Jangan Beli Jin Dalam Karung

Cechgentong

 

Sungguh banyak orang baik di negeri ini, tapi sayangnya banyak pula yang telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Kadang saya berpikir kalau banyak orang baik di negeri ini tapi mengapa makin kesini negeri ini carut marut. Terus hubungannya apa dengan beli jin ? Ya tidak ada, hanya sekedar menulis saja agar orang baik itu banyak di negeri ini dan tetap optimis bukan pesimis lalu minta pertolongan dengan jin yang bisa dikarungi hehehehe.


Ilustrasi Jin (diunduh dari Google)

Saya mempunyai pengalaman menarik tentang jual beli jin. Sembilan tahun yang lalu saya mengenal seorang Bapak yang bijaksana dan selalu perhatian kepada seluruh anak-anaknya baik anak kandung, anak didik maupun anak kenal pas gede hehehehe. Setiap saya berkunjung ke rumahnya di Jamblang Cirebon, ada cara penyambutan yang membuat saya terkesan yaitu setelah cium tangan sambil jongkok Beliau selalu membacakan doa dan meniupkan angin dari mulutnya ke kepala layaknya “orang tua” yang meniupkan air yang sudah dibaca dengan Asma Allah. Begitu pula dilakukan hal yang sama pada saat kita mau pulang.

Saya selalu memanggilnya dengan nama Om Tris dan saya tidak tahu nama lengkapnya karena Uyutpun memanggilnya Om Tris. Kalau saya memperhatikan Uyut dan Om Tris ibarat dua orang sahabat sejati yang saling mengisi satu sama lain. Walaupun masih termasuk kerabat Kasepuhan Cirebon tapi Om Tris hidupnya sangat sederhana. Rumahnya tidak begitu besar dengan letak kamar sejajar seperti gerbong kereta api. Jadi pas masuk pintu rumah, kita bisa melihat 3 buah kamar di sebelah kirinya (kayak kamar hotel) dan langsung tembus ke pintu belakang.

Sepanjang hidupnya beliau jarang keluar rumah dan kalau tidak terpaksa, beliau selalu di rumah sambil duduk di ruang tamu dimana ada meja kerja sebagai tempat untuk beliau beraktifitas. Keahlian beliau adalah melukis khususnya lukisan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam dunia perwayangan. Selain itu beliau mempunyai keahlian memperbaiki barang-barang elektronik dan juga sangat menyukai mobil truntung 2 tak 500 cc (mobil buatan Jepang jaman dulu yang sangat melegenda).

Suatu hari saya dan Uyut berkunjung ke rumah beliau. Karena hari sudah malam akhirnya kami memutuskan untuk menginap di rumahnya. Seperti biasanya kami bertiga duduk di ruang tamu dan berdiskusi banyak hal. Beliau sangat menguasai sekali permasalahan yang ada di negeri ini. Tapi dengan gayanya yang low profil terkesan tidak menggurui. Beliau sangat dihormati dan disegani walaupun keluarga kasepuhan Cirebon tapi tidak mau tinggal di dalam lingkungan keraton kesepuhan Cirebon. Rumahnya di lingkungan tersebut ditinggalkan dan dipakai oleh orang lain yang tidak mempunyai rumah. Maka itu anak buahnya banyak sekali dan dari mana saja mungkin seluruh Indonesia.

Menjelang dini hari, tiba-tiba kami bertiga dikejutkan oleh suara mobil Pajero yang berhenti persis depan rumah. Kayaknya orang berduit yang mau bertamu ke tempat beliau. Setelah ditunggu beberapa saat ternyata yang datang adalag seorang pria dengan penampilan biasa dan kayaknya supir yang punya mobil Pajero tersebut.

”Assalamualaikum“

”Wa alaikumussalam Wr.Wb ”sahut kami bertiga.

”Maaf Pak, apakah benar ini rumahnya Om Tris?“

”Benar sekali, Ada apa ya Pak“

”Ga ada apa-apa Om. Saya Dulah Om. Saya pernah ketemu Om pada waktu acara tawasulan di Kampung Selangit. Memang saat itu saya hanya salaman saja dan tidak bicara lama dengan Om.“

”Coba saya ingat-ingat dulu. Hmmmm ya ya kamu yang salaman dengan saya di rumahnya Karta khan ? Kamu khan saudara iparnya Karta“

”Wah benar Om. Masih ingat ya Om“

”Hehehehehe, ada apa kok malam-malam datang ke rumah saya“

”Sebelumnya saya minta maaf menggangu ketenangan Om tapi….“

”Tapi apa“

”Malu Om omonginya“

”Ayo omong aja terus terang. Tidak usah malu-malu (sambil melirik ke saya dan Uyut). Mereka berdua masih orang saya“

”Saya kesini bersama bos saya“

”Lho kok tidak diajak masuk“

”Memang Bos saya menyuruh saya masuk duluan untuk menanyakan apakah Om sudah tidur atau belum“

”Ohhh gitu, saya mah jarang tidur. Sudah sana, suruh Bosmu masuk ke rumah“

Langsung Dulah pamit keluar untuk memanggil Bosnya masuk. Ternyata Bosnya datang berdua bersama isterinya.

”Selamat Malam Pak“

”Malam“

”Maaf Pak mengganggu“

”Ahh tidak apa-apa. Silahkan duduk. Minahhhhh ada tamu sediakan minuman“

”Sudah Pak tidak usah repot-repot. Saya juga tidak lama-lama“

”Ah tidak apa-apa. Terus ada apa nich. Mungkin ada yang bisa saya bantu“

”Tapi tidak apa-apa saya bicara disini“

”Tidak apa-apa, Bicara saja disini“

”Ya sudah kalau begitu. Begini Om, saya dapat informasi dari Dulah yang katanya juga dari Karta kalau Om jual jin“

”Hah Jin hehehehhehehe ini bagaimana ceritanya sampai bicara jin hehehehe“

Saya dan Uyut sempat terkejut dan senyum-senyum kecil

”Saya ini pengusaha makanan. Kebetulan saya punya tanah di daerah sawangan sampai sekian hektar. Di tanah tersebut saya dan isteri menanam tanaman buah mulai dari rambutan, jeruk sampai durian tapi yang paling banyak rambutan. Yang jadi masalah tiap musim berbuah selalu saja buah-buahan tersebut di curi orang bahkan ada yang sampai tidak tersisa buahnya di pohon. Sudah berapa kali panen selalu begitu kejadiannya“

”Apa tidak dipagari atau dijaga“

”Sudah dipagari Pak. Malah ditembok, walaupun ada penjaga tetap saja ada yang mencuri dan sepertinya pencuri tersebut tahu kapan penjaga mulai tidur pulas.“

”Ohhh gitu. Prihatin saya mendengarnya. Terus bagaimana“

”Nah itu tadi, apakah benar Bapak jual Jin“

”Memang benar saya jual Jin ”jawab Om Tris dengan mantap

”Itulah alasan saya datang kesini, saya mau pakai jin untuk menjaga kebun saya di sana biar tidak ada lagi yang berani mencuri. Tapi benar khan Bapak jual Jin“

”Benar, terus maunya bagaimana“

”Saya berminat untuk membelinya, Pak. Kalau boleh tahu berapa harganya“

”Hehehehe berapa ya sebetulnya tidak dijual hehehe“

”Tolong saya Pak, sebut saja berapa harganya. Kalau tidak dijual. Disewa saja Pak. Sebut saja beraa harganya“

”Hmmmm benar nich bapak mau beli Jin“

”Ya sudah kalau begitu, satu jin harganya Rp 2,5 juta. Mau butuh berapa emangnya“

”Kalau luas tanah sekian hektar, butuh berapa banyak ya Pak“

”Eeee tanya saya lagi, Mana saya tahu. Khan bapak yang punya tanah“

”Ya sudah tiga saja Om“

”Ok kalau begitu. Setuju“

”Setuju Pak“

Om Tris dan Bosnya Dulah bersalaman. Kemudian Bos tersebut mengeluarkan ceknya dan menulis angka 7,5 juta rupiah untuk 3 jin. Baru saja selesai menulis cek, tiba-tiba Bos bertanya lagi.

”Maaf ya Pak, kalau saya sudah bayar terus bagaimana kirimnya“

”Jiah Bapak masih mikirin cara kirimnya. Tidak usah dipikiin Pak. Malam ini merka juga sudah mulai tugas di kebun Bapak“

”Oh gitu ya Pak“

”Memangnya mereka kayak barang nyata yang mesti ditenteng-tenteng atau diangkut pakai ekspedisi. Masalah pengiriman mah mudah. Tidak perlu dipikirkan, Oke.“

”Oh ya satu lagi“

”Apa lagi Pak ? Jangan ragu-ragu Pak kalau mau bertanya“

”Jin ini khan saya beli terus bagaimana saya tahu bentuk jin yang saya beli supaya mudah membedakan dengan jin yang mungkin saja ada di luar kebun saya.“

”Jadi Bapak mau tahu bentuknya“

”Ya Pak, biar tahu, Layaknya bukan beli kucing dalam karung“

”Ya ya ya benar juga. Begini Pak. Bapak khan lihat kamar nomor tiga sebelah kiri itu lho Pak“

”Ya saya lihat Pak“

”Nah Bapak tinggal jalan kesana terus masuk ke dalam kamar. Nah disitu jinnya“

”ya ya ya tapi boleh khan saya bawa isteri saya melihatnya“

”Boleh boleh silahkan“

Saya dan Uyut saling berpandangan. Ternyata pikiran kami berdua sama yaitu dasar edan hehehehehe jin kok mau dilihat.

Baru saja Bos dan isterinya masuk kamar no 3 tersebut. Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat keras sekali dari dalam kamar.

”haaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaaa aakh ahhhhhhhh tolong tolong tolong“

Pintu kamar langsung dibanting dan terlihat Bos dan isterinya lari tunggang langgang. Saking takutnya mereka berdua menabrak Uyut saya yang dari tadi berdiri di depan pintu masuk dan pecahlah gelas kopi yang dipegang oleh Uyut. Tanpa basa basi dan permisi langsung saja mereka menyalakan mobilnya dan langsung pergi meninggalkan cek untuk membeli jin, sepatu dan sandal. Yang lucunya Dulah sang supir juga ditinggal sendirian dengan wajah terbengong-bengong.

Kejadian tersebut membangunkan orang yang sedang tertidur di dalam kamar yang lain dan juga tetangga sebelah rumah pada berdatangan ingin mengetahui apa yang yang telah terjdi di rumah Om Tris. Tetapi Om tris bisa menenangkan warga sekitar dan dikatakan tidak terjadi apa-apa hanya ada orang mimpi teriak-teriak hahahaha.

”Aduh Om gimana nich ada apa nich Om. Bos saya kok lari tunggang langgang. Terus bagaimana dengan saya kok ditinggal pergi. Sudah tidak punya uang bagaimana saya bisa pulang nich Om“

”Dulah, Dulah sudah sudah tenang saja kamu. Tidak apa-apa kok. Bos kamu dan isterinya hanya kaget dan terkejut saja pas melihat jin yang akan mereka beli. Sekarang kamu kumpulkan sepatu dan sandal. Terus simpan ceknya dan kembalikan kepada bos kamu. Nanti kalau kamu sudah tenang baru boleh pulang. Masalah ongkos nanti saya siapkan“

”Terima kasih Om“

”Wah mau dapat duit malah kagak jadi nich. Bisnis gagal hahahahhahaha lagi jin dibisnisin hahahahahahahahaha ” Ujar Uyut kepada Om Tris.

”Iyaa yaaa Aki, kita memang tidak punya bakat dagang atau bisnis hahahahahahaa emangnya enak makanya jangan beli jin dalam karung hahahahahahahaha“

Semalaman kami bertiga tertawa sampai puas hahahahahaahahahahahahaha


Foto kenang-kenangan sebelum Om Tris (baju coklat dekat lukisannya) meninggal dunia (dok.pribadi) 

 

NB: sebulan kemudan Dulah datang kembali ke rumah Om Tris dan bercerita kalau Bos dan isterinya sangat ketakutan sampai terkencing-kencing di dalam mobil. Mereka baru tahu kalau bentuk jin yang sebenarnya tidak karuan, tidak berbentuk layaknya manusia dan sangat menyeramkan. Makanya jangan beli jin dalam karung

 

 

25 Comments to "Jangan Beli Jin Dalam Karung"

  1. cechgentong  13 April, 2011 at 08:27

    SAW, setuju !!!!!

  2. saw  13 April, 2011 at 07:09

    MAs Cech, benarlah bahwa manusia diciptakan dengan sebaik2nya bentuk. laqad khalaqnal insana fii ahsani taqwiiim.

  3. cechgentong  12 April, 2011 at 05:53

    EA Inakawa, amin dan terima kasih

    Pak ISK, ditunggu tulisannya

  4. cechgentong  12 April, 2011 at 05:49

    Kornelya, mungkin juga ya hehehe

  5. cechgentong  12 April, 2011 at 05:49

    Phie, ya dan masih terus berlangsung di tengah masyarakat Indonesia.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *