Belalang-belalang di Tengah Padang (4)

Cinde Laras

 

“Dengarkan hatimu, Rukayah…. Jangan lakukan kalau kamu memang tak ingin…”, pesan Harti saat perempuan muda itu datang ke rumahnya.

“Rukayah ingin sekolah, Bu…. Tapi Rukayah takut pada Emak dan Bapak. Rukayah juga takut menyakiti hati Kang Rustam. Tapi Rukayah ingin lulus SD. Apa itu terlalu berlebihan ?”, kesahnya dengan kepala terpekur menatap lantai.

“Bolehkah Ibu bicara dengan suamimu ?”, tanya Harti. Rukayah menatapnya.

“Apa yang akan Ibu katakan padanya ?”, Rukayah balik bertanya. Perempuan belia yang pintar itu menatapnya dalam-dalam, dia tahu kemana arah pikiran Harti.

“Supaya kamu diijinkan belajar beberapa lama lagi di rumah Ibu…”, ucap Harti.

“Ibu akan ke rumah kami ?”, tanya Rukayah. Harti mengangguk.

“Bila perlu…. Ya ! Ibu akan pergi ke rumahmu, bicara dengan suamimu, kalau perlu Ibu juga akan bicara dengan orangtuamu…”, kata Harti tandas.

“Tapi Kang Rus kemarin marah pada Kayah, Bu…”, timpal Rukayah serak, tenggorokannya terasa kering.

“Itu sebabnya Ibu harus bicara. Ibu akan berjuang untuk cita-citamu…”, kata Harti meneruskan. Hhh…, hanya demi lulus SD – sebegitu sulitnya. Bagaimana kalau anak ini ingin sekolah lebih tinggi lagi, Ya Tuhan…? keluh Harti dalam hati.

Rukayah pulang sore itu dari rumah Harti yang berjalan beriringan dengannya ke rumah keluarga Rukayah. Harti berharap Rustam ada di rumah agar dia bisa bicara dengannya. Rukayah diam seribu basa sepanjang perjalanan pulang, telapak tangannya berkeringat. Sebentar-sebentar dia menoleh pada gurunya yang selalu membalas gundahnya dengan senyum.

Dan di sanalah rumah Rukayah. Lelaki muda yang menjadi suaminya itu sedang duduk di beranda. Dia tampak kaget saat melihat Harti datang bersama Rukayah. Tapi lelaki muda itu cepat menguasai diri.

“Bu Harti…. Silakan masuk, Bu…”, kata Rustam mempersilakan. Harti menganggukkan kepala dan mengucap salam. Rustam membalas salamnya dan mengajaknya masuk.

“Silakan masuk, Bu…. Mari silakan…”, kata Rustam sambil menunjuk ke sebuah kursi kayu beralas rotan dengan sedikit ukiran. Harti tersenyum. Rukayah berjalan ke dapur.

“Tumben Ibu mampir…”, tanya Rustam basa-basi. Pasti ini karena peristiwa kemarin. Rukayah pasti sudah bercerita banyak pada gurunya.

“Begitulah, Rustam. Ibu ingin bicara denganmu…”, jawab Harti. Ada rasa menggelitik di tenggorokannya, memaksanya untuk berdeham barang sekali.

“Ibu ingin minta maaf pada Rustam…”, ucapnya memulai percakapan itu.

“Minta maaf ? Pada saya ? Mengapa, Bu ?”, tanya Rustam berlagak tidak tahu.

“Karena Ibu sudah mengajak istrimu belajar di rumah Ibu setiap Minggu akhir-akhir ini…”, jawab Harti. Dia melirik lelaki muda itu, dan mendapati tak ada perubahan roman muka yang berarti padanya. Artinya, Rustam tidak kaget dengan pernyataannya tadi ! Lelaki itu malah manggut-manggut.

“Hhmm…. Saya sudah mendengar Rukayah pergi ke rumah Ibu untuk belajar. Dia sudah mengatakan pada saya minggu kemarin. Jadi rasanya Ibu tidak perlu minta maaf. Bukankah belajar itu penting ?”, kata Rustam.

“Ibu yang mendorongnya agar bisa lulus SD, Rus. Itu yang Rukayah inginkan saat ini. Menikah denganmu membuat lulus dari SD kami jadi mustahil untuknya. Tidakkah kamu kasihan padanya ?”, kata Harti, mencoba menggelitik perasaan Rustam. Rustam mendengarkan dengan sebelah telinganya. Hhh…. Siapa juga yang tidak ingin sekolah ? Kalau saja Abahnya mau, pasti dia masih sekolah di SMA saat ini. Lalu mengapa dia harus memikirkan sekolah Rukayah.

“Ibu ingin mengetuk hatimu agar mau mengijinkan Rukayah meneruskan belajar di rumah Ibu setiap Minggu hingga dia bisa lulus dari ujian SD. Maukah kamu memberikan ijin padanya ?”, pinta Harti. Lelaki muda itu tak bergeming.

“Sepertinya pertanyaan itu perlu ditanyakan pada orangtua Rukayah, Bu…. Saya tak bisa menjawab. Orangtua Rukayah yang ingin dia menikah dengan saya…”, jawabnya mengelak.

“Tapi kamu suaminya sekarang…”, kata Harti mengingatkan. Dia gemas bukan main.

“Memang saya suaminya. Tapi orangtua Rukayah yang menginginkan anaknya tidak bersekolah lagi. Mereka yang mengiyakan lamaran Abah saya…”, jawab Rustam enteng. Hhh…, rasakan ! Bukan hanya aku yang tidak bisa sekolah lagi, dan aku terpaksa harus bekerja demi mendapat kesempatan sekolah lebih tinggi. Kejar Paket C…, begitu sulitnya untuk bisa lulus SMA. Hingga Abah tidak mau membiayai sekolahku ? gerutu Rustam dalam hati.

Harti menatap lelaki muda yang kini tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri itu. Sepertinya pembicaraan ini akan mendapat hasil yang buntu. Harti menangkap kegundahan lelaki muda itu. Sama resahnya dengan Rukayah, bahkan lebih parah…. Harti menghela napas setelah menyadari bila tak mungkin baginya membujuk Rustam untuk memberikan ijin pada Rukayah agar bisa terus belajar. Mungkin memang seharusnya dia harus bicara pada orangtua anak itu.

“Kalau begitu, bolehkah Ibu bicara dengan orangtua Rukayah sekarang ?”, tanya Harti. Rustam menatapnya dengan mata berkilat, tajam.

“Silakan saja. Akan saya beritahu mertua saya…. Silakan Ibu menunggu sebentar di sini…”, jawabnya sambil beranjak masuk, tanpa menunggu jawaban Harti. Harti mengetuk-ngetuk pegangan kursi. Rumah yang sederhana ini mengingatkannya pada rumah orangtuanya yang ada di kampung. Kecil, sederhana, tapi bersih. Lamunannya tiba-tiba terusik saat terdengar langkah kaki Mak Piah, Harti cepat-cepat mempersiapkan diri. Perempuan yang berumur tak selisih banyak darinya itu menganggukkan kepala. Harti membalasnya.

“Ibu ingin bicara dengan saya ?”, tanya perempuan itu dengan sopan. Dari pintu dapur, Rukayah masuk dengan sebaki minuman teh panas yang disajikan dalam dua buah gelas. Gadis itu meletakkannya ke atas meja. Satu untuk Harti, satu lagi untuk emaknya.

“Silakan diminum, Bu…”, kata gadis itu mempersilakan. Harti mengangguk dan tersenyum padanya. Tak lama kemudian gadis bergegas masuk ke dapur lagi.

“Mak Piah…”, panggil Harti. Perempuan itu menatapnya.

“Mak tahu maksud saya datang ke sini ?”, tanya Harti. Perempuan itu heran.

“Mau bicara tentang apa, Bu Guru ?”, tanyanya.

“Saya mau bicara soal Rukayah, Mak…”, kata Harti.

“Ada apa dengan Rukayah, Bu ?”, tanyanya lagi.

“Kalau boleh…, saya ingin minta ijin Mak Piah agar Rukayah bisa lulus SD…. Apakah itu mungkin ?”, tanya Harti perlahan. Alis Mak Piah bertemu di tengah.

“Mengapa harus meminta ijin saya, Bu ? Rukayah sudah punya suaminya sekarang…”, kata perempuan itu.

“Itulah kata saya pada Rustam tadi…. Tapi Rustam mengatakan kalau ijin itu tergantung apa yang dikatakan mertuanya…”, kata Harti, setengah menyesal. Mak Piah manggut-manggut.

“Jadi begitu…”, timpalnya.

“Ya…. Begitulah yang dia katakan tadi…. Bolehkah, Mak ?”, tanya Harti mendesak.

“Untuk apa lulus ujian, Bu ? Hidup orang miskin seperti kami ini tak pernah lekat dengan sekolah…. Cukuplah Rukayah bisa membaca dan menghitung. Itu sudah bagus untuknya. Ijasah tak kan membuat hidupnya lebih baik. Dengan menikahi Rustam, maka hidup keluarga kami akan semakin mudah…. Masih ada lima anak perempuan lagi yang harus kami urus…”, jawab Mak Piah skeptis. Harti menoleh ke dalam korden pembatas ruangan yang tak sengaja tersingkap oleh hembusan angin.

Ada ruangan dapur yang temaram karena miskin cahaya di sana. Siapa bilang sekolah penting ? Sekolah hanyalah buang-buang waktu saja. Lihat saja si Ali, teman kecilnya dulu yang anaknya Haji Nurdin itu ! Sudah sejak lama sekolah ke kota. Belajar di sekolah agama, katanya. Sudah bertahun-tahun belajar disana. Tapi tak kunjung selesai juga hingga kini. Bahkan kawin pun belum pernah ! Betapa mubazir hidupnya. Waktu terbuang untuk sekolah, istri tak punya, anak pun tak ada. Masih belum bekerja pula ! Mubazir…. Mubazir….

Meski tak lulus SD, Piah merasa lebih kaya darinya. Suami ada, anak punya, nafkah suami ada, bahkan dirinya pun menghasilkan uang dengan berjualan kue basah keliling kampung. Sekedar menambah nafkah keluarga. Apa artinya sekolah tinggi-tinggi kalau sampai berumur setua dirinya masih juga dinafkahi orangtua ? Piah mencibirkan bibirnya sendiri.

“Apakah boleh Rukayah terus belajar sampai kelulusan saja, Mak ? Tak perlu Rukayah pergi setiap Minggu ke rumah saya. Sayalah yang akan datang setiap Minggu ke sini. Bolehkah ?”, tanya Harti mencoba bernegosiasi. Mak Piah memandangi janda kembang itu dengan heran. Guru sengotot ini, haruskah ditolaknya ? Tapi kalau dia yang ingin datang kemari memberikan pelajaran untuk anaknya, apa salahnya ? Piah mengangkat bahu.

“Silakan saja kalau Bu Guru menganggap itu perlu. Kalau Rukayah tidak perlu kemana-mana, saya pasti akan setuju. Setidaknya suaminya tak perlu ditinggal sendiri di rumah…”, jawabnya tanpa basa-basi. Hilang sudah kesan perempuan tak berdaya di hadapan Harti sekarang. Mak Piah bukanlah perempuan tanpa pendirian rupanya. Harti mengangguk-angguk. Mungkin memang lebih baik begini. Setidaknya ini terdengar bagus untuk Rukayah dan dirinya sendiri.Menghidarkan dari perseteruan dengan keluarga muridnya….

*

TO BE CONTINUED

 

31 Comments to "Belalang-belalang di Tengah Padang (4)"

  1. probo  12 April, 2011 at 08:55

    Djoko Paisan Says:
    April 10th, 2011 at 19:01

    ralat: ra nggeblak = rada nggeblak (condong ke belakang)

    Emang menara Pissa….???
    iya pakDe…..pisaaaaaang………

    CL…bukannya balnam lebih kecil dan ringan?
    anoew Says:

    bal voli kok ditaruh di dada…

    Bugucan, apakah maksudnya ‘wongso subali’

    hehehe…iya!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.