Toko Cinta (1)

Odi Shalahuddin

 

Toko cinta, di sudut perempatan jalan yang biasanya sepi-sepi saja, tiba-tiba ramai. Walau belum memasuki tokonya, Aku bisa mengatakan itu tanpa ragu. Hal ini lantaran keramaian bisa terlihat dari sulitnya kendaraan mencari tempat parkir. Belum lagi, antrian sangat panjang hingga ke jalan raya. Barisan terluar, mungkin sudah sekitar 100 meter dari pintu toko.

Hal yang tidak biasa. Tentu saja menarik perhatianku. Ingin berhenti, tampaknya tidak tersedia waktu yang cukup. Jam tujuh kurang lima menit. Aku harus mempercepat kendaraan agar anak perempuanku tidak terlambat sampai di sekolah atau setidaknya keterlambatannya masih bisa ditolerir oleh peraturan sekolahnya.

“Lagi krisis, He.h.e.he..he..,” komentar anakku yang juga menyaksikan fenomena baru itu. Aku tersenyum.

Rasanya belumlah genap 15 menit ketika aku tadi melewati toko Cinta. Tapi sekarang aku harus tertahan dengan kemacetan, sekitar 1 km menjelang toko Cinta. Kalau saja aku tidak penasaran untuk mengetahui apa yang terjadi, tentunya aku bisa melewati jalan pintas untuk tiba di rumah dengan cepat. Menoleh ke belakang, antrian kendaraan juga sudah panjang. Kulihat truk polisi berhenti, dan para polisi segera menghambur keluar dengan peralatan lengkap. Mereka mulai mengarahkan kendaraan untuk melewati jalan lain.

Aku merasa terperangkap. Sepeda motor yang biasanya luwes untuk mencari celah, sudah sulit untuk bergerak. Mesin motor kumatikan. Pergerakan sangat lambat. Jadi, aku hanya mengayuh lewat kaki. Satu jam berlalu, belum 500 meter terlewati. Masih sekitar itu pula jarak yang harus ditempuh. Uh… Rasa penasaran berganti keluhan panjang. Mau berbalik arah-pun tak mungkin. Segenap arah macet. Macet total. Ini sejarah baru di kotaku yang tak pernah dilanda kemacetan kecuali pada masa-masa kampanye. Inipun tak separah yang tengah kualami.

Sekarang tidak lagi hanya sekedar aparat kepolisian, tentara-pun mulai terlihat. Mereka berdiri, dengan perlengkapannya. Satu sama lain mungkin berjarak sekitar 15 meter. Sangat ketat pagar betisnya.

Beberapa pengendara mulai memberikan komentar, berlanjut satu sama lain saling bersapa, lalu ngobrol. Beberapa lagi sibuk dengan telpon selulernya. Mengabarkan posisinya, mengabarkan yang tengah terjadi.

Dua orang perempuan berkendaraan motor di sebelahku, kelihatan bersungut.

”Wah, kita pasti kehabisan. Padahal ingin beli paket cinta lengkap,” satu orang berkata.

”Ya, semoga saja masih bisa dapatlah. Setidaknya paket cinta satu malam,”

”Uh, kamu ini…!!!”

”Hi..hi..hi..hi..”

Naluri bisnis memang cepat. Tiba-tiba saja sudah banyak pengasong. Menjajakan cinta. Laris manis.

Aku sendiri, merasa sudah sangat letih. Keringat sudah banjir mengalir dalam tubuhku…. Penasaranku dengan Toko Cinta, beralih bagaimana bisa lepas segera dari kemacetan ini. Masih terbayang, tiba di Toko Cinta, seluruh arah pasti juga mengalami kemacetan panjang.

 

(2)

Benar-benar terjebak. Berencana memarkir motor ini di pinggiran, lalu akan kutinggalkan, juga tak bisa. Sudah tak ada ruang sama sekali. Motor-mobil-sepeda, sudah saling bersenggolan. Itupun masih bergoyang-goyang ketika para pengasong cinta bukan sekedar mencari celah untuk jalannya, tapi menggeseser-geser kendaraan agar ada celah.

Pemilik kendaraan mewah-pun tak bisa berkutik. Paling hanya merutuki nasibnya yang malang sambil menghitung-hitung biaya untuk memperbaiki coreta-coretan garis yang tercipta. Eh, iya, kalau dikendarai sendiri. Kalau pengendaranya adalah sopir tanpa sang pemilik menjadi penumpangnya. Aduh, kasihan kalau begitu. Benar-benar nasib sial. Berapa bulan gaji akan lenyap bila sang pemilik tak bijaksana.

Hiruk-pikuk! Teriakan para penjaja, klakson mobil dan motor, lalu entah siapa memandu, terdengar irama sorak seperti supporter sepakbola.

”Beli cinta Pak? Ini ada paket senyum menawan,” seorang pengasong sambil menunjukkan bungkusan dengan gambar bibir tengah tersenyum.

Aku menggeleng.

Tak terasa sudah lewat dua jam di sepanjang jalan ini. Baru tersadar pula, kendaraanku sama sekali belum bergerak ke depan sejengkal-pun.

”Sudah pasti gara-gara Toko Cinta,” gerutuku.

Apa sih yang istimewa di toko itu? Dari kaca etalase yang terlihat hanya hiasan bunga berbentuk hati, boneka berbentuk hati, bantal, dan segala pernik-pernik yang berbentuk hati. Setahun lebih sedikit kukira Toko Cinta itu hadir dengan menempati bekas bengkel motor. Selama itu, tidak ada kegiatan yang menonjol dari pengunjung. Aku saja yang setiap pagi melewati hanya melirik. Itupun kalau tertahan lampu merah. Sama sekali tidak ada yang istimewa. Atau aku yang kurang informasi?

“Wah, gawat!” karena situasi aku lupa untuk mengontak istriku. Pastilah ia resah. Biasanya tidak lebih dari 30 menit aku sudah tiba di rumah. Ini sudah hampir tiga jam. Kuambil telpon seluler dari saku celana. Ada 150 misscall dari istriku. Ah, mengapa aku lupa memberi kabar? Pastilah ia cemas dan mungkin juga marah. Ada sms juga.

Pencet tombol menghubungkan ke nomor istriku. Tersambung. Tapi sama sekali sulit untuk mendengar. Terlalu riuh di sini. Kuputuskan memotong komunikasi. Beralih ke pesan pendek. Ternyata istriku juga  berkali kirim sms.

“Di mana cintaku? Kok belum sampai rumah.”

“Di mana sih? Mampir-mampir ya?”

“Mas…. kangen, hi..hi..hi..”

”Mas, jalan raya di depan kelihatan ramai sekali. Ada apa ya? Klakson gak berhenti-berhenti. Mengganggu suasana pagi saja,”

”Mas, aku ke jalan, lihat banyak polisi dan tentara. Presiden mau datang po? Pada rencana aksi po?”

Uh…

Jemariku segera memencet tuts HP.

”Aku tertahan, gak bisa bergerak. Betul-betul gak bisa bergerak. Gara-gara Toko Cinta!”

 

(3)

”Wah, situasi mmg gawat, Mas. Seluruh saluran Televisi siaran langsung ttg Toko Cinta di kota kita,” sms dari istriku

”Macet lbh 5 km. Slr penjuru. Macet total. Arus dr luar kota juga padat. Lagi krisis. KRISIS CINTA,” sms istriku menyusul sebelum sempat kubalas.

”Cinta kt msh banyak, Mas? Belum krisis,” sms-nya lagi.

”Mas, cintaku, sayangku, cintaku, cinta, cinta, cinta…..” lagi.

Bertubi-tubi sms datang. Belum sempat terbalas.

Di sini makin padat saja. Cuaca yang cerah, matahari menghujamkan panasnya dengan bebas. Keringat telah bercucuran. Banyak orang mulai membuka pakaian atasnya. Bertelanjang dada. Pakaian dikibas-kibaskan untuk mendinginkan tubuhnya sendiri. Sambil sesekali menghapus keringat yang mulai deras. Tapi, tenang saja, belum ada perempuan ikutan bertelanjang dada.

Ah, lumayan, bisa bergerak sedikit. Walau tak lebih dari setengah meter. Pandanganku menyusuri bangunan yang berdiri berjejer di sepanjang jalan. Mencari celah untuk masuk dan meletakkan motor di sana. Tapi sepanjang mata memandang, kerumunan orang benar-benar sudah memenuhi segala ruang. Ah, tak mungkin aku bangkit, meninggalkan motor di tempat ini. Bergerak sejengkal. Berhenti antara 5-10 menit. Bergerak lagi. Sejengkal.

”MAS,” sms istriku.

Ah, tersadar belum membalas sejak tadi.

”Ya,” tulisku pendek.

”Cintaku…”

Ah, tak sempat membalas. HP yang sejak tadi tergenggam mulai basah dengan keringat. Kumasukkan kembali ke saku celana. Biar aman. Mencari tempat aman, baru dikeluarkan dan digunakan lagi. Para pejalan yang hilir mudik, menyenggol-nyenggol. Kalau jatuh, susah untuk memungutnya…

Semua mata memandang ke atas. Deru yang keras. Tiga helikopter milik kepolisian dan tentara hilir mudik di angkasa. Wah, apakah situasi memang benar-benar sudah gawat?

Aku merutuk. Seandainya aku menunda keingintahuan sebelum berangkat tadi, mungkin aku tengah bersama istriku, menikmati kopi pagi hari, dan pisang goreng yang hangat, tangan merangkul tubuhnya sambil mata mengikuti jalannya peristiwa yang lebih luas dari pandangan dan pendengaranku saat ini, di layar televisi. Tapi, siapa bisa menduga akan seperti ini?

Pandangku melihat celah kecil. Posisi kendaraan paling kiri, menguntungkan. Sedikit nakal aku mendorong ke depan, sehingga menabrak kendaraan di depan. ”Maaf, Mas..”

Nah, sampailah aku pada ruang itu. Aku turun dari motor, seorang polisi langsung mendekat dan menghalangi jalan. Seorang tentara juga langsung mendekat. ”Jangan membuat kacau!” hardiknya.

”Tapi, Pak..”

”Tidak ada tapi-tapian, jangan bergerak, tetap di tempat!”

Uh, dongkol sekali rasa ini.

Ketika tentara itu berjalan menjauh, dan polisi di depanku tiba-tiba disibukkan dengan keramaian di belakangku, ia mendekati keramaian. Tak perlu menunggu kugunakan kesempatan itu menggeser motor, Lalu menjebloskannya ke comberan di belakang polisi tadi berdiri. ”Pasti aman, tidak mungkin dimaling,”

Ah, sekarang bisa lebih bebas, tidak ada beban. Walau tetap harus berdesak-desakan. Aku mulai bergerak, senggol kanan, senggol kiri.

Cinta… Ah….

 

(4)

CINTA, baliho besar yang berukuran sekitar 10 X 10 meter, yang dipenuhi gambar hati di setiap ruangnya,  menjulur terikat dengan tali menggantung di sebuah gedung milik pemerintah. Aku masih melihat beberapa orang masih berusaha mengikat tali-tali itu agar tak terganggu dengan angin.

CINTA, selebaran ukuran A4 berwarna merah muda hanya bertuliskan kata itu disebarkan oleh anak-anak SMP dan SMA yang masih menggunakan seragam. Lho, kok anak-anak sekolah sudah di sini? Bagaimana ya, dengan anakku?

”Guru-gurunya tidak masuk semua, Pak. Jadi kita kabur saja. Lalu terkurung di sini. Daripada gak ngapa-ngapain, kan lebih baik membagi Cinta. Berbuat baik untuk orang lain, bisa bahagia sekaligus dapat pahala. Kita tadi patungan untuk foto-copy. Bapak mau ikutan nyumbang?” seorang anak memberikan penjelasan kepadaku.

Aku merogoh saku. Memberi selembar sepuluh ribuan. ”Makasih, Pak. Semoga Bapak selalu memiliki dan dikelilingi oleh Cinta….”

Para pengamen yang tidak bisa bergerak bebas, pintar mengambil situasi. Mereka bekerja berkelompok, berdiri di pinggiran jalan. Tiga orang lainnya dari mereka berputar dengan menyodorkan topi yang dibalik. Uang-uang kertas bertebaran, masuk ke dalam topi. Ketika kudengar lirik-lirik lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu-lagu Cinta….!

jatuh cinta berjuta rasanya//biar siang biar malam terbayang wajahnya//jatuh cinta berjuta indahnya//biar putih biar hitam manislah nampaknya” lagu Eddy Silitonga yang ngetop pada jaman 80-an dihadirkan. Aku waktu itu masih SD-lah. Apakah orang-orang di sana bisa mendengarkan musik dan alunan suara mereka, entahlah. Aku bisa mendengar karena lewat persis di depan mereka.

Seorang laki-laki, berpakaian hitam-hitam, dengan rambut panjang terurai, naik ke atap mobil. Ia tidak peduli beberapa penumpang di dalamnya berteriak-teriak menyuruhnya turun. Dengan bergaya sangat serius, ia sibakkan rambut yang menutupi wajahnya ke belakang. Ia pun mulai membacakan syair yang tertulis di lembaran kertas yang terpegang di tangan kirinya.

CINTA YANG AGUNG

Adalah ketika kamu menitikkan air mata

dan masih peduli terhadapnya..

Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih

menunggunya dengan setia..

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain

dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku

turut berbahagia untukmu..

Apabila cinta tidak berhasil

…Bebaskan dirimu…

Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya

dan terbang ke alam bebas lagi..

Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan

kehilangannya..

Tapi..ketika cinta itu mati..

kamu tidak perlu mati bersamanya

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu


menang..MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika

mereka jatuh..

 

Ah, puisi itu, siapakah yang tak pernah mendengar Kahlil Gibran? Ya, puisi yang dibacakan adalah karya Kahlil Gibran, seorang penulis dunia kelahiran Libanon yang sejak umur 10 tahun sudah meninggalkan negerinya. Ia lebih banyak tinggal di Boston dan Paris.Karya-karyanya sangat digemari banyak orang. Tapi, ah, masak jadi membahas tentang ini..

Aku tetap berusaha merangsek ke depan. Bersenggolan, dan berusaha untuk tetap tegap tidak terhuyung. Kalau terjatuh, kan bahaya. Di saku celana kurasakan nada getar berulang kali. Aku diamkan. Dalam situasi seperti ini tak mungkin mengambil HP untuk menerima telpon ataupun membaca sms.

Di balkon sebuah rumah, tampak beberapa perempuan berjejer. Tumpukan sound system berukuran besar tampak terlihat. Suara alunan gitar, yang ah, bila dalam malam, sangat bisa ternikmati. Tapi dalam situasi sekarang ini? Tetap enak terdengar ditambah merdunya suara kaum perempuan itu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

 

Ya, lagu yang dinyanyikan itu, liriknya menggunakan puisi Sapardi Djoko Damono (SDD), salah seorang penyair besar Indonesia. Musikalisasi puisi yang pertama kali tercipta oleh Ags Arya Dipayana pada tahun 1987. Berikutnya diaransemen ulang untuk sebuah film dan tercipta pula album lagu dengan menggunakan lirik SDD.

Lagu itu memang tak menghentikan upaya untuk tetap maju. Mengibaskan kerumunan yang semakin padat saja. Matahari semakin meninggi. Masih sekitar satu kilometer lagi Toko Cinta itu.

Dari pandangan mataku, kulihat banyak kerumunan-kerumunan kecil di tengah kerumunan besar ini melakukan berbagai performance. Pastilah mereka tengah bicara tentang cinta.

Ah, aku tak habis mengerti. Mengapa tiba-tiba Cinta menyeruak ke hati semua orang pada saat bersamaan. Semuanya menjadi gandrung, ingin mencari dan mengungkapkan ekspresinya tentang cinta. Sihir apakah yang demikian kuat mempengaruhi warga kota ini?

 

bersambung

 

 

 

15 Comments to "Toko Cinta (1)"

  1. Odi Shalahuddin  7 April, 2011 at 08:38

    @Anoew: Cinta rasa apa Pak?
    @DJ: Ha.ha.h.ah.a.ha., Eh, gimana kabaar Cechgentong ya? Juga aktif sekali di kompasiana
    @Kornelya: Tetap ada sambungannya, walau diakhiri dengan hal yang tak tuntas… Kisahnya cuma di jalanan aja sih…

  2. Odi Shalahuddin  7 April, 2011 at 08:36

    @Lani:” Mbak Lani, ini cuma fiksi, cuma imajinasi.Mungkin gak akan ada dalam realitas… Ha.h.ah.ah.a., maksud saya tentang ebook dalam bentuk PDF yang saja janjikan tempo hari.. Ok, akan dibagi menjadi dua biar gampang dikirim, ya Mbak…. Besarnya file karena banyak gambar dan tulisan asli dari anak-anak lereng Merapi (buku Himpunan karya anak lereng Merapi. Judulnya: Erupsi Merapi Lahirkan Inspirasi dan Aspirasi)
    @JC: Kalau ide dasarnya sebenarnya kita ini orang-orang yang kehausan akan cinta. Jadi ketika ada toko cinta, semua bergegas mengejar dan ingin membelinya. Tapi masak sih cinta bisa diperjual-belikan, Pak…
    @Anoew: Ha.h.ah.ah.a.h.ah.a
    @Handoko: Wah…a sekarang malah jadi terangsang mau buat buku nih, Pak.. Saya kira tulisan-tulisan yang ada selama ini, akan dibaca ulang dan dikembangkan lantaran kebiasaan buruk, menulis sekali jadi tanpa koreksi….. Terima kasih Pak atas segala dorongannya. Sudah ada sih penerbit yang ngejar-ngejar terus. Setidaknya tidak berpikir tentang uang produksi… Ha.h.ah.a.h.a

  3. Kornelya  7 April, 2011 at 02:27

    Mas Odi, ditunggu sambungannya, bikin penasaran saja, itu toko seperti lagi jualan souvenir Valentine. Salam.

  4. Djoko Paisan  7 April, 2011 at 02:18

    Mas Odi…..
    Terimakasih ya….
    baru tau kalau itu yang namanya cinta…..
    Benar memang, daripada kena macet, mending dirumah makan pisang goreng….
    Mumpung Cechgentong tidak ada disini….hahahahahahaha…..!!!

  5. anoew  6 April, 2011 at 15:42

    beli cinta 1 ons, om…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.