Selamat Tinggal Jepang, Aku Kembali ke Indonesiaku

Dewi Aichi – Brazil

 

Aku bekerja di sebuah perusahaan elektronik yaitu Kamigumi Co.ltd. Sebuah perusahaan yang memproduksi komponen elektronik untuk produk bermerk Konica. Di sana aku bekerja pada bagian yang membuat sebuah alat untuk mesin scanner, yang merupakan pesanan dari Cina. Jadi semua barang produksi dari bagian dimana aku kerja, diekspor ke Cina.

Ada yang berbeda saat ini. Aku sudah beberapa hari tidak bekerja, akibat bencana yang dialami di Jepang, yaitu gempa dan tsunami yang melanda tempo hari. Pemerintah dan masyarakat sibuk memberikan bantuan kepada masyarakat di tempat yang mengalami musibah.

Kini bencana di Jepang sudah berlalu. Tapi dampak dari bencana tersebut begitu memilukan. Seperti  biasanya, aku kerja dari hari Senin-Sabtu.  Tanggal 11 Maret yang lalu setelah terjadi gempa, aku pulang lebih awal. Karena memang perusahaan memulangkan karyawannya lebih awal. Keesokan harinya, kami diliburkan selama 4 hari. Dan 2 minggu setelah terjadi gempa dan tsunami, pihak perusahaan memberitaukan bahwa perusahaan akan tutup selama bulan April.

Antara senang  dan sedih. Senang karena  aku sudah sekian lama bekerja , dan tubuh ini sangat capek. Sedih, karena jika perusahaan libur, otomatis aku tidak akan menerima pemasukan untuk bulan Mei. Dan, bagi aku yang sebagai warga asing, bekerja di Jepang suatu keharusan untuk bisa hidup.

Jikapun aku mempunyai simpanan uang, tidak akan cukup untuk hidup selama 3 bulan tanpa ada pemasukan berikutnya. Jangankan 3 bulan, untuk 1 bulan ke depan saja sudah sangat minim. Sebagai pekerja di sebuah pabrik, gajiku dihitung per jam kerja. Bekerja, ada pemasukan, tidak bekerja tidak ada pemasukan, itulah hidup di Jepang sebagai warga asing seperti aku.

Biar pembaca tau , bagaimana susahnya hidup di Jepang tanpa mempunyai penghasilan (kasus ini untuk pekerja asing seperti aku, atau kenshusei/magang). Bukan susah lagi, tetapi tidak mungkin bisa , karena tidak ada yang gratis. Bayar apartement, telepone/handphone, air, gas, listrik. Selain itu, kebutuhan akan makanan. Karena aku adalah single parent, anakku satu, perempuan, umur 6 tahun. Jika aku bekerja, maka otomatis anakku berada di penitipan. Juga membutuhkan biaya.

Penghasilan tenaga kerja wanita juga lebih rendah daripada tenaga kerja pria. Jika aku kerja 10 jam/hari  ditambah lembur hari Sabtunya, maka penghasilanku bisa sampai Y 230.000 .Untuk mempunyai penghasilan sebesar itu, aku harus bekerja semaksimal mungkin, dalam arti jam kerjanya harus banyak. Uang sejumlah itu sangat kecil dan minim untuk bisa cukup. Masih untung aku tinggal di apartemen pemerintah, jika apartement swasta, bisa lebih mahal.

Dengan rencana diliburkannya perusahaan, aku berpikir sudah saatnya untuk meninggalkan Jepang. Ini adalah sebuah keputusan mendadak yang sangat sulit untukku. Sulit karena tidak terencana, aku harus membereskan barang dalam waktu kurang dari 1 minggu, mikir mau bagaimana nanti di Indonesia. Jika aku menunggu lagi sampai bulan April, maka otomatis, aku harus membayar apartement satu bulan penuh yang hanya akan aku tempati beberapa hari saja. Juga rekening-rekening yang lainnya.

Jika bulan Maret saja aku sudah sedikit jam kerja akibat bencana di Jepang, maka sudah bisa diduga, bahwa penghasilanku untuk bulan April juga sedikit. Jika bulan April tidak bekerja, maka bulan Mei aku tidak mempunyai pemasukan. Dan jika bulan Mei bisa mulai bekerja, maka aku akan mempunyai pemasukan pada tanggal 20 Juni. Sistem pembayaran dari perusahaan dimana aku bekerja adalah tanggal 1 sampai 30/31, dan baru menerima gaji 20 hari kemudian (bulan berikutnya).

Tekatku sudah bulat untuk meninggalkan Jepang, dengan waktu 4 hari, aku pesan tiket untuk tanggal 1 April. Membereskan barang-barang yang bisa aku bawa, dan menyerahkan barang-barang kepada temanku apa saja yang tidak bisa aku bawa.  Masih ada sedikit pemasukan untuk bulan april, yang akan aku serahkan kepada temanku, kemudian mengirimkan ke Indonesia. Karena perusahaan tetap akan memberikan gajiku pada tanggal 20 April.

Aku akan memulai hidup dan akan berusaha di Indonesia. Dengan bekal, ketrampilan, atau kemampuan bahasa Jepangku, aku harus bisa. Ini kan di negeriku sendiri, masa iya aku ngga akan bisa hidup dan berusaha di negeriku sendiri?

Note: tulisan di atas adalah kisah dari seorang teman, yang kini sudah berada di Indonesia sejak tanggal 1 April, malam hari. Kini temanku itu akan berada di Indonesia sampai batas waktu yang belum dia tentukan, dan masih ada kemungkinan untuk kembali bekerja di Jepang.

 

Sekilas tentang kenshusei

Kenshusei adalah program dari pemerintah Jepang-Indonesia, di bidang tenaga kerja , atau istilahnya magang. Pemerintah Jepang mengajukan permintaan tenaga kerja melalui depnaker, sejumlah tenaga kerja untuk dipekerjakan di Jepang di bidang industri/pabrik. Gaji sangat rendah, antara Y 700-Y900 / jam. Bahkan tahun 2008 Pemerintah Jepang mengajukan permintaan tenaga perawat dengan jumlah 600 orang, untuk merawat orang lanjut usia.

Sebelum diberangkatkan ke Jepang, mereka di latih dulu ala militer/semi militer. Tempatnya ada di berbagai kota, seperti Lembang Bandung, Bekasi, Semarang dan Cijantung, seberang Cijantung Mall. Juga dikarantina, untuk belajar bahasa Jepang.

Tidak mudah untuk bisa lulus dan sampai ke Jepang, dibutuhkan kesabaran, kekuatan fisik dan mental, juga duit yang banyak. Lho kok duit? Iya memang, mereka yang berusaha untuk bisa ke Jepang, rela mengeluarkan duit sampai kadang ada yang jual tanah sawah orang tua mereka untuk menyogok oknum depnaker  tentunya. Dari sekian ratus calon tenaga kerja, paling hanya 1 atau 2 saja yang bisa lulus tanpa menyogok.

Sebenarnya sungguh berat mereka bekerja di Jepang, betul betul menguras tenaga, jika ingin punya penghasilan lebih, mereka harus bekerja ekstra, bahkan ada yang kuat sampai 16 jam/hari. Gaji kecil, tapi tenaganya melebihi orang Jepang yang gajinya lebih besar. Kenshusei dipekerjakan selama 3 tahun saja. Banyak di antara mereka, yang kabur meninggalkan pekerjaannya, dan mencari tempat yang bisa menampung tenaga ilegal dengan gaji yang lumayan besar.

Kenshusei yang bekerja selama 3 tahun, jika bisa hidup irit selama di Jepang, bisa membawa lebih dari 500 juta rupiah.  Nah, jika para kenshusei yang kembali ke Indonesia ini bisa menerapkan cara kerja orang Jepang, yang disiplin dan keras, maka jika seandainya bisa, mereka membuka lapangan kerja, wirausaha, apapun bentuknya. Maka mereka bisa jadi menjadi pengusaha yang mempunyai disiplin diatas rata-rata, dan bisa mendidik karyawan/tenaga kerjanya untuk bisa benar- benar bekerja. Orang Jepang sangat simpel, problem solver, dan pragmatis.

Atau bisa saja, para kenshusei ini memberikan pelajaran tentang disiplin untuk para pejabat, PNS, atau bahkan anggota DPR.  Profesi sebagai technopreneur mungkin ya. Bisa juga menjadi tenaga pengajar bahasa Jepang, atau penterjemah para turis Jepang yang setiap tahunnya masuk ke Indonesia. Apalagi saya pernah melihat acara di tv NHK, yang menceritakan para pensiunan yang berada dalam tekanan ekonomi biaya tinggi.

Mereka memikirkan tempat untuk melewatkan masa tuanya di negeri luar Jepang, seperti Indonesia, Filipina, Thailand, Vietnam. Konon Taiwan telah menawarkan lokasi beserta fasilitasnya, untuk para lanjut usia yang kaya raya.

 

(sumber tulisan:  pengalaman teman-teman kenshusei)

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona.

Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

72 Comments to "Selamat Tinggal Jepang, Aku Kembali ke Indonesiaku"

  1. Adiel  28 January, 2017 at 06:59

    Trimakasih…tulisan anda menginspirasi saya…semoga bermanfaat….

  2. Dewi Aichi  19 June, 2011 at 23:15

    Iya…njawil sekali rasanya seumur hidup wkwkw…lebay.com

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *