Biar Cepat Asal Selamat (4): Selamat Tinggal Sholat Belang Betong

Diday Tea

 

“Ibadahlah untuk beryukur dan berterima kasih kepada Allah, bukan sebagai beban rutinitas belaka”

 

Sholat Belang Betong

Belang-betong, istilah yang untuk orang yang tidak berbahasa Sunda pasti akan terasa asing dan membuat dahi sedikit berkerenyit, karena kata-kata yang terdengar sangat aneh ini.

Belang-betong, oleh orang Sunda adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan ketidak-konsistenan seseorang dalam melakukan sesuatu. Sholat, puasa, menghadiri pengajian, sekolah, apapun yang seharusnya dilakukan secara rutin, tapi tidak.

Begitu jugalah kondisiku sebelum kelas tiga di sekolah. Aku bisa dikategorikan sebagai si belang-betong. Karena saya hanya sholat jika sempat dan bisa (dalam pengertian saya waktu itu). Kalau sempat ya sholat, tapi kalaupun terlewat yaa sudahlah, besok juga kan masih ada waktu sholat mah.

Semoga saya diampuni.

(pinrizal.wordpress.com)

 

Mendaftar SSG

Aa Gym belum begitu dikenal orang pada tahun 2000. Beliau masih terkenal di kalangan terbatas saja, terutama orang Bandung.  Orang yang datang ke pengajian rutinnya-Kamis malam dan Minggu pagi-pun masih belum banyak, jamaah tidak sampai memenuhi halaman mesjid.

Ini adalah kutipan penjelasan tentang Santri Siap Guna dari website pesantren Daarut Tauhid Bandung:

“Santri Siap Guna (SSG) Daarut Tauhiid, pada awal pendiriannya dicetuskan oleh K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) pada tanggal 25 April 1999 yang pendekatan visinya lebih dititikberatkan sebagai pelayan masyarakat baik di bidang dakwah, ekonomi, maupun sosial kemasyarakatan.

Selaln itu, Santri Siap Guna juga disiapkan sebagai sarana pengkaderan dan pembinaan generasi muda mandiri yang mampu untuk menjadi motivator, stabilisator dan integrator bagi masyarakat. Santri Siap Guna Menuju Generasi Ahli Dzikir, Ahli Pikir, dan Ahli Ikhtiar.”

Ketika itu aku  masih kelas tiga, dan mulai mendengarkan ceramah- ceramah Aa Gym yang terdengar sangat “menyenangkan”, tidak penuh retorika seperti para ulama-ulama yang biasa saya dengarkan atau lihat sebelumnya.

Setelah beberapa bulan, aku pun mulai rutin mendatangi kajian di pesantren Daarut Tauhiid di Geger Kalong. Sejujurnya, itu pun karena diajak oleh teman-teman sebaya di lingkunganku  yang memang sudah lebih dahuu mengenal Aa Gym. Dan juga, ternyata ada “motivasi plus”. Kata mereka sih, cewek-cewek berjilbab yang cantik-cantik, atau kita sering menyebut mereka sebagai Akhwat-akhwat Ceria .Dasar anak sekolah!

Aku  putuskan untuk mendaftarkan diri, walaupun sih, awalnya hanya sekedar ikut-ikutan teman. Toh, pendaftarannya masih gratis, aku tidak akan merugi apa-apa selain waktu.


Kegiatan

Kegiatan selama pelatihan itu sih, tidak jauh berbeda dengan ekstra kurikuler di sekolah.  Yang istimewa, ya itu, ketika konsep Manajemen Qolbu-nya Aa Gym menjiwai hampir setiap orang yang terlibat di dalam pelatihan tersebut.

Hal yang paling pertama diajarkan adalah Ice Breaking. Kita diminta untuk membawa satu buah genteng dari rumah dan, di pelatihan disuruh untuk memecahkan geneng itu dengan tangan kosong secara bersama-sama. Ini untuk menghilangkan ketakutan dalam diri, membuat kita berani untuk memulai sesuatu yang kita anggap sulit dan mungkin juga tidak berhasil. Menumbuhkan inisiatif dan kemauan untuk berbuat. Itu hikmah yang paling tepat kurasa.

 

Apa Yang Paling Berkesan?

Apa sih, yang didapatkan di pelatihan SSG itu?

Aku hanya menghadiri dua bulan saja pelatihan dari empat bulan yang diajarkan.

Pelatihan ini berlangsung dua hari seminggu, dari sabtu sore sampai minggu sore. Rutinitasnya sih, tidak jauh berbeda dengan ekstra kulikuler di sekolah seperti Pramuka, PKS, dan PMR. Tentu saja SSG lebih lengkap, karena memberikan juga materi Team Building, Problem Solving, P3K, di samping materi standar lainnya seperti mengaji, atau kita dilibatkan sebagai sukarelawan jika ada kegiatan yang melibatkan orang banyak di pengajian.

Yang istimewa, ya itu, ketika konsep Manajemen Qolbu-nya Aa Gym menjiwai hampir setiap orang yang terlibat di dalam pelatihan tersebut.

Hal yang paling  pertama diajarkan adalah Ice Breaking. Kita diminta untuk membawa satu buah genteng dari rumah dan, di pelatihan disuruh untuk memecahkan geneng itu dengan tangan kosong secara bersama-sama. Ini untuk menghilangkan ketakutan dalam diri, membuat kita berani untuk memulai sesuatu yang kita anggap sulit dan mungkin juga tidak berhasil. Menumbuhkan inisiatif dan kemauan untuk berbuat. Itu hikmah yang paling tepat kurasa.

Yang paling berkesan buatku sih sebenarnya bukan pelatihan-pelatihan seperti ekstrakulikuler di sekolah-sekolah.

Yang benar-benar membuat perubahan besar dalam diriku adalah sesi jeda di antara kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan.

Setiap selesai melakukan kegiatan, akan diadakan sesi

 

Apa Yang Paling Berkesan?”

Para peserta akan ditanya terlebih dahulu, apa hikmah apa yang bisa diambil dari kegiatan ang sudah dilakukan oleh mereka beberapa saat sebelumnya. Biasanya sih yang menjadi pemandu sesi ini adalah Abdurahman Yuri, adik Aa Gym yang akrab disapa A Deda. Ternyata dia jauh lebih humoris dibandingkan Aa Gym. Padahal, Aa Gym saja kan sudah sangat sering bercanda untuk menghilangkan jarak antara “ulama dan umat” ketika sedang berceramah. A Deda, memberikan pendekatan yang lebih “segar”, cenderung ke arah lebih humoris. Mungkin karena beliau lebih muda dari Aa Gym.

Aa Gym juga mempunyai porsi tersendiri di pelatihan SSG. Biasanya beliau yang memimpin apel pertama di Sabtu sore, dan apel penutupan di Minggu sore. Serasa mimpi, biasanya aku hanya mendengar beliau di radio, kali ini aku bisa bertemu dan bertatap muka langsung dengan beliau minimal dua kali seminggu.

Tidak jauh berbeda dengan A Deda, materi yang diberikan oleh Aa Gym tidak jauh dari hikmah yang kita dapatkan dari pelatihan yang sudah dilalui minggu itu.

Jika ada acara bersama A Deda, kita akan mendapat kesan seperti sedang menonton campuran antara kelompencapir dan srimulat, karena pasti selalu berlangsung ramai dengan diskusi dan acungan tangan peserta yang ingin mengungkapkan pendapatnya untuk menjawab pertanyaan “Apa Yang Paling Berkesan?”

 

Paradigma Baru

Paradigma baru, ini yang paling berkesan selama menjalani pelatihan SSG. Setelah beberapa pertemuan, kita sudah mulai terbiasa dengan bertanya kepada diri sendiri: “Apa Yang Paling Berkesan Hari Ini?

Perubahan paradigma lain yang terjadi pada pikiranku adalah paradigma tentang ibadah dan tentang melakukan kebaikan.

Apa yang kita lakukan akan berbalik kepada diri kita sendiri, baik kebaikan atau pun keburukan.

Apa pun yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari ternyata bisa menjadi ladang amal untuk kita, semuanya hanya masalah niat saja. Ibadah tidak sebatas hanya sholat, puasa, zakat, sedekah dan haji.

 

Ibadah Untuk Bersyukur

Sebelum pelatihan, sholatku masih belang-betong, kadang- kadang masih bisa meninggalkan sholat dengan alasan yang tidak terlalu penting, seperti kesiangan bangun, ada tugas sekolah, atau membuat laporan praktikum.

Di pelatihan itu , aku sama sekali tidak pernah mendapat kalimat perintah: “Sholatlah kamu lima kali sehari!” Atau “Kamu harus sholat tahajud setiap hari!”. Yang ada hanya teladan dari para pelatih, santri dan ustadz yang memberi pelatihan dengan langsung memberi aksi dan mencontohkan.

Pemicu utama, ketika akhirnya aku bisa dan mau melakukansholat lima waktu tanpa merasa dipaksa, ternyata adalah isi dari salah satu ceramah Aa Gym ketika mengisi materi di SSG.

“Allah sama sekali tidak memerlukan sholat dan ibadah kita!” Ujar beliau dengan penuh semangat.

“Jika kita hanya menganggap sholat dan ibadah yang lain hanya sebatas rutinitas dan kewajiban, kita pasti akan jenuh, bosan, dan merasa terbebani ketikamelakukannya, tapi jika kita melakukan ibadah sebagai ungkapan rasa syukur kita, rasa terima kasih kita kepada Allah, yang tidak pernah berhenti memberikan semua yang kita perlukan tanpa kita minta!” Beliau menambahkan dengan lebih berapi-api, dengan kobaran mata yang membara, layaknya api yang ikut membakar semua yang mendengar untuk segera memutuskan hari itu juga, untuk merubah paradigma.

Ya! Paradigma baru,   bahwa kita melakukan ibadah untuk menunjukkan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah. Bukan sebatas rutinitas belaka.

Terlepas dari apa yang sedang dibicarakan orang tentang Aa Gym sekarang, dan aku juga tidak begitu sering lagi mendengar atau melihat ceramahnya,  tapi setidaknya aku ingat, beberapa tahun yang lalu, beliau pernah mendapatkan gelar Tokoh Perubahan dari Republika.

Dan terbukti, akhirnya semenjak hari itu, aku tidak pernah berani meninggalkan sholat. Bahkan, aku jadi lebih sering sholat berjamaah di mesjid dekat rumahku.

Tahajud  pun, yang tidak pernah aku bayangkan akan kulakukan, ternyata bisa kulakukan dengan ringan, tanpa beban ngantuk, atau malas, ataupun perasaan berat.

Kuncinya hanya satu. Ya itu tadi, hanya tinggal merubah pikiran kita ke mode “bersyukur”, bukan ke mode “harus melakukan”.

Kalaupun  , setelah beberapa tahun berlalu dan ternyata aku tidak segiat dan serajin dahulu, itu adalah semata disebabkan oleh diriku sendiri.

 

Uang Yang Habis Untuk Kepentingan Belajar Adalah Investasi, Bukan Konsumsi

Satu lagi paradigma baru yang kudapat selama dipelatihan itu. Sebelumnya, aku masih memiliki paradigma secara umum, bahwa membeli buku adalah konsumsi, bagian dari sebuah pemborosan. Untuk beberapa kasus sih memang seperti itu, karena aku masih sekolah dan belum mempunyai penghasilan.

Cerita yang paling berkesan adalah ketika ada seorang pengusaha, dia biasa saja, tidak terlalu kaya atau pun sangat sukses. Suatu hari dia melihat iklan dari sebuah pelatihan di koran. Biaya pelatihan ini, sangat mahal, sekitar tujuh puluh lima juta. Ya! Tujuh puluh lima juta rupiah, hanya untuk training selama tiga hari.

Teman, sudara, bahkan keluarganya berpikir dia gila, sableng, sinting, ngga waras, dan sebagainya dan seterusnya, mencela dia kenapa bisa “sebodoh” itu menghabiskan uang untuk sebuah pelatihan yang hanya tiga hari.

Orang ini tetap pantang mundur dan akhirnya mengikuti pelatihan seharga tujuh puluh lima juta ini. Yang mengikuti training ini pun ternyata hanya beberapa orang. Karena mahal dan belum banyak orang yang mengerti dan tahu mengenai materi training ini.

Sepulang pelatihan, sikap mereka tetap sama.

Sampai akhirnya, dimulai beberapa minggu setelah training yang super mahal itu, orang ini tiba-tiba menerima beberapa undangan seminar dari sebuah universita ternama. Dia diundang sebagai pembicara, karena pihak universitas tersebut menerima rekomendasi dari perusahaan yang mengadakan pelatihan untuk mengundang orang ini.

Dan ternyata,   untuk berbicara satu jam saja, orang ini diberi honor setidaknya tiga puluh juta. Ya! Tiga puluh juta hanya untuk berbicara dan presentasi selama satu jam saja.

Akhirnya tidak sampai satu minggu, uang yang tujuh puluh lima juta itu telah balik modal dan sudah untung puluhan juta!

Kelak, di masa depan, kisah yang luar biasa itu akhirnya malah terjadi juga pada diriku, seperti yang kutulis di Dialog Lima Belas Juta. Terbukti bahwa uang yang dibelanjakan buku, dan “membeli” ilmu, akan mendatangkan keuntungan yang luar biasa besar.

 

Bersambung…

 

 

40 Comments to "Biar Cepat Asal Selamat (4): Selamat Tinggal Sholat Belang Betong"

  1. Itsmi  13 April, 2011 at 13:52

    Saw, ruh atau soul, asalnya dari kata nafas dan angin. Kira kira 200 ribu tahun lalu, mulainya manusia modern, mereka juga sudah bertanya mengenai hidup. Dan mencari jawaban apa bedanya tubuh yang hidup dan yang sudah mati.mereka berkesimpulan kalau mati itu, kalau dia sudah betiup nafas terakhir.jadi dari situ Tuhan pertama yang di ciptakan manusia, yaitu nafas atau angin. Kata lain nafas atau angin itu Tuhan.

    Sampai sekarang, orang Inggris sudah berkebiasaan secara humor kalau mereka mau bersin mengatakan “God Bless You” ini sebenarnya isyarat magis sebagai dengan malakukan tanda salib. Jadi dengan tanda salib ini sebagai penangkisan untuk melawan ruh jahat sebelum dia masuk ke dadanya (karkas). Karena kalau dia bersin, dia mengeluarkan anginnya jadi di dalam dadanya kosong. Jadi kemasukan roh jahat itu waktu dia sedang bersin karena dengan bersin dia menghirup nafas atau angin.

    Jadi manusia itu di bentuk dari fisik dan kimia. Bilamana organisasinya tidak berjalan lagi, ya artinya mati.

    Saw, mengenai Bapakmu itu bagian parapsikologi dan di Belanda fakultasnya ditutup karena tidak ada hasil. Mengenai hal hal begitu dulu sering di TV, juga operasi tanpa pisau dll, semuanya trick….. juga dari paranormal, yang kita sudah ketahui bahwa ini neurologis penyimpangan bagian spesifik dari otak.

    Oleh karena itu manusia primitive seperti Nuchan selalu suka bertanya mengenai angin hahahahahah.

    minum kopi dulu ah

  2. Nuchan  13 April, 2011 at 07:33

    Hahahhaha..Mba Saw, kalau Itsmi lama banget baru jawab, tandanya dia lagi bikin pledoi untuk menjawab pertanyaan Mba Saw hahhahahaa…

    Soalnya Itsmi lagi cari buku yg terkait dengan kekuatan ghoib hahahhaha..dia akan mengkritisi panjang lebar hahhahhahaa….

    Tapi kalau belon nemu bukunya yah alamat bakalan dijawab dengan cara yg lucu banget hahahhaha
    Itsmi memang manusia aneh hahhahahhaa

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  13 April, 2011 at 07:07

    Itsmi akan beragama lagi. Agamanya ateisme.

  4. saw  13 April, 2011 at 06:55

    Itsme : Oh,.. enggak. Saya justru melihat bagaimana Tuhan membalikkan hati Itsme dari yg mempercayaiNya menjadi tdk mempercayaiNya. Perkara apakah Itsme akan berTuhan lagi,.. Wallohu a’lam. Ga ada yang tahu.

    Oya,.. sekedar pengin tahu. Apakah orang Atheis juga ga percaya adanya ruh? Atau dalam bahasa umum, ‘kekuatan yang tdk nampak’, diluar kekuatan manusia?

    Contoh kasus : Bapak saya kebal hingga usia 65 tahun. Dia punya ilmu tersebut karena mempelajarinya dengan ritual2 khusus ala kejawen. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bapak tdk mempan terhadap senjata. Dan setelah diusia 65 taun Bapak saya melepaskan ilmu tersebut hanya dengan cara sangat sederhana, yakni makan tauge/kecambah. Karena memang itu pantangannya. setelah itu bapak menjadi ‘biasa2’ saja.

    bagi saya sebagai orang yg percaya adanya makhluk ghaib/tak tampak, sangat bisa memahami hal tersebut. Saya hanya ingin tahu, bagaimana orang atheis menjelaskan fenomena seperti bapak saya tersebut.

    Sungguh, saya hanya ingin berdiskusi. Tak hendak menggiring Itsme menjadi bertuhan lagi. Hahaha…

  5. Nuchan  12 April, 2011 at 23:12

    Komen No.24

    Itsmi sayang yang baik..Kamu memang manusia yg sangat luar biasa…
    Jawaban Itsmi itu sangat mengharukan..dan saya suka jawaban kamu…

    Kenapa?

    Karena hanya orang yg bisa mencintai dirinya sendirilah yg sebenarnya orang yg sangat mengasihi dunia ini dan segala isinya..

    Bagaimana mungkin seseorang bisa mencintai orang lain kalau dia tak mencintai dirinya sendiri….
    betul tidak Itsmi hehehhee

    Salam unyu-unyu..

  6. Itsmi  12 April, 2011 at 20:40

    Saw, jadi menurut kamu saya akan beragama lagi ???? jangan kwatir, saya tidak benci sama Tuhan yang tidak ada…..

  7. Itsmi  12 April, 2011 at 20:38

    Nuchan, udah tau kan, orang beragama sangat mencintai Allah. Karena ateis itu tanpa Tuhan, jadi kesimpulan orang yang beragama ateis itu hanya cinta diri sendiri……….jadi sebelum kamu mau katakan lebih baik saya sudah duluan hahahahahah

  8. saw  12 April, 2011 at 16:28

    Saya sangat percaya adanya TUHAN, dan saya yakin, dia Maha pembolakbalik hati. Bisa mengubah hati seseorang yg penuh kebencian jadi full keimanan. demikian juga sebaliknya. Makanya, saya selalu berdoa, moga2 iman saya ditetapkan-Nya.

  9. Nuchan  12 April, 2011 at 16:27

    Itsmi boleh tahu nga siapa yg paling kamu cintai dalam hidupmu???

  10. Itsmi  12 April, 2011 at 15:46

    Nuchan, bagaimana bisa mencintai yang tidak ada. kalau kita mencintai yang tidak ada, itu di kalangan psikolog di katakan schizofrenia hahahahah

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.