Dasar China (2): Catatan Perjalanan ke Dongwang

Handoko Widagdo – Solo

 

Kota Dongwang

Dongwang adalah kota kecamatan dengan penduduk sekitar 300 jiwa saja. Kota ini baru dibangun pada tahun 1957. Penduduknya adalah suku Tibet. Hampir di setiap rumah mereka membuka toko. Ada juga sebuah bengkel. Selain dari kantor kecamatan, ada sebuah bangunan SD dan kantor polisi. Kota Dongwang terletak persis di tepi Sungai Dongwang. Hanya sederet saja menghadap jalan raya. Panjang kota tak lebih dari 500 meter saja. Di kedua sisi sungai adalah bukit menjulang tanpa da vegetasinya. Kering kerontang.

Kami menginap di penginapan terbaik di Kota Dongwang. Penginapan milik pemerintah kecamatan. Bangunannya bagus dua lantai dan sedang ditambah satu lantai lagi di atasnya. Kamarnya cukup luas dengan dua bed, TV, lamp control desk dan kamar mandi dengan peralatan yang modern, termasuk bathtub.

Tapi sayang, tidak ada air, sehingga kamar mandi terlihat sangat jorok dan bau. Teman saya tiba-tiba datang ke kamar dan bilang: “tidak ada air, jadi kita harus menggunakan public toilet”. Setelah membereskan barang-barang di dalam kamar, saya dan Ren Jian (teman yang tadi memberi informasi tentang public toilet) keluar untuk memeriksa public toilet yang dimaksud. Kami jalan menuju arah sungai. Setelah melewati bangunan sekolah sementara, kami sampai ke public toitet.

Ren Jian segera saja memasukinya, sepertinya dia punya masalah dengan pencernaannya. Namun segera saja dia keluar dan bilang, tidak ada air dan jorok sekali. Akhirnya kami naik kembali ke jalan dan mengunjungi desa di seberang sungai. Saat pulang ke kamar, di depan kamar saya terletak seember air. Syukurlah, artinya saya bisa memberesi urusan biologis dengan seember air. Dasar China.

Saat berjalan-jalan sore, saya bertemu dengan segerombolan anak-anak sekolah yang digiring oleh tiga gurunya (seorang pria dan dua perempuan) untuk mengambili sampah di jalanan kota. Di mana-mana guru adalah inovator. Saya yakin bahwa pendidikan model begini akan mengubah perilaku anak-anak ke depan untuk lebih menghargai kebersihan.

Ketika mengunjungi desa di seberang sungai, saya melihat banyak sekali tumpukan kayu. Sebenarnya, satu jam setelah meninggalkan salju, tumpukan kayu di sepanjang jalan sudah mulai kami saksikan. Daerah ini memang merupakan sumber kayu bangunan. Selain itu perubahan cara membuat rumah orang Tibet juga membuat kebutuhan akan kayu menjadi semakin besar. Dahulu, Nyima Adack, temanku yang berasal dari Lhasa, menjelaskan bahwa orang Tibet memuat bangunan rumah menggunakan lumpur.

Untuk membedakan kaya miskinnya adalah dengan melihat berapa besar rumah dari lumpur yang bisa dibuatnya. Sekarang, rumah kayu dianggap lebih kaya dariapada rumah lumpur. Dan ukuran kekayaan tidak lagi dilihat dari luas bangunan rumah saja, melainkan juga dilihat dari apakah punya mobil, punya TV dengan parabola dan tentu saja apakah hp-nya dari produk terbaru.

Malamnya kami diundang oleh pemerintah kecamatan untuk makan malam. Kami duduk di seputar meja dengan berbagai jenis makanan disajikan. Tidak ketinggalan beer disajikan di samping mangkuk kami. Dua menit setelah acara makan bersama dimulai, si wakil camat mengajakku untuk toats.

Dia berdiri dan mengakat gelas yang berisni beer. Saya duduk saja dan kemudian kami membenturkan gelas kami dan menenggaknya sampai habis. Setelah itu si wakil camat juga melakukannya dengan Ren Jian dan kemudian dengan Nyima Adack. Bedanya Ren Jian dan Nyima berdiri untuk menyambut wakil camat tersebut. Saya bertanya kepada Nyima yang berada di samping saya, apakah dalam acara toast seperti itu kita harus berdiri?

Dia menjawab, berdiri berarti memberi respek kepada lawan kita. Selanjutnya, setiap orang yang mengajak saya untuk toast selalu saya sambut dengan cara berdiri. Saya bukan jago minum. Kemampuan saya hanyalah satu botol beer kecil saja. Untuk mengakali supaya saya tidak minum banyak, saya sengaja membuat gelas saya kosong. Hanya ketika ada yang mengajak toast saya isi gelas tersebut. Setelah botol beer saya kosong, datang lagi botol yang lain. Bahkan di beberapa orang disajikan botol alcohol yang berwarna coklat. Untunglah Ren Jian menyelamatkan saya dengan mengajak toast bersama seluruh meja dan kemudian meinggalkan meja dengan alasan sudah mabok.

Hari terakhir kami makan malam bersama Pak Camat. Beberapa aparat hadir bersama Pak Camat. Jangan membayangkan bahwa suasananya formal. Tidak sama sekali. Kami duduk dalam dua meja. Kali ini bukan hanya beer yang menyertai, tetapi arak beras. Belum semua menyentuh makanan, acara toast sudah mulai. Saya menjadi orang yang paling sering diajak toast karena dianggap tamu yang layak dihormati.

Karena saya bukan peminum, saya minta beer saja. Itupun setiap angkat gelas saya hanya kecap saja, kecuali pejabat penting yang mengajak saya untuk toast. Suasana semakin tidak terkendali karena semua sudah mulai mabuk. Mereka mulai menyanyi dan saling angkat gelas. Saat Camat mengajak saya untuk mengangkat gelas, sekaligus saya pakai untuk berpamitan. Setelah segelas kecil beer saya tenggak habis, untuk menghormati Pak Camat, saya segera saja meninggalkan meja. Sementara teman-teman masih saja bersama mereka dengan muka yang merah padam karena mabuk.

Alam

Mengunjungi desa-desa tradisional orang Tibet di gunung-gunung adalah suatu keasyikan sekaligus tantangan.  Desa-desa tersebut menyebar dari ketinggian 2.700 mdpl sampai dengan 3.400 mdpl. Perjalanan kami lakukan dengan PRADO. Sopir kami sungguh sangat berpengalaman, sebab tergelincir sedikit saja maka habislah kami. Jurang yang berada di samping kami bisa berkedalaman 7 meter saja, tetapi suatu saat bisa lebih dari 500 meter! Tak jarang saya harus tutup mata karena ngeri. Dasar China…bagaimana bisa mereka membuat jalur di tepi gunung dengan kemiringan lereng sekitar 70-80 derajad!

Saat mengunjungi desa-desa di bawah 3000 mdpl, saya tidak mengalami masalah. Namun ketika tiba di desa yang di atas 3000 mulailah saya sulit bernafas dan kepala bagian belakang berdenyut. Namun semangat dan perasaan ingin tahu mengalahkan rasa sakit yang mendera kepala dan dada saya.

Pemandangan di desa-desa yang berada di ketinggian lebih dari 3000 mdpl sungguh luar biasa. Kita bisa menyaksikan puncak bukit bersalju hanya dari jarak kira-kira 300 meter saja. Belum lagi memandang desa-desa yang berada di bawah, di celah sempit aliran sungai.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

82 Comments to "Dasar China (2): Catatan Perjalanan ke Dongwang"

  1. Handoko Widagdo  27 April, 2011 at 19:34

    PAM, begitulah China. Dasar China!

  2. [email protected]  27 April, 2011 at 10:30

    maaf pak HAN, baru sempat dikunjungi sekarang nih.. asik sekali ya disini, tapi emang masalah toilet no 1, di hongkong aja udah bete, susah nyari toilet, apalagi di china ya =)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.