Belalang-belalang di Tengah Padang (5)

Cinde Laras

 

“Rukayah sudah 13 tahun sekarang. Itu umur emakmu waktu melahirkan abangmu yang pertama. Jangan khawatirkan penolakannya. Emakmu dulu juga sempat menolakku selama beberapa bulan sebelum aku berhasil membuatnya menyerah. Sebagai suami, kita memang harus sabar. Barangkali sebentar lagi hatinya akan luluh dengan kesungguhanmu. Setahun waktu yang terbuang itu tak akan berarti apa-apa. Percayalah…. Itu sudah biasa terjadi…”, kata Pak Mu’nim siang itu saat Rustam mampir lagi ke rumahnya. Alih-alih marah, Abahnya malah tertawa mendapati Rukayah masih saja suci.

Rustam sudah berhasil meredam rasa inginnya pada perempuan belia itu. Meski sering kali dia tergoda untuk melakukannya, tapi kata hatinya yang tak ingin memaksa membuatnya bertahan. Sejak kedatangan Bu Guru Harti ke rumah, Rustam tak lagi mendengarkan kata-kata usil teman-temannya yang menuduh ada siapa-siapa di belakangnya yang main mata dengan Rukayah. Tidak! Rukayah tak pernah berbuat macam-macam. Dia hanya butuh kebebasan untuk berkembang. Hanya ijasah SD, apalah susahnya memberi perempuan itu kemuliaan dengan ijasah SD yang diidamkannya? Dan kini Rukayah sudah berhasil selesai ujian. Nilai yang bagus membuat Rustam bangga padanya. Tak sia-sia dia memberi kelonggaran bagi Rukayah untuk belajar, bahkan di saat malam ketika keduanya tengah berbaring di peraduan.

(http://www.flickr.com/photos/phasmous/)

Masih suci hingga setahun sejak menikah…. Hal yang biasa untuk pasangan seusia mereka. Tapi tidak demikian ketika Emak Rustam tahu apa yang telah terjadi. Bu Mu’nim langsung bercerita pada Mak Piah, emak Rukayah. Meski Bu Mu’nim tidak menunjukkan amarah, cerita itu cukup membuat kuping Mak Piah memerah. Mertua perempuannya itu langsung gusar.

“Rukayaah…. Masuk ke kamar Emak. Emak mau bicara denganmu…”, panggil Mak Piah dengan suara menggelegar. Rukayah yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung diseretnya ke kamar Rukayah. Pintu yang sedikit terbuka membuat Rustam bisa mengintipnya.

“Kamu belum pernah melayani suamimu seperti yang seharusnya? ”, tanya Mak Piah. Rukayah diam tak menjawab. Membuat emaknya makin gusar.

“Jawab, Rukayah! Kamu belum pernah melayani suamimu? ”, tanya Mak Piah sekali lagi. Rukayah menggeleng pelan. Tiba-tiba tangan emaknya melayang. PLAK! !

“Sudah selama ini jadi istrinya tapi kamu masih saja mengabaikan suamimu? Kamu terlalu! ”, kata emaknya sambil menuding. Rukayah makin takut.

“Ampun, Mak…”, rengeknya. Piah tak peduli. Baginya pinangan keluarga Rustam itu terlalu berharga untuk dikhianati. Kesanggupannya sebagai orangtua agar anaknya bisa menjadi istri Rustam sudah menjadi sebuah janji. Maka harus ditunaikan agar Rustam tidak kecewa. Dan penolakan yang Rukayah lakukan ini sungguh membuat dia malu. Meski pengantin perempuan menolak suaminya itu umum terjadi di saat-saat awal pernikahan. Tapi Piah tak ingin anaknya berbuat begini. Mengabaikan seorang suami yang sudah menafkahi – alangkah memalukannya…..

“Jangan pernah kamu mempermalukan emakmu seperti ini! Sudah setahun kalian menikah, dan kamu masih juga belum melayani suamimu? Istri macam apa kamu? Tanyakan itu pada dirimu sendiri! ”, hardik Mak Piah. Tangannya kembali terayun ke atas, dan kalau saja seseorang tidak menahan tangannya, pasti pipi Rukayah akan bertambah merah kali ini.

“Jangan, Mak…”, kata Rustam menghambur masuk ke dalam kamar. Tangan Piah yang hampir terayun itu dipegangnya.

“Tapi dia sudah melupakan tugasnya padamu…”, ujar Piah geram.

“Rukayah tidak pernah menolakku, Mak. Aku juga tidak pernah meminta. Jadi jangan Mak marah padanya…”, tukas Rustam. Tangannya masih saja kencang menggenggam pergelangan tangan Piah yang tergantung di udara.

“Tolonglah, Mak…. Jangan dipukul lagi…”, sergah Rustam. Tangan yang menggantung itu lalu mengendur. Rukayah menangis sambil memegangi pipinya.

“Maafkan Emak karena tak bisa mengajari Rukayah untuk menjadi istri yang baik untukmu…. Malu rasanya ketika Emak tahu anak Emak tidak pernah melayanimu. Emak merasa bersalah padamu…”, kata Piah menyesal bukan main, begitu menyesal hingga dia menangis. Perempuan itu terduduk di atas dipan pembaringan, Rukayah lalu bersimpuh di kakinya, memeluk lutut emaknya….

“Ampunkan Rukayah, Maak…. Rukayah akan menurut kata Emak…”, ucapnya di sela tangis. Rustam menenangkannya.

“Sudahlah, Rukayah…. Jangan menangis. Tidak ada yang salah…”, hibur suaminya. Kata-kata itu malah membuat Mak Piah makin tersedu.

“Sudahlah, Mak…. Jangan marah lagi. Rus ikhlas. Tidak ada yang salah. Rus juga tak ingin memaksa siapapun, terlebih lagi memaksa Rukayah….”, kata Rustam lebih lanjut. Kedua ibu-beranak itu tenggelam dalam rasa sesal kini.

“Mak…, bolehkah aku mengajak Rukayah kerja di kota bersamaku? ”, pintanya. Mak Piah mengusap matanya yang basah, memandanginya dengan rasa tak percaya. Ke kota? Rukayah akan diajak ke kota? Bekerja? Dilihatnya wajah Rukayah yang berada di dekat pangkuannya, memandanginya dengan penuh tanda-tanya.

“Apa maumu, Rus? ”, tanya Mak Piah heran.

“Aku akan mengajak Rukayah bekerja di kota. Kami akan segera pindah kesana…”, Rustam berkata dengan sungguh-sungguh. Mak Piah termangu.

“Percayalah, Mak. Rukayah akan baik-baik saja bersamaku…”, kata Rustam. Piah menyeka air mata yang sempat membasahi lehernya yang mulai kisut. Orang miskin mudah keriput, hampir semua perempuan berumur 30 tahunan di desa ini berkulit kisut.

“Mintalah ijinkan pada bapakmu…. Emak akan menurut apapun keputusan bapakmu…”, jawabnya kemudian. Rustam lega. Meminta ijin bapak mertuanya akan tarasa lebih mudah. Merantau ke kota adalah impian semua lelaki dewasa di desa ini. Maka keinginannya untuk pergi ke sana pastilah tak akan mendapat hambatan berarti.

“Maafkan Kayah, Kang…”, kata Rukayah ketika sedang berdua di dalam kamar. Emaknya sudah menyuruhnya melayani lelaki itu. Tapi entahlah…, Rukayah masih takut padanya. Rustam diam saja, pura-pura tuli. Dia malah membalikkan badan memunggungi gadis itu. Rukayah kini terjaga sendirian. Matanya tak kunjung terpejam, sementara suara jangkrik di luar sana makin nyaring terdengar. Meramaikan hari yang makin larut malam. Melayani seorang suami…. Betapa mengerikan membiarkan lelaki itu memegang tubuhnya. Rukayah bergidik. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu berbalik menghadap dinding dengan selimut rapat menutup tubuhnya.

*

Pengantin itu pergi dari kampung dengan dihantar seluruh handai-taulan sampai di batas desa. Piah menangis haru melepas anak perempuannya. Mertuanya sudah mengijinkannya membawa Rukayah ke kota. Ini lebih baik daripada dia melihat keributan karena Rukayah. Ijasah dari Bu Guru harti sudah didapat. Dengan ijasah itu setidaknya Rukayah akan dapat pekerjaan di toko Babah Liem.

Babah Liem mendapat kejutan dengan datangnya Rustam berserta istrinya. Rustam hanya ingin Babah Liem saja yang tahu siapa Rukayah. Dia tak mau teman-teman sekerjanya di toko tahu.

“Kenalkan dia sebagai adikku, ya, Bah…”, pintanya. Babah Liem tertawa saja.

Rustam sudah menceritakan keinginannya untuk sekolah lagi. Babah Liem takjub pada kegigihan pemuda itu. Merantau untuk menjadi sukses adalah hal yang paling menantang bagi seorang lelaki. Dia menghargai tekad Rustam yang berniat akan bekerja sambil belajar. Rustam menyewa sebuah rumah petak di dekat gang tempat tinggal Babah Liem. Cukup dekat jaraknya dengan toko. Tiga kali seminggu, Rustam dan Rukayah belajar di kelurahan. Mereka menempuh Kejar Paket B dan Kejar Paket C – pendidikan khusus yang setara dengan jenjang SMP dan SMA. Semacam sekolah terbuka.

Rukayah tak mau kalah dengan suaminya, dia juga bekerja sama rajinnya dengannya. Babah Liem melihat kesungguhan gadis muda itu mengerjakan hitung-hitungan. Dia sengaja mengajari gadis itu cara membuat pembukuan yang baik, membuat daftar inventaris barang, dan lainnya. Karena baginya Rukayah adalah gadis yang cerdas dan tekun. Cocok untuk dijadikan tukang hitung. Dari pagi hingga lepas maghrib, keduanya bekerja keras. Upah bulan demi bulan mereka kumpulkan. Keduanya masih ingin bisa meneruskan sekolah ke perguruan tinggi. Seperti apa yang dipesankan Bu Guru Harti sebelum mereka pergi ke kota.

“Pendidikan yang tinggi akan membawa kalian menuju dunia yang lebih luas. Darinya kalian akan mendapatkan banyak wawasan dan kesempatan…”, begitu kata Bu Harti. Rukayah seolah mendapat semangat baru, membawanya melambung ke alam mimpi. Mimpi untuk menjadi seseorang, bukan hanya menjadi kasir di toko Babah Liem.

Tapi Rukayah tetap belum bisa menerima lelaki itu menyentuhnya. Tidak…, tidak sekarang…. Tidak mau…, janji Rukayah pada dirinya sendiri. Rustam sendiri tak peduli. Daripada memikirkan soal itu, dia lebih baik memikirkan bagaimana menjawab soal dalam paket. Biarpun kadang dia gelisah sendirian saat hatinya sedang bergemuruh, menahan rindu-dendam melihat tubuh istrinya yang makin ranum. Berbaring bersanding di kamar sempit dengan perempuan itu berdua saja, alangkah menyiksanya.

“Rus…. Cewek tuh! ”, kata Lukman saat sedang di toko. Seorang gadis muda yang seusia dengan Rustam mendekat.

“Mas…. Ada softex nggak? ”, tanyanya. Rustam mengangguk.

“Ada…. Mau berapa? ”, tanya Rustam melayani pelanggan yang datang itu.

“Dua bungkus yang besar, ya? ”, katanya dengan senyum manis tersungging di bibir. Gadis itu mengerjapkan mata dengan genit. Rustam nyengir. Dan teman-temannya mengolok-olok waktu gadis itu sudah pergi. Rukayah melihat kejadian itu dengan perasaan beku dari sudut meja kasir. Dadanya berdesir.

“Rus! Sabet saja…!”, goda seorang temannya.

“Iya, Rus! Lumayan tuh, bahenol lagi…. Hahaha…”, olok temannya yang lain. Rustam hanya senyum-senyum sendiri. Tapi senyumnya langsung lenyap ketika dia beradu pandang dengan Rukayah yang tengah menatapnya dengan pandangan tajam. Mengapa harus melotot begitu? , umpat Rustam dalam hati. Bukankah selama ini Rukayah tak peduli?

Gadis pelanggan itu bekerja di rumah seorang pengacara. Dia pembantu rumah tangga. Tapi sumpah, dia manis sekali. Lebih manis dari Rukayah. Rustam sering kali bertemu dengannya saat gadis itu berbelanja di toko Babah Liem. Dari kenalan itu, Rustam mengajaknya berkencan. Mereka sepakat bertemu di warung nasi goreng dekat kantor pos, hanya berjarak seratus meter dari toko Babah Liem.

Rukayah tak diberitahu kemana Rustam akan pergi. Rustam hanya pamit akan pergi sebentar. Aneh, dandanannya begitu rapi, dan dia…wangi! Rukayah jarang sekali melihat Rustam berpenampilan begini. Bahkan sekarang Rustam kian sering memakai minyak wangi saat akan berangkat ke toko. Tidak seperti dulu. Beberapa kali Rustam pamit keluar rumah, dan hanya akan pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Rukayah sekarang hanya seperti penjaga pintu untuknya. Dan itu membuat Rukayah kesal.

“Kang Rus, sebaiknya kunci rumah dibawa saja…”, usulnya, agak sinis. Rustam melihat kunci pintu yang disodorkan itu. Dia mengangguk tanpa melihat wajah Rukayah yang sedikit mendung. Dia mengambil kunci itu, lalu melangkah keluar rumah. Dan menguncinya dari luar. Begitu saja. Rukayah sudah diberitahu Babah Liem tadi siang, kalau Rustam punya pacar di kompleks dekat toko. Seorang pembantu! Bukan karena cemburu hingga akhirnya dia kesal seperti sekarang. Tapi lebih karena sikap Rustam yang tak berterus-terang. Kalau dulu Rustam mengatakan tidak suka dibohongi, lalu mengapa sekarang dia tidak terus-terang saja?

Kang Rus pacaran? Memang itu yang sering dilakukan pemuda-pemudi di kota. Jauh sekali bedanya dengan dirinya yang cuma anak desa, tak pernah mengenal arti pacaran, karena adat masyarakat desa yang ketat. Kalau Rustam pacaran, artinya dia suka pada gadis itu. Lalu untuk apa Rukayah ada dan ikut dengannya selama ini? Rukayah sebal. Biarpun hingga kini dia tak pernah disentuh, tapi kebersamaan yang telah tumbuh setiap saat kala sedang berdua saja dengan Rustam membuat dirinya kian hari kian merasa terikat dengan lelaki itu.

Rukayah merebahkan dirinya di kasur yang tergeletak dengan rapi di atas tikar di lantai kamar. Dia teringat dengkur lirih Rustam setiap kali lelaki itu pulas dengan mimpinya. Kini dengkur itu terdengar merdu di telinganya. Dan Rukayah tiba-tiba merasa rindu. Diusapnya bantal yang tergeletak di samping bantal miliknya. Baunya masih seperti keringat Rustam. Rukayah meremas ujung bantal itu, mendekatkannya ke pipi. Lalu tiba-tiba dia menangis. Perempuan muda itu menangis hingga beberapa saat lamanya, sampai dia merasa terlalu letih, dan tertidur….

*

TO BE CONTINUED

 

22 Comments to "Belalang-belalang di Tengah Padang (5)"

  1. Cindelaras  18 April, 2011 at 05:55

    @Oom DJ : Hehehe…., ‘mana Tuhan panggil’ kok kayak gak percaya kalau Tuhan pasti akan memanggil ?

    @Bu Probo : Kok cuma Rukayah ? Aku juga mau lho diajari menari, yang perannya lemu ginuk-ginuk ada nggak ?

  2. Djoko Paisan  18 April, 2011 at 00:48

    probo Says:
    April 17th, 2011 at 23:11

    rukayah tak ajarane nari nanti, biar rustam tahu…istrinya pinter nari pentas ke mana-mana…kapok dia

    Bu GuCan….
    Hebat satu idee yang sangat bagus….
    Tapai…..
    Narinya dimana…???
    Selamat tidur dan jangan lupa nari dulu, agar mimpi yang indah….!!!

  3. probo  17 April, 2011 at 23:11

    rukayah tak ajarane nari nanti, biar rustam tahu…istrinya pinter nari pentas ke mana-mana…kapok dia

  4. Djoko Paisan  17 April, 2011 at 16:50

    Cindelaras Says:
    April 17th, 2011 at 15:31

    @Oom DJ : Woalah, mau nulis namanya kok jadi mananya…. Punten ndalem sewu, Oom

    Mbak CL….
    Hahahahahahaha….!!!! Tidak jadi soal…jadi ingat lagu…

    Mana..mana….la la lala…..!!!
    Mana…mana….!!!

    Hahahahahahahaha…!!!

    Ada lagu gereja yang judulnya

    Nama man TUHAN panggil….!!
    Tapi banyak yang menyanyikan…mana….mana TUHAN panggil…!!
    Menrasa benar, karena di mana-mana memang TUHAN panggil….!!!
    alasan untuk membenarkan diri sendiri….hahahahahaha….!!!

    Salam manis dari Mainz…

  5. Cindelaras  17 April, 2011 at 15:31

    @Oom DJ : Woalah, mau nulis namanya kok jadi mananya…. Punten ndalem sewu, Oom

  6. Cindelaras  17 April, 2011 at 15:29

    @[email protected] : Napa to ?

    @Oom DJ : Karang gak ada yang ngajari, Oom, makanya Rustam-Rukayah gak bisa berkomunikasi, hehehe….

  7. Cindelaras  17 April, 2011 at 15:27

    @DA : Kamu juga suka Butir-Butir Pasir di Laut ya ? Itu favoritku jaman SMP Susah lho bikin cerita nyambung gak bar-bar ngono kuwi (tamate piye to kae ?).

    @Lani : Hehehehe, gak mau ketinggalan….

    @Linda : Masih bersambung….

    @Probo : Kayak lagi berhitung waktu baris….

    @Mawar09 : Lanjooot……

    @Oom DJ : Biar penuh dinamika, Oom. Mananya juga masih muda : )

  8. Djoko Paisan  17 April, 2011 at 15:25

    Selamat Pagi Pambers….
    Ada apa kok waduh…waduh….!!!
    Dipukul istri ya….???
    Olehnya, kelakuan harus seperti Rustam…..
    Sayangi istri…..setahun sekali tidurnya….!!! Hahahahahahahahaha….!!!

  9. [email protected]  17 April, 2011 at 14:50

    waduh…. waduh…..

  10. Djoko Paisan  17 April, 2011 at 01:24

    probo Says:
    April 16th, 2011 at 15:51

    wah nggak isa pakDe….jare nek NESU MULIH…….nanti saya disuruh pulang kalau nesu….
    pamit ya…mau jemput ragil

    Nek NESU MULIH…
    Nggak salah nih…
    Buktinya nek NESU malah jemput ragil…. hahahahahahaha….!!!
    Selamat mimpi yang inndah….!!!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.