Arti dan Cerita di Balik Motif Batik Klasik Jawa (3)

Nunuk Pulandari

 

Makna dan Kapan Digunakan Motif Tertentu (1)

 

Dear all,  kita mengetahui bahwa masih banyak motif jarik klassik Jawa yang memiliki nilai magis dan sakral tertentu. Dua faktor yang pada awal pembuatannya bisa disertakan melalui beberapa tahapan upacara yang dilakukan baik oleh si Mbok dan yu Batik maupun oleh sang pencipta motif itu sendiri.

Upacara ini tentunya sangat berhubungan erat dengan aliran Kejawen. Suatu aliran yang para pemeluknya mempercayai bahwa di balik agama yang dianutnya masih terdapat kekuatan dan kekuasaan lainnya dalam alam semesta ini. Dengan melalui tahapan  lelaku yang dibimbing oleh guru ahlinya, kita bisa mempelajarinya.

Lelaku ini mereka wujudkan dalam bentuk berpuasa dan mengurangi diri untuk mengkonsumsi makanan, minuman, dan berbagai kesenangan duniawi lainnya. Bahkan di antara mereka ada yang mengurangi/ mengundurkan waktu tidurnya. Seperti yang sering dilakukan oleh kebanyakan para orang tua kita. Dan mereka juga sering bersemedi di tengah malam. Hal ini tentunya dilakukan untuk mendapatkan suatu «bisikan» tentang motif yang akan diciptakannya.

Berikut ini saya sertakan sebuah motif batik klassik : Motif Kembang Kanthil. Nama Kembang Kanthil mengandung arti : Kembang = bunga ; Kanthil = ikut, nempel, lengket. Saya mendapatkan jarik dengan motif ini dari eyang. Dengan wejangannya: “Tal dongaké supoyo jejodhohanmu tetep langgeng lan pasanganmu tetep kanthil”.  (Saya doakan agar pernikahanmu tetap langgeng dan pasanganmu tetap setia).

Foto 1: Batik motif  Kembang Kanthil latar pethak

Sebuah kain batik dengan motif Kembang Kanthil /Kenanga latar pethak, yang patroonnya dibuat sendiri oleh Eyang putri. Terlukiskan bunga Kanthil/Kenanga yang saling bergandengan/ berkaitan satu dengan yang lainnya. Banyak sekali «cecek» halus yang menjadi isen dalam «bloemblad»/ lidah/ daun bunga.

Pada suatu hari yang sangat panas  kain batik ini telah disobek menjadi dua bagian oleh Ex suami saya.  Ketika saya menanyakan alasannya mengapa dia menyobek kain batik saya,  dia hanya menjawab : “Cari sarung nggak ada. Jadi mau pakai kain batik ini seperti memakai sarung di hari yang panas. Sayang kepanjangan. Jadi di potong jadi dua. Kan kainnya sudah tua”.

Saya kecewa sekali tetapi tidak bereaksi. Achhhh, achhhh…Beberapa waktu  setelah adegan  penyobekan kain batik ini,   kemudian terjadi perpisahan di antara kami berdua. Entah ini suatu kebetulan belaka atau ‘termakan’ oleh isi makna arti Kembang Kanthil yang telah terbelah menjadi dua.

Pernah tersirat idee untuk menyambungnya kembali. Sayang idee ini terpatahkan dengan idee lain yang membisikkan bahwa penyambungan kembali hanya sia-sia belaka karena makna yang tersirat toch sudah terpatahkan menjadi dua bagian..

Kain batik dengan  motif Kembang Kanthil dilukiskan dalam alur seperti kain batik motif Parang. Miring, dan paralel dalam posisi plus minus 45 derajat. Dalam pemakaiannya arah Kembang Kanthil ini harus selalu merunduk menghadap ke bawah, seperti yang terlihat dalam foto . Hal ini juga bermakna bahwa walaupun si pemakai sewangi dan seindah seperti bermekarannya bunga Kanthil/Kenanga, tetapi dia harus tetap merunduk /sederhana dalam kehidupannya sehari-hari.

Ini juga memberikan makna bahwa pemakainya seorang yang rendah hati dan mengenal etika pergaulan. Makna lain dari batik motif ini adalah agar pemakainya dalam pergaulan disenangi dan disayangi oleh sesamanya karena kesederhanaannya

Salah satu motif batik lain, hadiah dari eyang putri adalah batik motif Udhan Liris.

Foto 2: Batik motif Udhan Liris (Udhan Riris)- Hujan gerimis

Dalam motif Udhan Liris terdapat berbagai jenis motif, misalnya motif dengan patroon  geometris yang termasuk dalam motif lereng (motif lereng adalah motif Parang hanya antar satu patroon dengan yang lainnya tidak ada motif pembatasnya). Semuanya disusun berdampingan membentuk seperti garis diagonal.  Dalam motif Udhan Liris bisa disusun beberapa motif secara paralel/ berjejeran.

Misalnya dalam motif Udhan Liris di atas terdapat susunan yang terdiri dari motif, Setengah Kawung, Banji, Sawut, Mlinjon, Tritis, yang diatur diagonal memanjang ini bermakna pengharapan agar pemakainya dapat selamat sejahtera, tabah dan berprakarsa dalam menunaikan kewajiban dalam kehidupannya sehari-hari.

Motif  Udhan Liris ini yang memiliki kesamaan arti dengan hujan gerimis bagi dunia perbatikan secara ringkas bermakna  menyejukkan udara/ suasana dan juga melambangkan kesuburan. Batik ini saya terima ketika eyang berkunjung ke rumah untuk menengok buyutnya ‘ Birrutte’ yang sedang sakit panas.

Ketika itu eyang langsung memberikan batik motif Udhan Liris dengan pesan agar diselimutkan ke badan Birrutte setiap kali dia panas. Entah karena effek makna yang tersirat di dalam motif batik itu atau entah karena tubuhnya sudah mulai sehat kembali,  anak saya  memang bisa menjadi sembuh pada hari berikutnya. Setidaknya badannya tidak panas lagi. Juga di lain kesempatan ketika dia mendapat demam kain jarik motif Udhan Liris selalu menyelimuti badannya.

Cerita tentang motif Udhan Liris dan turunnya panas Birrute setelah tidur semalaman dengan diselimuti kain itu, pernah saya sampaikan pada teman kuliah yang telah lama tinggal di Belanda. Ketika dia mendengar cerita ini dia langsung berkomentar :  “Achhh, hij kreeg geen koorts meer niet door de betekenissen van de motif maar door de soorten van de stof zelf. Een katoene stof geef altijd een koude effect op je lichaam. Daardoor”. (ah, turunnya demam bukan karena motif kain, tapi karena jenis kain itu sendiri)

Achhhh, achhh.. Pada saat itu saya hanya membatin : “Achh, kalau dia benar bahwa Birrutte turun panasnya karena jenis katoen yang dipakai selimutnya, tentunya eyang saya tidak perlu memberi motif Udhan Liris. Tapi beliau bisa memberikan misalnya motif Parang Barong yang bermakna parang besar yang tajam atau memberikan batik dengan motif lainnya”…….

Wouwwwww, yang jelas saya berbahagia bahwa eyang telah memberikan rasa kesejukan pada anak saya …. Dan saya senang karena  teman-teman bisa baca di Baltyra tentang cerita makna motifnya.

Saya masih ingat, dulu, pada salah satu liburan, saya melihat bahwa mbok yang tertua dari mulai duduk di teras sampai hampir pulang sama sekali tidak berbicara dan tidak makan atau minum apapun. Bahkan ketika yang lainnya sedang beristirahat makan siang, saya melihat si mbok seperti sedang dalam posisi bertapa, bermeditasi. Duduk sila dengan mata terpejam dan yang kalau dilihat sepintas seolah hubungannya dengan dunia sekitarnya terputus. Si mbok Batik seperti tidak mendengar apapun yang ada di sekitarnya.

Saya masih ingat ketika eyang melihat saya menatapi mbok Batiek, beliau melambaikan tangannya, memanggil saya agar mendekat.

“Ora pareng ngrusuhi” : Kata eyang putri, sambil mengajak saya masuk ke rumah besar.

Di kemudian hari saya baru mengerti bahwa menurut cerita eyang, si mbok sedang bermeditasi untuk mendapatkan kekuatan magis dan sakral bagi motif yang sedang dibatiknya. Hal ini biasanya dimaksudkan agar si pemakai batik dengan motif-motif yang dilukiskannya akan mendapatkan kehidupan yang menyenangkan dan tentram serta damai di kemudian hari.

Seperti yang kita ketahui bahwa setiap motif pada awalnya dibatik, disesuaikan dengan kedudukan, kesempatan, si pemakainya. Dalam perkembangannya sudah banyak sekali motif-motif batik yang bisa dengan bebas kita miliki. Kita dapat juga melihat bahwa dalam kehidupan sehari-hari ternyata setiap motif hanya dikenakan dalam kesempatan dan kadang diperuntukkan hanya bagi pemakai tertentu. Motif-motif dalam batik dapat kita temukan pemakaiannya terutama dalam kesempatan yang ada hubungannya dengan upacara adat dengan tahapan yang ada dalam kehidupannya, seperti misalnya dalam upacara, kehamilan, kelahiran, pernikahan dan dalam upacara lelayu.


Kelahiran.  Mitoni

Pemakaian motif batik yang masih menyolok dan dipertahankan adalah pada saat upacara Mitoni. Tahapan upacara yang dilaksanakan  pada saat kehamilan mencapai usia tujuh bulan. Untuk keperluan upacara Mitoni dipilih tujuh motif batik yang menurut falsafah Jawa memiliki arti dan makna yang positif dan  hampir sama dengan pilihan dalam upacara pernikahan adat.

Dalam hal ini arti dan makna yang dipilih juga berhubungan dengan harapan dan keinginan baik orang tua maupun poro sepuh si jabang bayi. Diharapkan melalui arti dan makna yang tersirat dalam motif batik yang digunakan,  keinginan Poro Sepuh dan Orang Tua akan terwujudkan pada si jabang bayi. Untuk keperluan upacara siraman ini dipilih tujuh motif jarit dari berbagai motif. Seperti antara lain batik-batik dengan :

1. Motif Sido Luhur ;  2. Motif Sido Asih ; 3. Motif Semen ; 4. Gondo Suli/ Parang Kusumo

Foto 3: Batik motif Parang Kusumo

Dalam motif Parang Kusumo terkandung suatu makna bahwa suatu  kehidupan harus dilandasi dengan  perjuangan dan usaha dalam mencapai keharuman lahir dan batin. Hal ini bisa disamakan dengan harumnya suatu bunga (kusuma). Juga dalam falsafat Jawa.

Suatu kehidupan dalam  masyarakat yang paling utama harus kita dapatkan adalah  keharuman pribadinya tanpa harus meninggalkan norma-normadan nilai  yang berlaku. Suatu hal yang sulit untuk direalisasikan. Tetapi pada umumnya orang Jawa berharap bisa menempuh suatu kehidupan yang boleh dikatakan sempurna lahir batin  yang diperoleh atas jerih payah dari tingkah laku dan pribadi yang baik.

5. Motif Semen Romo, suatu harapan agar kedua orang tua si bayi tidak akan berpisah.(een teken van hoop dat de aanstaande ouders bij elkaar blijven en niet    gescheiden worden)

6.  Motif Babon Angrem

Foto 4:  Batik Motif Babon Angrem

Babon adalah julukan untuk ayam betina yang sudah dewasa. Angrem dalam bahasa Indonesia berarti mengerami. Dengan melalui tahapan upacara ini diharapkan dalam kehidupannya si bayi di kemudian hari akan mendapatkan kesabaran, sebagaimana kesabaran yang telah ditunjukan oleh para induk ayam yang sedang mengerami telur-telurnya. Juga diharapkan bahwa kehangatan dan ketelatenan babon ayam selama mengerami ( telur-telur ) anak-anaknya hingga menetas dapat menurun pada si jabang bayi yang masih ada dalam kandungan sang ibunda.

7. Kain Lurik motif lasem. Motif Lurik, memberikan makna adanya suatu harapan agar si bayi kuat seperti kain lurik yang tidak mudah sobek. (een sterke traditioneel geweven doek van Yogyakarta)

 

Tahapan upacara penikahan adat Jawa

1. Siraman

Dalam kesempatan ini biasanya dipakaikan jarik dengan motif Grompol (motif benda-benda  kecil  atau  motif Nogosari (motif bunga yang harum). Motif yangdapat menjadi lambang dan harapan agar calon pengantin menjadi suci dan bersih serta mewangi.

Bila kedua jenis kain ini tidak dimiliki maka dapat digantikan  dengan kain lain yang bermakna positif, seperti motif: Sidomukti, Sidoasih, Semen Raja, Semen Rama atau Sidoluhur.

Foto 5: Batik  motif Grompol (yang diprodho). Untuk Siraman

 

2. Kerikan

Setelah upacara kerikan selesai dan penganten dihias samar-samar (menunggu upacara midodareni) pengantin memakai kain motif Sidomukti atau Sidoasih. Biasanya dengan motif Gurda (Garuda).  Makna filosofi yang dikandungnya berisi harapan bahwa si calon manten akan selalu hidup dalam kecukupan dan kebahagiaan. (lihat foto batik motif Sidho Asih dalam artikel nr.2)

Foto 6: Batik motif  Truntum selingan peksi merak

 

3. Midodareni

Pada malam midodareni ini calon pengantim wanita mengenakan kain Truntum. Motif kain yang mengandung makna filosofis  bahwa si calon siap untuk dituntun untuk oleh terutama kedua orang tuanya, dan secara umum oleh tujuh sesepuh yang juga telah memandikannya untuk menjejakkan kaki dalam menyongsong kehidupannya yang mendatang.

Salah satu makna yang juga tersirat dalam motif Truntum adalah agar calon mempelai dapat mengikuti norma dan nilai dalam kehidupannya. Dan dengan mengikuti dan menjalankan norma dan nilai kehidupan yang ada  maka si calon pengantin akan dengan mudah dan ringan menjalani kehidupannya.

Pada awalnya motif Truntum hanya dikenakan oleh orang tua si mempelai wanita. Tetapi  dalam perkembangan perbatikan motif Truntum ini juga dikenakan oleh si calon mempelai wanita itu sendiri.

 

4. Ijab

Dalam upacara ijab, Calon pengantin memakai kain Sidomukti, Sidoluhur atau Sidoasih.

Motif-motif jarik yang mengandung makna Sido= menjadi; mukti= orang yang tinggi kedudukannya dan enak hidupnya; luhur= orang yang memiliki kehidupan mulia; dan asih= orang yang akan hidup dalam kasih dan sayang. Tiga makna kehidupan yang merupakan harapan bagi setiap calon pengantin.

(lihat contoh-contoh  motif yang mengandung makna positif sebelumnya)

 

5. Panggih

Pada acara upacara Panggih, Calon pengantin  memakai kain Sidomukti, Sidoluhur atau Sidoasih; sedang orang tua dianjurkan untuk memakai kain Truntum yang melambangkan bahwa yang bersangkutan tidak akan pernah kekurangan karena ‘rejekinya’ akan terus  mengalir.

Dengan Sindur, semacam setagen yang berwarna putih dengan motief ombak berwarna merah diselilingnya. Motief Sindur ini bermakna bahwa orang yang sedang hajatan akan tahan dari segala keadaan yang up and down yang akan ditemuinya.

Jadi kalau kita melihat lebih lanjut, dalam berbagai motif terdapat satu gambaran umum  tentang harapan dan keinginan yang selalu positif dari para pemakainya. Misalnya dalam batik-batik  bermotif Sidho terkandung maksud kebahagiaan, kemakmuran dan menjadi orang terpandang.


Foto 7: Batik motif Sidomukti. , dengan makna agar kehidupannya di kemudian hari akan penuh dengan kemapanan

Dengan makna yang begitu positif dan indah Motif Sidho selalu sangat disarankan untuk digunakan mempelai, seperti Sidhomulya, Sidholuhur, Sidho Asih, dan Sidhomukti.

 

bersambung…

 

 

115 Comments to "Arti dan Cerita di Balik Motif Batik Klasik Jawa (3)"

  1. nu2k  17 May, 2013 at 21:50

    Mbak Menik, terima kasih kalau tulisan saya telah dapat menambah informasi untuk lancarnya tugas anda. Satu pertanyaan saya. Anda berjuang di negeri sini ingkang pundhi? Berapa jamkah perbedaan waktu yang ada antara negeri sana dan negeri sini? Ha, ha, haaa…Ada dua negeri baru yang kalau dilihat dari namanya sepertinya kembar pria dan wanita…Apalagi kalau kita mengacu pada pemakaian vokal ( a – i ) pada akhir kata sebagai pembeda kelompoknya…Negeri sana (Belanda) sudah jelas. Sekarang negeri sini ( ????) belum jelas??? Ha, ha, haaa..

    Selamat berlong-weekend en geniet er nog wat van, nnk

    ** Saya punya mbakyu sepupu yang juga bernama mbak Menik dan tinggal di Jakarta**

  2. menik budi  17 May, 2013 at 16:02

    betapa sangat tertolongnya pekerjaan saya dengan tulisan jeng Nunuk diatas, kebetulan 2 hr lagi saya ada job MITONI (TINGKEBAN), wawasan saya bertambah banyak, mari kita berjuang tuk kelestarian budaya luhur kita… slmt berjuang di Negri sana dan saya akan berjuang di negri sini….smg sukses, Aamiin.

  3. nu2k  14 May, 2013 at 17:43

    Mbak Lely, kebetulan saja saya tinggal di Belanda dan masih bisa turut melestarikan salah satu budaya kita. Memberikan ceramah tentang budaya kebanggaan kita, Batik adalah hal yang sangat membanggakan. Orang Belanda / asing senang sekali dan kagum sekali dan juga menghargai tentang batik Indonesia (Jawa).

    Yang disayangkan, tulisan saya tentang perbatikan dicomot ( sebagian-sebagian) begitu saja dan ditempel di Blog (lihat di Google – arti dan makna batik) tanpa menyertakan nama saya. Kadang sedih kalau membaca tentang hal yang seperti ini. Mbok yo mencantumkan nama penulisnya atau pemiliknya. Itukan hal yang mudah.
    Hal ini yang membuat saya kecewa dan malas menuliskannya sebagai artikel.
    Selamat bekerja dan selamat beristirahat tentunya..

  4. lely wardhani  14 May, 2013 at 17:17

    Wah njenengan hebat wis ning manca nagari, isih eling karo budayane.. Ayooo semangaat mbak, saya mendukung Mbak Nunuk untuk menerbitkan buku… Tapi menawi saget ngangge bahasa Indonesia Mbak Yu… Salam balik dari tanah air tercinta…. Love u Mbak Nunuk…

  5. nu2k  14 May, 2013 at 16:38

    Mbak Laksmi, sesungguhnya saya sedang menyusun bukunya. Mungkin saya akan mengecewakan mbak Laksmi karena saya menyusunnya dalam bahasa Belanda. Bukan apa-apa, untuk turut melestarikan tentang perbatikan dan untuk lebih mudah mengurusnya. Juga karena saya kebetulan menetap di Belanda.
    Bagaimana dengan putera/puterinya? Sudah berapa usianya saat ini. Semoga sehat dan menjadi kebanggaan ayah dan bundanya. Amien.

  6. nu2k  14 May, 2013 at 16:31

    Mbak Lely, matur nuwun sudah maos tulisan saya. Sudah dipirsani tulisan sebelumnya. Ada tiga seri ya mbak. Monggo dhiwaos dulu. Nanti kalau sudah senggang saya tuliskan lagi lanjutannya.Salam dari negeri Kincir Angin nun jauh di barat sana. Nu2k

  7. lely wardhani  14 May, 2013 at 13:43

    Matur nuwun mbak Nunuk infonya … lha sambungane ngendhi mbak?

  8. Laksmi Hamisena  14 March, 2013 at 09:09

    Ibu Nunuk, terima kasih infonya. Keluarga saya sangat modern tapi saya tertarik dengan budaya. Saat ini saya sedang mengandung, dan ingin memberikan hadiah jarik batik untuk anak saya kelak. Makanya sekarang sibuk mencari makna dibalik motif-motifnya. Hehehe, ternyata maknanya macam-macam. Jadi bingung mau pilih yang mana. Sekali lagi matur nuwun kagem infonya.

  9. Laksmi  13 February, 2013 at 09:53

    Ibu Nunuk, matur nuwun sanget atas tulisan-tulisannya! mBok disusun menjadi sebuah buku, pasti akan lebih banyak “ketularan” ilmu! Saya sedang “thimik-thimik” ingin belajar membatik dan nantinya memakai warna alami. Lha Eyang juga pembatik, ibu mertua juga, kok rasanya “eman” kalau tak ada penerusnya. Dan terus terang “booming” printed batik membuat saya ngelus dhadha, karena embok-embok yang masih tekun membuat batik tulis kini jadi merana dan sengsara nasibnya! Jadi karena tak ada kata terlambat untuk belajar, saya mulai berburu motif klasik untuk referensi dan sokur-sokur bisa mencoba membuatnya -walau pasti tak mampu membatik sehalus batikan para Eyang! Nuwun. Laksmi.

  10. Ishak  21 November, 2012 at 16:03

    Selamat sore, Ibu Nunuk.
    Minta izinnya untuk memakai foto batik untuk desain.. Bukan untuk komersil kok..
    Terima kasih..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Image (JPEG, max 50KB, please)