Terjadi di Kos-kosan

Handoko Widagdo – Solo

 

Sejak SMA saya sudah harus indekos. Sebab saya tinggal di kampung. Saat SMA saya indekos di Purwodadi, sebuah kota kabupaten di Jawa Tengah. Saat kulian S1 saya indekos di Kota Solo. Ada banyak pengalaman lucu dan agak-agak nakal saat indekos tersebut. Berikut adalah beberapa pengalaman yang tak akan terlupakan.

Sampo tinta

Saat SMA saya indekos sekamar dengan 4 teman lelaki. Kami berlima tidur di satu kamar dengan alas tikar. Kamar mandi harus kami pakai secara bergantian, dimana saat satu teman mandi (kadang-kadang berdua sekaligus kalau buru-buru) yang lain harus memompa air mengisi bak mandi. Nah ada satu teman yang tidak pernah mau beli sabun dan sampo.

Dia itu selalu memakai sabun dan sampo teman-teman lainnya. Suatu hari sampo saya (sunslik hitam) habis. Secara iseng saya isi sampo tersebut dengan tinta dicampur deterjen bubuk. Nah, suatu sore, teman yang suka pakai sabun dan sampo orang lain itu keluar dari kamarmandi sambil bersiul-siul. Dia tidak sadar bahwa handuknya telah berwarna hitam. Demikian pula dengan wajah dan bahunya. Jadilah dia bahan tertawaan teman-teman. Saking malunya akhirnya dia pindah kos.

 

Lari pagi tengah malam

Pengalaman ini juga terjadi saat aku masih di SMA. Saat malam minggu biasanya kami main kartu dengan teman-teman kos yang tidak pulang. Suatu malam, ada teman yang sangat obsesif ingin lari pagi. Dia tidak mau ikut main kartu dan sudah tidur saat jam 8 malam, sementara kami berempat masih asyik main kartu. Tentu saja teman tadi memasang weker supaya bisa bangun pagi untuk lari pagi. Keisengan kami muncul saat jam menunjukkan 12.30 malam. Kami majukan jamnya menjadi jam 4.30.

Kami berempat pura-pura tidur lelap. Nah saat weker bunyi (masih jam 12.30) teman yang obsesif tadi berupaya membangunkan kami untuk diajak lari pagi. Kami semua menolak dengan alasan masih mengantuk karena baru selesai main kartu. Dia dengan semangat 45 langsung pakai sepatu dan lari memutari simpang lima Kota Purwodadi. Nah tak lama kemudian dia balik sambil marah-marah. Kami semua tertawa-tawa. Esoknya dia cerita bahwa dia ditegur satpam karena lari tengah malam.

 

Sup kepala

Kejadian ini terjadi saat saya indekos di Solo. Saya kos di kos-kosan besar, dimana ada 24 mahasiswa yang tinggal di kos-kosan tersebut (1 kamar dua orang). Untuk mengirit, kami masak bersama. Maksudnya menyewa tukang masak. Nah suatu siang salah satu teman saya berteriak-teriak: “Sup kepala…sup kepala”. Kami semua bingung apa maksudnya. Ternyata dia adalah orang yang terakhir makan, sehingga sup yang di panci besar sudah tinggal kuahnya saja. Dia bilang sup kepala karena dia melihat bayangan kepalanya sendiri di kuah dalam panci tersebut.

 

Nasi goreng telur Rp 125

“Nasi goreng pakai telur Rp125, siapa titip?” demikian salah satu teman saya menawarkan jasa baik. Saat itu adalah musim ujian semester. Kami semua sedang sibuk belajar meski sudah mendekati tengah malam. Tawaran yang simpatik tersebut tentu saja disambut hangat oleh banyak orang. Hampir semua dari kami titip untuk dibelikan nasi goreng telur. Dua jam kemudian teman tadi datang dan membagikan karak (kerupuk nasi) dan telur puyuh satu butir.

Kami semua terbengong-bengong. “Ini nasi gorengnya (karak) dan ini telurnya (sebutir telur puyuh)”. Sementara kami kecewa dia benar-benar menikmati nasi goreng dengan dua telur ceplok.

 

Makan gratis

Saat kuliah saya harus sambil bekerja. Saya membuka jasa pengetikan. Kadang-kadang juga memberi jasa pembuatan laporan dan ‘konsultasi skripsi’. Namun usaha pengetikan tidak selalu ada order. Nah saat tidak ada order itulah sifat kreatif saya muncul. Satu jam sebelum jam makan siang atau jam makan malam, saya berkunjung ke kos teman-teman yang kaya.

Saya sengaja tidak pulang sebelum diajak makan. Saya sengaja menggilir beberapa teman supaya mereka tidak tahu kalau sedang saya kerjai. Nah kini beberapa teman yang dulu saya kerjai masih sekota denganku. Saya selalu mentraktir mereka sebagai balas budi. Namun, mereka tidak merasa bahwa mereka pernah saya kerjai.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

115 Comments to "Terjadi di Kos-kosan"

  1. Handoko Widagdo  25 June, 2011 at 09:04

    Iseng juga manusia lho Mer

  2. Merry Tobing  24 June, 2011 at 20:02

    Ternyata pak Han itu suka iseng ya dari dulu

  3. Handoko Widagdo  11 April, 2011 at 07:05

    Kang Sirpa, kos-kosan memang penuh dinamika.

  4. Sirpa  10 April, 2011 at 23:04

    hehehe shampoo tinta- ne Mas hand … itu pelajaran bagi yang suka “ngirit” alias pelit … ( maunya ikut sharing mulu ya ) — jadi teringat konco ku juga satu indekos … mosok dianya itu paling malas ‘ngangsu banyu utk mengisi bak mandi yang sama2 dipakai bareng …. hehehe

    thx mas … salam

  5. Handoko Widagdo  10 April, 2011 at 13:03

    EAI, gorrilanya ikut ketawa gak?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.