Daun Kumis Kucing di Palestina

Benny Arnas

 

Nominee Cipta Cerpen “Untold-Story from Palestine” 2009

TANGAN Noi gemetar saja menggenggam ponselnya. Ia baru saja membaca sms itu. Tidak hari ini saja, beberapa kali sms yang bernada seruan, ajakan, bahkan terkesan mengharuskan itu, selalu diterimanya beberapa hari terakhir ini.

Bukan apa-apa, Noi tak ingin orang-orang yang—dalam sms—itu tampaknya sangat dipedulikan oleh si pengirim, juga mendera derita panjang dan berujung pada kemalangan-kematian seperti abangnya.

Berlebihan sekali sebenarnya, bila terlalu mengait-kaitkannya. Tapi… Noi paham sekali bahwa sms-sms itu akan terus mengalir pada banyak orang, hingga ia berhenti pada yang memang tidak peduli, yang tidak ada pulsa, yang tidak lagi berempati, atau—seperti dirinya—yang trauma pada tipe-tipe ‘kepedulian’ berantai itu.

NOI ingat sekali, bagaimana abangnya, Aang, meninggal dunia. Umaknya menitipkan daun kumis kucing—yang di Dusun Linggau sudah sulit sekali didapat—kepada adik laki-lakinya, Nire. Waktu itu Nire sedang menebas rebung. Dikepung buluh-buluh bermianglah ia saat itu.

Mungkin karena belum banyak rebung didapat, atau pula karena tak nyaman dengan badan yang gatal-gatal, Nire berehat di bawah batang beluluk. Maka dititipkanlah daun obat itu pada Bi Yanti yang sedang berjualan kue keliling.

Antara iya dan tidak, Bi Yanti menerima titipan itu—mungkin ia akan lebih tulus menyambut dan berhasrat benar-benar menyampaikannya bila Nire membeli beberapa kue tentengannya, atau memberinya beberapa tunas buluh muda itu.

Namun, tak urung, dibawanyalah beberapa kebat daun kumis kucing itu. Di tengah jalan, tiada yang bisa memarahinya bila Bi Yanti lebih sibuk mengurusi pembeli daripada menjaga puluhan tangkai daun kumis kucing yang kian melayu, hijau buram.

Tiada yang menyana, bila semuanya berlaku temurunan. Sampai berbilang kali, daun obat itu dititipkan Umak pada Nire, dan dititipkan Nire lagi pada beragam-ragam orang yang ia pastikan terlebih dahulu, bahwa mereka mengenal abangnya yang tinggal sendirian di Jalan Bangka itu.

Setelah Bi Yanti, di hari yang lain, Nire sempat menitipkannya pada Wak Anyar, tukang kue putu langganannya semasa kecil.

Nire juga pernah beramanah pada Mbah Surti, tukang tambal gigi kampung yang rumahnya seleretan dengan Aang.

Pernah juga ia titipkan pada Aminah, kawan SD-nya dulu yang tinggal di SS, perkampungan penduduk yang bertetanggaan dengan Dusun Linggau.

Nire berpikiran tiada mungkinlah orang-orang itu ingkar pada apa-apa yang telah di-iya-kannya: memberikan daun kumis kucing itu pada abangnya.

AJAL. Yah, ajal. Kata itu seakan-akan menyemburat pelan-pelan untuk meyakinkan sesiapa bahwa kematian itu urusan Tuhan. Maka, orang-orang yang bergunjing itu tiada mampu suaranya mencapai arsy. Atau orang yang durja itu, tiada mungkin prasangkanya menembus tujuh lapis langit.

Bila terdengar ataupun tersampaikan pada Tuhan, mungkin sudah dikeronyom-Nya bibir Mak Jalim, Bi Silam, atau termasuk Noi sendiri… yang menyalahkan pembawa tanaman pengobat sakit batu ginjal itu.

“Mungkin kau perlu tanyakan pada Nire dulu, Noi. Siapa tahu lanang tu dak nitipe nian(1) …,” saran Mak Jalim saat bertemu Nire di malam Yasinan di Dusun Linggau.

“Katanya sudah ia titipkan pada orang-orang yang tak amanah itu,” jawab Noi. “Entah Islam atau bukan agama mereka. Tak tahu apa kalau pesanan itu harus tuntas diterima pada yang berhak menyambutnya!” Noi emosi.

“Ya Noi!” sahut Bi Silam semangat. “Bibi sangat yakin, Bi Yanti itu tidak berpikir terang. Hanya kue-kue murahan di tampa reotnya saja yang dapat perhatian darinya. Lihat! Mana mungkin ia dapat membeli TV, kemarin baru beli sepeda MX anaknya yang paling kecil…”

“Hussh!” sela Noi. “Tak ada hubungannya kalimat terakhirmu itu, Bi!”

“Iya!” timpal Mak Jalim. “Jangan bawa dendam-syirik-jahat hatimu itu untuk mendukungrepetan Noi yang sedang berduka ni!”

“Alaaaaah!” balas Bi Silam. “Nenek sihir, Kau!” hardiknya. “Sekarang kau bermuka sembilan! Kemarin-kemarin juga kau mengajakku mengumpat-raya perihal Aminah yang katamu pikirannya miring karena ditinggal Alim, pemuda yang kau gila-gila-i!!”

“Puihhh!” Mak Jalim mendorong bahu Bi Silam hingga wanita paroh baya itu hampir terjerembab. “Kau tu yang jalang! Aang juga selalu kau goda…”

Noi makin tak mengerti.

“…giliran ia sakit, tiada kau membantunya…!” lanjut perempuan tua itu.

“Hussssh!” Mang Pai memberi isyarat diam. “Yasinan nak dimulai. Kalau nak beribut, menjauhlah. Pergi ke bawah jeramba—jembatan—itu saja, kalian!” Ketua RT itu membelalak pada Bi Silam dan Mak Jalim. “Noi, kau bantulah ibu-ibu di dalam tu. Menghidang makanan bila selesai do’a.”

Noi berlalu ke dapur. Di sana, ibu-ibu sibuk menata piring-piring gulai.

“Peringatan tujuh hari nanti, kita masak opor saja!” suara ibu-ibu samar-samar terdengar dari kamar gulai.

Bapak-bapak baru saja memulai yasinan. Mengirim do’a untuk Aang, abangnya yang sudah beberapa tahun belakangan ini susah kencing, sakit batu ginjal, dan… pagi kemarin meninggal dunia.

Noi sangat-sangat meyakini, kemalangan ini berlaku karena tiada pernah abangnya yang pengangguran itu minum rebusan daun kumis kucing.

Orang-orang—termasuk Nire—hanya bisa meng-iya-iya-kan, menitip-nitipkan, menyeru-nyerukan agar daun berjumbai-jumbai itu sampai pada abangnya, namun sejatinya, mereka bersebelah-mata terhadap titipan umaknya itu, batin Noi muntab kala itu.

DIPERKIRAKAN beberapa hari ke depan, suhu di jalur Gaza akan mendekati nol derajat celcius. Penduduk Palestina, terutama yang tinggal di tenda-tenda, terancam mati kelaparan karena persediaan makanan dan obat-obatan sudah habis…”

Noi khusyuk memerhatikan headline news di TV, sebelum nada pesan masuk dari ponselnya mengalihkan perhatiannya.

ASS. BSK PUASA SUNAH 10MUHARAM, SKALGS DOAKN SWDR-SWDR KT DI PLSTINA. DIHRPKN JG, SLRH MUSLIM MBACA AL FATH:26-28, YUNUS: 85-88, UTK KMENANGAN AL QUDS! SEBARKAN!!

Tangan Noi gemetar saja memegang ponselnya. Ia yakin sekali bahwa handphone-nya adalah tempat persinggahan sms itu untuk yang kesekian kalinya.

Sejatinya, ia tak ingin berprasangka jauh. Tetapi, sungguh, yang ia tahu adalah, hingga kini, sms-sms sejenis itu tampaknya tiada merubah apa-apa. Layaknya pesan-pesan berantai untuk Bang Aang dululah, batinnya.

Mereka hanya sibuk bertitip-titipan. Berpesan-pesanan. Berkirim-kiriman. Yah, berkirim-kiriman. Hanya berkirim-kiriman. Hingga kapan? Entah. Mungkin menunggu kucing bertanduk. Atau menunggu kumis hewan rumahan itu tumbuh berdaun-berbunga di tanah merah berdebu di sana, di barat benua ini, di Palestina.* * *

Lubuklinggau, di tunas-tunas Januari 2009


Catatan:
(1) laki-laki tidak benar-benar menitipkannya.
Laki-laki itu tidak benar-benar menitipinya

7 Comments to "Daun Kumis Kucing di Palestina"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  18 April, 2011 at 20:54

    Memelas….

  2. J C  18 April, 2011 at 09:49

    Waduh…

  3. Djoko Paisan  16 April, 2011 at 14:55

    Yu Lani..
    Semoga cepet sembuh ya….

  4. Handoko Widagdo  16 April, 2011 at 13:00

    Sedih nian

  5. Sumonggo  16 April, 2011 at 10:12

    Reg Kumis Kucing

  6. Lani  16 April, 2011 at 08:43

    loroooooooooo

  7. Dewi Aichi  16 April, 2011 at 08:36

    Aku duluan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.