Love in a Torn Land

Julie Lulu

 

Hi Baltyrans,

Apa kabar semua? Semoga semuanya dalam keadaan sehat dan sejahtera.  Sudah lama sekali saya tidak menulis artikel; saya sendiri sampai lupa artikel berjudul apa yang terakhir saya tulis dan dimuat di rumah lama dulu J.  Akhir-akhir ini saya terpikir untuk mencoba menulis artikel lagi; kali ni saya akan menulis tentang sebuah buku non fiksi yang belum lama selesai saya baca.  Buku ini berjudul “Love in a Torn Land” karangan Jean Sasson.

Jean Sasson ini juga pengarang buku Trilogi Princess yang bukunya sudah terbit dan dijual di Gramedia dan toko-toko buku di Indonesia; namun buku “Love in a Torn Land” ini belum ada yang edisi bahasa Indonesia, jadi saya membaca edisi bahasa Inggris yang saya beli setelah membaca sekilas tentang referensi buku ini di www.amazon.com

Buku ini mengisahkan tentang kisah dan perjuangan hidup seorang wanita bernama Joanna Al-Askari Hussain yang bertahan hidup di negaranya dalam kepemimpinan Sadam Hussein yang kejam.  Buku ini menceritakan tentang kehidupan Joanna dari masa kecil hingga dewasa. Joanna adalah anak paling bungsu dari 5 bersaudara. Dia mempunyai 2 orang kakak perempuan dan 2 orang kakak laki-laki.  Urutan saudaranya adalah Alia, Ra’ad, Sa’ad & Muna (kembar) kemudian Joanna paling bungsu.

Joanna bersaudara dilahirkan dari pasangan Kafia Aziz, asal Kurdishtan dan Mohammad Al-Askari asal Irak dan mereka sekeluarga tinggal di Bagdad.  Walaupun mereka tinggal di Bagdad, hati Joanna merasa bahwa rumahnya adalah di Sulaimaniya, kota yang berjarak 331 Km dari Utara Baghdad, kampung halaman ibunya.

Kafia – Joanna’s mother

Mohammad – Janna’s father

Joanna selalu menantikan bulan Juli dan Agustus yang dia sebut sebagai bulan bahagia, karena pada bulan itu, ia bersama Ibu dan Kakak-kakaknya akan pulang kampung ke rumah Nenek Ameena untuk liburan dan bertemu dengan sanak saudara dari pihak Ibunya.  Setiap kepergian ini ayahnya tidak ikut, dia tinggal sendiri di rumahnya di Baghdad untuk bekerja mengumpulkan uang, mereka bukan dari keluarga kaya sehingga ayah mereka harus bekerja keras; Muhammad ini adalah seorang yang tuna rungu dan saat menikah dengan Kafia melalui proses perjodohan.

Setiap pergi ke rumah Nenek mereka di bantu oleh Paman Aziz, adik ibu Joanna yang tinggal bersama keluarga mereka dan mereka menyewa taxi yang akan membawa mereka dan barang-barang ke stasiun bis, dahulu mereka sering menyewa mobil yang akan membawa mereka langsung ke rumah nenek namun ketika keuangan makin sulit, mereka harus bersusah payah naik bus untuk menuju ke rumah nenek Ameena.

Suatu hari dalam perjalanan bis, Joanna menyaksikan sendiri dan merasakan bahwa banyak kaum Kurdishtan mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari orang-orang Irak, ia merasa bahwa semua orang Irak membenci kaum Kurdishtan, contohnya adalah ketika ibu Joanna akan membagi bekal makanan yang ia bawa kepada anak dari keluarga Irak, segera ayah dan ibu anak itu akan melarang sang anak menerima pemberian ibu Joanna, bukan hanya dari satu keluarga saja, namun seluruh penumpang di bis juga bersikap sama.

Perjalanan mereka ke rumah nenek melalui medan yang berat, juga perbatasan.  Di setiap perbatasan selalu ada pemeriksaan yang kadang membuat jantung mereka berdebar debar, karena pemeriksa perbatasan selalu berlaku semena mena terhadap kaum Kurdishtan.  Suatu hari mereka mengalami kekerasan  dari petugas pemeriksaan di perbatasan ini; seluruh barang bawaan dan koper mereka porak poranda mengalami pemeriksaan, barang-barang berceceran di jalanan, bahkan boneka cantik kesayangan Joanna hadiah dari bibi Fatima pun nyaris menjadi korban pengerusakan.

Setelah pemeriksaan yang naas, mereka sekeluarga ditinggalkan oleh bis yang disuruh pergi oleh penjaga perbatasan itu, dan mereka terlunta lunta di jalanan luar kota yang sepi.  Ra’ad anak laki terbesar dalam keluarga, membantu ibu mereka membereskan barang-barang yang berserakan dan merekapun berjalan kaki sambil berdoa, berharap semoga ada pertolongan datang.

Tak lama seorang petani muncul dari balik tanaman perkebunan di pinggir jalan dengan membawa traktornya, dan ia menawarkan bantuan pada keluarga Joanna supaya mereka bisa menginap di rumahnya; ternyata petani itu adalah seorang Kurdishtan dan ia adalah paman dari Hady, suami dari Alia, kakak tertua Joanna yang sudah menikah.  Petani itu pun mengangkut keluarga Joanna dengan traktor ke rumahnya.

Mereka diterima dengan hangat di rumah petani itu dan ia menjamu keluarga Joanna dengan baik, keesokan harinya petani itu menyewakan mobil dan mengutus sepupunya untuk mengantarkan keluarga Joanna ke Sulaymaniya.

Akhirnya mereka sampai di rumah Nenek Ameena dan Joanna pun sangat bahagia, ia dan kakak-kakak nya berpuas hati sepanjang hari bisa bermain bersama sepupu-sepupunya.  Keesokan harinya Joanna dan kakaknya Muna, diajak oleh sepupunya berjalan-jalan ke pasar.  Di pasar, pandangan Joanna tertambat pada ketiga orang kakak beradik yang cantik dan menurut perbincangan di daerah itu mereka adalah tunangan/calon istri dari Pashmerga (pejuang Kurdishtan).  Fantasi Joanna kecil langsung bereaksi, ia membayangkan betapa serunya dan betapa membanggakan bisa menjadi istri seorang Pashmerga dan angan-angan ini terbawa sampai Joanna dewasa.

Setelah remaja, Joanna dan kakaknya Muna sering membantu di rumah kakak mereka Alia, yang sedang hamil anak ketiga dan mempunya dua anak laki-laki yang masih kecil-kecil.  Pada saat menginap disana, suami Alia, Hady kedatangan seorang teman yang bernama Sarbast, Joanna jatuh cinta pada pandangan pertama, namun ternyata Sarbast agak-agak cuek untuk urusan percintaan karena dia sedang bersemangat ingin menjadi Pashmerga untuk membela Kurdishtan dari serangan serangan Irak yang diperintahkan oleh Sadam Hussein dan juga karena Sarbast hanya menganggap Joanna sebagai adiknya.  Pashmerga terus berjuang tanpa menyerah melawan tentara Irak yang berusaha menghancurkan Kaum Kurdishtan dan tempat tinggal mereka di desa-desa.

Pashmerga berjuang secara bergerilya dari desa-desa, hutan-hutan dan pegunungan di daerah Kurdishtan, bahkan mereka mempunyai markas di daerah pegunungan juga mempunyai stasiun radio sendiri.  Mereka ingin Kurdishtan bebas dari penindasan Irak.  Joanna sering terkangen kangen dengan Sarbast namun ia jarang muncul di rumah Hady dan Alia karena sedang bertugas.  Suatu hari Joanna mendengar kabar bahwa Sarbast bertunangan dan akan segera menikah, Joanna patah hati.  Joanna sempat kuliah di sebuah universitas di Baghdad dan dia tahu nama wanita yang akan dinikahi oleh Sarbast, pujaan hatinya, kemudian Joanna mencari tahu di kampus, seperti apakah wanita yang akan dinikahi oleh Sarbast.

Setelah menemukan dan melihat wanita yang akan dinikahi oleh pujaan hatinya, Joanna bertambah terpuruk dan bersedih karena ternyata wanita yang dipilih Sarbast tidak secantik dirinya dan dia bertambah sakit hati dan bertanya tanya mengapa Sarbast tidak mau memilihnya.  Setelah beberapa saat sakit hati kemudian Joanna mendapat kabar bahwa Sarbast tidak jadi menikah, karena wanita pilihannya mengultimatum Sarbast untuk harus berhenti menjadi Pashmerga jika ingin menikah dengannya.

Joanna sangat memahami menjadi Pashmerga adalah keinginan Sarbast yang terbesar, maka Ia pun melupakan sakit hatinya dan berusaha menjalani hidupnya bahkan ia sempat bekerja di sebuah biro perjalanan, selepas lulus kuliah.  Suatu hari Joanna mendapat surat dari Sarbast yang menyatakan cintanya kepada Joanna lewat sebuah puisi, surat ini dikirimkan melalui kurir karena Sarbast sedang berjuang di dalam hutan. Beberapa kali surat dikirimkan selalu tidak ditanggapi oleh Joanna, akhirnya surat terakhirpun dikirimkan oleh Sarbast yang menanyakan apakah Joanna mau menikah dengannya.  Melalui kurir pula Joanna menjawab lamaran Sarbast.

Perjuangan pun dimulai, tidaklah mudah untuk mulai proses pernikahan dengan Sarbast.  Joanna yang sudah bersiap siap untuk pernikahannya, membawa koper dan perlengkapan lainnya untuk berangkat ke kota tempat tinggal Sarbast di antar oleh Sa’ad, kakak ketiganya.  Joanna mengucapkan selamat jalan pada Ibunya dengan berurai air mata karena ia tahu, setelah menikah dengan Sarbast ia akan tinggal bersama Sarbast mengikuti perjuangannya di dalam hutan dan ia tidak tahu kapan lagi bisa berjumpa dengan ibu dan kakak-kakaknya.

Sesampainya di rumah Sarbast, Joanna pun tidak menemukan Sarbast di sana, ternyata keadaan sedang dalam keadaan tidak aman sehingga pernikahan dilangsungkan tanpa mempelai pria.  Penghulu yang sudah bersedia menikahkan mereka berdua, bersama kurir andalan mencari Sarbast ke dalam hutan untuk melakukan ijab kabul dan menanda tangani dokumen pernikahan, setelah itu baru kembali ke rumah untuk memberikan dokumen supaya di tanda tangani oleh Joanna.

Setelah  menikah dan ada resepsi kecil di keluarga Sarbast, Joana pun dipersiapkan untuk dihantarkan menuju tempat Sarbast di hutan.  Ibu dan kakak Sarbast menyeleksi pakaian yang Joanna bawa dari Baghdad, supaya pantas dan praktis di bawa ke hutan.  Joanna pun shock melihat baju-bajunya berganti dengan pakaian bermodel pakaian pria yang dipinjamkan oleh Kakak perempuan Sarbast dan ia pun tetap memaksa membawa satu selimut pink untuk ranjang pernikahannya dan juga satu baju tidur yang lembut yang akan digunakan pada malam pertamanya.  Menurut Kakak Sarbast, pakaian yang di bawa Joanna dari Baghdad tidak cocok untuk dipakai selama tinggal di dalam hutan.

Keesokan harinya ada kurir wanita yang ternyata adalah istri seorang Pashmerga. Ia menjemput Joanna dan mengantar Joanna menemui suaminya, perjalanan jauh dan berliku liku, melewati bukit dan hutan,  namun ia tidak putus asa karena besarnya kerinduan dalam hati untuk bertemu Sarbast.

Setelah berjalan kaki, naik keledai dan akhirnya ada mobil jeep mengantar Joanna, sampai ia di gunung tempat markas Pashmerga, dan merakapun bertemu.  Sarbast menyambut Joanna dengan bahagia dan ia memperkenalkan Joanna kepada teman teman dan komandannya.  Komandan para Pashmerga dan istrinya menyewakan rumah mereka di atas gunung di daerah Serwan untuk tempat bulan madu mereka.

Joanna – Sarbast Honeymoon

Mereka melewati masa bulan madu selama beberapa hari dengan bahagia dan sempat melewati beberapa saat yang membahagiakan sembari Joanna beradaptasi dengan kehidupan di gunung. Sampai pada suatu hari di tahun 1987, Saddam Hussein menyuruh sepupunya yang dijuluki Chemical Ali untuk menghancurkan desa tempat tinggal Joanna dan Sarbast di Bergalou dengan senjata kimia.

Joanna yang pada saat itu sedang berjalan-jalan sendiri, terkena serangan senjata kimia itu dan menjadi buta sementara.  Pada saat itu Joanna mencari Sarbast sembari meneriakkan namanya, akhirnya mereka pun bertemu dan Sarbast menyelamatkan Joanna dengan mengajaknya mengungsi ke pegunungan yang lebih tinggi lagi.  Mereka melewati perjalanan dengan berjalan kaki, melewati sungai, hutan dan mendaki gunung, bahkan Joanna harus terpaksa naik keledai melewati tanjakan curam yang sebenarnya dia menolak, namun karena keadaan tidak memungkinkan akhrinya dijalaninya juga.

Joanna dirawat oleh Sarbast di pegunungan, di rumah salah satu pejuang Pashmerga, dan Sarbast juga mengajarkan Joanna menembak dan berjaga jaga terhadap suatu keadaan yang mencurigakan, karena Sadam Hussein dan Chemical Ali benar-benar ingin menghabisi para Pashmerga dan orang-orang Kurdishtan.  Joanna sempat terkena serangan bom pada saat mandi dan keramas di rumah itu sampai ia pingsan dan kepalanya berdarah, namun tidak parah.  Setelah perawatan beberapa saat, buta sementara Joanna pun hilang, dan dia bisa melihat kembali.

Perjuangan mereka sangat berat; setelah penyerangan berhenti, Joanna dan Sarbast mengunjungi pusat-pusat pengungsian dan Joanna hancur hatinya karena mendapati kabar dari tetangga bibinya, bahwa Bibi Aisha, kesayangan Joanna, mati terkena serangan sejata kimia di halaman belakang rumahnya.  Joanna segera memberi kabar ke keluarganya di Baghdad tentang Bibi Aisha.

Beloved auntie – Aisha

Joanna dan Sarbast memutuskan mengungsi ke Iran, disana mereka mengontrak sebuah kamar di loteng milik wanita Iran yang baik hati bernama Shamsa dan menganggap Joanna seperti anaknya sendiri.  Pada saat tinggal di Iran Joanna hamil, karena ia dan Sarbast masih serba kekurangan wanita Iran yang baik hati itu banyak menolong mereka.  Pada saat akan melahirkan Shamsa dan Sarbast membawa Joanna ke rumah sakit, ketika rumah sakit mempersulit proses administrasi Joanna, Shamsa menyatakan bahwa Joanna adalah anaknya yang akan melahirkan.

Joanna & Shamsa

Joanna dan Sarbast menamai anak mereka Kosha yang artinya pejuang dalam bahasa Kurdishtan.  Mereka menganggap Iran bukan tempat yang baik untuk menata hidup mereka di masa depan, maka mereka mencari suaka ke Inggris. Dibantu sejumlah  uang dari kakak Joanna, Ra’ad untuk membuat passport dan menyogok petugas imigrasi di Iran dan Syria akhirnya Joanna, Sarbast dan Kosha bisa sampai ke Inggris perjuangan yang tidak gampang pula walaupun sudah dibantu dengan sejumlah uang.

Joanna – Sabarst in Iran

Setelah tiba di Inggris Joanna dan Sarbast menata hidup mereka dan mereka mempunyai seorang anak lagi bernama Dylan.  Joanna juga bekerja di British Airways yang memungkinkannya untuk melakukan beberapa perjalanan sedangkan Sarbast bekerja bolak balik antara Inggris dan Kurdishtan untuk membangun daerah-daerah Kurdishtan yang dihancurkan oleh Chemical Ali.

Joanna – Kosha in England

Ibu Joanna, Kafia juga tinggal di Inggris dan setiap beberapa saat dia bepergian ke Dubai juga ke Swiss untuk mengunjungi Ra’ad dan istrinya Christina beserta anak-anak mereka.   Alia dan Hady beserta anak-anaknya tinggal di London.

Kakak Joanna, Sa’ad beserta keluarganya masih tinggal di Baghdad dan karena ia dalah seorang Sunni, ia dan keluarganya menjadi target dari pembunuhan jika ia tidak pindah dari tempat tinggalnya.  Seluruh keluarga sedang bekerja sama untuk mencarikan tempat tinggal yang baru bagi Sa’ad dan keluarganya.

Setelah Sadam Hussein ditangkap, diadili dan dihukum mati pada tanggal 20 Desember 2006, Joanna dan kaum Kurdishtan lainnya merasa harapan dalam hati mereka akhirnya bisa menjadi kenyataan bahwa pada akhirnya mereka bisa menata kembali hidup mereka dan juga bahwa kedamaian dan kebebasan adalah hadiah terbesar yang pernah mereka terima dalam hidup mereka.

Saya sangat tersentuh membaca buku ini, karena menceritakan tentang harapan dan perjuangan seseorang dalam menjalani hidup bahkan di saat sulit sekalipun.  Buku “Love in a Torn Land” ini saya beli di Times Bookstore Karawaci, bertebal 431 halaman dan penerbit Bantam Books.

Terima kasih kepada redaksi Baltyra apabila tulisan saya ini dimuat, dan kepada teman-teman Baltyrans yang berminat membaca buku ini, saya ucapkan happy reading karena buku ini benar-benar bagus untuk dibaca.

 

Salam kutu buku,

Lulu

 

 

 

50 Comments to "Love in a Torn Land"

  1. Febri  23 January, 2013 at 15:38

    mbak, novel love in a torn ini memang sangat menarik dan menyentuh hati sehingga saya tertarik untuk menganalisis cerita di dalam nya, sebagai bahan/data buat skiripsi saya saya membutuhkan novel versi bahasa inggris tersebut, bisakah Anda membantu saya dimana mendapatkan nya karena saya sudah mencari di website online book shop slalu not available in indonesi or restocking. saya hanya membaca versi indonesia nya sedangakan saya membutuh kan yg versi bahasa inggris nya. mohon bantuan nya.. terima kasih.. ^_^ dan salam kenal. saya harap mbak membalas this post..

  2. EA.Inakawa  12 April, 2011 at 03:34

    Julie Lulu terima kasih atas referensi buku ini,sebuah pengalaman hidup yg menarik dari sebuah negeri yang hancur lebur,salam baik

  3. Nuchan  12 April, 2011 at 00:27

    Daniel garuk-garuk kepala, kalau tidak boleh, mengapa disitu ditulisnya…!!!

    Wah Daniel lupa keramas kali OM DJ, jadi garuk-garuk kepala..gatal kali kepalanya karena belon dicuci yah…
    Lain kali cuci rambut dulu yah baru ke Brastagi…

  4. Djoko Paisan  12 April, 2011 at 00:21

    Hahahahahahaha….
    Olehnya di TK di Jerman, tidak diajarin berhitung atau menulis.
    Mereka sampai umur 6 tahun, selain main-main, juga diajar hidup secara sosial.
    Yang besar bisa ajak main yang kecil.
    Dan mereka diajar lihat rumah sakit, apa itu dokter, suster, apa itu mobil ambulanz dan gunanya.
    Diajak jalan ke air port, lihat pesawat dan berkenalan dengan pilot dan asistennya.
    Diajar mengapa pesawat bisa terbang.
    TK diajari menelpon, kalau ada kebakaran, jadi tidak takut, tapi bisa telepon pemadam kebakaran, harus tau nomor telepon Pemadam kebakaran…..
    Yang masih kecil-kecil juga diajari pegang guntung dan menggunting digaris-garuis yang sudah dibikin oleh gurunya.
    Bisa nyeberang jalan di tempat yabg bergaris-garis ( Zebra )

    Jadi ingat saat Daniel masih TK 1996 kami ajak ke Indonesia, di Bratagi, kami tengok Taman Kanak-kanak.
    Daniel tanya, tulisan apa yang ada ditembok, kok hanya satu-satunya.
    Saat dengar Daniel bicara dan menunjuk ke tembok, maka ada guru TK yang nanya.
    Putranya nanya apa…???
    Dj. kasi tau, apa arti tulisan itu…???
    Dj. jelaskan ke Daniel, dilarang coret-coret di tembok ini….
    Daniel garuk-garuk kepala, kalau tidak boleh, mengapa disitu ditulisnya…!!!
    Kan itu uga ngotori tembok…!!!
    Saat Dj. terjemahkan apa yang Daniel katakan, maka gurunya malu dan bilang, akan dipindah dipapan.
    hahahahahahahaha…..!!!
    Maklum orang mbatak ya Nuchi….
    Untung itu guru mau dikasi tau…..walau orang mbatak….hahahahahaha….!!!!

  5. Nuchan  11 April, 2011 at 23:55

    Kalau sudah tau aturan, ya mudah dan tidak ada yang sulit…. Karena sudah berpikir secara dewasa….

    Alamak jadi nuchan masih berpikir kayak anak TK nie?
    ( wah OM DJ beneran ngajak berantem nie)

  6. Djoko Paisan  11 April, 2011 at 23:43

    Hahahahahahahaha……!!!
    Penjara….???
    Benar ya Nuchi…kasihan ya….
    Tapi tenang kok, mau jalan malam jam 1 tengah malam, juga tidak ada rasa takut.
    Berapa kali kaca mobil Dj. lupa ditutup atau Harley Dj. kuncinya masih nempek di Motor.
    tapi tidak ada yang mau ambil…..
    Orang diajar untuk mengikuti aturan saja….
    Kalau sudah tau aturan, ya mudah dan tidak ada yang sulit…. Karena sudah berpikir secara dewasa….
    Tapi kanak-kanan memang merasa seperti di penjara….hahahahahaha…!!!
    Kan dirumah juga pakai aturan bukan…???

    Dj. jadi ingat, “mungkin” 10 tahun yang lalu, dikota kami lihat mobil yang sangat bagus dan kuncinya masih nempel dipintu mobil. Dj. mau ambil itu kunci mau diserahkan ke polisi.
    Tapi Susi bilang…jangan…nanti kan yang punya mobil pasti datang lagi….
    akhirnya kami tulis diselembar kertas kecil, dengan tulisan…
    Lain kali janganmlupa bawa kuncinya….
    Kalau di Indonesia, itu mobil sudah hilang kali ya….hahahahaha….!!!
    Apalagi kelau di Medan, dikuncipun masih bisa hilang…. aneh kan…???

    Nah ya, orang bilang, lain ladang, lain pula belang-belangnya…hahahahaha…!!!

  7. Nuchan  11 April, 2011 at 23:22

    Yah ampun OM DJ hidup di Jerman koq kayak di penjara yah…nga boleh ini nga boleh itu…
    Kasihan banget ..koq kayak lagu begini yah..

    BEGINI SALAH..
    BEGITU SALAH
    SEMUANYA SERBA SALAH..

    KASIHAN DEH….

  8. Djoko Paisan  11 April, 2011 at 23:17

    Nuchan Says:
    April 11th, 2011 at 23:07

    Alamak alamak nga abis-abis ini somse somse somse orang Mainz…

    Halaman belakang rumah Dj. -+ 600 s/d 800 M²

    Ckckckck emang di Mainz masih ada lahan kosong yah?Wah Om DJ tinggal dikampung apa di kota yah???

    Nah ini dia Nuchi….
    banyak orang sangka seperti di Jepang, semua serba sempit….
    Di Jerman, masih banyak tempat dan banyak juga hutan…
    Karena tidak setiap orang bisa bangun rumah seenaknya sendiri, seperti di Indonesia.
    Semua ada aturannya dan siapa turuti aturan, akan hidup tenang.
    Contohnya, di belakan rumah, akan Dj. bangun pavilion, tidak mungkin, kalau tidak ada ijinnya.
    Dihalaman rumah ada pohon cemara yang sudah terlalu besar, mau Dj. tebang, ya harus minta ijin dulu, walau dihalaman rumah sendiri.
    Dan…biasanya, kalau dapat ijinpun, harus mengganti itu pohon, dengan menanam pohon yang kecil.
    Di Jerman…pohonpun disekolahkan, kalau tidak percaya, tanya sama Hennie…
    Mancing…berburu…harus punya surat ijin…
    Mancing, harus sekolah 3 bulan dan ujian negara, untuk berburu sekolah 3 tahun….
    Olehnya semua orangnya juga tertip, ikuti aturan….
    Walau di Jerman banyak atheis, tapi mereka semua menghormati hari Minggu.
    Contohnya, kalau hari minggu, tidak boleh kerja di kebun, walau kebun sendiri.
    Tidak boleh jemur pakaian, walau dihalaman sendiri.
    Tidak boleh bunyikan musik keras-keras….
    sama seperti setiap hari, setelah jam 21:00 malam, sudah harus tenang….

    Nah itu sebagian yang bisa Dj. ceritakan….
    Jangan kaget, juga tidak boleh bakar sate disembarang tempat….!!!

  9. Nuchan  11 April, 2011 at 23:07

    Alamak alamak nga abis-abis ini somse somse somse orang Mainz…

    Halaman belakang rumah Dj. -+ 600 s/d 800 M²

    Ckckckck emang di Mainz masih ada lahan kosong yah?Wah Om DJ tinggal dikampung apa di kota yah???

  10. Djoko Paisan  11 April, 2011 at 22:20

    SU Says:
    April 11th, 2011 at 16:13

    Pak Djoko:

    Yaaaa SU…. Ada apa kok panggil Dj….???

    Maaf ya Nuchi….ini baru pulang ngarit, sudah diajak tertawa, mana sendirian dirumah…..
    Dj. dipanggil SU , entah ada apa ya…???

    Okay Nuchi…..
    Maaf ya…. Dj. bener-bener senyum sendirian, untung tidak ada yang lihat…
    tadinya pulang ngarit, istirahat sebentar, minum susu + madu, langsung mau lari ( pitnes ).
    Ternyata harus jawab komentar Nuchi…..

    Hhhhhhmmmm…. baru senyum sudah hampir keseleg…..
    Nuchi yang baik….
    Halaman belakang rumah Dj. -+ 600 s/d 800 M²
    Jelas tidak semua Dj. pajang dengan binsai, di halaman ini, banyak macam-macam tanaman.
    Tapi tidak untuk kami makan, kami bagikan ke tetangga saja, yang untuk makan, kami beli di supermarket.
    Pada mulanya, ada tetangga Dj. yang sedikit cerewet ( seperti Nuchi ), lihat sayuran yang sudah bisa di panen, dia selalu teriak…Dj. itu tanaman kalau terlalu lama, bisa jadi kayu…!!!
    Dj. jawab…biarin saja, tidak jadi masalah….
    Dia garuk-garuk kepala… Kalau demikian, mengapa kamu tanam itu sayuran….???
    Dj. jawab lagi…Untuk hiasan kebun saja….
    kalau mau makan sayuran ya beli di Supeprmarket saja, lha wong murah kok..
    Dia tambah sewot, tapi kadang dia minta….
    Nah kalau dia minta, ya jelas kami kasi….

    Kami hidup menikmati saja, tidak ngoyo….
    Ada sedikit, ya gunakan sedikit…ada banya…ya gunakan banyak…..

    Okay, soal bonsai, kan Dj. kasi lihat hutan bonsai Dj. yang kecil mungil, tapi indah.
    Kalau delimanya berbunga dan berbuah, sangat indah dan lucu, tapi bukan untuk dimakan.
    Kalau mau makan delima, ya beli dong ya….
    Nah….terus Nuchi kan kasim lihat bonsainya Nuchi yang super itu….
    Olehnya Dj. sangat gembira, dapat teman yang juga hobby bonnsai, jadi bisa sharing dong….
    Olehnya Dj. keluarkan kolleksi Dj. agar Nuchi lihat, siapa tau ada nesehat dari ahli bonsai dari Medang yang bisa kasi petunjuk kepada Dj. yang anak bawang ini….

    Jadi Dj. akan sangat berterimakasih kalau Nuchi mau tukar pikiran tentang bonsai….
    Pengalaman kan sangat mahal, siapa tau Nuchi mau kasi ke Dj….

    O…ya soal harga yang Dj. tulis itu bukan bermaksud pamer, tapi betapa mahalnya, bila dibanding dengan harga di Indonesia. Hanya saja, kalau bawa dari Indonesia, sangat berat…

    Hari ini di sawah, Dj. gambar bonsai di lemari Dj.
    Boss Dj. lihat dan sangat tertarik, e….lemari Dj. dia minta dan Dj. besok akan dapat yang baru….hahahaha….!!!
    Silahkan lihat, lumayan elok kan…???
    Jelas tidak se elok Nuchi…
    Salam manis dari Mainz….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.