Meningkatkan Produksi Padi

Handoko Widagdo – Solo

 

Setelah revolusi hijau diterapkan pada akhir tahun 60-an, belum ada lagi teknologi yang bisa meningkatkan produksi padi secara signifikan. Revolusi hijau adalah peningkatan produksi dengan penerapan paket produksi berupa:

(1) Penggunaan bibit unggul

(2) Pengelolan tanah

(3) Pengairan

(4) Pemupukan dan

(5) Pemberantasan hama.

 

Paket produksi ini sering disebut sebagai PANCA USAHA TANI. Paket produksi Revolusi Hijau telah mampu mendongkrak produksi padi dari sekitar 2 ton/ha menjadi 6 ton per ha. Peningkatan dari 2 ton menjadi 6 ton ini sungguh peningkatan yang fenomenal. Revolusi hijau juga telah berhasil memperpendek umur padi, sehingga –dengan dukungan irigasi yang baik, pertanaman padi bisa dilakukan 2-3 kali dalam setahun.

Namun, setelah produksi mencapai 6 ton per ha, belum ada teknologi baru yang bisa meningkatkan produksi padi secara fenomenal. Produktifitas padi telah mandeg sejauh 24 tahun terakhir.

Sebenarnya perubahan tingkat produksi padi sudah terjadi jauh hari sebelum terjadinya revolusi hijau. Kira-kira 12.000 tahun sebelum masehi di tepi Sungai Yantze, padi telah ditanam dan dipisahkan dari rerumputan yang lain. Pada kira-kira 3000 tahun yang lalu masyarakat di Thailand telah mengubah padi dari tanaman lahan kering menjadi tanaman tergenang (sawah). Upaya sepanjang 10.000 tahun tersebut membuat padi bisa diproduksi sampai dengan 2 ton per ha.

Seperti kita ketahui, padi adalah merupakan bahan pangan pokok bagi kebanyakan umat manusia, khususnya di Asia dan Afrika. Namun sayangnya saat ini peningkatan produksi padi mengalami kemandegan. Kemandegan peningkatan produksi padi, atau lebih lazim disebut zero production growth, adalah situasi dimana masukan teknologi baru tidak memberi dampak pada peningkatan produksi secara signifikan. Kemandegan ini mengakibatkan kekhawatiran dari para ahli pangan dan politisi dalam menghadapi kelaparan dunia.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendorong produktifitas padi. Termasuk ide-ide canggih dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan terbaru telah diujicobakan. Berikut adalah empat pemikiran yang dirasa bisa meningkatkan produksi padi secara signifikan.

 

1. System of Rice Intensification

SRI mulai menyebar sebagai teknologi menanam padi pada akhir 90-an. System of Rice Intensification atau SRI mula-mula diperkenalkan oleh seorang biarawan Jesuit Katholik Henri de Laulanie di Madagascar pada tahun 1960-an. SRI mensinergikan potensi bibit muda tunggal, jarak tanam yang lebar dan oksigen yang cukup dalam tanah sehingga membuat padi memproduksi anakan produktif yang banyak. Melalui sinergi ketiga komponen tersebut diklaim bahwa padi bisa berproduksi lebih dari 10 ton/ha. Selain peningkatan produksi, SRI juga menghemat air dan menggunakan bahan kimia lebih sedikit daripada cara tanam padi versi revolusi hijau.

Kelemahan dari SRI adalah cara tanam yang rumit dan kondisi tanah yang kebanyakan sudah rusak karena kimia. Hambatan lainnya adalah pertumbuhan gulma (rumput) yang cepat karena lahan tidak tergenang). Meski banyak penentangnya, namun SRI banyak diadopsi oleh petani di berbagai negara.

 

2. Padi Hibrida

Padi Hibrida mulai dilirik sejak awal 90-an. Padi hibrida berkembang di China. Saat ini lebih dari 50% pertanaman padi di China menggunakan padi hibrida.

Adalah Yuan Longping, seorang ilmuwan China yang menemukan teknik hibrida pada padi sehingga beliau dianggap sebagai Bapak Padi Hibrida. Secara potensial padi hibrida bisa memproduksi 12 ton per ha.

Banyak scientist yang yakin bahwa padi hibrida adalah masa depan produksi padi di dunia. Dengan menggunakan padi hibrida, maka tambahan 80 juta orang bisa dipenuhi kebutuhan pangannya. Sayangnya, sampai saat ini penggunaan padi hibrida banyak yang kurang berhasil diluar China.

 

3. Padi C4

Gagasan ketiga untuk mendongkrak produktivitas padi adalah menciptakan padi jenis C4. Saya pernah menyinggung padi C4 di tulisan sebelumnya (http://baltyra.com/2009/12/22/rice-science-for-the-better-world/). Ide pokoknya adalah mengubah sistim fotosintesa padi yang kurang efisien (C3) menjadi sangat efisien (C4). Jenis padi C4 diperkirakan bisa memproduksi sampai 40 ton/ha. Sungguh sangat fenomenal. Namun sayangnya, padi C4 masih dalam taraf blu sky research (riset dasar yang belum membumi).

Pelopor dalam pengembangan padi C4 adalah International Rice Research Institute (IRRI) Los Banos Filipina dengan dukungan pendanaan penuh dari The Melinda-Gate Foundation.

 

4. Mengembalikan padi menjadi tanaman jangka panjang

Ide lain untuk memproduksi padi secara lebih murah serta ramah lingkungan adalah dengan mengembalikan padi menjadi tanaman tahunan. Artinya padi bisa dipanen terus-menerus tanpa perlu menanam ulang setiap empat bulan. Gagasan ini dikembangkan oleh (National Geographic Indonesia, April 2011). Adalah Wes Jackson dari Land Institute di Salina Kansas yang memromosikan gagasan ini. Upayanya mendapat dukungan dari USDA (departemen pertaniannya Amerika).

Meski gagasan ini tidak menglaim bisa meningkatkan produktifitas padi model revolusi hijau, namun dengan perakaran yang dalam dan tidak perlu menanam setiap musim, maka produksi padi bisa dilakukan dengan lebih murah dan ramah lingkungan.

Keempat gagasan tersebut adalah pikiran yang dikembangkan untuk membuat padi bisa terus memberi sumbangan dalam memenuhi kebutuhan populasi manusia yang terus berkembang.

Upaya lain yang penting juga dilakukan adalah mengembalikan manusia untuk memakan karbohidrat yang tumbuh di sekitarnya.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

30 Comments to "Meningkatkan Produksi Padi"

  1. Handoko Widagdo  21 April, 2011 at 07:16

    Mas Zamzaini, bahan-bahan lengkap banyak di rumah. Silahkan mampir ke rumah.

  2. Zamzaini  20 April, 2011 at 11:21

    Menarik untuk diperdalam mas, mungkin sukun juga bisa diapaki untuk alternatif pangan, sekarang di desa-desa sudah agak langka tanaman ini. adakah tulisan yang lebih komplit? kalau ada mohon dikirimke alamat emailku ya mas. makasih atas kerjasamanya

  3. Handoko Widagdo  15 April, 2011 at 07:22

    Kornel ahrus ada upaya untuk me-reedukasi masyarakat tentang bahan pangan. Have a Rice Day

  4. Kornelya  14 April, 2011 at 20:19

    Pa Handoko,untuk mengurangi konsumsi, rakyat harus terbiasa dengan bahan makanan pengganti beras. Disini tidak ada roti, makan spagheti, tidak ada spagheti, makan kentang, tidak ada kentang makan yuka ( singkong) ,ubi jalar atau jagung . Pengolahan dan penyajiannya jauh lebih mudah & murah. Have a Race Day to Back Home.

  5. Handoko Widagdo  14 April, 2011 at 19:06

    kangmas Djoko, pandanwangi memang beda dari jasmine rice-nya Thailand. Salam saking Tibet kagem mbakyu Susi

  6. Handoko Widagdo  14 April, 2011 at 19:05

    Itsmi, Kornel, SU, Linda begitulah negeriku ini.

    EIA…swasembada bisa dijangkau melalui dua cara. Pertama adalah dengan mmeningkatkan produksi, kedua adalah mengurangi konsumsi. Nah cara kedua ini belum banyak dicoba.

  7. Handoko Widagdo  14 April, 2011 at 19:02

    Kang JC, Mawar dan Imeii, sebetulnya makan nasi tidak apa-apa kok. Akan sangat sayang kalau mengurangi nasi (di Indonesia/Asia) tapi beralih ke gandum. Have a Rice Day

  8. Handoko Widagdo  14 April, 2011 at 19:00

    HN, ide mengembalikan padi menjadi tanaman tahunan ada di Majalah National Geography Edisi April. Tentu saja batang padinya tidak ditebang.

    Padi organik yang diklaim bisa berproduksi sangat tinggi adalah SRI (lihat di artikel)

  9. Handoko Widagdo  14 April, 2011 at 18:59

    PASpempres dan Hennie…tak ada nasi gaplekpun jadi

  10. Handoko Widagdo  14 April, 2011 at 18:57

    Mabkyu Nu2K dan Mbakyu Probo, itu foto dari Redaksi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.