Bukan Untuk Yang Kebelet

Tammy

 

Membaca artikel dan komentar dari teman-teman mengenai China, terutama cerita tentang toilet umum, aku jadi teringat sama artikel yang pernah aku kirim ke website tetangga beberapa tahun lalu. Aku jadi tergelitik untuk mengirim artikel (yang sudah dikoreksi) ini ke redaksi Baltyra. Kalau layak dimuat, semoga bisa mengimbangi cerita teman-teman yang pernah ke sana, yang biasanya punya pengalaman buruk dengan toilet umum.

Ceritanya, waktu aku masih tinggal di Shanghai, suatu hari suamiku dan aku janjian untuk makan malam dengan teman suami dan pacarnya. Sebelumnya suamiku sudah bikin reservation dan oleh penerima telpon diberi nomor password 3 digit. Aku sampai heran, ke restoran kok pake password!

Kami naik taksi, begitu sampai ke tempatnya aku tingak-tinguk, alamatnya bener, tapi kok nggak ada tanda-tanda restoran. Nggak ada sign nama restoran. Setelah liat lagi, ternyata di tanah ada reflection nama restoran dari sinar lampu. “Wah, cool juga,” aku pikir. Maju beberapa langkah, di dinding ada 9 lubang yang tersusun 3×3, berdiameter kira-kira 20cm.

Setelah mikir bentar, suamiku langsung masukin tangannya ke 3 dari lubang-lubang itu. Oohhhh!!!! Ternyata lubang-lubang itu seperti tombol nomor! Jadi kalau passwordnya 123, ya harus masukin tangan ke lubang-lubang itu secara berurutan, kayak mencet nomor telpon gitu! Dan begitu sudah “mencet“ nomor secara benar, pintu restoran secara otomatis terbuka.

Aku mikir, ini restoran aneh bener sih, sulit banget, customer harus punya password. Tiap hari passwordnya ganti, jadi harus bikin reservasi dulu baru bisa masuk. Begitu nyampai pun nggak ada sign yang kasih tau kalau tuh lubang-lubang adalah tombol-tombol nomor buat password (juga tidak ada nomor yang tertera di dalam lubang-lubang itu). Kayak main teka-teki aja.

Di balik pintu ada waitress yang sudah standby dan mengecek reservasi. Kami langsung dibawa ke lantai atas (lantai bawah adalah bar). Setelah duduk, saya liat sekeliling, wah gelap banget nih restoran. Cuma ada lampu-lampu kuning dari langit-langit yang nyorot tepat ke tiap meja. Dekornya minimalis, lantainya semen, tanpa tiles atau karpet. Saya tanya ke suami kenapa milih restoran ini.

Saya liat daftar menunya dikit, dan nggak begitu menarik. Dia bilang ada orang yang rekomendasi, ”This is the most unique restaurant. There’s something different with the toilets apparently. So we have to check them out.” Wah aku jadi nggak sabar mau liat toiletnya. Tapi mesti tunggu selesai makan. Masakannya not bad sih, but nothing special.

Setelah selesai makan, suamiku tanya ke waitress di mana toiletnya. Si waitress nunjukin arahnya sambil ngomong, “Good luck!” Bikin kami makin penasaran aja! Setelah balik dari toilet suamiku cuma cengar-cengir. Aku tanya apanya yang aneh, dia nggak mau kasih tau. Dia bilang aku harus coba sendiri. Giliran kedua adalah teman suamiku, aku giliran ketiga.

Jalan ke toilet berupa lorong. Di ujung lorong ada satu pintu. Sebelah kanan 2 pintu, kiri 2 pintu. Nggak ada sign cowok atau cewek, berarti unisex. Aku buka yang di tengah (yang di ujung lorong). Ternyata di balik pintu hanyalah cermin yang segede pintu. Di cermin ada tulisan: Gotcha! Aku coba pintu yang lain. Aku tarik door handle-nya. Nggak bisa dibuka. Didorong juga nggak bisa.

Aku coba semua pintu nggak ada yang bisa dibuka. Bingunglah aku! Akhirnya ada orang yang keluar dari salah satu toilet itu. Ohhh ternyata pintunya bukan dibuka dari kanan di mana letak door handle berada, tapi dari the opposite side of the door handle! Akhirnya setelah berhasil buka pintu, aku masuk. Gelap! Baru mau cari tombol lampu, tiba-tiba lampu pelan-pelan nyala sendiri. Ternyata emang nggak ada tombol lampunya. Otomatis! Keren banget aku pikir. Toiletnya luas. Masing-masing toilet ada wastafelnya. Bersih lagi!

Setelah masing-masing dapat giliran ke toilet, kami saling compare notes: “Did you figure it out yourself or did you see someone open the door? Did you open the middle door? How cool is the light!” Kami sepakat: nih toilet bukan untuk costumer yang sedang kebelet. Kalau nggak pas liat orang keluar dari toilet, entah berapa lama aku nyoba-nyoba buka pintu. Karena keunikannya, toilet ini jadi sering masuk majalah atau artikel-artikel online, contohnya ya artikel yang sedang kutulis ini.

Aku mikir, ini restoran benar-benar lain dari yang lain. Baru tau satu ini restoran yang pakai password. Seolah-olah nggak butuh customers, pintu tertutup rapat, jadi orang lewat nggak bakal tau kalau itu bar dan restoran. Tapi mungkin juga keanehan-keanehan itu (password dan toilet nyeleneh) merupakan gimmicks (daya tarik) mereka sehingga meskipun kayaknya sedikit yang tau, tapi mereka selalu fully booked.

Bagi yang kebetulan ke Shanghai dan tertarik untuk mampir, detailnya ada di bawah. Tapi kemungkinan besar karena sudah baca artikel ini, jadinya sudah nggak asyik lagi ke sana karena sudah nggak ada unsur surprise-nya.

Name:               People 7

Address:          805 Julu Lu, near Fumin Lu, Jing’an District

Tel:                   +86-21-5404 0707

 

Sumber foto: www.echinacities.com

 

 

23 Comments to "Bukan Untuk Yang Kebelet"

  1. tammy  3 May, 2011 at 08:25

    Dewi: banyak loh tempat menarik di SH. thanks ya komennya.

    Saw: huaahahah…… sama kayak JC dong, kececeran.

  2. saw  2 May, 2011 at 08:23

    kalaupun ada restoran macam begini di dekat rumah saya, rasanya mending ga usah mampirlah mbak,…apalagi kalau aku bawa suami. KArena bawaan suamiku, kalau masuk rumah makan, pasti langsung nyari toilet. Kebelet pipis melulu …

    lha kalo buat masuk toilet aja mesti kayak gitu, rak keburu tercecer kemana-mana to ?

  3. Dewi Aichi  30 April, 2011 at 08:00

    Tammy….sangat unik….menarik sekali resto yg kau ceritakan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.