Budaya Cina di Palembang (2 – habis)

Ary Hana

 

Klenteng Tiga Agama

Sepulang dari Kemaro, dengan ketek kami menuju arah yang berbeda. Kalau sewaktu berangkat kami banyak melewati sisi kiri Musi dengan pemandangan kapal-kapal milik PT Pusri, pulangnya kami menyusuri kanan sungai. Pemandangan sepanjang Palembang hulu nampak dari atas kapal.

Kami berhenti di dermaga 10 Ulu, beberapa meter setelah Masjid Al Ghazali. “Mbak, dulu masjid ini ada di depan sini. Lalu dipindahkan ke sana, untuk memberi ruang pada klenteng Chandra Nadi,” Milda mulai berkisah.

Kami turun di dermaga berarsitektur Cina itu, lalu melalui papan nama bertuliskan ‘Selamat Datang Yayasan Dewi Pengasih Tempat Ibadat Tri Dharma Soei Goeat Kiang’ yang terpancang di tepi pagar.

Biasa disebut Klenteng Chandra Nadi, Soei Goeat Kiang dibangun pada 1733 untuk menggantikan klenteng yang terbakar di Kampung Kapitan setahun sebelumnya. Tua juga umurnya. Bangunan ini menjadi tempat ibadah tiga pemeluk agama, Buddha, Konghucu, dan Tao.

Gerimis turun saat kami berjalan menuju dermaga, bahkan kemudian menjadi hujan angin yang cukup lebat. Kami pun berteduh, sambil mengamati bangunan sekitar.

Milda menarik tanganku. Menunjuk sebuah gerbong sampah warna merah yang dipenuhi sisa-sisa hio. “Itu sisa-sisa perayaan Imlek kemarin, Mbak. Tempat ini ramai pengunjung kalau Imlek,” katanya. Aku mengangguk, membayangkan betapa sesaknya  klenteng saat Imlek.

Kupandang lampion warna merah menyala yang menggantung memenuhi udara, mengisi ruas jalan yang kosong tanpa bangunan. Mulai halaman masjid, depan klenteng, hingga jalan menuju pasar 7 ulu.

Kami tak masuk klenteng tapi berbelok ke warung, memesan tekwan karena hujan benar-benar lebat. Ada kisah yang diulurkan Milda tentang klenteng ini. Misalnya pada kerusuhan Mei 1998, klenteng nyaris diamuk massa. Begitu pula paska G30S/PKI, sebagian tanah milik klenteng dijadikan pasar 10 Ulu. Di era kemerdekaan, klenteng juga menjadi sasaran bom Jepang. Banyaknya ujian yang mendera, tak menggoyahkan bangunan agama dan masyarakat keturunan Tionghoa di sekitar klenteng.

Kini Chandra Nadi ramai dikunjungi, tak hanya pada perayaan Imlek dan Cap Go Meh saja. Pada hari biasa ada saja yang datang untuk minta keberuntungan, kesembuhan penyakit, atau hanya meramal nasib. Dewa-dewa yang dilambangkan dengan patung-patung di dalam klenteng, tak pernah sepi dipuja tamu.

Pandanganku beralih ke Masjid Al Ghazali yang berdiri tepat di samping klenteng. Bentuk atapnya segi sepuluh, arsitekturnya berbau Cina, dan katanya mampu menampung sekitar 80 jemaah. Menurut Milda tadi, masjid ini sempat dirombak, bangunannya diundurkan, untuk memberi tempat yang leluasa bagi pengunjung klenteng memarkir kendaraannya. Maklum, klenteng ini berada di belakang pasar 10 ulu yang sempit dan kotor.

Masjid yang direnovasi 22 September 2006 ini dikelola oleh Yayasan Pengasih, sama seperti Klenteng Chandra Nadi. Tempat ibadah yang saling berdampingan ini menunjukkan betapa tinggi toleransi antar umat beragama masa itu. Banyak  keturunan Tionghoa di Palembang yang kemudian memeluk Islam.

Cheng Ho merupakan salah seorang penyebar agama Islam di Palembang sekitar tahun 1400-1433. Bersama armada lautnya, komando laut dinasti Ming ini mengusir para bajak laut pimpinan Chen Zuji yang mengacau perairan Palembang pada 1407. Cheng Ho berhasil menangkap Chen Zuji dan membawanya ke Peking untuk diadili. Atas jasanya ini, rakyat Palembang sangat menghormatinya.

Paska perburuan bajak laut, Cheng Ho alias Zeng He sempat beberapa kali singgah ke Palembang. Bahkan beberapa serdadunya  menikah dengan perempuan Palembang dan menetap di daerah Ulu sambil menyebarkan ajaran Islam. Sultan Palembang pada saat itu menetapkan daerah hulu Sungai Musi sebagai pemukiman bagi orang Cina, sedang daerah hilir untuk orang Melayu.

Berkat Cheng Ho dan prajuritnya, perairan Palembang menjadi wilayah perdagangan yang aman. Orang Cina di Ulu bisa hidup tenang, bahkan semakin banyak keturunan Tionghoa yang menjadi muslim. Saat ini diperkirakan ada sekitar 4000 muslim keturunan Tionghoa di Palembang.

 

Kampung Kapitan

Hujan mulai reda ketika kami susuri tepian Musi, menuju Kampung  Kapitan di 7 Ulu. Rencana menembus pasar 10 Ulu terhalang jalanan yang becek dan tergenang. Millda memanduku melalui lorong, meliuk di bawah Jembatan Ampera. Sekilas kupandang Benteng Kuto Besak di seberang sungai, memanjang dan suram di bawah langit kelabu. Mendung masih tebal, kurasa gerimis bakal berlangsung semalaman.

Akhirnya kami memasuki sebuah gang. Rumah-rumah panggung dari kayu terhampar di kanan kiri. Ada yang bobrok dan nyaris runtuh, ada yang bagus dengan sebuah mobil parkir di depannya. “Itu rumah Palembang yang asli, bentuknya mirip limas.” Milda menunjuk sebuah rumah panggung dengan ruang penyimpan di dasarnya. Beranda luas terhampar di atasnya.

Kami lalu menapaki jalan berkonblok. Empat anak bermain dengan sebuah becak menghadang gapura. Seorang bocaj nampaknya penggemar Close, pemain sepak bola asal Jerman yang bernomor punggung 9. ’Kampoeng Kapiten 7 Ulu’ pampang tulisan di atas gapura.

Kami terus berjalan, melalui sebuah makam Cina dengan nisan keramik berwarna merah bata. Sebagian makam terendam air. Sebagian kampung banjir, akibat hujan deras yang tak sampai satu jam. “Banjir di mana-mana, gara-gara derawanisasi,” keluh Milda.

Kupandang Milda, tak paham maksudnya. “Sejak banyak rawa ditimbun tanah dan menjadi pemukiman, banyak sungai yang hilang, Mbak. Akibatnya kalau hujan sedikit pasti banjir. Palembang kan tak mengenal budaya gorong-gorong seperti di Jawa, karena ini kota sungai,” tambahnya.

Sejak berakhirnya kekuasaan Sriwijaya dan awal kolonialisme Belanda, yaitu pada abad X-XVI, banyak orang Cina datang ke Palembang. Mereka berasal dari Canton, Chan-chou, dan Ch’uan-chou. Bersama orang asing lainnya, pendatang asal Cina ditempatkan di Seberang Ulu.

Mulanya mereka bermukim di atas rakit, lalu mendirikan rumah panggung seperti sekarang. Belanda lalu menunjuk seorang Cina sebagai kapitan atau kapten yang bertugas memungut pajak dari pedagang dan warga Cina lainnya, serta menjaga keamanan setempat. Maka lahirlah Kampung Kapitan.

Kampung Kapitan terdiri dari 15 rumah panggung milik keturunan Tionghoa dari masa kolonial. Luas kampung sekitar 20 ha, tersebar di Kelurahan 7 Ulu dan Kecamatan Seberang Ulu 1. Kampung ini berbatasan dengan tepian Musi di utara , dan Jalan K.H.A. Azhary di selatan. Bagian barat berbatasan dengan Sungai Kelenteng yang sudah mati, dan Sungai Kedemangan di timur.

Gapura tempat keempat bocah bermain tadi merupakan pembatas antara Rumah Kapitan dan Rumah Abu (sebutan bagi pemukiman Tionghoa paska kepemimpinan kapitan Cina terakhir, yaitu Kapitan Tjoa Ham Hin).

Kami menginjak lapangan berumput dengan tiang-tiang pancang warna coklat menyala mencuat ke atas. Di seberang ada tiga rumah antik. Itulah bangunan inti yang ditinggalkan Tjoa Ham Him. Seorang lelaki tua muncul dari rumah di ujung kiri. Dialah Tjoa Kok Lin, keturunan ke-12 marga Tjoa yang mewarisi rumah utama itu.

Rumah di ujung kanan, nampak terbiar. Di bawahnya ada ruang bekas pembakaran abu. Konon di sinilah abu ke-11 kapitan di simpan. Namun rumah ini telah berpindah tangan, dijual ke orang lain. Beberapa rumah panggung kuno di kampung ini juga telah beralih menjadi milik pribadi. Desakan ekonomi, serta pilihan hidup di daerah lain, membuat anak turun kapitan dan keluarganya melepaskan rumah mereka.

Kami memandang sekitar bangunan utama. Rumput meninggi dan terbiar. Rumah kuno itu berbentuk limas, mirip rumah adat Palembang.  Ulasan Cina nampak pada  ruang terbuka di bagian tengah. Di dalam rumah ada altar pemujaan yang dilengkapi hio dan patung  Toa Pek Kong.

Ketika meninggalkan Kampung Kapitan, kutatap botol-botol bekas arak teronggok di rumput, tersembunyi di balik tiang pancang. Aneh, pikirku. Beberapa lampu yang menggantung di tiang pancang pecah, beberapa hilang.

Kelak kutahu kalau Kampung Kapitan tak lagi aman. Di malam hari, tempat ini jadi ajang muda-mudi begajulan, nongkrong, mabuk-mabukan, dan bercumbu. Nampaknya perlu dimunculkan lagi tokoh seperti Tjoa Ham Him untuk menjaga ketentraman di sana. Sayang jika tempat bersejarah itu rusak sia-sia.

 

*diambil dari buku 30 Hari Keliling Sumatra

 


22 Comments to "Budaya Cina di Palembang (2 – habis)"

  1. AH  26 April, 2011 at 23:32

    mas anoew nanyanya susah, pusing jawabnya hahahahaha
    *kenapa pe-er saya jadi banyak begini, padahal cuma 2 malam di palembang? ahahaha

  2. anoew  26 April, 2011 at 20:53

    Ary, sayang betul ya nggak ditemukan sedikit pun situs peninggalan Sriwijaya di Plembang, padahal disitu lah dulunya semuanya bertolak. Itu, puing-puingnya kok bisa jadi Pusri gimana ceritanya ya?

    @Mbang, apa kabar? Wis pindah nyusul yo? Salam bilyard nggo kangmas yo..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.