In The Name of Honor

Julie Lulu

 

Hi Baltyrans, salam kutu buku.  Kali ini saya ingin menulis resensi sebuah buku lagi yang berjudul IN THE NAME OF  HONOR (ATAS NAMA KEHORMATAN).  Buku ini saya beli setelah membaca resensinya dari www.amazon.com, situs kesayangan saya.  Saya suka sekali dengan buku-buku yang membahas perjuangan seorang wanita di dalam kehidupannya.

 

Buku ini diceritakan based on true story yang terjadi di Desa Meerwala, Desa Kecil di Selatan Punjab, Pakistan yang berdekatan dengan perbatasan India.  Buku ini meraih international best seller dan telah diterjermahkan dalam 18 bahasa di 19 negara.

Tokoh utama di dalam cerita ini bernama Mukhtaran Bibi yang kemudian dipanggil Mukhtar Mai, ia berusia 32 tahun.  Ia berasal dari Suku Gujar.  Mukhtar Mai mempunyai seorang adik  yang bernama Abdul Syakur yang berusia 12 tahun.

Suatu malam di tanggal 22 Juni 2002 keluarga Mukhtar membuat keputusan bahwa ia diantar oleh ayah dan pamannya akan menemui para petinggi dari kaum petani Klan Mastoi untuk memohon pengampunan bagi mereka.  Masalah yang dihadapi adalah adik Mukhtar, Syakur dituduh telah melakukan tindakan yang tidak pantas terhadap Salma, seorang gadis berusia 20 tahun.

Alasan keluarga memilih Mukhtar adalah karena Ia seorang perempuan yang cukup umur, sudah pernah menikah namun bercerai dan tidak memiliki anak.  Selain itu Mukhtar juga mengajarkan Al Quran/mengaji kepada anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya.

Mukhtar sendiri merasa kurang jelas dengan kejadian perkara sebenarnya karena Ia sempat melihat adiknya babak belur berlumuran darah dan pakaiannya tercabik cabik, kemudian Ia mendapat cerita dari tetangganya bahwa adiknya dituduh telah mencuri dari perkebunan tebu Klan Mastoi.

Malam itu juga Mukhtar berangkat dengan berjalan kaki di temani oleh ayah dan pamannya menuju farmhouse Klan Mastoi.  Ia berangkat dengan membawa Quran di dalam dekapannya, Ia merasa yakin akan perlindungan dari Al Quran yang dibawanya. Selain ayah dan pamannya ada juga seorang lelaki dari klan lain yang berperan sebagai mediator dalam proses negoisasi di Dewan Jirga.

Sesampainya mereka disana, Mukhtar sedikit kaget melihat sekitar 150 orang laki-laki yang berkumpul di dekat masjid dan mereka adalah Klan Mastoi.  Ia juga melihat pemimpin Klan Mastoi yang bernama Faiz Mohammed/Faiza didampingi oleh 4 pengawalnya;  mereka membawa senapan dan pistol yang diarahkan ke ayah, paman dan mediator yang berjalan bersama Mukhtar.

Mukhtar segera menghadap ke pemimpin klan tersebut dan  menghamparkan selendang yang dipakai di kepalanya, kemudian membaca beberapa ayat Quran di dalam hati dan mulai bersuara memohon pengampunan untuk Syakur adiknya.  Setelah beberapa saat Mukhtar menyadari bahwa Faiza telah menipu ayah dan pamannya juga Dewan Jirga yang berkumpul disana; Ia sadar bahwa Faiz tidak akan memberikan pengampunan, malah merencanakan sesuatu yang buruk.

Faiz dan 4 orang pengawalnya menangkap Mukhtar dan menyeretnya ke ruangan gelap yang hanya mendapat cahaya dari terobosan sinar bulan.  Mereka memperkosa Mukhtar secara bergantian sampai Ia pingsan dan tidak tahu berapa lama perkosaan itu terjadi.

Setelah Mukhtar sadar dari pingsannya, mereka mendorongnya keluar dalam keadaan setengah telanjang dan berjalan keluar diiringi pandangan mata ratusan orang yang menontonnya untuk menemui ayah dan pamannya dan berjalan pulang. Selama pemerkosaan itu terjadi, Klan Mastoi menahan mereka di bawah todongan senjata dan baru saja membebaskan mereka ketika Mukhtar keluar dari ruangan gelap itu.

Klan Mastoi sering melakukan pemerkosaan terhadap perempuan berdasarkan konsepsi mereka mengenai kebanggaan kesukuan.  Mereka sadar bahwa orang yang sudah dipermalukan tidak mempunyai pilihan lain kecuali bunuh diri.  Mereka pikir tindakan ini sangat ampuh karena dapat merusak nama baik suku lain untuk selamanya.

Sesampainya di rumah, Mukhtar disambut oleh tangisan ibunya dan saudara saudaranya.  Ia kemudian mengurung diri di kamar sampai berhari hari.   Akhirnya Mukthtar mengerti mengapa ia mengalami hal seperti ini.  Kaum Mastoi ingin menutup borok yang mereka perbuat sendiri.  Hal ini dimulai dengan dipergokinya Syakur yang sedang mengobrol dengan Salma.  Di daerah mereka sangatlah dilarang perempuan berbicara berdua dengan lelaki,  padahal Mukhtar lebih yakin bahwa Salmalah yang mengajak bicara dan menggoda adiknya karena Salma dikenal agak liar di lingkungannya.

Setelah dipergoki berbicara dengan Salma, Syakur ditangkap oleh Klan Mastoi yang kemudian menyodomi Syakur.  Syakur menceritakan kejadian ini kepada ayahnya yang kemudian melaporkan ke polisi.  Kaum Mastoi dendam karena didatangi oleh Polilsi karena laporan dari ayah Mukhtar; hal ini lah yang membuat mereka membalas dengan memperkosa Mukhtar.

Mukhtar sempat kehilangan kepercayaan kepada Tuhan karena ia mengalami hal semacam ini.  Selama mengurung diri Ia mengingat nasihat-nasihat yang pernah ia terima dari neneknya bahwa Dia akan membalas orang-orang yang telah berlaku buruk dan jahat dengan hukuman yang pantas mereka terima.

Kabar kejadian yang menimpa Mukhtar menyebar ke desa-desa lain dan suatu saat ada wartawan surat kabar lokal yang menuliskan kejadian ini ke media massa tempat ia  bekerja.  Setelah mengurung selama tiga hari, pada hari keempat dan kelima Ia mulai membaca Al Quran tanpa kenal lelah, akhirnya jiwa dan tubuhnya menemukan kebebasan dalam lautan air mata yang mengalir setelah taga hari Ia hanya diam sama dan merenung tanpa bisa menangis.

Suatu hari ada pasukan polisi yang mengunjungi rumahnya.  Mereka mengajak Mukhtar dan ayahnya juga Syakur dan pamannya ke kantor polisi di wilayah Jatoy.  Pada saat Mukhtar menunggu di kantor polisi, di sana ada beberapa wartawan yang ingin mengetahui cerita dari mulutnya.  Mukhtar pun mulai bercerita dengan lengkap kepada para wartawan itu.  Mukhtar tidak bisa membaca dan menulis, ia hanya bisa membaca Quran, namun instingnya mengatakan  bahwa ia harus memanfaatkan kehadiran para wartawan yang ada di kantor polisi ini.

Di kantor polisi dia di minta untuk menanda tangani kertas bertuliskan sebanyak tiga baris yang ia tidak ketahui isinya dan juga membuat cap jempol pada beberapa halaman dokumen yang disiapkan oleh polisi itu.  Kaum Mastoi sangat marah mengetahui  bahwa Mukhtar ada di kantor polisi bersama ayah dan pamannya dan  mereka mengancam akan menyerang keluarga Mukhtar.  Pada saat akan kembali ke rumah dari kantor polisi, para pengojek motor tidak mau mengangkut Mukhtar, karena takut diserang oleh Klan Mastoi.   Akhirnya mereka pulang diantar oleh sepupunya dan memilih rute lain supaya tidak mendapat serangan dari Kaum Mastoi.

Mukhtar merasa tertekan dalam proses penyelidikan yang menangani masalah pemerkosaan dirinya, karena ia harus berulang kali menceritakan hal yang sama secara mendetail kepada beberapa orang yang berwenang untuk memeriksa masalah ini juga kepada pers asing yang ingin mengetahui mengenai kejadian yang dialaminya.  Ia merasa pada saat proses bercerita itu lah ia diingatkan kembali kepada kejadian yang telah dialaminya dan ia merasa begitu tersiksa.

Beberapa pihak berwenang di kota tempat ia menjalani pemeriksaan menyuruhnya untuk melupakan dan menghentikan tuntutan kepada Faiz dan empat orang Mastoi yang telah memperkosanya dan mengatakan bahwa semua itu demi kebaikan Mukthar sendiri beserta keluarganya namun Mukhtar tidak bersedia, karena ia ingin melakukan hal yang sama terhadap Kaum Mastoi yang tidak mau memaafkan dan mengampuni kesalahan Syakur, adiknya, sekarang ia akan melakukan hal yang sama terhadap mereka.

Suatu hari datang seorang hakim dari pemerintahan yang menemui Mukhtar dan memintanya untuk menceritakan kembali secara detail tentang kejadian perkosaan yang ia alami.  Sejak pertama bertemu hakim ini, Mukhtar sudah merasa bahwa hakim ini adalah orang yang baik dan tidak memihak kepada siapapun. Ia mau berusaha membantu Mukhtar untuk mendapatkan keadilan.  Wawancara dengan hakim itu berlangsung selama satu setengah jam; kemudian hakim itu juga berbicara dengan Mullah Razak yang menjadi saksi untuk menceritakan dari versinya.  Karena terlalu lelah dalam proses wawancara, Mukhtar ketiduran sampai akhirnya ayahnya membangunkan dan mengajaknya pulang.

Sebelum pulang, hakim itu berpesan supaya Mukhtar dan keluarganya untuk tidak menyerah, bertahan dan berani berjuang untuk mendapatkan keadilan. Dalam menjalani proses untuk mencari keadilan ini, ia mengalami hal yang menyakitkan, dijauhi oleh para tetangganya yang telah dihasut oleh Kaum Mastoi yang menyatakan bahwa Mukhtar telah membohongi mereka dengan cerita yang telah muncul di beberapa surat kabar/media massa.

Di Pakistan jika seorang wanita mengalami pemerkosaan,  untuk proses penyelidikan dia harus menghadirkan empat orang saksi laki-laki, untuk membuktikan bahwa ia telah diperkosa.  Mukhtar tidak habis pikir bagaimana ia dan Syakur, adiknya dapat menghadirkan saksi yang dimaksud karena keempat saksi mata pemerkosaan yang dialami oleh mereka berdua adalah para pemerkosa itu sendiri.

Suatu hari Mukhtar didatangi oleh seorang perempuan yang merupakan salah satu menteri di Pemerintahaan Pakistan.  Wanita itu memberi Mukhtar cek senilai 500,000 Rupee  atau setara dengan 8000 Dollar.  Mukhtar  takut kalau cek itu hanyalah sebuah perangkap supaya ia membatalkan tuntutannya untuk mencari keadilan, maka tanpa pikir panjang ia merobek cek itu di depan wanita pemberi.

Mukhtar berkata pada wanita itu, jika ia ingin menolongnya sebaiknya tidak dengan cek melainkan membangunkan sebuah gedung sekolah di kampungnya supaya anak-anak gadis di desa bisa belajar dan mendapatkan ilmu.   Wanita itu berkata bahwa ia akan berusaha membantu Mukhtar untuk mewujudkan keinginannya, namun sebagai permulaan cek tadi adalah pemberian pribadinya untuk membayar jasa pengacara yang akan membantu Mukhtar dalam mencari keadilan.

Gambar dan cerita tentang Mukhtar Mai tersebar kemana mana baik di Pakistan maupun surat-surat kabar di luar negeri sampai akhirnya Amnesti International mengetahui hal ini.  Pada tanggal 4 Juli 2002 kelompok-kelompok pembela hak asasi manusia melakukan demonstrasi menuntut keadilan.

Setelah hakim yang mewawancarai Mukhtar berbicara kepada pers tentang masalah ini juga tentang bagaimana polisi setempat menangani Mukhtar; kemudian Menteri kehakiman juga berbicara di televisi mengenai keputusan Dewan Jirga yang dianggap sebagai terorisme, pemerintah pusat Pakistan mulai mengambil langkah serius untuk menangani masalah Mukhtar.

Pada tanggal 2 Juli 2002 delapan orang Kaum Mastoi telah ditangkap dan diinterograsi; keempat orang yang dianggap bersalah sempat melarikan diri, namun polisi berhasil memburu dan menangkap mereka kembali.  Akhirnya pihak kepolisian berhasil menangkap empat belas orang Kaum Mastoi dan pengadilan menghabiskan tujuh puluh dua jam untuk memutuskan nasib para tersangka itu.

Mukhtar merasa sedikit lega dengan perkembangan kasusnya namun ia juga merasa aneh dengan banyaknya orang-orang yang akhirnya bersimpati dan mau membantunya mencari keadilan juga menyumbangkan sejumlah uang untuk ia dan keluarganya.  Polisi setempatpun, mau menjaga rumah Mukhtar dan keluarganya untuk memberikan perlindungan dari Kaum Mastoi yang komplek tempat tinggalnya tidak jauh dari tempat tinggal keluarga Mukhtar.

Setelah ia dan ayahnya kembali sore hari dari sebuah Bank di kota Jatoy, untuk mencarikan cek yang diberikan oleh ibu menteri; ia mendapatkan belasan polisi sedang berjaga di depan rumahnya dan ternyata ia mendapatkan kunjungan dari gubernur dan lima belas orang lain yang mengatakan bahwa mereka akan membantunya mendapatkan keadilan dan semua orang yang bersalah dalam hal ini akan dihukum.

Hukum negara Pakistan memberikan otorisasi untuk menahan semua laki-laki yang terlibat dalam peristiwa malam itu, baik si pemerkosa, maupun saksi.  Setelah beberapa kali melewati proses persidangan yang melelahkan baik fisik maupun mental Mukhtar, pada tanggal 31 Agustus 2002 pengadilan menyampaikan keputusannya dalam sesi khusus pada tengah malam.  Enam orang dijatuhi hukuman mati dan denda 50,000 Rupee.  Empat orang karena telah memperkosa Mukhtar Mai dan dua orang lainnya sebagai anggota Dewan Jirga telah menyarankan pemerkosaan yaitu Faiz, pimpinan Klan Mastoi dan Ramzan.  Ramzan ini adalah pengkhianat, ia berpura pura melakukan negoisasi atas nama keluarga Mukhtar, ia menyalah gunakan kepercayaan yang telah diberikan oleh Keluarga Mukhtar.  Dari empat belas orang yang ditangkap enam orang akan dihukum mati dan delapan orang lainnya dibebaskan.

Mukhtar merasa senang dengan keputusan ini namun perjuangannya belum berakhir karena pengacara dan jaksa penuntut umum merencanakan akan naik banding atas keputusan dibebaskannya delapan orang Kaum Mastoi, juga karena keenam orang yang dikenai hukuman mati itu akan naik banding; namun Ia merasa cukup lega saat ini, dan Mukhtar dapat kembali lagi ke desanya dengan kepala tegak.

Keinginan Mukhtar untuk membangun gedung sekolah di desanya masih tertanam di dalam hatinya.  Ia ingin semua gadis di desanya bisa belajar dan menuntut ilmu supaya wawasan mereka terbuka dan mereka tidak menjadi gadis yang terbelakang dan gampang ditindas oleh kaum pria  terutama di negara yang dominasi kaum pria nya  masih dijunjung tinggi.

Pihak pemerintah Pakistan memenuhi janjinya, pada akhir tahun 2002  sekolah pertama mulai beroperasi di desa Mukhtar. Pihak pemerintah bahkan bermurah hati melebarkan jalan, memperbaiki sistem saluran air, membangun instalasi listrik dan telepon di desa Meerwala.  Mukhtar menghabiskan sisa uang dari bantuan yang didapatnya untuk membeli dua bidang tanah di dekat rumahnya yang masing-masing berukuran empat are.  Ia bahkan menjual perhiasannya sebagai tambahan pembangunan sekolah yang diimpikannya.

Gadis-gadis kecil yang bersekolah di situ memanggilnya Mukhtar Mai yang artinya Kakak perempuan yang dihormati.  Mukhtar menjadi kepala sekolah di gedung yang didirikannya.  Pemerintah Pakistan membayarkan gaji untuk seorang guru  yang mengajar di ruang kelas anak laki-laki.  Kemudian sumbangan dari Finlandia 15,000 Rupee digunakan Mukhtar untuk membayar gaji guru selama tiga tahun.

Pada tanggal 10 Desember 2002, Mukhtar mendapatkan  penghargaan dari Hak Asasi Internasional yang dipajang di meja kerjanya.  Pada tahun 2005 sekolah yang didirikannya berkembang pesat, Mukhtar bermaksud  untuk membangun kandang ternak dan akan memelihara beberapa ekor sapi dan kambing supaya Ia dapat mandiri menghasilkan pendapatan bagi sekolahnya.

Sekolah Mukhtar Mai mengalami perjuangan yang tidak mudah dalam perjalanannya.  Untuk mendapatkan murid – murid terutama para gadis yang mau belajar di sekolahnya, Mukhtar harus mendatangi rumah mereka satu per satu dan bernegosiasi dengan orang tuanya yang lebih senang anaknya tinggal di rumah dan membantu mereka dengan pekerjaan daripada anaknya pergi sekolah dan belajar.

Artikel sekolah Mukthar Mai yang ditulis oleh Nicholas D. Kristof dari The New York Times pada Desember 2004 menarik perhatian Komisioner Tinggi Kanada di Islamabad, Mrs. Margaret Huber.  Kanada dan Pakistan telah bekerja sama dalam bidang kesehatan, pendidikan dan pemerintahan yang baik sejak tahun 1947.  Awal tahun 2005, Mrs. Huber dan rombongan wartawan meninjau sekolah Mukhtar dan menyerahkan sumbangan sebesar 2,200,000 Rupee, kontribusi Kanada untuk pembangunan sekolah.

Dengan jumlah sumbangan dari beberapa pihak lainnya, akhirnya terbangun sebuah gedung yang layak, juga gaji guru yang teratur, ruang perpustakaan, kelas untuk murid laki-laki yang terpisah dengan murid perempuan.

Semua anak yang belajar di sekolah ini tidak dipungut biaya alias gratis.  Untuk memotivasi anak-anak untuk tetap pergi sekolah, baik anak laki-laki dan perempuan akan diberikan hadiah bagi mereka yang absensi kehadirannya bagus di akhir tahun pelajaran.  Bagi anak perempuan akan mendapatkan seekor kambing dan anak laki-laki akan mendapatkan sepeda.  Murid-murid Mukhtar berasal dari semua Klan dan Kaum yang ada di desanya, bahkan anak-anak kaum Mastoi pun belajar di sekolah Mukhtar.

Pada 1 Maret 2005, Mukhtar harus menghadiri pengadilan yakni pengadilan banding di Multan.  Mukhtar tidak sendirian di persidangan tersebut, banyak lembaga swadaya masyarakat dan pers asing yang menantikan keputusan ini, ternyata setelah melalui serangkaian penjelasan, penyangkalan dari pembela para terdakwa diputuskan pada tanggal 3 Maret bahwa kelima terdakwa diputuskan tidak bersalah dan harus dibebaskan.  Hanya satu orang terdakwa yang masih dipenjara yang akan dijatuhi hukuman seumur hidup.  Keputusan ini sangat mengagetkan banyak pihak dan menyesakkan hati Mukthar Mai.

Semua yang hadir di sana, lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan pers asing berteriak marah dan protes dengan keputusan  yang diambil oleh pengadilan.  Mukhtar sangat ketakutan dengan keputusan ini dan ia takut bahwa ia dan sekolahnya akan dihancurkan oleh kaum Mastoi apalagi jika mereka yang bersalah ternyata dibebaskan.

Kerena berhadapaan dengan kemarahan dan kemurkaan para demonstran dan wartawan yang ada, hakim kemudian membuat pernyataan beberapa jam kemudian yang menyatakan bahwa baru keputusan yang disampaikan, bukan perintah untuk membebaskan para tahanan.

Akhirnya tanggal. 14 Maret Kaum Mastoi yang seharusnya dihukum tersebut dibebaskan dan diperbolehkan pulang  namun Mukhtar mengajukan naik banding.  Selama proses  naik banding tersebut Kaum Mastoi boleh pulang ke rumah mereka, ini yang menyebabkan Mukhtar sangat ketakutan.  Ia dan pengacaranya memutuskan untuk ke Ibu kota Negara menemui Mentri Dalam Negeri. Di belakang mereka ada para militan dan wartawan dari berbagai belahan dunia.

Mentri dalam negeri meyakinkan Mukthar dan pengacaranya bahwa para terdakwa tidak akan bisa melarikan diri dalam proses pengadilan selanjutnya karena polisi akan menjaga mereka, namun Mukhtar tetap ketakutan dan ingin keenak orang yang bersalah tersebut ditangkap dan dipenjarakan saja selama proses naik banding; ia dan pengacaranya juga menemui Perdana Menteri Pakistan dan menyatakan hal yang sama.

Perdana menteri juga menyatakan hal yang sama, namun Mukhtar dan pengacaranya bersikeras tidak akan meninggalkan kantor perdana menteri jika mereka belum mendapat kabar bahwa Kaum Mastoi yang bersalah tersebut telah ditangkap kembali.  Perdana menteri menghubungi kepala kepolisian di desa Mukhtar untuk menyuruh mereka menangkap para tersangka tersebut.

Sebelum pulang ke desanya Muktar dan pengacaranya mengecek lewat telepon ke sepupu Mukhtar yang mempunyai toko di desa, dan sepupunya menyatakan bahwa ia telah melihat para polisi menangkap keempat belas Kaum Mastoi yang pernah ditangkap beberapa saat sebelumnya.   Proses perjuangan naik banding Mukhtar begitu panjang dan lama, namun ia yakin keadilan Tuhan akan datang pada saat yang tepat.

Pengadilan Tinggi Lahore memutuskan pada 6 Juni 2005 bahwa para tertuduh dapat dilepaskan dengan membayar uang jaminan sebesar 50.000 rupee ($840). Namun demikian, para lelaki itu tidak sanggup menyediakan uang itu, dan tetap dipenjarakan sementara permohonan banding diproses. Ke-14 orang ini akan diadili kembali di Mahkamah Agung.

Tanggal 10 Juni 2005, sebelum ia dijadwalkan terbang ke London atas undangan Amnesty International, Mukhtaran dimasukkan dalam Daftar Kontrol Exit (ECL) , sebuah daftar orang-orang yang dicekal bepergian ke luar negeri, sebuah langkah yang menimbulkan protes di Pakistan dan di seluruh dunia.

Tanggal 14 Juni 2005, pada sebuah konferensi pers di Islamabad, Mukhtaran meminta namanya dihapus dari Daftar Kontrol Exit, dan juga mengeluh bahwa ia “praktis mengalami tahanan rumah” karena sejumlah besar polisi diperintahkan melindunginya.

Perdana Menteri Shaukat Aziz memerintahkan nama Mukhtaran dicabut dari daftar cekal pada tanggal 15 Juni 2005. Pada 17 Juni 2005, Presiden Musharraf mengungkapkan pada sebuah konferensi pers di Auckland, Selandia Baru bahwa ia telah melarang Mukhtaran pergi ke New York karena ia ingin melindungi citra Pakistan di luar negeri. Musharraf menjelaskan bahwa ia telah melarang Mukhtaran pergi menghadiri konferensi ANAA di New York karena ia yakin bahwa maksud penyelenggaranya adalah “menjelek-jelekkan Pakistan dengan motif tersembunyi, dan bukan dengan tulus ingin menolong Mai.” Pada 27 Juni 2005 paspor Mukhtaran dikembalikan kepadanya.

Pada 29 Juni 2005, dalam situs pribadinya Musharraf menulis bahwa “Mukhtaran Mai bebas pergi ke mana saja ia mau, menjumpai siapapun yang ia kehendaki dan mengatakan apapun juga yang ia sukai.” Pada 2 Agustus 2005, pemerintah Pakistan menganugerahi Mukhtaran medali emas Fatima Jinnah atas keberaniannya.

Tanggal 2 November 2005, majalah AS Glamour memilih Mukhtaran sebagai Tokoh Perempuan Tahun Ini/ Woman of the year. Pada 12 Januari 2006, Mukhtaran Mai menerbitkan memoarnya dengan bekerja sama dengan Marie-Thérèse Cuny dengan judul “Déshonorée” yang kemudian pada tanggal 31 Oktober 2006 buku ini diterbitkan di US dengan judul “In the Name of Honor: A Memoir. Di Indonesia buku ini diterbitkan oleh Penerbit Alvabet pada tanggal 1 Maret 2007.

Sumber:

 

 

27 Comments to "In The Name of Honor"

  1. Lulu  27 April, 2011 at 15:45

    Mbak Nuchan,

    Thanks infonya

  2. Nuchan  26 April, 2011 at 22:14

    Mbak Lulu met malam lagi hehhehe…Ini daftar penerbit dan harganya

    HALF THE SKY (PEREMPUAN MENJUNJUNG SEPARUH LANGIT)
    PENULIS : NICHOLAS D. KRISTOF &SHERYL WUDUN
    PENERBIT : PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA
    ISBN : 978-979-22-6418-0
    HARGA : Rp.75,000

  3. Lulu  26 April, 2011 at 17:16

    Mbak Nuchan,

    buku Half the Sky/Perempuan menjunjung separuh langit, itu penerbitnya apa ya? saya jadi tertarik membaca bukunya. Terima kasih informasinya ya…

  4. SU  26 April, 2011 at 11:15

    Secara fisik mungkin banyak wanita yang tidak sekuat pria, tp kalau kekuatan jiwa, banyak wanita yang punya kekuatan lebih. Seperti Mukhtar ini. Kita tidak bisa mengendalikan perlakukan orang terhadap diri kita, tp respon kita terhadap mereka/kemalangan yang terjadi dalam hidup kita itu yang paling penting. Kudu mau geret jiwa kita, jangan sampai terpuruk.

  5. anoew  26 April, 2011 at 00:36

    Pakdhe, pertanyaannya sudah dijawab dengan baik sama Nuchan.

    Nuchie, masak iya sih itu barang sampai ada garansinya? Ckckck… Mudah-mudahan si Gumilang gk semaput..
    Ayok lah, aku jadi pengen nyusu.., nyusul mak’e cuplis dulu yoo..

  6. Nuchan  26 April, 2011 at 00:22

    Djoko Paisan Says:
    April 25th, 2011 at 23:55

    Mas Anoew….
    Sususnya siapa yang merusak dibelanga….???

    Weleh-weleh papanya cuplis sudah kabur Om DJ.
    Biar nuchan yg bantu jawab yaOm Dj…susunya MD ( MELINDA DEE )
    Nah lo abis ini bingung pulak Om Dj, siapa itu Melinda Dee? MD itu salah satu ex-staff Citi Bank yg terlibat kasus penipuan nasabah CB sampai bermilyar2 rupiah Om DJ..Kebetulan ukuran susu MD itu melebihi ambang batas normal Om DJ..jadi deh suka diplesetin segala hehhehhee….(maklum papa cuplis emang suka piktor : pikiran kotor hehhehehe) Semoga membantu ya OM Dj…Tapi kalau supaya lebih jelas biar nanti papa cuplis yg jawab yag..Mas Anung mungkin sudah merengkuh emak cuplis hehhehe…

  7. Nuchan  25 April, 2011 at 23:59

    Mas susunya MD itu ada garansinya lo dari salah satu RS ternama…hehhehe…
    Aje gile susunya MD malah dibuat pakai serial number lo…kemungkinan sulit ditiru dan cukup steril koq hahhahaha..Lah itu Andhika Gumilang cem-cemannya aja sudah mengakui koq susunya MD mantafssss hahahhahahaaa

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.