Senja di Chao Phraya (14)

Endah Raharjo

 

Bab 3: Menghalau Mendung Langit Jogja (5)

Minggu pagi di Yangon. Osken duduk mencangkung di lobi yang sepi, menunggu giliran menyewa komputer hotel. Sungguh tak biasa. Lelaki itu hampir tak pernah membiarkan pikirannya mengembara lebih dari 5 menit, selalu ada sesuatu di tangannya yang bisa dibaca atau dikerjakan. Arloji di pergelangan tangannya menunjukkan angka 8. Di Jogja, sudah 30 menit Laras menunggu di depan layar laptop. Osken mengira pagi ini business center yang berisi tiga komputer itu akan sepi. Perkiraannya meleset. Begitu tiba di ruangan itu, ia melihat ada dua orang yang sibuk sekali dengan pekerjaannya, sementara salah satu komputer yang kosong sedang rusak.

Laras pasti sudah menduga kalau ada sesuatu yang menghambatnya, pikir Osken. Ia pernah ke Yangon dan paham situasi di kota ini.

“Mirip sekali dengan kota-kota besar di Indonesia akhir tahun 60-an,” kata Laras pada Osken di awal pertemanan mereka tahun lalu, di Bangkok, saat keduanya berada di dalam boat yang menyusuri Sungai Chao Phraya, yang membawa mereka kembali ke hotel. “Kalau saja rejim Than Shwe tidak sebengis itu, kalau saja rakyatnya tidak tertindas, tempat itu bagai surga,” tambah Laras menyampaikan rasa simpatinya.

Dari tempat Osken duduk, melalui jendela kaca terlihat tujuh penjual bunga mulai menata dagangan di seberang jalan. Dari jarak duapuluh depa wajah-wajah mereka tak begitu beda dengan wajah orang Asia lainnya. Namun ketika didekati, terlihat kilau mata mereka tak sama. Getar-getar derita seakan merambati sorotnya, yang bisa dirasakan oleh siapa saja yang peka.

Melihat pedagang yang memakai longyi itu menata tangkai-tangkai mawar ke dalam jambangan besar, muncul keinginan Osken untuk membeli beberapa tangkai. Baru saja ia bangkit dari kursi, pegawai hotel memanggil namanya.

“Maaf, Sir, salah satu tamu baru saja memperpanjang waktu.” Punggung petugas itu membungkuk. “Kami sudah mencoba menjelaskan tapi dia berkeras. Mohon maaf, Sir. Komputer yang rusak itu sedang diperbaiki, tapi teknisinya tidak bisa menjamin kapan selesainya.”

“Baik. Apa boleh buat. Tolong, saya harus menelpon internasional. Bisa dari front desk, kan?”

“Bisa, Sir. Mari saya antar.”

Osken menelpon Laras untuk mengabarkan situasinya. Di negeri yang dipimpin oleh rejim militer itu, hanya kalangan elit saja yang bisa memiliki telpon seluler dengan sambungan langsung internasional. Untuk mendapatkannya mereka harus membayar ribuan dolar Amerika.

“Tidak lama, Laras. Saya akan naik taksi. Tidak sampai 15 menit saya sudah bisa online. Okay? I love you.” Osken menyuarakan kecupan sebelum mengakhiri pembicaraan singkat dengan Laras.

Cepat-cepat ia ke kamarnya mengambil laptop selepas membubuhkan tanda tangannya di dalam buku log khusus sambungan telpon internasional. Di hotel kecil ini, sebagian transaksi masih dilakukan dan dicatat secara manual. Dalam sekejap ia sudah berlari melintasi lobi, keluar untuk mencari taksi. Seorang petugas hotel yang dipanggil Jack, yang selalu berjaga di lobi untuk membantu para tamu keluar-masuk, membuntutinya dari belakang.

Need a taxi, Sir?”

Yes.”

Osken berniat menuju pusat kota yang jaraknya tak sampai 2 kilometer dari hotel. Kalau tidak sedang tergesa, ia memilih berjalan kaki sambil menikmati suasana. Di sana ada beberapa warung kopi high-end yang mematok harga US$ 3 untuk secangkir kopi, namun pengunjung mendapat fasilitas internet nirkabel gratis. Osken menuju ke salah satu tempat itu agar bisa Skype dengan Laras. Ada beberapa hal penting berkaitan dengan pekerjaan masing-masing yang akan mereka bincangkan. Sebenarnya bisa saja Osken melakukannya di kantor, tinggal menelpon penjaganya, tapi ia terbiasa menghindari mengerjakan urusan pribadi di sana.

Tidak sampai tiga menit taksi sudah berhenti di pinggir jalan, di depan gerbang hotel.

Thank you, Jack.” Osken membuka pintu taksi. “Oh! Just a minute, please!” Seru Osken pada supir taksi, lalu berlari menyeberang jalan. Ia membeli beberapa tangkai mawar merah yang akan ia tunjukkan pada Laras lewat webcam. Lelaki yang telah bernafas lebih dari setengah abad itu berulah seperti remaja yang baru pertama mengenal cinta.

I am just a boy in love,” ujarnya, bercanda pada beberapa teman dekatnya yang sering meledek tingkah Osken setahun terakhir ini. Mereka tahu kalau Osken menjalin hubungan dengan perempuan Indonesia.

Mobil yang berlalu lalang di Yangon sebagian besar keluaran awal 80-an, termasuk taksi yang ditumpangi Osken. Meskipun dilengkapi argometer, kebanyakan supir taksi memilih tawar menawar dengan calon penumpang. Osken sudah tahu kalau tarif taksi di dalam kota jauh dekat sekitar Kyat 2.000, setara dengan US$ 2,5, masih lebih murah dari harga secangkir kopi yang akan ia beli di tempat yang ia datangi. Ia juga tahu tarif  itu berlaku untuk orang asing sementara warga lokal hanya membayar sekitar setengahnya.

***

Kira-kira 3.000 kilometer dari Yangon, Laras menelpon Mila yang semalam mendarat di Jogja dengan pesawat terakhir. Pagi ini mereka akan mendiskusikan pekerjaan berikutnya.

“Mila, meeting-nya mundur satu jam ya? Please. Aku mau Skype dulu sama Osken. Ya? Kamu jangan kemana-mana, ya? Nunggu di hotel aja, ya?”

Mila tak punya pilihan selain mengabulkan permintaan sahabat sekaligus rekan kerjanya itu. “Jangan lama-lama ya. Aku masih harus beli batik pesenan teman-teman dan jam 4 udah harus sampai bandara,” gerutu Mila. “Kalian segera nikah aja ‘napa? Udah sama-sama tua, mau nunggu apa!” Ledek Mila, yang dibalas derai tawa panjang di ujung sana. Ah, Laras sedang bahagia, pikir Mila sambil memasukkan Blackberry ke dalam kantung kulit merah marun, tak ada salahnya mengalah untuk membahagiakan seorang sahabat.

***

Taksi yang interiornya berbau apek itu menurunkan Osken di depan Pagoda Coffee Shop, satu dari dua kedai kopi yang buka pukul 7 pagi di hari Minggu. Hampir semua pengunjungnya orang asing yang melakukan breakfast meeting di luar hotel mereka. Koran kemarin pagi yang belum sempat ia baca dan seikat mawar merahnya ia taruh di atas meja di sudut ruang, agar tak ada orang mengambil tempat itu selama ia antri di konter.

“Hellooo…. Hellooo…!” Suara merdu yang terlontar cukup keras menerobos telinganya, membuatnya menoleh. Di salah satu meja di samping jendela, duduk seorang perempuan yang memandangnya dengan senyum terkembang. “It’s me, Osken!” Dua tangan perempuan itu terbuka, sebatang rokok yang baru disulut terselip di jemari kanannya.

Perlu beberapa saat sebelum Osken benar-benar yakin akan wajah itu. “Hi! Sandra!” Osken mendekati meja perempuan itu. Dengan tangan kanan masih menjinjing tas laptop, lelaki itu memeluk karyawati UNHCR yang pernah dikencaninya dua tahun lalu, ketika mereka sama-sama bertugas di Kosovo.

Look at you. You’re so…” Sandra berhenti sebentar, menatap wajah lelaki yang pernah menghangatkan malam-malamnya di musim dingin dua tahun lalu itu. “You’re so fresh!” Sebuah ciuman mendarat di pipi kiri Osken.

You’re looking great, girl!” Osken melepaskan rengkuhannya di pundak Sandra, lalu mundur selangkah mengamatinya. “What brought you here?”

The same thing that brings me to any other place on earth.” Sandra kembali duduk. Tangannya mengisyaratkan agar Osken duduk di kursi di seberang meja. Sambil menghisap rokoknya Sandra menanyakan pekerjaan Osken. Dua insan yang punya kisah singkat di masa lalu itu bertukar cerita dengan asyik.

Hey! Go order your coffee. And don’t forget…” Sandra menoleh ke arah meja di sudut, “Your flowers. Bring them over here. Who’s the lucky lady?”

Osken terhenyak. Aduh! Karena sibuk berbincang dengan Sandra dia lupa kalau sedang terburu-buru dan ditunggu Laras di Jogja. “Ouch…!” Serunya melihat arloji di pergelangan tangannya. Ia telah membuat Laras menunggu 20 menit lebih lama dari yang seharusnya. Osken ingat kalau Laras tadi bilang ia ada janji dengan Mila. Jangan-jangan Laras tidak punya waktu.

Sorry, Sandra. I have things to do!” Osken melangkah lebar menuju meja di sudut, meletakkan tasnya di salah satu kursi dan menarik laptop dari dalam tas itu. “Damn!” Serunya jengkel saat ia sadar kalau baterenya habis. Terburu-buru ia rogoh tasnya untuk mengambil charger. Begitu kabel tercolok dan laptop menyala, sekali lagi ia mengumpat, kali ini lebih keras. Ia tidak bisa mendapat koneksi karena password baru diberikan setelah memesan minuman atau makanan.

Sementara itu di Jogja, Laras mematikan laptopnya bersamaan dengan Osken menekan ikon Skype. Mendung menghiasi wajah Osken ketika ia lihat warna abu-abu  berhias tanda silang pada akun Laras. Ia pandangi seikat mawar merah yang teronggok diam di atas meja. Jemarinya mengelus kelopak mawar yang tersembul keluar dari plastik pembungkusnya, berharap agar Laras tidak marah. Untuk sejenak ia tercenung, namun akal sehatnya segera menuntunnya memeriksa email. Ah. Ada satu email baru dari Laras.

“Darling, I’m in a rush. Enjoy your day. Kisses. L.”

Sebaris kalimat pendek itu mengembalikan senyum Osken yang sempat hilang ditelan rasa kecewa.

Dari kursinya, diam-diam Sandra memandangi ulah Osken. Ah, kali ini dia jatuh cinta, pikirnya. Perempuan bermata amber itu mengemasi barang-barangnya kemudian mendekati Osken untuk pamitan.

Osken tidak berusaha menahannya atau berbasa-basi seperti yang dulu biasa ia lakukan dengan setiap perempuan yang menarik hatinya. Setahun terakhir ia banyak belajar dari Laras. Sudah lima tahun ia menjanda namun ia kuat mengabaikan hasratnya yang menjerit-jerit minta dibebaskan dari benteng penjara.

“Aku tidak sendiri, Osken, terutama di negeriku. Aku tidak unik. Aku punya beberapa teman janda yang sama sekali tidak bersentuhan dengan laki-laki hingga akhir hayat mereka,” jelas Laras saat hubungan mereka bertambah dekat.

Berkat Laras, sudah setahun Osken berhasil mengikat erat hasratnya. Sesekali ia merasa menjadi seperti orang suci yang bisa melakukan hal-hal yang awalnya ia anggap mustahil. Baru setelah usianya memasuki kepala lima, Osken menyadari bahwa mengelola diri itu membutuhkan disiplin tak beda dengan mengelola pekerjaan.

Perempuan Jawa itu bagai hujan yang turun di atas ketandusan jiwanya, membuatnya menjadi subur dan ia ingin bercocok tanam di atasnya. Ia, si elang pengembara, yang terbang melintasi samudera dan benua, ingin berhenti dan bersarang, bukan di pepohonan tinggi atau tebing menjulang terjal, melainkan di tempat landai yang hangat. Ia harus beradaptasi dengan banyak hal, ia tahu itu, dan sedang berusaha.

*****

Keterangan:

Kyat: mata uang Burma/Myanmar

Kyat 1 setara dengan Rp 10 – Rp 12, tergantung kurs US$.

 

Ilustrasi: tallrite.com, globosapiens.net

 

9 Comments to "Senja di Chao Phraya (14)"

  1. Lani  16 April, 2011 at 07:24

    KORNEL bukan OKSEN tp OSKEN aku ralat ya…………

    ER…..aaaaaaaah, kecewanya bs kurasakan hehehehe

  2. EA.Inakawa  16 April, 2011 at 04:05

    Mbak Endah…..artikelnya bagus,bagus sekali untaian kata pada penutupnya,terima kasih sdh mengibur mata ini. salam baik dari Kinshasa

  3. Mawar09  16 April, 2011 at 03:45

    Endah: ceritanya makin menarik, ditunggu ya lanjutannya. Salam!

  4. Linda Cheang  15 April, 2011 at 23:29

    lanjut baca ajah…

  5. Djoko Paisan  15 April, 2011 at 21:24

    Mbak Endah…
    Terimakasihn untuk ceritanya.
    Salam manis dari Mainz…

  6. Kornelya  15 April, 2011 at 20:37

    Hohohoooo, ada harapan, Oksen tak akan menyerah. Aku tunggu lanjutannya. Salam.

  7. J C  15 April, 2011 at 09:54

    Endah, sungguh menarik, sungguh menarik. Aku lebih suka perkembangan cerita yang demikian ketimbang sedikit lambat kemarin (terbangunnya konflik di Jogja di kalangan keluarga Laras). Hhhmmm…jalinan cerita yang makin menarik…

  8. [email protected]  15 April, 2011 at 09:43

    wheew… menarik…menarik….
    lanjut dooong…

  9. [email protected]  15 April, 2011 at 09:31

    asik… cerita lanjutan…
    absen dulu baru baca

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.