Kelas Ekonomi

Tarsisius Sutomonaio

 

Saya tahu istilah kelas ekonomi pertama kali ketika duduk di bangku SMP. Apalagi kalau bukan merujuk pada pelajaran ekonomi dengan segala teori dan kalkulasi akuntansinya. Selanjutnya, saya mengenal istilah kelas ekonomi sebagai pembagian masyarakat berdasarkan tingkatan ekonomi. Masyarakat tingkat ekonomi atas, menengah, dan lemah. Tingkatan yang lebih luas pada tataran global yakni negara maju, negara berkembang, dan negara miskin. Namun, dalam dunia transportasi, istilah ini punya konotasi yang lain sama sekali, hanya ditujukan pada kelas pengguna jasa transportasi tingkat bawah.

Sepuluh tahun lalu, saya  baru saja menamatkan SMU dan hendak melanjutkan kuliah di pulau Jawa. Alat transportasi yang paling mungkin saat itu adalah pesawat, bis, dan kapal laut. Saya memilih untuk menumpang kapal laut. ada pertimbangan logisnya. Pesawat sangat efisien dari segi waktu tapi berbanding terbalik dari segi isi kantong. Sebuah tiket pesawat dalam sekali terbang bisa setara dengan setahun uang kuliah saya saat itu. Menempuh perjalanan dengan bis (jalan darat) akan sangat melelahkan. Saya akan duduk selama perjalanan yang akan ditempuh tiga atau empat hari.

Menjadi penumpang kapal laut akan menghadirkan pengalaman-pengalaman baru. Mengalami situasi di laut pagi, siang, dan malam. Menikmati larian lumba-lumba yang sebelumnya hanya bisa disaksikan di layar tv dalam lagu “si lumba-lumba” milik Bondan Prakoso. Menikmati malam ala “Titanic”. Siapa tahu kisah Jack bertemu Rose terulang, the dream comes true (minus adegan melukis dan adegan “dewasa” lainnya dan terutama adegan menabrak karang yang menyebabkan Jack meninggal, hehehe). Saya jadi tahu cara kapal membelah lautan. Sesekali melewati beberapa gugusan pulau. Finally, saya mantap memilih naik kapal laut.

Sehari sebelum perjalanan Flores – Yogyakarta itu, saya mengantongi sebuah tiket kapal Willis. Seingat saya, harganya masih di bawah seratus lima puluh ribu rupiah. Di bagian bawah tiket itu ada keterangan “penumpang kelas ekonomi”. Usai membeli tiket sore itu, saya menjumpai teman-teman seperjalanan. Lucunya, kami saling membandingankan tiket satu sama lain. Entah apa yang membuat kami tertarik karena semua isi tiket sama kecuali nama penumpang. Aneh bin ajaib! Tapi begitulah kelakuan kami yang sebentar lagi naik kapal untuk pertama kalinya.

Kembali ke tulisan “penumpang kelas ekonomi”. Saya merasa tulisan itu aneh dan bertanya-tanya mengapa tulisan tersebut harus ada. Saya tak  pernah  mengenal istilah itu dalam “hukum permintaan dan penawaran” dari pelajaran ekonomi atau stratifikasi masyarakat dalam sosiologi. Toh, saya pun tak pernah tahu mengenai istilah itu dalam sistem transportasi antar kabupaten di Flores. Tiap penumpang membayar dengan harga yang sama. Celakanya, saya tak berusaha menanyakan hal itu kepada orang lain.  Seorang  awam yang berlagak sok tahu bahwa “tulisan itu tak berarti apapun pada perjalanan saya”.

Sekitar pukul sembilan pagi keesokan harinya, akhirnya, kami benar-benar menumpangi sebuah kapal. Wow! Kami mulai menyanyikan beberapa lagu; “Tunggu aku di Jakarta”  Seila on 7 dengan mengganti kata Jakarta menjadi Yogyakarta, “Sayonara” untuk perpisahan dengan pulau nusa bunga dan beberapa lagu daerah yang bertema merantau. Kegembiraan, harapan, dan kesedihan memengaruhi pilihan lagu kami. Tak ada yang memedulikan suara satu sama lain. Tak ada yang protes ketika saya menyumbangkan suara false (atau jangan-jangan memang saya yang terlalu tuli mendengar cibiran-cibiran mereka, hahaha).

Di dalam kapal, kami “tak punya tempat khusus”. Kami bebas berkeliaran sambil sesekali memastikan barang-barang bawaan kami tetap aman. Ternyata “tak punya tempat khusus” ini di malam hari menjadi masalah. Tak ada tempat untuk membaringkan badan. Diam-diam, kami coba mengisi lorong kelas eksekutif yang beralas karpet kain berwarna hijau. Anak buah kapal (ABK) mendekat dan meminta kami memperlihatkan tiket. “Ini tiket ekonomi, kalian tidak boleh berada di sini,” kata ABK itu. “Ini area kelas eksekutif”, lanjutnya. Hmmm, pertanyaan saya terjawab sudah. “Penumpang kelas ekonomi” yang tertera di tiket punya konotasi yang buruk. Tiket hanya biaya penyeberangan, tak lebih. Tak sedikit pun biaya kenyamanan dan keamanan.

(jalan2qu.wordpress.com)

Kami tak punya pilihan, tempat kami memang di geladak terbuka – tempat multifungsi. Kami berdiri, duduk, dan berbaring di tempat yang sama. Saat berdiri dan duduk alas kaki menjadi pengempuk tetapi saat berbaring lembaran koran digelar pengganti seprei dan tas dijadikan bantal. Kami berusaha berbagi ruang dengan sesedikit mungkin melakukan pergerakan anggota badan. Beruntung, kami tak sendirian. Di kapal itu, mungkin ratusan bahkan ribuan orang bernasib sama tak terkecuali beberapa bule yang menurut anggapan saya tak seharus ada di situ. Masa orang-orang dari negara maju masih ada yang “sengsara”? hahahaha…

Kata orang, di geladak paling atas terdapat beberapa tempat rekreasi; bar, diskotik, ruang bilyard, kolam renang. Semua fasilitas itu tentu tidak bisa diakses dengan tiket kami. Itu milik para penumpang eksekutif yang telah membeli tiket dengan sangat mahal. Para penumpang itu nyaris tak terlihat di geladak kami, mungkin mereka sedang menikmati semua keistimewaan di atas sana. Puncak itu terlalu jauh dan mahal untuk kami raih. Sementara penghuni di atas sana enggan turun, merasa cukup dengan sedikit menundukkan kepala untuk melihat keadaan di bawah. Wah…wah, apa semua orang kaya di negeri ini seperti itu ya? Semoga saja tidak.

Pelayaran sehari semalam itu akhirnya berakhir di pelabuhan Perak, Surabaya. Saya masih punya sekali perjalanan jauh lagi. Saya tak tahu berapa lama Surabaya – Yogyakarta ditempuh. Sekali lagi, saya tidak akan menuju bandara melainkan terminal bis. Selembar tiket dua puluh lima ribuan digenggam, “penumpang ekonomi” lagi. Kali ini berbeda, saya beruntung mendapatkan tempat duduk. Leganya! Kelelahan selama perjalanan di kapal yang menjalar di sekujur tubuh membuat saya tertidur.

Entah di mana dan berapa jam perjalanan, saya terbangun oleh suara musik. Saya sadar pemain musik itu pasti seorang pengamen. Berikut, bergantian para penjual mainan, minuman, makanan, dan elektronik menawarkan dagangan. Berisik, persis di pasar. Beberapa orang membawakan puisi plus pidato. Mereka mengaku anak negeri yang tak mau menodong dan mencuri, tak mau mengemis hanya belum beruntung mendapatkan pekerjaan. Pidato tanpa teksnya berapi-api seperti Soekarno. Menengadah, menunjuk-nunjuk, sesekali tangan mengepal dan menundukkan kepala seolah merenungkan sesuatu. Ujungnya, dia memaksa anak negeri lainnya untuk membayar pidatonya “kenegaraan tentang anak negeri itu”. Lha…

Musik yang sama bisa terdengar berulang kali. Barang yang sama ditawarkan puluhan kali. Puisi dan pidato yang sama terpaksa harus dibayar sekian kali. Saya hanya bergumam dalam hati, “nasib penumpang ekonomi”. Saya tak tahu persis harga tiket bis eksekutif tetapi pengeluaran saya untuk membayar beberapa “konser musik” dan “pidato kenegaraan” tak bisa dibilang sedikit (dari segi kantong ekonomi). Semoga saja saya tak akan mendapatkan resep dokter gara-gara tak cukup istirahat. Bisa-bisa biayanya melebihi tiket eksekutif.

Kereta ekonomi punya kisah yang berbeda. Di loket penjual tiket, saya hanya bisa mendapatkan tiket “berdiri” alias tiket tanpa tempat duduk. Saya tak pernah tahu limit jumlah tiket berdiri itu. Satu hal yang pasti, kereta ekonomi selalu penuh sesak. Tiket berdiri tak menjamin saya bisa berdiri dengan nyaman. Berdiri berjam-jam sepanjang perjalanan tapi tak leluasa ibarat pepatah sudah jatuh tertimpah tangga pula.

Tak ada lorong yang kosong bahkan celah di antara gerbong bisa diisi lebih dari tiga orang dewasa. Lautan manusia itu mungkin sudah sangat melewati batas muatan plus barang-barang bawaan yang tak pernah ditimbang untuk keperluan bagasi seperti di bandara. Kita pun tak tahu dengan pasti berapa jumlah pedagang yang keluar masuk kereta. Over weight? Sangat mungkin terjadi. Kelebihan muatan bisa berujung pada kecelakaan, sesuatu yang tak diharapkan seorang penumpang pun.

Saya sendiri harus mampu menciptakan rasa aman dan nyaman atau setidaknya saya harus mampu bertahan dalam situasi yang tak nyaman dan tak aman. ‘Menikmati’ kondisi yang serba ekonomis alias minimalis.

Seperti biasa, kereta itu bukan hanya milik penumpang yang telah membayar tiket. Gerbong-gerbong itu adalah tempat mengais rejeki bagi para pedagang kecil. Bahkan, meskipun tak ada yang rela berbagi, pencuri kelas super teri (sekedar membedakan dengan kelas teri ala koruptor) mencari nafkah dari penumpang yang tak awas. Bagi para urban pencari kerja, laju kereta adalah sebuah harapan.

Rasa tak nyaman dan tak aman tak selamanya berujung pada keluhan yang tak berkesudahan. Situasi buruk itu bisa diolah menjadi senyum, tawa, dan pertemanan. Kata kuncinya adalah “perasaan senasib”. Gara-gara senasib saya bisa berbagi keluhan lalu berbagi pengalaman dengan penumpang lainnya. Percakapan pun beralih ke berbagai tema. Kekurangan ruang gerak pun bisa menjadi pengantar komunikasi yang baik untuk berbagi ruang atau bergantian menempati sebuah celah.

Ketiadaan jarak justru menjadi keuntungan. Sebuah kumpulan anonim bisa berbagi cerita. Saat-saat seperti itu kami bisa “mengabaikan” peringatan di pintu kereta, “jangan menerima makanan atau minuman orang tak dikenal”. Ya, seringkali percakapan seperti itu berujung pada berbagi bekal untuk memperkuat perasaan senasib tadi.

Boleh jadi, bahkan sangat mungkin, interaksi sosial sederhana ini tak saya alami jika menjadi penumpang kereta bisnis atau eksekutif. Rasa nyaman dan aman bisa membuat saya tertidur lelap. Jarak yang cukup antar penumpang mempersempit ruang interaksi yang intim.

Saya hanya mau mengatakan, “tak selamanya yang nampak buruk seluruhnya buruk atau sebaliknya”. Buruk dan baik bak dua sisi mata uang. Namun, kita bisa membuat sisi lain lebih sering nampak dan lainnya tenggelam. Saya berharap “kelas ekonomi” punya kisah yang lebih baik di masa mendatang. Bukan prinsip ekonomi “pengeluaran sekecil-kecil demi pemasukan sebesar-besarnya” -ala para koruptor bermodal sedikit tinta untuk mengantongi milyaran rupiah- melainkan harapan realistis bahwa kelas ekonomi pun layak dan berhak mendapatkan rasa nyaman dan aman.

 

Jakarta, 17 Januari 2011

 

 

39 Comments to "Kelas Ekonomi"

  1. tarsi  29 April, 2011 at 17:04

    ucique…”diperlakukan mesra sama (mantan) pacar!” ever lasting love story, hehehe

  2. Ucique Klara  28 April, 2011 at 08:01

    hahah really like this!

    kita pernah 1 kapal pas balik jogja sehabis liburan tahun 2004 kan? hehehe dan kita-sama penumpang kelas ekonomi di tilong kabila..

    banyak hal yg sebenarnya adalah penderitaan penumpang kelas ekonomi yg sekarang malah …jadi kenangan manis..
    wkwkwk termasuk ada juga kisah cinta sehari karena cuman saat mengarungi laut.
    beberapa kali naik kapal saya pernah mabuk sekali, gara-gara masuk angin dan gelombang yang kuat. tak ada seorang pun membantu diriku yang oak oak di kelas ekonomi… hiks

    saya juga sama..pernah naik kereta ekonomi jkt-jogja. murah memang, tapi bujubune..baunya..ribut dan banyak berhenti. selama beberapa jam harus tahan pipis. setelah bekerja aku berjanji pada diriku sendiri untuk memperlakukan diri dengan lebih baik. Stop kelas ekonomi hahaha

    kalo kereta ekonomi jakarta – depok sih sudah langganan.
    bahkan pernah dilecehkan alias diraba2 di kereta ekonomi bertarif 2 ribu rupiah saat mau ke citayem.. wkwkw

    pernah ke bandung naik kereta ekonomi juga. tak dapat tempat duduk tapi berdesakan tepat di depan pintu WC kereta..tapi saat itu masih oke2 saja karena senang soalnya diperlakukan mesra sama (mantan) pacar! wakakakak

    oh kelas ekonomi…kelas ekonomi…

  3. tarsi  26 April, 2011 at 14:59

    “Dj. lebih suka merakyat, karena mereka masih bisa diajak cerita apa adanya….”
    Selalu menyenangkan bila smua orang berpikir demikian. Andai para pejabat masih berpikir demikian mgkn iwan fals tak pernah menyanyikan “surat bt wakil rakyat”….maaf pak Dj, nyerempet alias ngelantur dikit…betul, masa kecil di kampoeng halaman sungguh menyenangkan. dulu ada cerita lucu…paman py istri asal Kediri. pertama kali bibi ke Flores, ia berdecak kagum “wah sapinya gede banget!” kami senyum tersipu. Setengah berbisik, kami beritahu bibi kalo itu bukan sapi tapi “babi” (maaf)…saat itu sy blum tahu kota spt jakarta, bandung, surabaya, yogyakarta, dll. tp sya bisa berbangga, ternyata masih banyak hal lumrah di kampung justru dianggap unik oleh mereka yg berasal dari kota, hehehe

  4. Djoko Paisan  25 April, 2011 at 17:24

    tarsi Says:
    April 21st, 2011 at 09:44

    Pak Dj: wah, kayakx pak Dj sllu py cerita menarik bt di-share. Sy senyum2 sendiri baca cerita tentang bu Susi. Mungkin kalo bertemu bu Susi, sy termasuk orang2 yg harus minta maaf setelah bicara. Jadi geli sendiri, hehehe.

    Mas Tarsi….
    Nah ya, namanya orang hidup kan selalu ada saja pengalamannya….
    Itu juga bahan cerita ke anak-cucu, verita yang membuat pagi disaat sarapan, bisa tertawa bersama.
    Dj. lebih suka merakyat, karena mereka masih bisa diajak cerita apa adanya….
    Entah karena di Mainz, sulit ketemu orang yang diajak berbahasa Indonesia, apalagi Jawa….
    Jjadi kalau bisa mendengar bahasa ibu, maka seperti musik ditelinga Dj.
    Kadang ingin sakali ( rindu ) bisa kembali menikmati perjalanan kelas ekonomi bersama istri. Tapi memang kesehatan dimasa ini tidak memungkinkan.
    Dj. sudah bangga bisa ajak istri keluar masuk kampoeng dimana Dj. kecil blusukan…. cari jangkrik, mandi dikali bersama kebo…..

  5. tarsi  25 April, 2011 at 16:45

    elnino: hahahaha, bukan saya lho yang ngomongin cumi2 itu….

  6. elnino  21 April, 2011 at 17:27

    Waduh, kok darah biru sih? Saya bukan keturunan cumi2 ini

  7. tarsi  21 April, 2011 at 13:36

    elnino: siiipp. Mas Nganten Elnino seko kraton pundi: Jogja, Solo ato Kediri? boleh bagi darah biru ga?,,,hehehe

  8. elnino  21 April, 2011 at 11:15

    Tarsi : kalo belum kenal emang paling aman panggil nama aja… Aku gpp kok dipanggil mas, tapi harus lengkap ya : Mas Nganten Elnino, panggilan utk bangsawan Jawa…biarin Dewi sirik…

    Wik, ngirim cuma email, ya orang gak antusias…coba ngirim wesel, kan semangat…

  9. tarsi  21 April, 2011 at 10:54

    mba Dewi: hehehe, iya, next mudah2an ga ketukar lagi. sya di Jakarta sejak 4 tahun lalu, adu keberuntungan di ibu kota, hehehe. btw, emailx mgkn kehapus. biasax sy sllu hapus email2 yg daluwarsa di inbox, kadang yg baru ikut kehapus. malah sy baru cek pesan di fc stlh baca komen mba Dewi.
    mas anoew: hehehe, tadix ga ada kata “minus” tapi gara berakhir jack mati, mendingan “minus” dari awal aja. sya blum pernah naik kreta itu, patut dicoba. tp mmang btul, kereta ekonomi kadang menyenangkan…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.