Selamat Hari Kartini, Enok

Ucique Klara

 

Namanya Genoveva (Jerman) artinya gelombang putih. Panggilannya Geno namun sering kami semua menyapanya dengan Enok atau Ka’e Enok. Ka’e Enok masih kerabat dekat jika dilihat dari silsilah keluarga, apalagi masih tinggal berdekatan sehingga kami sangat dekat. Rambutnya ikal panjang nan hitam meski sapuan warna putih mulai merambat dari mulai merambat pada pangkal rambutnya di bubungan kepala.

Alih-alih diurai, rambutnya selalu digulung dan membentuk konde kecil. Tak pernah kulihat dia tak mengenakan sarung, namun tetap elok dan anggun berkat senyum yang selalu merekah di bibirnya yang merah karena sirih pinang. Enok tak lagi muda, mungkin sudah separuh abad menghuni dunia, melalui banyak peristiwa, sebagai manusia-sebagai perempuan.

Siapa sangka di balik nama manis faktanya Enok adalah satu dari sekian banyak populasi di muka bumi ini yang menjadi perempuan serba bisa dalam kesehariannya. Bersuamikan seorang petani sederhana, tentu saja Enok tak bisa tinggal diam menunggu di perapian untuk kelancaran roda perekonomian keluarga.

Anak-anak juga butuh biaya pendidikan demi kehidupan mereka kelak (setidaknya pemahaman itu yang kudapat dari sebuah percakapan sederhana kami di suatu waktu). Meski hanya tamat SD, Enok sadar bahwa di era millenium ini pendidikan adalah investasi untuk kehidupan ekonomi yang lebih baik-tidak untuk dirinya namun bagi anak-anaknya.

Latar belakang hidup jelas membuat Enok tak punya pilihan selain menekuni beberapa pekerjaan; sebagai petani, buruh kasar dan beberapa pekerjaan yang entah diistilahkan apa, seperti membantu menapis beras, memetik kopi, membantu panen, menyiangi rumput halaman orang, menjaga dan merawat orang sakit, dan sebagainya.

Kadang beberapa hal yang dilakukannya adalah ekspresi ketulusan yang tidak pernah diharapkannya untuk dibalas dengan materi, namun justru itulah yang membuatnya disegani. Paling sering Enok dipercaya untuk mengerjakan kebun/lahan orang dan diupah per hari kerja. Tanggung jawab dan loyalitasnya membuat ia selalu menjadi tumpuan kepercayaan banyak orang.

Yang saya perhatikan, di Manggarai, terutama di lingkungan tempat tinggal saya, para pekerja kebun yang diupah per hari hampir semuanya perempuan. Para laki-laki juga ada yang bertani dan berkebun, namun jarang sekali diupah perhari untuk mengerjakan lahan milik orang lain. Paling mengerjakan kebun/lahan pribadi dan menerima pekerjaan sebagai tukang kayu atau buruh di sebuah proyek  bangunan.

Entah faktor apa yang menyebabkan ada pembagian semacam itu, saya tidak tahu. Mungkin saya saja yang terlalu mendetail. Jika seseorang ingin mengupah beberapa orang pekerja harian, hubungi saja Enok. Dia pandai berkomunikasi dengan perempuan-perempuan lain yang biasanya diupah perhari untuk mengerjakan kebun. Ia bisa diibaratkan sebagai agen outsourcing urusan pekerja harian perempuan, namun tanpa ada perjanjian pemotongan uang jasa.

Jika kami menggodanya demikian, hanya ada tawa yang berderai hingga bahu tipisnya bergetar. Semua tau kalau Enok handal untuk menghitung waktu tanam, waktu menyiangi dan saatnya petik kopi atau singkong harus dicabut. Semua jadwal duat terpatri di ingatannya.  Jika berhalangan duat pasti akan segera konfirmasi. Enok juga selalu punya berita terkini mengenai keadaan kebun melebihi si pemilik kebun sendiri, misalnya rumput yang tinggi, singkong yang dicuri orang atau saatnya singkong harus dicabut dan diganti dengan jagung.

Siapapun yang mengenal Enok, kan mengenal hatinya yang tulus dan pribadi yang menyenangkan. Bahkan Mama juga memfavoritkan Enok untuk urusan kebun. Mama adalah satu-satunya orang yang peduli dengan kebun dan segala isinya, namun kondisi beliau hanya memungkinkannya untuk istirahat di rumah. Saat sehat, Mama selalu mengurus kebun di sela-sela kesibukannya menjadi guru SD.

Minggu lalu, Enok menginformasikan bahwa beberapa pohon kopi di kebun kami sudah berbuah merah dan harus segera dipetik. Kami (anak-anak) memang jarang menengok kebun kecuali saat ingin membuat kolak singkong atau ingin makan advokad.

Yang kami tahu, Enok berhasil mengumpulkan sekarung biji merah nan menggemaskan dari kebun kopi kami yang tak seberapa luas. Hari ini  Enok masih menyumbangkan waktu dan tenaga untuk duat mengolah kopi loke wara menjadi kopi loke. Lagian belakangan ini waktunya banyak kosong. Sesekali ikut  memilah biji kopi, Mama senang karena siang harinya tak sepi. Ada Enok, obrolan seputar kebun dan sekitarnya juga biji-biji kopi yang cantik.

Kamis sore 14 April, hujan deras mengguyur. Aku teringat minggu depan dalam sebuah sesi bersama Mbak Tia, kami akan membahas hari Kartini. Ah masih seminggu lagi. Takaran 1 sendok makan kopi-setengah sendok makan gula plus air yang dijerang menghasilkan segelas kopi jahe yang nikmat. Saat menyeruput tiba-tiba kuteringat Enok. Benakku bertanya: apa makna emansipasi bagi seorang Enok?

Setiap tanggal 21 April seluruh rakyat Indonesia akan memeperingati hari Kartini. Hari yang dimaknai sebagai hari emansipasi wanita ini terkadang hanya dimaknai secara ceremonial belaka. Saya pernah mendengar ada yang bilang Hari Kartini adalah Hari Berkebaya Nasional, karena memperingati hari ini hanya dengan mengenakan pakaian kebaya sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan kartini. Ini adalah  ironi karena ada juga yang terkadang tak mengerti makna apa yang terkandung dalam peringatan hari tersebut.

Coba tanya pendapat orang-orang (apalagi dalam sebuah forum diskusi misalnya-atau saat tau masuk TV), tanggapannya ya pastilah apa yang seharusnya ada-kondisi ideal bahwa Hari Kartini yang selalu diperingati setiap tahunnya ini seharusnya dimaknai secara esensi.

Mungkin kita adalah bagian dari kelompok yang berpendapat bahwa hari Kartini diperingati sebagai momentum bagi perempuan Indonesia untuk berjuang, berjuang keluar dari penjajahan bak itu penjajahan kultural maupun penjajahan struktural. Namun, apakah itu masih relevan dengan kondisi terkini? Apa yang sudah atau bisa kita kalukan untuk memaknainya dalam tindakan? Dalam bayangan saya Enok hanya tertawa jika dia ditanyakan mengenai hal ini sambil menyeletuk: “Ta nu…, ai bom ata sekolah kami ta.. “

Bahkan di tengah semangat perjuangan yang sudah berbuah emansipasi wanita, masih ada wanita yang percaya takdirnya adalah menjadi wanita pekerja kasar dan kembali pulang ke rumah untuk memasak makan malam. Tapi mungkin itulah kenyataannya. Emansipasi wanita adalah kebebasan untuk memilih dan Enok memilih menjalani hidupnya sendiri. Selamat Hari Karini, Enok.

 

Ket:

1. ka’e (bahasa Manggarai) = kakak

2. kopi loke wara = biji kopi yang masih berkulit merah, belum diolah, baru saja dipetik.

3. kopi loke = kopi yang sudah dipisahkan dari kulit dan sudah dijemur, namun masih harus dikeringkan dan diolah lagi ke tahap berikut.

4. Ta nu…, ai bom ata sekolah kami ta.. = aduh adik (nona), kami kan bukan orang berpendidikan..

 

Ka’e Enok

 

kopi loke wara

 

kopi loke (yang sudah ditumbuk dan dipisahkan dari kulit luar)..sedang dijemur

 

kopi loke wara yg baru saja abis ditumbuk

 


22 Comments to "Selamat Hari Kartini, Enok"

  1. Dewi Aichi  25 April, 2011 at 05:05

    Itsmi…..ha ha ha….suamiku massih berdiri tegak…apalagi klo bangun tidur…!

    Kata JC, mending kolot dibanding modern tapi harus duduk ha ha ha….kamu ada ada saja Itsmi…

  2. Itsmi  24 April, 2011 at 13:45

    Dewi, suami mu masih berdiri ya ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.