Cancer Survivor

Dewi Aichi – Brazil

 

Sejak berpulangnya teman kita Elita Niken, aku berpikir, ada rasa menyelinap di sanubariku. Kupandangi anak dan suamiku, dan pikiranku terbang jauh, berandai-andai. Jika tiba-tiba aku meninggalkan mereka, ruhku terasa amat dekat dengan mereka, aku melihatnya memandangi tubuhku, aku hanya terdiam tak mampu menyentuh tubuh mereka.

Aku tersentak dari lamunanku. Teringat sosok wanita yang selama ini kukagumi ketabahan dan kekuatannya. Kepasrahannya kepada Sang Khalik dan kasih sayang dari keluarga besarnya yang selalu mendampinginya.

Beliau adalah ibu Ida Cholisa. Salah satu note yang aku kutip disini “Ada banyak hal yang bisa aku lakukan sekarang. Sebagai pejuang kanker aku memiliki kesempatan untuk berbuat lebih pada sesama.

Tunggu buku baruku.

Aku kan membuka kesadaran orang-orang di sekelilingku, agar mewaspai bahaya laten kanker hingga tak berakibat fatal seperti diriku.

Tak ada yang sia-sia atas penderitaanku. Kubagi ia, demi mencerahkan sesama.”

Itu tulisan ibu Ida yang membuatku ingin sekali membawa ibu Ida dalam keluarga besar baltyra. Pengalaman hidup ibu Ida, yang penuh irama, sedih, sakit, indah, bahagia, mengharukan, layak untuk kita jadikan pelajaran.

Akupun mengirimkan pesan kepada bu Ida, atas rasa syukur dan bahagia, dengan tulisan-tulisan bu Ida, aku yakin, bu Ida sudah sehat, sungguh, aku bahagia dan terharu.

Aku sengaja mengirim pesan untuk bu Ida, sekedar ingin mengucapkan salam hangat, dan rasa bahagiaku atas kenikmatan yang sedang bu Ida genggam.

“Dear bu Ida, Selama ini saya mengagumi ketabahan bu Ida dan kekuatan bu Ida dalam menghadapi cobaan dari Allah, rasa sakit. Saya mendoakan bu Ida selalu, semoga Allah memberi kekuatan yang lebih, sehingga bu Ida tetap tabah dan tawakal..amin..!

Kekaguman saya pada bu Ida dan keluarga yang selalu mendampingi, tulisan-tulisan bu Ida, yang mendorong saya mengirim pesan ini. Doaku selalu untuk bu Ida dan keluarganya, saya bahagia melihat bu Ida sekarang sehat walafiat.”

Tidak sampai menunggu lama, balasan dari bu Ida untukku masuk.

“dear Mbak Dewi, makasih banyak atas perhatian Mbak. Thanks pula atas doanya. Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Sesudah penderitaan muncul hikmah dan lautan kebahagiaan. Aku telah sehat kembali mbak, dan keindahan demi keindahan kini terbentang di depan mata, setelah lautan ujian datang mendera.
Kisah hidupku telah tertuang dalam novel “Bintang Kejora di Langit Luas”, dan kelanjutan novel berikutnya dengan judul “Perempuan dengan Satu Payudara”. Novel ttg perjuangan saya melawan kanker ini sedang saya tulis, insya Allah bulan depan sudah terbit. Insya Allah isinya menginspirasi banyak orang.”

Bu Ida, sungguh, hidup ini terasa bermakna, jika hidup kita juga bermakna bagi sesama.

Teman-teman di Baltyra, itulah sekelumit tulisanku untuk memperkenalkan ibu Ida di keluarga besar baltyra.com. Untuk memperjelas lagi, bu Ida telah menerbitkan sebuah novel kisah hidupnya yang berjudul “Bintang Kejora Di Langit Luas” dan kini sedang menyelesaikan novel keduanya “Perempuan Dengan Satu Payudara”, yang mudah-mudahan segera terbit.

Mudah-mudahan juga ibu Ida bersedia berbagi tulisan di sini, di baltyra.com. Salam hangat dari kami, kami menunggu kedatangan bu Ida di sini.

 

Sebuah ungkapan perasaan seorang Ida Cholisa:

Tak Biasanya Aku Seperti Ini

Tapi hatiku terlampau gundah. Saat perjuangan belum usai, kurasakan musuh itu kembali menyerang; kankerku. Aku sempat bergembira sebelumnya, sebab pergulatanku hampir usai. Nyatanya, yang kusaksikan mengkhawatirkanku adanya.

Aku patut bersedih, diary. Karena aku manusia biasa. Aku diliputi kecemasan, ketakutan, kegundahan dan seribu rasa lainnya. Hingga terbetik di hatiku, ingin menyudahi semua perjuanganku…

Aku bukan perempuan cengeng, sebenarnya. Tapi berlaksa rasa membuatku berlinang air mata. Ada pedih, ada perih, ada semangat yang masih tersisa, tapi ada terselip riak putus asa…

Jika kematian bukan sesuatu yang menakutkan, jika kematian tak ada balas atau siksaan, maka aku rela jika aku dipanggil segera olehNya…

Tapi aku sarat dosa. Tapi aku belum usai tuntaskan kerja. Tapi aku masih memiliki tanggungan anak-anak, yang jika aku pergi, pada siapa mereka akan meminta?

Tuhan, ampuni aku. Teguhkan aku. Tetap tinggikan semangat dan kesabaranku…

Aku menangis di sudut hati. Aku berrendam rasa dalam diamnya diri.

Hanya ada dua jawaban; sembuh atau tidak.

Jika sembuh, aku mampu menikmati waktu seperti dulu. Jika tak sembuh, maka kematianlah yang menjemputku, cepat atau lambat…

Tak ada pilihan lain. Berusaha semampuku. Sembari membuang jauh onak keputusasaan itu.

Jalanku masih panjang. Pedih perih masih kurasakan. Demi kesembuhan, aku akan tetap berjuang, meski hatiku berhias pilu dan seribu perasaan…***

 

Bogor, sad heart, Feb 2011

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

27 Comments to "Cancer Survivor"

  1. Ida Cholisa  3 May, 2011 at 08:54

    Makasih Mbak Dewi…, senang bisa gabung di sini. Sesungguhnya tak ada sia-sia atas ketetapan apapun dalam kehidupan ini. Dalam sakit, dalam duka, dalam derita, selalu tersimpul hikmah yang sangat luar biasa.
    Salam tuk semua teman di sini ya Mbak Dewi…..

  2. Sierli  28 April, 2011 at 16:39

    Sediih, kanker memang mematikan…

  3. Linda Cheang  28 April, 2011 at 10:16

    DA : ya, kanker itu memang tidak disangka. terasa waktu saya lihat sendiri seorang tante saya, akhirnya meninggal karena kanker. Kemoterapi juga tidak mudah, dan menyakitkan. Tapi ada juga sanak saudara yang berhasil sembuh dari kanker.

  4. Handoko Widagdo  28 April, 2011 at 07:12

    Oh sedihnya kehilangan sahabat Elita. Terakhir aku masih berbagi cerita dengannya. Elita menceritakan kankernya kepadaku. Selamat jalan sahabatku.

  5. Mawar09  28 April, 2011 at 03:14

    Da: terima kasih ya artikelnya. Support memang sangat diperlukan oleh penderita, sehingga mereka lebih merasa diperhatikan dan ditemani. Doa juga penting utk ketenangan jiwa! Salam!

  6. non sibi  28 April, 2011 at 00:09

    Respon utk komen #11 para 1:
    Matthew 25:45 – He will reply, ‘I tell you the truth, whatever you did not do for one of the least among you, you did not do for me.’

  7. Kornelya  28 April, 2011 at 00:00

    Itsmi, thanks. Berdo’a bagi kaum atheis itu sia-sia, tetapi bagi orang beragama itu kebutuhan jiwa, bukan karena berpikiran negatif. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.