Coffee Stories (2): Bunga Kopi

Anastasia Yuliantari

 

Fajar mulai merekah, kokok ayam bersahutan dengan cicit kelelawar kesiangan yang berusaha menemukan jalan pulang ke sarang. Jerit burung malam perlahan memudar berganti lenguh kerbau dan derit pintu yang perlahan terbuka. Tak lama kemudian asap mulai mengepul dari tungku batu di dapur, kelonteng peralatan alumunium dan keretek kayu bakar mengisi udara yang masih dingin menggigit. Tak ada thermometer ruang di rumah kami di kampung, tapi suhu dini hari tak pernah jauh berkisar dari angka 15-17 derajat Celcius.

Mataku terbuka perlahan, dari tingkap jendela kayu kulihat berkas-berkas cahaya, belum begitu terang, namun telah cukup benderang untuk berjalan-jalan ke kebun di samping rumah. Ya, pagi ini aku bermaksud untuk menghirup harum bunga kopi di pagi hari.

Keinginan ini timbul akibat komentar teman-teman pada tulisan sebelumnya yaitu “Petik Kopi”. Para sahabat itu menyatakan betapa keharuman bunga kopi sangat mempesona, misterius, dan menimbulkan kenangan. Terus terang selama ini aku tak begitu memperhatikan. Menurut kata Mbak Sasha, mungkin karena aku terlalu terbiasa sehingga tak lagi menganggapnya istimewa.

Ah, kata-kata itu menggema terus dalam otakku selama beberapa hari, jadi aku memutuskan untuk menikmati keharuman bunga putih nan wangi itu pagi ini.

Aku beranjak menuruni ranjang setelah mengait sandal jepit di kolongnya. Kurapatkan jaket sebelum membuka pintu kamar menuju dapur. Adik iparku telah duduk di depan nyala api merah jingga sambil mengaduk-aduk sesuatu dalam kuali.

“Selamat pagi,” sapaku sambil meraih cangkir di rak metal dekat jendela. “Manga wae kolang, enu? (Ada air panas, dik?)”

Manga, Kakak. (Ada, Kak)” Jawabnya sambil menggeret termos biru bergambar bunga.

“Mau bikin kopi, nih.” Kataku sambil mengambil satu sachet kopi mocha. Sering kopi mocha ini menjadi bahan ejekan Max terhadapku. “Kita ini punya pohon kopi sendiri, koq beli kopi, dear.” Ujarnya suatu waktu.

“Tapi, kan bukan kopi mocha.” Jawabku kalem.

“Kopi mocha itu bahannya kopi dicampur coklat dan gula, kan?” tanyanya tak puas melihatku anteng-anteng saja mengaduk kopi itu tanpa mengangkat wajah.

“Kelihatannya begitu.” Jawabku sambil menyeruput isi cangkir yang mengepul dan kembali ke depan laptop.

“Nah, kita sudah punya kopi dan coklat, paling-paling tinggal beli gula saja. Bagaimana kalau mencoba membuatnya sendiri?”

Aku hanya angkat bahu, sampai sekarang aku masih setia membeli kopi mocha walau mama mertua selalu mengirimi bubuk kopi dari kampung.

“Cukup panas airnya, Kak?” tanya adik iparku setelah menuangkan air dari dalam termos. “Maklum air rebusan semalam.” Aku menjawab dengan anggukan dan ucapan terima kasih. Sambil menenteng cangkir itu kubuka pintu dapur yang menuju kebun di samping rumah.

Udara pagi menyambutku. Bunga-bunga putih pada ranting-ranting kopi berdaun hijau gelap menyerbu pandanganku, dan harumnya lamat-lamat menjangkau hidungku. Semakin kudekati, semakin tajam keharuman itu menyerbu. Dian Nugraheni menulis dalam salah-satu komentarnya, bunga kopi akan semakin tajam keharumannya saat bediding (musim dingin). Kebetulan di Dalo seperti halnya Ruteng selalu dingin, jadi aku dapat mengerti apa yang dimaksud Dian saat ini juga.

Kujauhkan cangkir di tanganku, aku menyurukkan wajah di atas tandan-tandan bunga putih itu. Segar sekali baunya. Kesegaran yang bersih sebersih warnanya. Bunga kopi berbentuk seperti bintang, mekar bergerombol dalam tandan-tandan hijau gelap. Dalam sebuah ranting bisa terdapat beberapa tandan bunga. Jumlah bunga itu mencerminkan jumlah kopi yang akan muncul. Semakin lebat bunganya, demikian pula kopinya.

Bila telah cukup lama berbunga, kelopak putih itu akan layu menjadi coklat kehitaman dan luruh ke tanah. Tak berapa lama kemudian bakal buah akan muncul. Kopi-kopi kehijauan memenuhi ranting itu, sampai kemudian berubah warna menjadi kuning, dan akhirnya merah tua.

Hujan yang terlalu panjang dan deras menyebabkan kopi tak berbunga selebat biasanya. Para petani kopi seperti mertuaku hanya bisa menghela napas. Mereka telah tahu bila produksi kopi pasti turun drastis akibat musim yang tak menentu ini. Bila menyandarkan hidup hanya pada tanaman kopi, bisa dibayangkan kekhawatiran mereka menghadapi perubahan musim ini.

Aku melangkah dari satu pohon ke pohon lainnya. Badanku harus merunduk beberapa kali karena dahan kopi menjulur ke permukaan tanah. Beberapa memang demikian karena tak dipangkas, namun beberapa sengaja dipatahkan sebagian untuk dirundukkan ke tanah. Dulu aku menyangka hal ini karena patah secara alamiah akibat saratnya buah, namun ternyata mertuaku melakukannya secara sengaja. “Agar tak terlalu rimbun dan tanaman memperoleh cukup cahaya matahari.” Jelas Max saat dia melakukan hal itu pada pohon kopi di kebun kami di Leda. Tapi kenapa musti dirundukkan dengan cara begitu, tidak sekalian dipatahkan saja? “Dahan itu, kan masih bisa menghasilkan buah.” Jawab Max.

Aku tak tahu teknologi bertanam kopi, karenanya aku tak berkomentar dengan metode penanaman demikian. Apalagi mereka telah puluhan tahun bertanam kopi. Seandainya aku tahu cara penanaman dari dalam buku, belum pernah sekali pun kupraktekkan.

Tanganku meraih sebuah ranting yang menjulur di depan wajahku. Ranting yang sarat dengan bunga, beberapa di antaranya masih berupa kuncup putih kehijauan. Kecemerlangan warnanya semakin nyata karena terpaan sinar mentari yang perlahan mulai merayap naik mengeringkan embun yang bergantung di ujung-ujung kelopaknya. Sebagian air bening itu meluncur turun ke tanah karena gerakan tanganku yang berusaha meraih ranting itu semakin rendah.

Suara panggilan bergema menerobos kelebatan daun kopi. Anganku terputus, kepalaku menoleh. Ternyata langkahku telah jauh meninggalkan rumah. Suara itu terdengar kembali. Kali ini aku bisa mendengarnya lebih jelas. Suara seorang lelaki.

“Aku di sini.” Jawabku

Langkah kaki terdengar mendekat. Max muncul di antara kerimbunan pohon kopi. Dia berhenti saat melihatku sedang menyurukkan wajah di antara bunga kopi.

“Kamu ngapain, sih dear?”

Aku menatapnya sebelum menjawab, “Menghirup keharuman bunga sambil minum kopi.”

 

 

34 Comments to "Coffee Stories (2): Bunga Kopi"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  2 October, 2011 at 02:19

    Bunga kopi ternyata mirip kembang buah manggis yg berisi indikator jumlah isi dalam satu buah.

  2. Anastasia Yuliantari  24 April, 2011 at 11:19

    Mbakyu Nunuk: benar sekali, petani di Indonesia tetap aja tidak pernah hidup berkecukupan, Mbak. kalau sedang musimnya harga kopi rendah sekali, tapi berhubung butuh uang untuk menyambung hidup ya terpaksa dilepas ke pasaran. Begitu kopi langka, eh tak ada lagi persediaan untuk dijual bahkan kadang terpaksa pinjam kopi bubuk di tetangga untuk sekedar minum sendiri atau menyuguhi tamu yang berkunjung. Ya, mereka memang belum diajari mengatur produksi dengan baik, Mbak.

  3. nu2k  24 April, 2011 at 02:21

    Mbak Anastasia dear, di Belanda juga sudah cukup banyak dijual kopi, dari yang berbentuk biji sampai yang sudah halus… Jenisnya ada beberapa merk (saya nggak pernah survey).. Pantas Starbuck menjual minuman kopinya cukup mahal… Karena kopinya didatangkan dari jauh…. Hanya sayang sekali harga beli dari Petani masih terlalu murah dibanding dengan harga jual mereka……
    Mudah-mudahan dalam waktu mendatang harga dari petani kopi sudah semakin membaik…. Semoga…

    Selamat menyeruput kopi tubruknya… groetjes, nu2k

  4. Anastasia Yuliantari  24 April, 2011 at 02:08

    Yu Lani: hahahaha……mbayangke dho nglangi…..hehehe, kumpul karo iwak lele.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.