Potret Kehidupan Yang Buram (2)

Samantha Lie

 

Hai salam semua buat pembaca Baltyra!

Sebelumnya yang sudah membaca di artikel yang pertama tentu masih ingat kan? Bagaimana situasi dan keadaan rakyat/penduduk di kota di mana aku tinggal, yang masih banyak hidup dalam kemiskinan.

Tetapi bukan hanya masalah kemiskinan saja, tetapi juga masalah dalam sistem pemerintahan yang masih belum berjalan dengan semestinya dan sudah mulai banyak yang menyimpang dari yang seharusnya….

Misalnya, dalam  pemilihan Walikota dan Wakilnya di setiap kota/daerah yang bersangkutan, hampir selalu ramai dengan kampanye partai-partai yang terpilih apalagi menjelang waktunya seolah-olah mereka saling berebut untuk mendapat dan menarik simpati para pemilihnya dengan memasang poster-poster gambar para calonnya plus dengan janji-janji mereka jika terpilih nanti.

(poskota)

Tetapi yang membuat para pemilih bingung dan akhirnya banyak yang golput adalah karena sebenarnya pemilihpun tidak mengenal mereka apalagi secara pribadi, sehingga pada akhirnya jadi salah memilih dan akhirnya menyesal telah memilih calonnya yang ternyata hanya mengucapkan banyak janji tapi tidak menerapkan dan menjalankannya setelah terpilih.

Ada banyak peristiwa yang juga menyebabkan aku dan mungkin juga banyak orang yang sama dengan pemikiranku dan menjadi tanda tanya yang sampai sekarang belum terjawabkan. Dan inilah beberapa cerita-cerita yang tidak seharusnya terjadi, apalagi yang ingin mencalonkan diri sebagai wakil atau pemimpin rakyatnya :

Kebetulan ini terjadi di kota tempat tinggalku dan juga beritanya sampai masuk surat kabar dan televisi, ada seorang istri yang mencalonkan dirinya sebagai wakil walikota, karena ia sangat ingin terpilih sampai menjanjikan sesuatu kepada mereka yang mau memilihnya dan akan diberikan jika ia terpilih nanti.

Tapi apa yang terjadi malah akhirnya ia tidak terpilih dan karena sudah terlanjur janji, mereka yang sudah dijanjikan pun menagih janji. Sayangnya beliau tidak dapat memenuhi janjinya karena uang yang sudah di keluarkan banyak dan suami beliau karena malu akhirnya bunuh diri….. ????? Sungguh tragis…

Ada lagi yang sudah tertangkap melakukan korupsi, pasangan hidupnya suami/istri ikut mencalonkan kembali, malah ada yang punya istri 2 (dua), dua-duanya juga ikut mencalonkan diri dengan partai berbeda….

Ada pula yang sampai masuk rumah sakit jiwa gara-gara tidak terpilih dan karena sudah menghabiskan uang banyak untuk biaya kampanye…. Akhirnya kecewa karena tidak terpilih jadi stress…. Usaha bangkrut untuk bayar hutang dan istri minta pisah….

Ada juga yang sengaja membagikan sembako untuk menarik simpatisan supaya memilih dia pada saat pemilihan nanti.

Banyak demo-demo juga yang katanya dibayar, jadi ada orang yang tukang mengumpulkan para pendemo (yang di kumpulkan mungkin orang yang pengangguran, sehingga ini sebagai kesempatan untuk mendapatkan uang).

Yang lebih parah lagi, mendengar berita-berita bahwa sekarang siapa saja bisa mencalonkan diri menjadi calon partai asalkan ada biaya, jadi dia mau masuk partai apa saja sesuai dengan selera masing-masing…. Seperti pilih makanan saja…. Kalau dulu kan partai yang pilih calonnya jadi memang sudah dikenal baik oleh partainya kalau sekarang tidak jadi yang tidak bisa memimpinpun asal ada “maka siapapun bisa…. kalau semuanya pakai cara seperti itu bagaimana bangsa kita akan maju ???

Setiap tahun semakin bertambah orang yang sakit jiwa, karena stress dan kehidupan ekonomi yang serba sulit.

Bagaimana para pemimpin/ wakil rakyat bisa menjadi panutan dan contoh yang baik buat para calon penerus bangsa???

Walaupun mungkin pemimpinnya terpilih yang terbaik, tapi kalau masalah-masalah yang lama belum dapat diatasi sampai ke akar-akarnya, mungkin seperti penyakit yang tidak bisa diobati secara tuntas karena belum dicari akar penyebabnya…..

Itulah hanyalah beberapa gelintir keluh-kesah banyak orang yang belum terjawabkan, tapi yang sebenarnya masih banyak lagi masalah-masalah lain yang menumpuk selain bencana/ musibah yang banyak belum terselesaikan dan di tambah lagi dengan urusan-urusan external/ internal (masalah TKI, gizi buruk, kurangnya lapangan pekerjaan, korupsi, pembangunan yang tidak merata antara kota dan desa dan lain sebagainya ) dalam negeri yang masih kacau dan tidak terorganisasi dengan baik.

Oh ya hampir lupa, sebenarnya ini sangat penting khususnya untuk pendidikan, karena negara yang maju dan kuat juga karena di tunjang oleh anak-anak yang pintar dan berpendidikan… tapi karena biaya pendidikan makin lama makin mahal, maka banyak anak-anak pintar yang akhirnya putus sekolah… dan akhirnya hanya bekerja sebagai pekerja rendahan yang kadang-kadang maaf, gajinyapun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Selain itu juga mata pelajaran di sekolah-sekolah masih belum sama/tidak standar, jadi kalau ada anak murid yang pindah sekolah orang tua pun ikut repot karena bahan pelajarannya berbeda-beda apalagi kalau dari desa pindah ke kota, kasihan anaknya kalau tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah yang baru, apalagi kalau pekerjaan orang tua nya harus berpindah-pindah tempat.

Sampai kapan hal ini akan terus terjadi kita tidak ada yang tahu, kecuali mungkin jika pemerintahan khususnya pusat bisa bertindak tegas, adil, bijaksana dan jujur dan lebih mementingkan kepentingan rakyat banyak (bukan hanya di kota saja tetapi juga di desa).

Selain itu mungkin pemerintah pusat juga bisa melihat dan belajar dari negara-negara lain yang sudah sangat maju, karena  pengalaman buruk adalah guru yang terbaik buat kita belajar untuk lebih maju.

Marilah kita selalu mendoakan buat bangsa dan negara tercinta Indonesia supaya mereka-mereka yang duduk di pemerintahan mempunyai hikmat, bijaksana dan takut kepada Yang Maha Kuasa dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Itulah potret kehidupan yang buram pemerintahan kita, semoga apa yang aku tulis bermanfaat buat semuanya.

Terima kasih buat teman-teman yang sudah mau membaca artikelku ini dan juga redaksi Baltyra yang sudah menampilkannya…

 

Salam manis selalu,

Samantha Lie

 

 

20 Comments to "Potret Kehidupan Yang Buram (2)"

  1. Samantha Lie  27 April, 2011 at 06:40

    Iya bnr mas Anoew, pdhal sering ada masukan dan perdebatan tp kok masalah tetap saja byk yg blm terselesaikan scr tuntas spt kasus2 TKI yg sering menderita di negeri org, tp mau balik ke negeri sendr jg susah krn keadaan ekonomi jd mrk terpaksa bertahan demi sesuap nasi…

  2. anoew  25 April, 2011 at 12:26

    ada yang bilang kalau negri ini salah urus. Sudah begitu, kesalahurusan itu malah berlarut-larut. Salah satu contoh salah urus adalah urusan yg gk penting dijadikan seolah-olah penting.

  3. Samantha Lie  25 April, 2011 at 10:41

    Bt J C.. iya mmg ini artikel yg membuat banyak org jd pemurung dan sedih….. jd banyak berdoalah bt negeri ini… smoga..dan smoga…spt kata Dj…

    Bt Mas Iwan, iya terlalu byk masalah2 di negeri ini, tp memang ini kenyataan …jd bukan cerita fitnah.. meskipun mmg kesalahan2 yg terjadi bukan disebabkan oleh seorang pemimpin krn mmg sudah dari dulu jd sulit utk memberantas secara langsung dan langsung pula kelihatan hasilnya….. Klo boleh SL mengutip … setiap keberhasilan tdk bs secara instant jd semuanya perlu waktu dan waktu….

  4. Samantha Lie  25 April, 2011 at 10:34

    Bt Dewi, iya SL se 7dgn pendpt Dewi..ya mmg begitulah keadaan pemerintahan negeri kita saat ini.

    Bt Dj tks jg uda mampir ke artikel SL…

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  23 April, 2011 at 20:52

    Sejak SBY memimpin negeri ini, hal-hal terburuk dalam sejarah bangsa ini, terjadi pada masa pemerintahannya. Jika ingin saya sebutkan, bisa menjadi sebuah artikel fitnah.

  6. J C  23 April, 2011 at 08:58

    Samantha, waduh…artikel yang ‘murung’…

    Bener si Dewi Aichi, emang para anggota DPR itu punya intelegensia atau etika yang pantas? Modal duit dan rai saja cukup buat jadi anggota DPR…

  7. Linda Cheang  22 April, 2011 at 20:35

    ya, memang begitulah, yang terjadi di negeri ini. kalo politik, mah, saya tetap ajah never mind the politics

  8. Odi Shalahuddin  22 April, 2011 at 17:58

    Memang aneh ini negeri
    pelaku video mesum yang sempat meramaikan media massa di indonesia
    akhirnya malah jadi Ketua DPRD, dan sekarang malah sudah jadi bupati..
    wah….. bagaimana bisa merobek potret buram dan menggantinya dengan foto penuh cahaya
    bila para pemimpin bangsa adalah para bangsa (t)

    kampanye menghamburkan uang, membeli suara
    setelah jadi tinggal menghitung uang yang akan kembali
    juga tidak lupa menghitung keuntungannya…
    he.h.eh.e.h.e

  9. Djoko Paisan  22 April, 2011 at 17:23

    Samantha….
    Terimakasih ya…..
    Nah ya….memang sudah dari sononya demikian, akar-akarnyapun sudah busuk, bagaimana akan berbuah baik.
    Semoga…ya….semoga….
    Salam manis dari Mainz….

  10. Dewi Aichi  22 April, 2011 at 13:08

    Memang menjadi caleg saat ini tidak diperlukan intelegensia, atau kecerdasan, kedewasaan, berwawasan, memiliki moral yang tinggi, yang diperlukan saat ini jika anda ingin menjadi caleg adalah ketersediaan uang
    untuk membiayai kampanye, Anda tak perlu punya otak. Asal bisa ngomong, KKN dengan pengurus atau miliki uang, anda bisa jadi caleg. Karena yang jadi caleg pun banyak yang tiada berotak dan berakhlak.

    Jika kampanye yang ditayangkan seperti ini wajarkah jika saya atau anda yang masyarakat awam bertanya, bagaimana bisa membawa perubahan jika ahlak dan moral sudah tidak melekat pada caleg ataupun parpol yang berkampanye dengan cara mengumbar aurat, mengumbar syahwat, tatkala mereka berbicara tentang
    perubahan, atau ketika berbicara tentang UU anti pornografi misalnya padahal saat kampanye mereka memperlihatkan kebobrokan moral mereka yang menghalalkan segala cara untuk mengundang masa?

    Pada kampanye pun hanya sedikit Orasi atau penjelasan visi misi partai yang terjadi hanya lebih banyak dangdutnya, tujuan awal untuk mengenalkan program partai sangat diragukan efektivitasnya. Apalagi jika diperhitungkan berapa persen yang benar-benar berstatus floating mass sebagai sasaran kampanye
    yang ikut hadir.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.