The Royal Wedding (3): Main Surat-suratan

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

The Royal Wedding (3)

Main Surat-suratan

 

SUNGGUH akrab untuk melukiskan hubungan antara raja-raja di Nusantara dengan nenek moyang Pangeran William, penguasa tahta kerajaan Inggris ketika abad 16. Bandingkan pada masa setelah kemerdekaan Indonesia, bisa dibilang tidak harmonis antara neneknya William, Ratu Elizabeth II dengan pemimpin Indonesia, terutama awal 1960an.

Kehangatan hubungan itu tidak bisa hilang dari ingatan generasi sesudah itu. Ada bukti tertulis yang melukiskan, bagaimana rangkaian kata nan indah bernada puitis, ditulis oleh para sultan Aceh yang cemerlang juga sultan Banten yang sedang berjaya untuk raja-raja Inggris dalam waktu yang berlainan. Mereka menjalin tali persahabatan manis. Saling berdagang, minta bala bantuan, mengutus duta atau sekedar ucapan selamat.

Sri Susuhunan Pakubuwono IV, raja Mataram, pernah berkirim surat cantik pada 1815 kepada Raja George III, mbahnya William. Surat itu berisi ucapan selamat atas kemenangan Inggris terhadap Napoleon di Waterloo. Raja George III dikenal sebagai ‘raja gila’, karena tingkah lakunya yang aneh. “Mad king”, kata Raja George VI (kakek bapaknya William) dalam film “The King’s of Speech (2010)”. Bahkan kegilaan George III difilmkan dengan baik, “The Madness of King George (1994)”.


Hampir 200 tahun sebelumnya, para sultan Aceh telah berkirim surat kepada mbahnya William. Ada sebuah surat yang panjangnya hampir semeter yang digoreskan dengan tinta emas oleh Sultan Iskandar Muda untuk Raja James I. Surat itu dikirim tahun 1615 saat Aceh berada dalam puncak titik apex (kejayaannya). Armadanya yang kuat dan pengaruhnya nan besar serta menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara besar saat itu.

Raja James I terkenal dengan kajian terjemahan pada kitab suci bible yang terkenal itu. Tahun ini bibel yang dikaji King James berusia 400 tahun, karena dirampungkan pada 1611 dengan nama King James Version. Saya pernah memilikinya dengan bahasa Inggris archaic (kuno) yang indah.

Jalinan surat-suratan antara nenek moyangnya William dengan para penguasa di Nusantara, merupakan masa-masa manis yang dikenang dalam sejarah persahabatan dua negara. Coba lihat bagaimana sultan-sultan Banten rajin berkirim surat ke penguasa kerajaan Inggris. Padahal untuk membawa sepucuk surat saja, tentu harus di antara oleh seorang utusan tingkat tinggi. Pelayaran dari Banten ke London sampai masuk ke Sungai Thames, perlu waktu setengah tahun!

Ada surat sultan Banten ditulis 1605 untuk mengucapkan selamat kepada Raja James I atas penobatannya sebagai raja Inggris. Puluhan tahun kemudian, Sultan Abdul Maffakhir Mahmud mengirim surat kepada Raja Charles I untuk mengabarkan orang-orang Belanda yang dikepung oleh Mataram. Lebih serius lagi, Sultan Banten Abul Fath menulis surat untuk Raja Charles II tahun 1664. Isinya hanya untuk membeli senjata.

Hubungan raja-raja di Nusantara dengan nenek moyangnya William mencapai puncaknya, ketika Sultan Banten Abunashar Abdul Qahar mengirimkan duta kepada Raja Charles II pada 1682 yang berjumlah puluhan orang. Duta itu dipimpin dua bangsawan, Ngabehi Naya Wipraya dan Nganehi Jaya Sedana. Mereka diperlakukan dengan penuh kehormatan selama berbulan-bulan di Inggris. Nginap di Istana Windsor, keliling kota London, nonton pertunjukkan drama karya Shakespeare (susah memahami bahasanya tentu) dan diberi gelar kebangsawanan, Sir Abdul dan Sir Ahmad.

Tahun 2003 Indonesia dikejutkan dengan penemuan koin mata uang Kesultanan Banten di tepi Sungai Thames. Koin-koin itu diduga berasal pada abad 16, saat utusan Banten datang ke Inggris, untuk menemui Raja Charles II. Mereka mungkin merupakan orang Indonesia yang pertama datang ke Inggris. Penampilan mereka yang aneh dan eksotik sangat mengundang perhatian orang di sana ketika itu.

Saat itu Inggris menjalin banyak hubungan dengan negeri-negeri lain dengan mesra. Nah, bila kita lukiskan manisnya hubungan mbah-mbahnya William dengan penguasa di Nusantara dulu, mirip parodi lagu ‘Hati Yang Luka‘ yang dinyanyikan Betharia Sonata:

Kalaulah memang kita berpisah

Main surat-suratan…

Mungkin ini lebih baik

Agar kau puas membagi cintaaa….

 

(tulisan bagian 4, Lho! Waterloo)

 

 

 

36 Comments to "The Royal Wedding (3): Main Surat-suratan"

  1. probo  10 April, 2011 at 09:26

    seneng aku…bisa gawe guyune wong sleman…….

  2. Dewi Aichi  10 April, 2011 at 06:49

    Ha ha ha….ngguyu aku gara gara BU Gucan…

  3. EA.Inakawa  10 April, 2011 at 04:51

    saya jadi banyak lebih mengerti pak Iwan,terima kasih atas artikelnya,salam baik

  4. probo  9 April, 2011 at 11:26

    hahaha……..komenne ming cilik menthik……

  5. J C  9 April, 2011 at 11:20

    Oalaaaaahhh ta’pikir memang mau nulis komen demikian… … sudah yaaaa…

  6. probo  9 April, 2011 at 11:00

    dimas JC tuluuuung…….dibusakke wekku…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *