L’Elisir D’Amore dan Mati Karena Cinta

Linda Cheang – Bandung

 

Pembaca sekalian,

Sebagai pengisi di hari antara peringatan Jumat Agung dan Paskah tahun ini, berikut oretan saya, yang mengaitkan kematian Kristus dengan Opera l’Elisir d’Amore (Ramuan Cinta) berbahasa Italia.

Memang agak kurang ajar kalau menghubungkan antara Yesus Kristus dengan karakter Nemorino dalam opera gubahannya  Gaetano Donizetti ini. Mungkin di luar sana, masih di jagad ini, ada beberapa umat Kristiani yang protes terhadap saya, mengapa menyamakan Kristus, Pribadi yang maha agung dengan Nemorino yang pecicilan. Itu sudah resiko saya mencoba menyambungkan hal-hal yang tidak nyambung sebenarnya, sebab saya ini penganut pemikiran anti statis, hehehe. Tapi kedua tokoh ini ada persamaannya. Apa itu?

Kita lihat dulu, ya,  siapa, sih, Si Nemorino itu? Kita simak sedikit ulasan dari Romo Budiman mengenai opera Ramuan Cinta ini :

“Suatu kisah cinta klasik. Antara laki-laki miskin (Nemorino) yang mencintai  perempuan kaya (Adina). Si tentara (Belcore) – berpangkat tinggi, punya selaksa serdadu, penuh kuasa – menarik hati si perempuan. Namun apa dikata, perempuan itu lebih tertarik pada Cinta yang tulus, dari Nemorino yang rela mati karena cinta yang ditolak. Adina tak bisa menolak Cinta Tulus.

Bohong, tiada obat (elixir) di dunia ini yang bisa membuat manusia hidup abadi. Hati dan pikiran yang menghipnotis sekejap seakan hidup Nemorino akan abadi.

Mungkinkah ada kisah semacam ini dalam sejarah manusia? Mungkin hanya dalam fantasi.”

Nah! Pembaca sekalian, sudah mulai terungkap tentang Nemorino ini. Lalu kenapa disamakan dengan Kristus? Di mana samanya?

Simak dulu ini : Una Furtiva Lagrima dari tautan dan lirik yang saya berikan ini, berikut terjemahan Bahasa Indonesia seadanya, dan sebagian terjemahan ada dibantu Romo Budiman. Dinyanyikan karakter Nemorino, dilakukan dengan baik oleh Rolando Villazón.

Una furtiva lagrima – Setitik air mata tersembunyi
negli occhi suoi spuntò: – dari matanya mengalir :
Quelle festose giovani – seolah dia iri kepada para pemuda
invidiar sembrò. – yang melewatinya dengan menertawainya.
Che più cercando io vo? – apa lagi yang bisa kuinginkan?
Che più cercando io vo? – apa lagi yang bisa kuinginkan?
M’ama! Sì, m’ama, lo vedo. Dia mencintaiku! Ya, dia mencintaiku, ku dapat melihatnya.

Lo vedo. Ku melihatnya.

Un solo instante i palpiti – ketika hanya satu debaran
del suo bel cor sentir! – dari jantungnya yang kurasakan
I miei sospir, confondere – ketika desahku kepadanya
per poco a’ suoi sospir! – desahnya untukku!
I palpiti, i palpiti sentir,- debar, debaran jantungnya ku mampu rasakan,
confondere i miei coi suoi sospir… – menyatukan desahku dengan desahnya…
Cielo! Si può morir! – Nirwana! Ya, ku rela mati!
Di più non chiedo, non chiedo. – ku tak kan minta lebih lagi, tidak lagi
Ah, cielo! Si può! Si, può morir! – Ah, Nirwana! Ya, ku rela mati!
Di più non chiedo, non chiedo. – ku tak kan minta lebih lagi, tidak lagi
Si può morire! Si può morir d’amor. – Ya, ku rela mati! Ya, rela mati karena cinta.

Ya. Sudah mulai terlihatkah? Persamaan Yesus Kristus dan Nemorino adalah, keduanya rela mati karena cinta. Namun tetap saja ada bedanya.

Nemorino, dalam aria Una Furtiva Lagrima menyatakan rela mati ketika cintanya ditolak. Rencananya Nemorino akan tetap dalam kontrak menjadi anak buahnya Si Tentara Sersan Belcodere dengan tujuan supaya ditempatkan di garis terdepan dalam perang sehingga bisa cepat mati. Tetapi pada akhirnya Nemorino tidak jadi mati dalam perang, karena Adina membalas cintanya dan Adina yang membebaskan Nemorino dari kewajiban kontrak. Lagipula, Ramuan Cinta yang dibeli Nemorino dari Terkun (dokter yang dukun) Dulcamara, sebetulnya bukan benar-benar ramuan, tapi anggur biasa dan sempat bikin Nemorino mabuk. Sebab Si Terkun memberikan anggur biasa karena menyesuaikan jumlah uang yang mampu dibayar oleh Nemorino. Pada akhirnya Nemorino yang pecicilan, memenangkan hati Adina karena ketulusan cintanya, bukan karena ramuan palsu Si Terkun.

Sedangkan Yesus Kristus, kita semua tahu, Dia, Pribadi Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, sampai mati benar-benar karena cintaNya kepada manusia, dan melalui kematianNya serta kebangkitanNya, maka siapapun manusia yang percaya padaNya dan menerima Dia, beroleh pengampunan, dan dapat masuk ke hadirat Allah tanpa dihalangi lagi. Matinyapun dengan cara yang paling hina, sehina-hinanya hukuman yang diberikan kepada penjahat paling jahat pada zaman itu. Kristus mati dalam perang melawan dosa dan Dia menang! Bahkan kuasa mautpun dikalahkanNya dengan bukti Dia benar-benar bangkit.

Kematian dan kebangkitan Kristus, inilah ramuan cinta sejati dari Tuhan sendiri, yang amat mujarab mengobati lara dan siksa akibat dosa. Di dalam kekuasaannya sebagai Pribadi Allah, Yesus Kristus bisa saja menghindari siksa sampai mati, namun karena cintaNya kepada kita, umat manusia, maka Dia memilih taat pada rencana penyelamatan umat manusia, dengan maju menghadapi kematian dan bahkan akhirnya menang menguasainya. Di jagad ini, belum ada manusia manapun yang mampu seperti itu, cuma Yesus Kristus yang sanggup melakukannya!

Nemorino karena cinta tulusnya pada akhirnya layak mendapatkan hati dan cinta Adina, maka Yesus Kristus atas karya agung yang telah dilakukanNya dengan teramat tulus melebihi ketulusan manapun di jagad ini, tentu Dia lebih dari amat layak mendapatkan cinta dan bahkan hidup kita seutuhnya, untuk Dia. Kristus mencintai kita lebih dulu, lalu, masihkan kita tega menunda lagi untuk mencintai Kristus?

Besok, Umat Nasrani sejagad akan merayakan Paskah. Terpujilah Kristus!

 

Salam,

Linda Cheang

 

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

14 Comments to "L’Elisir D’Amore dan Mati Karena Cinta"

  1. Lani  28 April, 2011 at 07:38

    betoooool adanya GOD IS ALWAYS GOOD

  2. Linda Cheang  25 April, 2011 at 15:04

    Pak ISK : ada tujuannya gereja itu pake ayam di atasnya…

    wahnam : cinta dunniawi kebanyakan Erosnya daripada Agapenya. Cinta Tuhan mengajarkan Agape. Tapi cinta sejati yang indah itu semestinya gabungan Agape dan Eros plus Caritas ( yang terakhir ini nyontek dari Romo Budiman)

  3. wahnam  25 April, 2011 at 09:55

    Cinta duniawi tidak membawa kepada kekekalan. Cinta Tuhan kepada kita sebagai umat Nya membawa bisa kita kepada kekekalan. Hanya Tuhan yg berwujud manusia BISA melakukanNYA. Kristus yang walaupun dalam Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.

    Kebangkitan Kristus membawa kita kepada Kemenangan…!

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  23 April, 2011 at 18:57

    JESUS KRISTUS SELAMAT!

    (kutipan dari tulisan di altar Gereja Ayam, gereja Portugis tertua di Jakarta)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.