easy going dan lebih mudah mengikhlaskan – bukan melupakan. Bukan hanya memaafkan dan mengikhlaskan kesalahan orang lain, namun juga kesalahan diri saya sendiri.

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Dengan belajar mengikhlaskan – bukan melupakan, saya tetap bisa mengingat akibat dari suatu kesalahan, untuk mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang pernah menimpa saya, namun Insya Allah terhindar dari perasaan pahit yang bisa merusak hati saya.

Hidup terlalu singkat untuk diisi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Sungguh sangat banyak hal yang bisa disyukuri dan dinikmati dari kehidupan, meskipun itu terkadang muncul dari kejadian yang menyakitkan.

Di tengah perjalanan hidup ini, ternyata saya mendapati bahwa memaafkan dan mengikhlaskan bukan berarti menang, kalah ataupun seri, belum tentu pula harus diminta terlebih dahulu oleh orang yang menyakiti.

Karena pada akhirnya saya menyadari, hanya dengan memaafkan dan mengikhlaskan kesalahan yang pernah terjadi entah itu kesalahan orang lain maupun diri sendiri, pada akhirnya saya bisa mendapatkan kedamaian hati menuju kebahagiaan sejati :)

 

Jakarta, 31 Desember 2010

Yeni Suryasusanti

 

32 Comments to "Maaf dan Keikhlasan"

  1. Mawar09  10 April, 2011 at 02:46

    Sama dengan DA, memaafkan bagiku mudah, tapi melupakan itu yg masih susah !

  2. Dewi Aichi  9 April, 2011 at 05:55

    Iya sih, memaafkan itu bagiku mudah, tapi jika sulit melupakan/tidak mungkin melupakan, apa maafku tidak ikhlas ya? Tau ahh…yang jelas aku ini selalu memaafkan dan membaikinya..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.