Film (?)

Adhe Mirza Hakim

 

Sudah lama nggak nulis jadi sedikit agak kaku, hihihi….jujur buatku menulis adalah obat anti depressan.  Kebetulan ada ide menulis setelah menonton film ( ? ) karya Hanung Bramantyo. Gayanya sih mau buat ulasan ringan tentang film tsb, aku bilang ulasan bukan resensi ya…karena kalau nulis resensi kesannya lebih berbobot, sedang ulasan hanya sekedar komentar ringan.

Apalagi karya Hanung Bramantyo kali ini agak sedikit controversial. Jadi tulisanku ini hanya menilai film ini dari sisi estetisnya saja, bukan mau membahas pesan moral yang disampaikan film itu. Bagiku soal akidah dan keyakinan masing-masing individu sifatnya sangat Privacy, kita tidak boleh menghakimi atau memojokkan pihak-pihak yang berbeda keyakinan, apalagi ada ungkapan bahwa “Perbedaan itu adalah hikmah”.

Jadi di saat kita melihat perbedaan, maka kita tidak bisa melihat hanya dari sudut pandang kita pribadi. Berpikirlah bahwa banyak sudut pandang lain yang beragam dan mempunyai penilaian yang berbeda satu sama lain. Tapi walaupun di dunia ini penuh perbedaan, kita tetap menemui dan melihat harmonisasi yang bersatu dari sekian banyak hal-hal yang berbeda satu sama lain.

Simple kata, bukankah….suatu makanan yang enak itu terdiri dari campuran beragam bahan masakan yang beragam jenis dan rasa, saat dijadikan dalam satu masakan akan menghasilkan tekstur rasa yang amazing… coba kalo kita disuruh makan ketumbar atau lengkuas sendiri-sendiri pasti  rasanya ancuur, hihihi….

Sinopsis ringkas film ( ? ) aku kutip dari Wikipedia,

Dikisahkan bahwa terdapat 3 keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Keluarga Tan Kat Sun memiliki restoran masakan Cina yang tidak halal. Keluarga Soleh, dengan masalah Soleh sebagai kepala keluarga yang tidak bekerja namun memiliki istri yang cantik dan soleha. Keluarga Rika, seorang janda dengan seorang anak, yang berhubungan dengan Surya, pemuda yang belum pernah menikah. Hubungan antar keluarga ini dalam kaitannya dengan masalah perbedaan pandangan, status, agama dan suku.


Film ( ? ) mencoba membidik sisi prularisme agama dari sudut yang beragam, aku nggak mau bahas yang berhubungan dengan soal perbedaan keyakinan beragama. Hal ini sudah jelas bagiku, bahwa semua agama masing-masing memiliki alasan pembenar dari sudut pandang agama itu sendiri. Terlalu berat bahasannya, jika salah bisa dikutuk semua orang hihihi…..kabuuur deh.

Sisi humanism dari film ( ? ) ini adalah pengambilan setting film yang sangat kental dengan kehidupan kaum kecil menengah. Angle (sudut) pengambilan gambarnya cukup apik, sinematografi dari Yadi Sugandi dianggap cukup berhasil.  Adegan diawali dengan lakon Surya (Agus Kuncoro) yang diledek tukang becak, sebagai actor yang kere, dan Surya mengumpat bahwa 10 tahun menjadi actor, tidak pernah mendapat lakon yang serius tetapi diakhir film Surya kembali ditegur oleh si abang becak, tetapi kali ini dalam bentuk pujian, bahwa dia melihat acting Surya di TV. Belum lagi soundtrack music nya menampilkan lagu-lagu Sheila on 7 dengan versi akustik, jadi terasa “manis’ sentuhan  musik dari Tya Subiakto ini.

Mengenai adegan kuliner dalam film ini (kecuali gambaran kepala Babi ya !) sangat memancing rasa ingin makan, hehehe….beberapa kali adegan makan nasi soto, mie ayam dan mie bakso, bikin aku asli membayangkan ikut menikmati adegan makan dalam film itu, ujung2nya selesai nonton film itu aku langsung membeli mie ayam di resto Solaria.

Gambaran keluarga keturunan Tan Kat Sun (Hengky Solaiman) dengan seorang istri yang patuh dan anak laki-laki yang suka membangkang, Hendra (Rio Dewanto), menunjukkan sisi kerakyatan dari warga keturunan yang membuka warung nasi, di mana para pekerjanya muslim semua, termasuk Menuk (Revalina S.Temat) seorang perempuan cantik yang awalnya dicintai oleh Hendra, tetapi pada akhirnya memilih menikah dengan Soleh (Reza Rahadian), seorang laki-laki pengangguran yang kemudian melamar pekerjaan menjadi Banser NU.

Pada dasarnya Tan Kat Sun, sangat menyayangi Hendra dan ingin Hendra meneruskan bisnis restoran kecilnya, tetapi apa yang diharapkan sang ayah tidak sesuai dengan keinginan Hendra. Ada adegan perusakan restoran oleh sekumpulan orang Muslim, karena menganggap Hendra sudah menodai kesucian hari raya Iedul Fitri, dimana dia memaksa para pegawai bapaknya, harus masuk kerja pada lebaran hari ke 2. Dengan alasan agar dapat untung besar, lalu Tan Kat Sun, walau sedang sakit parah membentak anaknya, “Bahwa orang berdagang semata-mata bukan menghitung soal untung melulu,”.  Tuan Tan, sangat bertoleransi dengan kegiatan ibadah karyawannya, bahkan dia suka membaca buku “99 Nama Allah”.

Kejadian vandalism di restoran Tan Kat Sun, mengakibatkan nyawanya melayang saat terkena pukulan Soleh, yang tak lain adalah suami Menuk, karyawannya sendiri. Tetapi sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, tuan Tan berpesan pada Hendra, untuk tegas bersikap membuat “Pilihan” hidup, karena menurut tuan Tan, anaknya belum mempunyai pilihan hidup.

Menuk sangat terpukul dengan kematian sang majikan di tangan suaminya, Soleh merasa sangat menyesal, dan rasa penyesalannya itu kelak ditebus dengan nyawanya sendiri demi menyelamatkan nyawa orang banyak.

Ada satu adegan lebay yang terjadi di ending film ini. Di saat Soleh mengambil kotak yang berisi bom yang ada dalam Gereja di mana sedang berlangsung acara malam Paskah, lalu membawanya keluar sambil didekap, dan bom itu meledak seketika menghancurkan jasad Soleh menjadi serpihan kecil, hingga Menuk hanya bisa menangis sambil memegang serpihan kain dari baju yang dikenakan Soleh, yang ada tulisan nama Soleh. Bagi ku adegan ini sangat didramatisir, kalau dipikir-pikir jika ada orang yang menemukan bom, alih-alih mau megang yang ada kabur sambil minta bantuan Gegana, hehehe….jangan dicutik-cutik sendiri ya…ntar kek kejadian Bom Buku yang di Utan Kayu itu, bisa bikin tangan pothel.

Selain itu ada sedikit romantisme yang sengaja dibuat “menggantung” di ending film, yaitu saat Hendra menjadi muallaf, lalu Menuk istri almarhum Soleh menjadi janda, maka jalinan cinta di antara mereka yang sebelumnya terhalang oleh perbedaan keyakinan bisa disatukan kembali. Duuh…jadi membuat interpretasi pribadi neh… jujur aja, namanya juga ulasan iseng tentang film (?), jadi suka-suka aku nulis ya hahaha…. Jika ada teman-teman mau membaca resensi film yang serius, tinggal googling aja yaa….pasti nemu banyak banget. Tinggal baca deh.

Soal kemampuan acting para pemain dalam film ini, aku sangat menikmati lakon Surya (Agus Kuncoro) sangat ekspresif dan membuat kami terpingkal-pingkal, hahaha…ini film serius apa lawak sih??? Di saat Surya melakukan adegan latihan menjadi Yesus, dan dipergoki oleh pak Ustad, benar-benar bikin ketawa, lalu saat Surya diminta menjadi Santa Claus menghibur seorang anak  yang sedang sekarat karena sakit kanker, dan membaca permohonan terakhir dari anak itu yang ingin cepat mati agar tidak bikin susah orang tuanya, benar-benar menguji acting Surya, di satu sisi dia harus melawak membuat bocah itu tertawa tapi di sisi lain Surya ingin menangis meraung-raung karena sedih membaca permohonan bocah itu. Sempat tangisan Surya malah bikin seorang ibu ketakutan, disangka Surya orang gila nangis sendirian di jalan, hehehehe….

Buat para pemain yang lain, Rika (Endhita) yang berlakon sebagai perempuan yang awalnya muslim lalu berganti keyakinan menjadi nasrani, aktingnya lumayan saja, justru peran yang dibawakan oleh Abi (…siapa ya namanya?), anaknya Rika, sangat menyentuh…dimana seorang anak sangat sedih melihat perubahan dalam diri ibunya, sejak terjadi perpisahan antara ibu dan bapaknya, yang mengakibatkan si ibu jadi berpindah keyakinan. Sedang si anak tetap dengan keyakinan muslim-nya.

Sungguh miris melihatnya,  di saat perbedaan itu terjadi pada usia dewasa hal ini tidak terlalu menjadi dilemma, tetapi saat seorang anak kecil yang masih polos melihat sesuatu hal yang prinsip harus dilakukannya sendirian, tentu ada pergulatan emosi yang berat, bayangkan seorang anak kecil diajarkan mencerna soal perbedaan pada usia dini, dimana seharusnya dia tidak dipaksa untuk memilih, tapi diajarkan pondasi keyakinan beribadah yang kental dengan bimbingan orang tuanya yang tentu juga melakukan ibadah secara bersama-sama. Bukan hanya memberi pelajaran secara lisan tapi juga contoh perbuatan yang sama.

Masih banyak contoh adegan humanism yang ditampilkan film ini, tetapi kembali kepada kita untuk menyikapi semua tampilan film ini dalam persepsi yang positif. Jadi tersentuh sama kata-kata Pastor (Deddy Sutomo) saat Glen Fredly  menghalangi penampilan Surya memerankan Yesus padahal Surya sendiri beragama Islam, “Jangan sampai satu adegan drama dapat merubah keyakinan”, yang merusak keyakinan beragama seseorang itu adalah “Kebodohan” dan jangan sekali-kali menjadi orang bodoh, apiiiik tenan kata-katanya.

Berbeda dari kata-kata bijak yang disitir oleh Rika, dari novel yang dibacanya, “Bahwa semua orang memilih jalan yang berbeda untuk mencapai satu tujuan yaitu Tuhan dan bahwa dijalan yang berbeda-beda itu manusia tidak pernah sendirian”, bagiku…urusan keyakinan terhadap Tuhan nggak bisa dibilang satu tujuan. Setiap agama memiliki dasar pembenar masing-masing dan pemahaman mengenai agama ini intensitasnya tidak sama, bisa jadi kita membagi orang-orang beragama itu dalam grade moderat, ortodoks, militant bahkan radikal. Maaf sekali jika apa yang aku tulis ini tidak berkenan bagi sebagian orang.

Dari awal aku sudah tulis, bahwa ulasan film (?) ini hanya sekedar kulit luarnya saja, bukan soal esensi dari pesan moral yang ingin ditampilkan. Film ini sengaja tidak diberi judul, karena Hanung masih belum mendapat jawaban dari perbedaan pemahaman Pluralisme agama yang terjadi di Indonesia ini. Kenapa akhir-akhir ini ditemui begitu banyak tindakan anarkhis antar umat beragama. Padahal masuknya semua agama yang beragam jenis di Indonesia dengan cara damai melalui jalur perdagangan dan kebudayaan.

Hanung malah membuat sayembara berhadiah sampai jumlah 100 juta rupiah yang disponsori oleh salah satu provider seluler, bagi siapa saja yang ingin ikut lomba memberi judul film ( ? ) tanda tanya ini, nanti judul yang  keluar sebagai pemenang, akan menjadi judul yang ditampilkan dalam release format DVD film ini.

Maka sebelum mengakhiri ulasan ringan tentang film ( ? ), aku mau ikutan menyumbang ide kira-kira kasih judul apa ya….? Bagaimana kalau judulnya  “Damai dalam semangkuk Mie Ayam Barokah”…..hahahaha, judul yang konyol kedengarannya, tapi seperti yang sudah kutulis di awal tulisan ini, bahwa beragam bahan makanan yang jika aku ibaratkan idiom perbedaan dalam keyakinan, akan terasa indah jika bisa melebur menjadi satu kehidupan yang harmonis dalam bingkai toleransi beragama, mungkin hal yang klise dan terlalu menganggap enteng, tapi bagiku itulah yang sementara ini bisa kulihat dari sudut pandang diriku, bahwa soal akidah adalah wilayah privat sedang hidup berdampingan antar umat yang berbeda keyakinan adalah sikap hidup yang harus dimiliki dan ditanamkan sejak kecil, tanpa harus menyinggung soal perbedaan dalam memahami esensi ajaran moral dari agama masing-masing. Tabik.

 

AMH, Bandar Lampung, Minggu 24 April 2011

 

 

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

33 Comments to "Film (?)"

  1. Imeii  26 April, 2011 at 21:47

    Adhe, membaca ulasan film ini, alur ceritanya menarik ya… Hengky Solaiman masih eksiskah? jadi inget aktingnya yg suka nyebalin di sinetron

    kok kisah ceritanya bisa kebetulan sama dgn kejadian menjelang Paskah tahun ini, ada bom di gereja yang untungnya bisa terdeteksi dini..

  2. Djoko Paisan  26 April, 2011 at 19:49

    Mbak Adhe….
    Dj. cari-cari komment Dj. kok tidak ada, padahal kemarin rasanya sudah nulis….heran…!!
    Mungkin lupa klick ” post comment ” hahahahaha….!!!!
    Terimakasih mbak Adhe, walau Dj. tidak mengenal seluk beluk perpileman di Indonesia.
    Jangankan di Indonesia, di Jerman juga hampir tidak pernah nonton pilem.
    Salam manisdari Mainz…

  3. adhe  26 April, 2011 at 19:24

    @mba kembangnanas, sbg hiburan film ini cukup menghibur, buktinya aku bisa ketawa2 hehe. Sederhana aja, menonton film ini dg santai, nggak usah mikir serius, krn kalo mau serius ya nonton berita aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.