SAW – Bandung
Di kesenyapan malam ini, mungkin sekian detik lagi menjelang awal hari, suara-suara yang datang dari kelampauan itu begitu menghentak hati.
Siapa dirimu? Sekedar perempuan desa, yang dipaksa menikah dengan laki-laki tua dengan istri tiga, sementara ijasah Sekolah Rakyat pun belum sempat engkau terima. Seumur hidupmu menjalani laku keperempuanmu, demi menggiring perempuan lain yang lahir dari rahimmu untuk pergi sejauh-jauh dari pengulangan kisah tragismu.
Meranggas dan terhempas. Namun begitu ikhlash …
Sungkem sepenuh cinta, yang tak kan pernah mampu anakmu membalasnya, KARTINIKU …
April 23rd, 2011 at 00:07
hiks.. aku rindu emakku… ibuku, Kartiniku…
April 22nd, 2011 at 23:35
Benar sekali Aimee,kita bersyukur karena memiliki ibu yg bijaksana, bersyukur krn telah menjadi ibu dan diberi banyak kemudahan dalam melaksanakan tugas mulia sbg Ibu , aku bersyukur mempunyai ibu seperti ibuku, yang melakukan apapun demi kebaikan dan masa depan anak2nya.
Bu, aku belajar banyak darimu. Tentang kebijaksanaan, kesabaran, kasih sayang. Kini aku akan berikan yg terbaik untuk anakku, krn dulu Ibu slalu memberikan yg terbaik untukku.
April 22nd, 2011 at 11:24
Mbak dewi : jgn kan hanya di bingkai foto…sekalipun aku tak dpt menggantung foto kedua org tua ku di rumah ku ini (rumah bersama dibelikan mertua)…tp selama nya sampai kapan pun rasa nya dia kan selalu di hati. Menempati bilik hati, tidak paling pinggir, tidak ditengah, namun pny tempat sendiri.
April 22nd, 2011 at 08:42
Tiada rumah yang tak merindukan seorang ibu yang murah berkah,bahkan jika ibu tinggal ada di bingkai foto yang mulai kusam.
April 22nd, 2011 at 02:19
Saw, aku jadi nangis bacanya. Inget Ibu…