Parade Huruf-huruf

Damhuri Muhammad

 

(1)

HURUF-HURUF bergelantungan di ranting-ranting pohon Akasia taman kota, bergelayutan di rentang panjang kabel-kabel listrik, bergeloncatan di dinding-dinding gedung jangkung, jembatan penyeberangan, gerbang tol, dan ruas-ruas jalan protokol. Para pengemudi panik, karena kendaraan mereka terjebak dalam kerumunan huruf-huruf yang berhamburan dari depan, belakang, sisi kiri, sisi kanan, dari delapan arah mata angin.

Lalu lintas sembraut serupa benang kusut, bukan karena unjuk rasa buruh yang turun ke jalan meneriakkan yel-yel tuntutan pesangon, tapi karena parade huruf yang berduyun-duyun memadati jalan, seperti koloni semut yang keluar dari liang-liang setelah (liang-liang itu) disiram minyak tanah. Dentang klakson mendesing, deru mesin memekik menambah bising suasana. Celakanya, huruf-huruf itu acuh, tak peduli pada makian, umpatan dan sumpah-serapah para pengguna jalan yang kian jengah, kian lelah setelah berjam-jam terkurung dalam kesembrautan itu.
“Brengsek! Acara pelantikan bisa gagal nih. Ayo, lakukan sesuatu, bengong aja lu!” bentak Martabat pada sopir pribadinya.
“Iya Pak, tapi huruf-huruf itu menutup semua celah.”
“Sialan! Apa mereka ndak tahu kalau hari ini ada upacara pelantikan wakil rakyat?” gerutu Martabat, jengkel.
“Mestinya tadi kita ndak lewat jalan ini. Payah lu.”
“Jalur alternatif juga macet, Pak!”
“Ah, asal ngomong aja lu…”

Polisi lalu lintas bersusah-payah mengatur arus, dari dan ke arah gedung tempat acara pelantikan wakil rakyat akan diselenggarakan. Tapi, tetap tak ada ruang gerak bagi sedan-sedan mewah yang terjepit di tengah lalu-lalang huruf. Huruf-huruf mulai berjumpalitan naik ke atap mobil-mobil impor itu. Mengetok-ngetok kaca seperti gerombolan rampok yang hendak menjarah barang-barang berharga di dalam sedan-sedan mengkilat itu.
“Buka, buka, buka!” gertak huruf-huruf sambil menggedor-ngedor pintu mobil Martabat.
“Jangan takut Pak! Mereka cuma huruf-huruf. Tanyakan saja apa mau mereka!” kata sopir Martabat meredakan kecemasan majikannya.

Dengan perasaan was-was Martabat menurunkan kaca mobil. Dipikirnya huruf-huruf itu akan menodongkan senjata, lalu merampas telpon genggam, uang dan barang-barang berharga miliknya.
“Maaf, saudara-saudara ini siapa?” tanya Martabat, gemetar.
“Jangan pura-pura enggak kenal!” balas huruf-huruf itu serentak, sambil menertawakan ketakutan Martabat.
“Sungguh! Saya ndak kenal saudara-saudara, bukankah kalian cuma huruf-huruf yang sejak tadi mengganggu lalu-lintas di jalan ini?”

“Ya, kami hanya huruf-huruf. Tapi kami huruf-huruf yang keluar dari mulut besarmu itu. Masa’ sudah lupa?”
“Kami huruf-huruf yang menjadi kata, frase, dan kalimat dalam daftar janji yang kau obral sebelum kau terpilih jadi wakil rakyat. Masih belum ingat juga?”
“Saudara-saudara mau apa? Uang? Atau barang berharga milik saya? Kalian boleh ambil semuanya. Tapi setelah itu enyahlah! Beri saya jalan keluar dari kemacetan ini! Ok?” bujuk Martabat,
“Kami bukan rampok!”
“Lalu?”

“Kami ingin kembali ke dalam mulutmu! Sebab, dari mulutmu itu kami berasal. Kami tak mau menggelandang. Mengangalah, kami akan segera melompat ke dalam mulutmu itu!” desak huruf-huruf.
“Kurang ajar!” batin Martabat

Martabat tergesa-gesa menutup kaca mobilnya. Ia keberatan mengabulkan permintaan huruf-huruf yang tak penyabar itu. Huruf-huruf pun kembali berloncatan naik ke atap sedan mewah Martabat. Menggedor-nggedor kaca dengan pukulan lebih kuat lagi. Begitu pula yang terjadi pada setiap sedan mewah yang berjejer di tengah karnaval huruf di jalan raya yang kusut masai itu.

Stasiun-stasiun berita meliput peristiwa kemacetan paling parah sepanjang sejarah lalu lintas kota itu. Di layar TV, tampak berjuta-juta huruf menari-nari seperti pesta pora perayaan sebuah kemenangan besar. Berjoged, berjingkrak-jingkrak sambil tertawa cekikikan di atas atap sedan-sedan mengkilat. Arak-arakan huruf seperti gerombolan serangga liar yang mengerubungi mangsa. Tak kelihatan wujud mangsanya, karena tertutupi kerumunan serangga-serangga lapar. Begitupun kekacauan yang terjadi, tak nampak warna warni sedan-sedan yang terkurung di badan-badan jalan protokol, karena tertimbun oleh warna warni huruf-huruf. Kuning, Merah, Biru, Hijau, Coklat Tua. Seolah tak ada kendaraan yang melintas, padahal mobil-mobil itu tertindih jutaan tubuh huruf.

Karnaval huruf tak hanya menyumbat arus lalu-lintas, tapi juga menerobos pagar kantor parlemen. Berkerumun di pelataran halamannya. Lagi-lagi, mereka menari-nari, berjingkrak-jingkrak, tertawa cekikikan sambil menunggu datangnya wakil-wakil rakyat yang bakal dilantik.
“Gunakan segala cara agar mereka buka mulut! Agar mereka tidak lupa pada daftar janji yang telah diumbarnya pada rakyat negeri ini. Mengerti kalian?” kata pimpinan huruf-huruf memprovokasi anggotanya.
“Mengerti bos……….” jawab anggota-anggotanya, serentak.

(2)

“Saudara-saudara telah mengganggu acara pelantikan wakil rakyat. Menengadahlah! Di atas kepala kalian adalah pasukan khusus yang diturunkan untuk mengatasi gangguan ini. Kami peringatkan, segera kosongkan jalan ini! Beri kesempatan pada mobil-mobil wakil rakyat untuk lewat! Jika kalian abaikan himbauan ini, kami terpaksa mengambil tindakan tegas. Puluhan helikopter yang mendesing-desing itu sudah siap menembakkan Gas Beracun ke tengah kerumunan kalian. Gas beracun itu akan membuat tubuh-tubuh kalian roboh dan berguguran satu per satu. Kami tidak main-main, secepatnya kosongkan jalan ini!”

Kecemasan Martabat berangsur-angsur reda setelah mendengar ancaman yang diarahkan pada kerumunan huruf-huruf itu. “Rasain lu! Makanya jangan main-main dengan kepentingan negara!” umpatnya.

Huruf-huruf yang tadi berjingkrak-jingkrak sambil menggedor-gedor pintu mobil Martabat sejenak diam, melongo dan menengadah ke arah helikopter-helikopter yang membuat pola melingkar mengepung mereka.
“Bagaimana dengan tuntutan kami?” teriak pemimpin huruf-huruf.
“Kami hanya minta mereka buka mulut, agar kami kembali ke tempat asal kami. Itu saja!” dukung anggota-anggotanya.
“Ok. Kami akan memulangkan kalian. Tapi tolong kosongkan dulu jalan ini!”
“Kami menyediakan sebuah gedung di pinggir kota untuk penampungan sementara, sebelum kalian dipulangkan. Segera tinggalkan jalan ini! Bergeraklah menuju tempat penampungan itu, anggota kami akan memandu,” ulangnya lagi.

Lalu lintas berangsur-angsur pulih. Lajur kiri dan lajur kanan lancar tanpa hambatan. Karnaval huruf yang sebelumnya menyumbati pintu masuk ke kantor parlemen juga bergerak ke arah gedung penampungan yang sudah tersedia. Iring-iringan huruf dengan tertib memasuki ruang peristirahatan sebelum mereka dipulangkan secara massal.

(3)

Berbulan-bulan setelah pelantikan wakil-wakil rakyat, jutaan huruf yang telah dievakuasi ke tempat penampungan itu belum juga dipulangkan. Pemulangan massal yang dijanjikan itu hanya jebakan untuk mengandangkan mereka. Kini, huruf-huruf itu terkurung di bilik-bilik sempit, tak ada celah untuk melarikan diri, setiap lubang di seluruh penjuru ruang tertutup rapat. Jangankan satu huruf, udarapun tak bisa menyelusup masuk. Agaknya, gedung itu bukan penampungan sementara, tapi penjara tempat mereka meringkuk. Entah sampai kapan.

Tak lama berselang, pemerintah kota menyewa beberapa designer interior ternama guna merancang tata ruang gedung itu. Etalase-etalase kaca tersusun rapi di setiap ruang, ditata sedemikian rupa dengan sentuhan artistik yang mengagumkan. Setiap ruang memiliki tiga beranda; beranda kata, beranda frase dan beranda kalimat. Di beranda kata, tersusun etalase-etalase kaca ukuran mini. Di dalamnya terpampang beribu-ribu KATA, lengkap dengan keterangan asal-usul masing-masing kata, sehingga dapat diketahui dari mulut siapa kata itu dimuntahkan. Maka, terbacalah ratusan kata yang menurut keterangannya ; Termuntah dari Mulut Martabat, Selasa, 22 Mei 2004.

Di beranda frase, tertata pula etalase-etalase kaca ukuran sedang, di dalamnya termaktub ribuan FRASE, lengkap dengan keterangan tentang mulut-mulut yang memuntahkannya. Maka, terbacalah frase-frase yang menurut keterangannya; Terucap dari Mulut Martabat, Jum’at 23 Mei 2004. Begitupun di beranda kalimat, berjejer etalase-etalase kaca ukuran besar. Di dalamnya terpajang ribuan KALIMAT, termasuk kalimat-kalimat yang terbuncah dari mulut Martabat. Berikut keterangan hari, tanggal dan tahun masing-masing kalimat itu dimaklumatkan.

Dalam rangka belajar membaca, tiap akhir pekan Martabat, wakil rakyat yang terhormat, mengajak cucu-cucunya berkunjung ke sebuah gedung yang berdiri megah, letaknya jauh di pinggir kota. Kawakibina (kelas 1 SD) dan Lailatuna (TK) mengeja setiap kata, frase dan kalimat yang terpajang dalam etalase-etalase kaca di setiap ruangan. Sesekali kedua bocah itu tertawa cekikikan, karena secara tak sengaja membaca nama eyang MARTABAT tertera di beranda kata, beranda frase dan beranda kalimat. Kawakibina dan Lailatuna menyebut liburan bersama eyangnya itu sebagai tamasya ke museum kata-kata…

Yogyakarta, September 2004

DAMHURI MUHAMMAD

 

Ilustrasi:
http://www.davidairey.com
http://www.butterflyalphabet.com

 

 

10 Comments to "Parade Huruf-huruf"

  1. Handoko Widagdo  2 May, 2011 at 08:36

    Ayo dibayangkan bagaimana seandainya huruf-huruf itu benar-benar menyerbu masuk ke dalam mulut MARTO TOBAT

  2. Dewi Aichi  1 May, 2011 at 23:31

    Woww….luar biasa ..ciamik bener nih perumpamaannya. Bagaimana ya para wakil rakyat, dan pejabat saat ini akan mengukir sejarahnya, yang akan dibaca oleh anak, cucu keturunan mereka…?

    Sedihkah, malukah merdeka yang menjadi anak cucunya, bahwa, eyang, buyutnya, seperti itu?

  3. Kornelya  1 May, 2011 at 22:57

    Oh ternyata menjadi hurufpun ada resikonya. Nasib, oh nasib. Salam.

  4. J C  1 May, 2011 at 18:15

    Penuturan satir yang luar biasa ciamik!!! Muanteeeepppp…

  5. Djoko Paisan  1 May, 2011 at 17:14

    Nassisbmu huruf-huruf….
    Akhirnya malah masuk penjara…..
    Sangat uniq, tapi sangat bagus cara penyampaiannya.
    Terimakasih…!!!

  6. Lani  1 May, 2011 at 12:25

    YES MAY DAY………!

  7. Linda Cheang  1 May, 2011 at 12:13

    happy MAY DAY, deh. Kalau tidak ada huruf, mana mungkin bisa bikin artikel sampai kasih komen?

  8. Rosda  1 May, 2011 at 12:10

    kata demi kata….terjalin dengan indah untuk menyampaikan maksud hati.

  9. Rosda  1 May, 2011 at 12:07

    2

  10. James  1 May, 2011 at 10:16

    O n e …..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.