Sakit dan Mati

Anwari Doel Arnowo

 

Sudah lama kita ketaui bahwa banyak orang di dunia ini yang enggan, bahkan mengharamkan atau menyatakan tidak mau berbicara dengan terus terang apa yang tidak enak, dan yang justru akan pasti terjadi pada diri kita. Kata-kata yang tertera di judul di atas itu seperti tabu dibicarakan di dalam banyak kalangan di dalam bangsa kita.

Padahal kedua hal itu, sesuai sejarah, adalah AMAT PASTI.

Setiap orang pasti pernah mengalami kondisi sakit.

Kondisi sakit pada tubuh manusia tidak bisa dihindarkan oleh siapapun dia, baik profesinya sebagai perawat, bidan ataupun mantri kesehatan, bahkan dokter spesialis sekalipun. Demikianpun seorang dukun penyembuh, atau sinshe ahli pengobatan dari China.

Raja dan Presiden dan Kiyai serta Pastor dan Pendeta tidak luput dari daftar itu.

Semua ada akhirnya: tertawa dan menangis pasti berakhir.

Kesedihan dan kesenangan juga.

Seseorang yang tetap bekerja dan tidak pernah absen dari pekerjaan rutinnya juga akan pasti terkena kondisi sakit juga, meskipun dia tetap bekerja. Tipe manusia seperti ini saya telah menjumpainya, di dalam kesempatan mengamati manusia di sekitar saya, rekan kerja, teman lain, saudara bahkan keluarga saya sendiri.

Itu adalah kondisi sakit yang hanya sementara dan tergolong ringan serta biasa.

Yang tergolong sakit yang lebih berat saja biasanya kita abai bahkan mungkin sudah tidak terlalu suka untuk membicarakannya lebih jauh, alih-alih bertindak mengambil langkah-langkah yang perlu lebih lanjut. Apabila para petugas medik yang merawatnya sudah angkat tangan, apalagi apabila yang bersangkutan sendiri sudah bersikap sudah pasrah, akan menerima apapun akibatnya termasuk dengan datangnya saat kematian.

Perlu diingat kata orang-orang yang telah berpengalaman, bahwa bayi itu lahir dan menangis dengan kuat (karena merasa sakit atau gembira atau apapun juga?), tetapi manusia sekelilingnya biasanya ikut berbahagia. Tetapi apa yang terjadi pada proses sebaliknya? Orang menghadapi kematian didahului dengan menderita dan juga sering kali kesakitan dan ketakutan yang amat sangat, tetapi siapa yang menangis? Mereka adalah orang-orang yang terdekat dan dikenal baik serta dekat dengan almarhum. Jadi bayi itu terlahir dan menangis, sedangkan orang sekitarnya akan tersenyum dan tertawa sebaliknya dengan orang meninggal itu didahului dengan kesakitan dan orang di sekelilingnyalah yang akan menangis.

Bagaimana dengan orang sakit yang sudah akut penyakitnya?

Adalah hal biasa apabila para teman dan kerabatnya mengangkat bahu dan tangannya juga menengadah, tanda menyerahkan segala sesuatunya kepada kekuatan Illahi yang akan datang dan mengaturnya menjadi sebuah proses yang di luar kekuasaan dan kemampuan manusia.

Kakak laki-laki kandung saya (anak nomor 2, saya anak nomor 3), usianya 75 tahun, baru saja meninggal dunia beberapa hari yang lalu, pagi hari sekitar waktu Subuh pada tanggal 23 April yang lalu. Setelah terkena kondisi stroke selama lebih dari lima tahun lamanya dan beberapa kali dirawat di rumah sakit, beberapa organ tubuh lainnya seperti jantung dll. ada yang terkena imbas kondisinya ini menjadi lebih lemah dan mengganggu.

Timbul pertanyaan yang wajar dari diri kita, layakkah mereka dan kakak saya itu kita biarkan saja, menunggu ajal?

Jawabannya adalah: itu tergantung dangan lokasi di mana si sakit berada dan pola pikir serta pengetauan mutakhir para manusia di sekitarnya.

Penanganan terhadap orang sakit yang sudah dalam keputus asaan tidak selalu berlangsung dalam waktu singkat, seperti satu minggu atau satu bulan.

Bisa saja lebih panjang.

Seperti contoh kakak laki-laki saya itu, juga kakak kami, perempuan (terlahir sebagai anak nomor 1) mengalami hal yang sama, terkena kondisi stroke sudah sejak 9 tahun yang lalu, dan sekarang masih terbaring saja, tanpa daya. Setiap kali saya bertemu hanya satu saja yang diharapkannya: ‘Kapan saya akan dipanggil menghadap Allah?’ Tidak menampakkan sikap mau sembuh, dan saya sudah berputus asa untuk membantu membangunkan semangatya agar tidak bersikap demikian, apalagi sudah didahului pergi pula oleh almarhum suaminya pada usia 78 tahun dan juga menantunya pada umur yang baru menginjak usia 45 tahun. Sekarang telah menyusul pula adiknya, kakak laki-laki saya itu.

Apa sikap yang patut untuk menghadapi hal seperti ini?

Saya merasa sebagai orang yang selalu berusaha untuk berlaku dan bersikap yang masuk di akal, manusia normal dan biasa. Akan tetapi masih ada beberapa ganjalan yang berada jauh di luar kemampuan saya sebagai pribadi.

Di bidang hukum, saya masih melihat kekurangan undang-undang yang mengatur mengenai hal-hal yang telah disebutkan di atas. Mari saya sampaikan apa pengetauan yang patut dikemukakan untuk hal ini:

I. Sudah menjadi pengetauan umum masyarakat luas, bahwa para pelaku medis selalu berkeinginan untuk menyembuhkan seorang pederita sakit, sakit apapun jua, dengan segala daya upaya, dengan menggunakan biaya dan peralatan bantu untuk hidup. Apabila penggunaan alat-alat penunjang hidup seperti itu sudah di pasangkan untuk sisa masa hidupnya, maka biasanya mencapai kondisi ke putus-asaan dan akan pasti memakan biaya perawatan yang luar biasa mahalnya. Apabila si sakit ingin melepaskan segala alat bantu hidup tadi secara suka rela, meskipun ditambah dengan kerelaan anggota keluarga terdekatnya, sudah adakah perlindungan bagi para pelaku medis untuk melakukannya dengan menggunakan perangkat legal, misalnya undang-undang resmi dan berlaku di negara kita?

Saya duga Negara Indonesia belum mempunyainya, bahkan membicarakannya saja belum. Ingatlah apa yang terjadi pada almarhum presiden Suharto. Berapa besarnya biaya dan peralatan canggih yang dikirakan akan bisa menambah panjangnya umur, tetapi terbukti tidak berhasil !! Di Amerika Serikat dan banyak lagi di negara-negara maju lain yang telah mengakomodasi kemauan seperti di atas yang disebut dengan istilah The LIVING WILL yaitu surat wasiat yang memudahkan pelaksanaan maksud seperti itu. Tindakan ini akan mudah dilakukan karena sudah ada perangkat berupa undang-undang yang menunjangnya dan melindunginya. Silakan buka: http://en.wikipedia.org/wiki/Living_will

II. Saya teringat ada seseorang di Kanada yang profesinya disebut sebagai seorang yang menjalankan Hospice Care dan atau Palliative Care. Apa yang dikerjakannya? Pada intinya bertugas melakukan pendekatan simpatik dan upaya agar bisa membantu beban berat para penderita yang penyakitnya sudah berada di tingkat akut dan tingkat tanpa daya untuk menghindar dari kematian yang sudah menghadang. Dia akan membantu para penderita tanpa asa ini dengan ‘menuntun’ agar bisa menerima nasib yang menimpa dirinya agar lebih ringan rasanya dalam menghadapinya agar tidak terlalu cemas dan ketakutan. Agar tidak ketakutan menghadapi pengertian Neraka atau Surga seperti pengetauan yang di dapatnya sebelum ini. Tidak takut karena nanti tubuhnya akan di tanam di dalam kubur yang gelap gulita dan atau di kremasi dibakar dengan api yang menyala atau dengan aliran listrik. Maka kemungkinan untuk tindakan euthanasia pun bisa diaplikasikan bila secara legal itu memungkinkannya. Silakan membaca link-link di bawah ini:

http://en.wikipedia.org/wiki/Euthanasia

http://en.wikipedia.org/wiki/Hospice_care

Pada tahun 2003 saya sudah menulis surat kepada anak-anak saya dan juga kepada teman-teman dekat apabila datang waktunya saya meninggal dunia agar saya dimakamkan saja dengan cepat, tanpa menunggu siapapun, dengan sederhana tetapi legal, maksudnya di tempat-tempat yang sudah diijinkan oleh Pemerintah. Sama sekali tidak perlu untuk dikembalikan ke tempat kediaman saya. Biarpun meninggal di Bekasi ya di Bekasi saja dikubur, bila di Toronto ya di Toronto dan bila di Tokyo ya di Tokyo. Tidak usah dibawa ke Jakarta karena biaya angkut jenazahnya mahal sekali. Biaya itu dari Toronto bisa akan mencapai Can.$10 ribu atau hampir seratus juta. Jumlah ini sungguh akan banyak berguna apabila dipakai menolong kaum papa atau fakir miskin.

Sekarang, tahun 2011, saya sudah mempunyai keinginan lain:

* Tubuh saya yang sudah mati itu: dibakar saja dan abunya disebarkan di lautan. Saya tidak bisa menemukan di dalam Al Qur’an bahwa pembakaran jenazah itu dilarang.

* * Atau dilakukan saja dengan cara baru: liquifaction (penghancuran total dengan meggunakan zat-zat kimia sehingga tak bersisa sama sekali dan bebas dari unsur penularan penyakit-penyakit.

* * * Masih ada satu lagi, yakni: menyerahkan jenazah saya untuk keperluan kemajuan ilmu kedokteran ke sebuah lembaga yang mau menerimanya.

Saya sadar bahwa kemungkinan-kemungkinan ini akan mendapatkan tentangan yang cukup kuat dari banyak pihak termasuk dari para kerabat dan keluarga saya sendiri. Saya ingin mendapatkan bantuan saran dan cara bagaimana memenuhi salah satu keinginan saya itu, sehingga tidak ada masalah hukum dengan negara ataupun keluarga saya sendiri.

Saya juga mengetaui apa risiko terbesarnya, ialah: AKAN TANPA ADA KUBURAN bagi jenazah saya. Saya justru sungguh akan senang hati apabila pada hari kematian saya akan ada musik dan nyanyian gembira sebagai pengantar saya memasuki dunia alam baka. Ini dilakukan orang selama ini di Amerika Selatan dan di beberapa negara Afrika, serta saya lihat juga dilakukan oleh mereka asal dari salah satu suku bangsa Indonesia yang jelas bukan Jawa, dari mana saya ini berasal.

Tergantung sekali dengan para pelaku hukum di negara kita, termasuk legislatornya, apakah mereka cukup cerdas untuk bisa melihat ke masa depan anak-anak bangsanya, dan justru juga diri mereka sendiri.

Ingatlah email yang pernah beredar berbunyi antara lain: UANG BISA DIPAKAI UNTUK MEMBELI OBAT AKAN TETAPI BUKAN KESEHATAN ……

 

ANWARI DOEL ARNOWO

2011/03.27

 

 

64 Comments to "Sakit dan Mati"

  1. Lani  10 May, 2011 at 09:41

    PAK ANWARI…….hehehe……..mmg sehrs dipestakan…….bukan malah bersedih ria ya?

  2. Lani  10 May, 2011 at 05:26

    WADOOOOOOH njur podo jd penyanyi……..hehehe…….

  3. J C  10 May, 2011 at 05:13

    Pak Djoko, lagu itu adalah salah satu lagu favorit saya sepanjang masa. Walaupun saya tidak bisa main alat musik apapun, tapi saya hapal lagu tsb…hehehe…

  4. Djoko Paisan  9 May, 2011 at 16:46

    Dimas Josh Chen….

    Lagu Annie’s Song yang dinyanyikan oleh John Denver,
    mengingatkan saat sekolah di Oxford, setiap hari hanya dengar lagi ini di radio…
    Sampai tanpa di hafal, juga nempel dikepala.
    Terimakasih sudah diingatkan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.