Dasar China (1) – Catatan Perjalanan ke Dongwang

Handoko Widagdo – Solo

 

Dasar China! Itu bukan kalimat umpatan. Itu hanyalah ungkapan ketidak mengertian dan kadang-kadang kekaguman saya terhadap Bangsa China yang aku dapat dalam perjalanan kali ini.

Ini adalah perjalanan kedua ke Shangrila. Jika pada perjalanan pertama saya menyusuri hulu sungai Yantse, sekarang saya menuju kearah timur menuju sungai Dongwang. Seperti pada perjalanan pertama, perjalanan ini juga bertujuan untuk mempelajari sistim pertanian masyarakat Tibet. Namun supaya ceritanya bisa urut, baiklah akan saya awali dengan upaya mencari makan di Geylang.

 

Menikmati Geylang

Hujan menghalangiku untuk langsung menikmati Geylang. Baru jam 7 saya bisa keluar hotel. Tujuan utama adalah untuk mencari makan malam. Sebab perut sudah tak bisa diajak kompromi. Saya menuju ke sudut jalan Lorong 16. Meja dan bangku kecil berjajar rapi di depan konter-konter makanan. Pengunjung belum lagi ramai karena hujan baru saja reda. Seorang kakek tua masih sibuk mengelap bangku dan dan meja. Sekali-sekali sapu yang dibawanya menyingkirkan kotoran yang berada di bawah meja. Kadang dia mengguyur lantai dengan air yang diambilnya dengan ember platik berwarna biru. Wajah si kakek pembersih kelihatan bahagia dalam bekerja. Dasar China!

Aku memesan mie sup nomor 5. Penjaga kedai, pria berusia kira-kira 40 tahun, menyilahkanku untuk duduk. Istrinya mengantarkan semangkuk mie yang berisi udang, irisan daging babi, iga, kikil dan usus kepadaku. Aku bayar 5$. Segera saja aku nikmati sup mie yang masih panas. Aku memesan kopi untuk minum. Aku membutuhkan kopi untuk menambah semangat sore ini. Secangkir kopi susu aku tebus 1$.

Setelah sejenak mengamati para pengunjung kedai, aku bangkit dan menyusuri Geylang Road. Tak banyak yang menarik, karena hampir semua sudut dipenuhi kedai makanan. Memang jenis makanan bervariasi, ada Chinese food, Thai, dan Indian. Berbagai jenis beer juga tersaji. Selain kedai makan, disepanjang jalan Geylang dijajakan hp di konter-konter kecil. Setelah sampai ujung jalan saya memutuskan untuk balik ke hotel. Tak ada yang istimewa di Geylang.

 

Changi Airport

Paginya saya bangun jam 5.30 waktu Singapore dan berangkat ke Changi jam 6 pagi. Ternyata sangat mudah untuk mencari taksi di pagi hari. Awalnya saya ragu apakah bisa mendapat taksi saat hari masih sangat pagi. Penjaga hotel memberitahuku bahwa taksi tersedia di Jalan Geylang. Hanya harus menambah 2,5$ karena masih dihitung tarif malam hari. “Kalau pesan lewat hotel mahal” dia menasihatiku. Akupun meluncur ke Terminal II Changi airport ditemani lampu-lampu jalan yang kelihatan mengantuk.

Changi airport adalah salah satu airport yang aku suka. Selain dipenuhi gerai-gerai, Changi juga memberikan nuansa alam. Di dalam airport ada kolam koi dengan tanaman paku-pakuan mengitarinya. Pohon-pohon paku besar menyembul di tepi kolam. Saya duduk santai menunggu ruang keberangkatan ke Kunming dibuka.

 

Kunming Airport dan Shangrila

Dasar China, pikirku. Bus sudah uyel-uyelan tapi tetap saja masih menunggu semua penumpang masuk. Bayangkan Airbus 320 hampir penuh, semua penumpangnya dimuat hanya dalam dua bus. Kami dempet-dempetan seperti gerombolan yang antri sembako gratis – saling dorong hanya supaya mendapat sejengkal ruang. Baru saja penumpang terakhir melewati pintu bus, bus segera saja berangkat. Jadilah semua kami tersentak.

Dasar China pikirku. Ketika sampai di Shangrila, taksi kami tak bisa melanjutkan perjalanan karena ada dua mobil di depan yang berhenti menutup jalan. Mobil terdepan membunyikan klakson tanpa henti ada lebih dari 10 menit. Mobilnya terhalang motor gerobag yang diparkir di tikungan. Bayangkanlah di pusat tempat wisata, jam 10 malam membunyikan klakson tanpa henti. Herannya tak juga ada yang peduli. Akhirnya aku memutuskan untuk turun dari taksi dan  jalan menuju hotel. Memang tidak jauh, hanya kira-kira 300 meter saja.

Malam saya sudah bisa tidur, meski masih beberapa kali terbangun. Namun sesak napas tidak lagi aku alami. Jadi aku tak memerlukan bantuan oksigen seperti kunjungan sebelumnya. Waktu bangun pagi kepala sedikit pening, artinya saya belum sepenuhnya bisa berdaptasi dengan ketinggian Shangrila.

 

Menyentuh salju


Perjalanan dari Shangrila ke Dongwang awalnya adalah menuruni bukit. Jalanan lumayan mulus, pemandangan membosankan. Di bagian atas bukit diisi pohon-pohon, di lembah kadang-kadang kami bertemu peternakan yak. Begitu terus sepanjang 1 jam perjalanan. Ternyata perjalanan tidak terus turun. Sebab kini mobil kami mulai menanjak.

Jalanan mulai bergelombang. Setelah 1 jam perjalanan kami menemukan salju. Di kiri kanan kami lerengnya masih bersalju. Di latar dekat, kulihat bukit batu menjulang yang masih diselimuti salju. Temanku bilang bahwa kita pada ketinggian sekitar 4.200 m dpl. Tapi sopir kami bilang ketinggian hanya 3.700. Mana yang benar? Saya yakin bahwa saya berada di ketinggian yang lebih tinggi dari Shangrila karena sakit kepala di bagian belakang muncul lagi, yang artinya saya terserang altitude sickness.

Kami sempat berhenti dan membuat beberapa foto di dekat lereng bersalju. Selanjutnya kami menuruni bukit lagi sekitar 4 jam. Saya beberapa kali terlelap meski tak bisa lama. Akhirnya sampailah kami di Dongwang.

Rupanya dalam perjalanan ke Dongwang saya tertidur. Ketika perjalanan balik baru aku sadari bahwa kami melewati titik tertinggi pada ketinggian 4.400 dpl.

 

bersambung…

 

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

67 Comments to "Dasar China (1) – Catatan Perjalanan ke Dongwang"

  1. Handoko Widagdo  24 April, 2011 at 15:53

    Ha..ha…ha… Mas Iwan…menikmati mandarin dan shangri-la cukup dari bundaran HI. Hebat-hebat!

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  23 April, 2011 at 23:23

    Enaknya… ini perjalanan menyenangkan, sambil bekerja sambil menikmati negeri Mandarin. Saya cukup di Bunderan HI aja menikmati Mandarin. Toh kalau bosen cukup menuju ke arah selatan ke Shangri-La.

  3. Handoko Widagdo  22 April, 2011 at 11:22

    Lha pembahasan klakson berlanjut, makanya tadi malam saya gak bisa tidur.

    Hennie, Shangri-La memang indah

  4. HennieTriana Oberst  22 April, 2011 at 02:55

    Mas Hand, sepertinya Shangrila menarik ya.
    China membuat saya menggeleng-gelengkan kepala, heran dan juga kagum.

  5. nu2k  21 April, 2011 at 22:55

    Saya kira tidak hanya bunyi klakson mobil yang membuat gendangan telinga menjadi bocor. Pernah berdiri seperempat jam disamping dua orang China yang sedang berbicara (katanya).. Waduuuhhhhh , saya nggak ngerti mereka sedang bicara atau sedang bertengkar.. Kerasnya nggak ada bedhanya… ha, ha, haaaa

    Masih tentang klakson mengklakson.. Tidak di China tetap[i di Paris, di tengah malam… Waduuuuhhh, baru kali itu saya mengklakson (hanya tiga kali), mau pamitan maksudny… Nggak tahunya baru mau belok, eeehhh ada lampu biru kelap-kelip, dan ada tulisan Polisi… Waduuuh harus minggir saya… Dan akhirnya harus bayar super mahal… Ha, ha, ha… Katanya saya melanggar aturan dilarang mengklakson di tengah malam.. Karena tidak ada alasan (sesuatu yang membahayakan) untuk membunyikan klakson….. Terpaksa pulang dengan agak manyun sedikit…..

    Rijd voorzichtig, en wel thuis… Gr, Nu2k

  6. Djoko Paisan  21 April, 2011 at 22:27

    Mas Handoko, dimas Josh Chen….
    Wah….kalau kalian ke Mainz, akan merasa kesepian….
    Dalam jangka waktu….katakan setahun, mungkin bisa dihitung dengan jari, bunyi klakson.
    Biasanya, kami bunyikan klakson, kalau sopir mobil didepan kami melamun, sudah ijo dan belum mau jalan.
    Tapi itu sangat jarang.
    Kami biasanya memberikan tanda dengan lampu, kalau kami mau beri mereka jalan.
    Kadang ibu-ibu yang stir mobil terlalu berhati-hati ( misalnya ) takut keluar jalan, nunggu jalan sepi.
    Maka kami kasi Dim, agar dia mau keluar….hahahahahahaha….!!!

    Tapi kalau seperti menang pertandingan sepak bola, maka untuk 10 menit kedengaran bunyi klakson,mobil yang konvoi… Atau kalau ada mamten, tapi tidak selalu bunyikan klakson juga…
    Kadang didepan rumah sakit atau rumah jompo apa lagi, pasti sangat sepi….
    Kasihan ya….
    Mau bunyikan klakson, harus cari alasan dulu….hahahahahahaha…..!!!

  7. anoew  21 April, 2011 at 22:20

    Rata-rata pada hitungan ke 7 klakson pasti berbunyi.

    sempet-sempetnya ngitung tho yo jiaaaan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.