Jujur Berkarya

Probo Harjanti

 

ORANGTUA mana yang tidak bangga, karya anaknya muncul di media massa. Guru mana yang tidak bangga, karya anak didiknya muncul di koran atau majalah. Bukan rahasia lagi bahwa kayanya muncul di koran atau majalah, adalah impian sebagian orang. Bagi guru, karya muncul di medis massa, berarti dapat poin dan koin sekaligus. Bagi siswa tentu menjadi kebanggaan dan nilai tersendiri, jika puisi, cerpen, atau lukisannya muncul di koran.

Karya yang muncul di koran akan menjadi perbincangan di sekolah, juga  menjadi promosi positif bagi siswa maupun sekolah. Itu semua kalau  karya tersebut benar-benar karya siswa, bukan jiplakan, atau sekedar numpang nama. Sebab ternyata tidak jarang ditemui, karya yang sudah terlanjur dimuat, mendapat komplain dari pembaca, konon karya tersebut pernah dimuat di media X.  Kalau itu karyanya sendiri, masih lumayan bagus, karena mungkin lama tidak dimuat, hingga dikirim ke media lain.   Yang  lebih lebih parah adalah karya tersebut adalah jiplakan dari majalah, koran, atau malah dari buku pelajaran (buku paket).

Dari sini, kita perlu mempertanyakan seberapa jauh guru menanamkan nilai-nilai kejujuran, dan bagaimana guru memotivasi anak untuk jujur dalam berkarya. Juga, bagaimana gurunya memberi keteladanan tentang kejujuran terhadap sebuah karya.  Sebab, ada di antara karya jiplakan tersebut merupakan kiriman kolektif suatu sekolah. Terlihat di sini, guru kurang jeli saat menyeleksi karya-karya tersebut, juga kurang mengenali kemampuan anak. Atau, boleh jadi guru jarang membaca (meski selalu menganjurkan siswanya untuk gemar membaca) karya-karya sastra. Kalau dari SD sudah biasa tidak menghargai karya orang lain, bagaimana pula nantinya?

Sebenarnya tidak sulit mengajak anak untuk menghargai hak kekayaan intelektual. itu bisa dilakukan dengan selalu menyebutkan pembuat karya (seni) tersebut, sekaligus memotivasinya bahwa suatu saat mereka juga bisa membuat karya yang disukai, dan dibutuhkan banyak orang. Juga dengan menyebutkan resiko seseorang yang menjiplak karya orang lain, entah puisi, cerpen, juga lagu, atau yang lebih besar lagi, yakni temuan, atau karya penelitian. Kita sampaikan bahwa kalau ketahuan menjiplak karya orang lain bisa didenda, dipecat dari pekerjaan, atau malah masuk penjara.

Dengan ajakan itu, diharapkan mereka tidak menjadi plagiator, menjiplak karya-karya orang lain dan diaku sebagai karyanya. Beberapa tahun lalu, penulis setidaknya mendapati dua karya jiplakan, satu dari sebuah tabloit wanita nasional, satu lagi dari majalah sastra. Karya jiplakan tersebut dimuat di majalah berbahasa Jawa, satunya  dimuat di antologi sastra Jawa. Mungkin pelaku tidak mengira, bahwa pembacanya penikmat sastra Jawa sekaligus Indonesia.

Yang mengherankan,  ada pelaku yang sudah mempunyai ‘nama’! Menyedihkan! Itu belum ditambah karya jiplakan  dari majalah anak-anak terbitan ibu kota. Cerita-ceritanya sering dijiplak siswa untuk tugas mereka. Dan karena guru kurang membaca,  tidak tahu kalau itu karya  jiplakan, hingga karya tersebut dijadikan unggulan dan dijadikan contoh.

Selain hal di atas, ada pula orangtua yang tega membunuh karakter anaknya, dengan mengirimkan karya diatasnamakan anaknya. Mengatasnamakan anak, sama saja menutup kemungkinan suatu saat nanti anaknya akan menekuni dunia tulis-menulis, juga akan mempermalukan anaknya. Kalau suatu saat anaknya diikutkan lomba menulis karena dianggap sudah berpengalaman, sementara sianak sebenarnya tidak atau belum mampu, tentu dia akan malu.

Alangkah baiknya mengirimkan karya dengan mencantumkan nama diri, atau nama samaran sekalian kalau tak ingin dikenali. Mengatasnamakan anak, istri, ataupun suami, mungkin sekali dua lolos, tetapi toh nantinya bakal ketahuan. Kalau ketahuan dan di ‘blakclist’ kita juga yang rugi. Jadi para guru dan orangtua, mari kita motivasi anak-anak kita  untuk selalu jujur dalam berkarya. Beritahukan  pula bahwa tidak setiap kiriman langsung bisa dimuat karena berbagai sebab, mungkin karena belum layak, atau karena menunggu giliran. Beritahu juga, bahwa banyak penulis terkenal, wartawan, reporter pun  mengalami proses lama untuk menjadi seperti sekarang ini. Dengan begitu anak tidak akan bosan berlatih, bosan berkarya, karena karyanya tidak segera dimuat. Mari banyak-banyak membaca, agar tidak ‘dibohongi’ dengan karya jiplakan.

Penulis guru  SMPN 3 Gamping, Sleman, Yogyakarta

 

Ilustrasi:

http://ceritaceritayoga.blogspot.com/2010/09/poster-film-indonesia-yang-plagiat.html

kompasiana.com

 

 

80 Comments to "Jujur Berkarya"

  1. Djoko Paisan  17 April, 2011 at 03:13

    probo Says:
    April 12th, 2011 at 12:17

    njih PakDe……amin…amin
    dhawah sami-sami ……

    asal nggak njungkel hahaha

    Sugen injang bu GuCan….
    Lho wonten punopo tho, kok saget njungkel…..
    Ingkang atos-atos menawi mlampah…..
    Lha kulo tebih, mboten saget mbopong panjenengan, menawi panjenenganipun njungkel…..
    Hahahahahahahahaha……!!!

  2. probo  12 April, 2011 at 12:17

    njih PakDe……amin…amin
    dhawah sami-sami ……

    asal nggak njungkel hahaha

  3. Djoko Paisan  10 April, 2011 at 22:42

    Oooo…. mekaten tho bu GuCan….
    Matur Nuwun…..!!!
    Mugi panjenengan, tansah pinaringan berkat pangestu, dening Gusti ingkang akaryo Jagad……!!!!
    Pareng….

  4. probo  10 April, 2011 at 21:47

    tur menika spesialisipun dimas Anoew …..tuwin mak Dewi saha mbak Lani

  5. probo  10 April, 2011 at 21:00

    PakDe…..menika tergantung,
    ingkang seged pun tingali ingkang dipun adu wonten njawi ruang, ingkang mboten saged pun tngali njih ingkang ndhelik……

  6. Djoko Paisan  10 April, 2011 at 18:58

    probo Says:
    April 10th, 2011 at 18:09

    PakD, padu menika sikil papat didu……

    Lho sikillipun sinten ingkang dipun adu….???
    Wonten pundi ngadunipun….???
    Pareng nngali nopo mboten…..???

  7. probo  10 April, 2011 at 18:09

    PakD, padu menika sikil papat didu……

  8. Djoko Paisan  10 April, 2011 at 16:07

    probo Says:
    April 10th, 2011 at 09:05

    halah padune seneng 69 we…….hayo jujur!

    Bu GuCan…69 mboten padu….!!!
    Lha nek 69 padu, njur mangke kados pundi dadosipun..???
    Puniko naminipun Trisno 69.
    Suwun..bade sarapan rumiyin…
    Pareng….

  9. probo  10 April, 2011 at 15:46

    weleh…rahasia umum…sing ngumumke mbak Lani hahaha….setidaknya saya tahu dari mbak komen mbak Lani

  10. Dewi Aichi  10 April, 2011 at 09:49

    kok tau he he he…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.