The Royal Wedding (4): Lho! Waterloo!

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

The Royal Wedding (4)

Lho! Waterloo

 

TERNYATA sebuah letusan gunung di pulau Sumbawa memengaruhi perjalanan nasib nenek moyang Pangeran William nan jauh di sana, di London, ribuan kilometer dari pulau terpencil di Indonesia. Mengapa bisa?

Kala itu bulan April tahun 1815, Sumbawa mendapat bencana besar atau katastrof berupa letusan Gunung Tambora. Gunung besar yang ‘batuk-batuk’ sekian minggu dan akhir memuntahkan lahar, api, asap, suara dahsyat dan abu yang menghias langit hampir seantero bumi. Abu tebal Tambora terbang ke angkasa dan melayang menutupi benua Eropa. Hingga tahun 1815 dinamakan ‘tahun tanpa matahari’ bagi orang Eropa.

Saat bersamaan, di daratan Eropa sedang disakiti oleh kekuasaan Napoleon yang mengganas. Belanda yang sibuk menjajah Nusantara (Indonesia), mengalami bagaimana pahitnya diinjak-injak harga dirinya oleh bangsa asing. Raja mereka William V terpaksa kabur ke Inggris dan di sana ditampung dengan baik oleh Raja George III, saudara jauhnya.

Pangeran William pasti tahu dan wajib dikasih tahu bapaknya, Pangeran Charles, yang banyak tahu segala hal yang sebenarnya tak perlu-perlu juga diketahui oleh seorang raja. Yang dikasih tahu kepada William adalah, andai saja Napoleon yang menguasai dan juga mengancam Eropa termasuk kerajaan Inggris tidak dikalahkan, pasti nasib nenek moyang William terancam segala-galanya. Termasuk diri William yang tak bakal jadi raja, karena embah-embahnya sudah dilumatkan Napoleon.

Untunglah moyangnya William, Raja George III berhasil menghentikan sepak terjang Napoleon di Eropa. Sang Kaisar yang tubuhnya sependek tokoh karismatik Cina Deng Xiaoping (sepantar 154 cm) dikalahkan oleh nenek moyang William di Waterloo, sebuah tempat di selatan ibukota Brussels. Kemenangan Inggris di Waterloo pada 18 Juni 1815 yang dipimpin Wellington adalah menang patungan bersama tentara Prusia dan Belanda.

Lalu apa kaitan Gunung Tambora dengan embah moyang William? Abu letusan gunung tersebut yang membuat Eropa dirundung musim hujan yang bukan pada musimnya, membantu Inggris mengalahkan Napoleon yang kelabakan menguasai medan tempur. Sebelum kemenangan di Waterloo itu, Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) dikuasai Napoleon, karena Belanda takluk sama Prancis. Ganti majikan.

Setelah kemenangan Waterloo, Indonesia dikembalikan ke Belanda. Wooo….senangnya Belanda bisa jadi nyonya lagi di Nusantara. Negeri Belanda juga bisa dibebaskan dari Napoleon. Gantian mereka kembali meneruskan penghisapan darah orang Indonesia. Gara-gara embah-embahnya William dulu, nasib orang Indonesia berubah.

Rasa sukur kemenangan atas Napoleon yang dilakukan oleh moyangnya William, diabadikan dengan membangun monumen Waterloo di tengah lapangan atau alun-alun kota. Monumen itu berbentuk sama dengan monumen yang dibangun di tempat aslinya, lokasi kemenangan atas Napoleon di Waterloo (kini di Belgia). Monumen berbentuk column (tiang tinggi) itu dihiasi patung kecil diatasnya. Orang Indonesia menyebutnya lapangan singa.

Kini semua ornamen raksasa itu diganti oleh Soekarno. Patung singa diganti dengan Patung Pembebasan Irian Barat dan Waterlooplein lambat laun dikenal dengan nama Lapangan Banteng (dulu memang banya banteng di sana). Sungguh, gara-gara embahnya William dulu, perjalanan nasib orang Indonesia berubah banyak.

Dengar saja lagu ‘Waterloo’ dari kelompok ABBA asal Swedia yang digemari ibunya William (malu-maluin juga kalau orang Eropa kayak calon istrinya William, Kate Middleton gak bisa nyanyiin. Malu lah sama orang Indonesia).

My my, at Waterloo Napoleon did surrender
Oh yeah, and I have met my destiny in quite a similar way
The history book on the shelf
Is always repeating itself

Waterloo – I was defeated, you won the war
Waterloo – Promise to love you for ever more
Waterloo – Couldn’t escape if I wanted to
Waterloo – Knowing my fate is to be with you
Waterloo – Finally facing my Waterloo

 

(tulisan bagian 5, Inggris paku Pakualaman)

 

37 Comments to "The Royal Wedding (4): Lho! Waterloo!"

  1. Steffy  12 April, 2011 at 21:18

    ISK, ditunggu sampe tgl 29 yah, hoho can’t wait! Hei, bagian 5 lucu kali judulnya, paling bisa deh. ini ada foto future King and Queen, so sweet

  2. Mawar09  12 April, 2011 at 08:00

    ISK: artikelnya enak dibaca……jadi tambah tahu riwayat Lapangan Banteng. Ngga pernah tahu ada patung singa. Nanti mau baca lagi secara mendetail dari seri 1-4, soalnya sudah ketinggalan sepur nih!!

  3. phie  12 April, 2011 at 01:22

    keyeeennnn critanyaaaa…..itu foto jadul msh sepi ya bang iwan…skrg byk yg jualan es doger kali ya…hehehehe

  4. Sasayu  11 April, 2011 at 23:42

    Waduhhhh, Subo napsu amattt. Maunya seh getooo, ga taunya udah punya anak….

  5. Lani  11 April, 2011 at 23:26

    SA guru gantenk mirip PRICE WILLIAM??????? sikaaaaaaattttttttttttttt! hajar blehhhhhhhhhhh…….glekkkkkkkk! sluruuuuuuuuuuuuuup

  6. Sasayu  11 April, 2011 at 23:22

    @Mas Iwan: kalo itu siapa juga yang ga mau, nanti ceritanya malah jadi inflasi. Btw, deng xiao ping pendek, pantes2 ike juga pendek (buntet malahan, la cuma 150 cm), marganya sama2 deng….Kemarin2 ini diajar guru dari Estonia, rupanya mirip buangettt sama Prince William.

  7. Dewi Aichi  11 April, 2011 at 21:52

    Pak Iwan pacarnya ganteng? Ngga salah ? Tukeran yuk,,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *