Sepenggal Kisah di Antara Prolog dan Epilog

Bamby Cahyadi

 

[dimuat di buku Bunga Rampai Cerpen Si Murai dan Orang Gila, DKJ & KPG, 2010]

Prolog

Aku bertemu lelaki itu di sebuah tempat lembap penuh asap. Di sebuah kedai kopi sederhana berlantai batubata merah ketika di luar hujan turun deras. Saat itu, asap rokok yang dihembuskan dari bibir-bibir lelaki peminum kopi berarak-arak menggantung di langit-langit serupa gumpalan awan bergulung-gulung di angkasa.

Kami lantas berjabat-tangan, menyebutkan nama masing-masing, hampir bersamaan. Sehingga aku tak terlalu jelas mendengar namanya. Suaranya datar, tanpa tekanan. Lalu aku minta maaf, agar ia menyebut ulang namanya. ”Pramudya Gunawan,” ia mengulang ucap namanya. Rupanya tadi ia hanya menyebut namanya, Pram belaka. Aku menyebut namaku, ”Setiorini Wulandari. Kau bisa panggil aku, Ririn!”

Dalam ruang yang sesak dan pengap, suara orang bercakap-cakap seperti dengungan tawon tanpa arti diselingi gelak tawa yang entah menertawakan apa yang lucu di sini. Baiklah, nama lelaki yang baru berkenalan denganku, Pram. Kutaksir, usianya 37  tahun atau lebih, mungkin 40 atau kurang sedikitlah. Namun kecil kemungkinan ia seusiaku. Yang pasti ia lebih tua dariku. Dengan sopan, ia mempersilahkan aku duduk. Seandainya di luar tidak hujan, aku memilih duduk berbincang-bincang dengannya di luar. Tapi hujan memaksa kami duduk di dalam kedai.

Aku duduk berhadap-hadapan dengannya di sebuah meja kecil. Hanya ada dua bangku kosong yang terbuat dari bilahan bambu sederhana. Ia menyeruput kopinya. Aku masih menunggu pesanan, secangkir kopi panas.

Aroma kopi menakjubkan terendus, ketika kopi tersaji di depanku. Ia bilang, kopi di kedai ini, kopi arabika. Pantaslah kedai ini penuh sesak, apalagi hujan masih bersenang-senang mengguyur malam di luar sana.

”Kopi arabika ditanam di dataran tinggi. Tidak seperti kopi robusta yang ditanam di dataran rendah,” katanya menerangkan. ”Rasa kopi ini…,” lanjutnya, ia mengangkat dua jempol tangannya, sambil berdecak, ”Mak nyus!” Aku hanya tersenyum, dan jadi ingat Bondan Winarno pemandu acara wisata kuliner di sebuah stasiun televisi.

Aroma khas kopi arabika menguar, uap panasnya mengepul-ngepul menggelitik indera penciumanku. Warna kopi coklat gelap. Aku mengangkat cangkir, menyeruput kopi panas itu, rasa segar mengeletarkan lidahku. Terasa sedikit manis sekaligus pahit pada ujung lidah. Seluruh syaraf tubuhku menjadi nyaman. Rasa kopi itu menyenangkan dan menenangkan hatiku.

”Kopi sebaiknya diminum panas-panas. Kalau sudah hangat apalagi dingin, rasanya jadi anyep dan aroma kopinya menjadi hambar,” katanya lagi sambil menandaskan sisa kopi di cangkirnya.

”Rasanya enak, kentalnya pas!” kataku manambahkan. Ia tersenyum.

Senyuman yang mengingatkan aku pada seseorang berpuluh-puluh tahun yang lalu. Senyuman dengan tarikan bibir yang lebar, namun tak sepenuhnya terbuka. Sehingga terkesan seperti senyuman nakal yang penuh arti.

Lantas aku teringat seorang lelaki di masa silam, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Aku teringat Kuncara Wijaya, teman SMP. Wajah Kuncara membayang dalam benak, raut wajahnya seperti bergelantungan menari-nari di langit-langit bersama asap-asap rokok yang bergulung-gulung itu.

 

Sepenggal Kisah

Ririn dan Kuncara bertetangga. Rumah mereka berdekatan, hanya terpisahkan oleh lapangan badminton milik kecamatan. Setiap hari mereka pergi ke sekolah bersama, mereka satu sekolah tapi tidak sekelas. Ririn kelas 1, Kuncara Kelas 3. Mereka ke sekolah mengendarai sepeda kumbang. Saat pulang sekolah, mereka selalu bersama juga, mereka janjian bertemu di parkiran sekolah.

Kuncara, mungkin anak tunggal. Ia anak laki-laki satu-satunya Kepala Kejaksaan di kota kecil itu. Setelah mengenal Kuncara lebih dekat, ternyata hobi Ririn dan Kuncara sama. Hobi mereka jalan-jalan mengayuh sepeda ke hutan-hutan di pinggiran kota dan perbukitan di ujung selatan kota. Dari atas bukit, mereka bisa melihat hamparan lanskap kota. Kota kecil yang indah dan damai, beribu anak sungai membelahnya.

Mereka bisa menghabiskan waktu berlama-lama hingga senja merekah. Mereka duduk-duduk di atas bukit melihat pemandangan senja yang indah sambil membaca komik superhero, Gundala dan Godam. Ketika senja redam, mereka menuruni bukit perpegangan tangan.

Kuncara sangat periang, tidak seperti Ririn yang pemurung. Entah mengapa, orang-orang mengatakan wajah Ririn murung. Padahal Ririn tidak sedang bersedih hati atau punya masalah dengan orangtua. Mungkin saja, Ririn berwajah murung karena ia tidak pernah memperlihatkan ekspresi wajah yang berbeda-beda apabila ia mengalami sesuatu hal tertentu di hati. Sedih atau senang, ekspresi wajahnya tetap datar.

Teman-teman di sekolah sering menggoda mereka, teman-temannya mengira Ririn dan Kuncara sudah pacaran.

Tentu saja, ketika Ririn makin akrab dengan Kuncara, banyak yang mengatakan mereka pacaran beneran. Oh bukan! Hubungan mereka, hanya sebatas sahabat. Lagi pula, betapa Kuncara sangat periang, hangat dan supel kepada siapa saja. Sementara Ririn pemurung, dingin dan kuper. Kenyataan inilah, mereka nampak tidak seperti orang yang berpacaran.

Kuncara sangat perhatian pada Ririn, ia selalu memperhatikan pakaian yang Ririn kenakan. Ia sering berkomentar dan memuji, apabila warna baju yang dikenakan Ririn selaras dengan kulitnya yang kuning langsat. Atau, ia akan mengejek Ririn habis-habisan, bila Ririn mengenakan warna baju yang salah. Begitupun sebaliknya, Ririn suka mencela Kuncara ketika Kuncara memakai sepatu warna putih, tapi kaus kakinya berwarna hitam.

Di suatu siang, sepulang sekolah, Ririn dan Kuncara jalan-jalan di lereng bukit mengendarai sepeda. Siang itu matahari terasa sangat dekat di ubun-ubun kepala, mereka lalu bersepakat bermain-main air sungai yang mengalir di lereng bukit itu. Tentu sangat menyenangkan bermain air sungai yang jernih dan bening di siang yang terik begini.

Ririn melepas sepatu dan langsung mencelupkan kedua kakinya di air sungai. Rasanya sungguh menyegarkan. Gemericik air sungai terdengar pelan ketika arus air membelah bebatuan sungai dan airnya mengalir ke hilir. Kuncara langsung menceburkan dirinya, dengan seragam sekolah lengkap ke dasar sungai. Ia menyelam. Kuncara menahan napas di dasar sungai. Rasanya dada Ririn yang mau pecah ketika melihat Kuncara menahan napas sambil menyelam. Beberapa saat kemudian Kuncara menggapai-gapai dan buru-buru menyembulkan kepalanya mencari udara. Ririn tersenyum lega, ketika melihat wajah Kuncara muncul di permukaan air. Wajah Kuncara memerah, mungkin akibat terlalu lama menahan napas yang membuat dadanya hampir meledak.

Kasihan melihat Kuncara yang terengah-engah, Ririn ikut menceburkan diri ke sungai,  menghampiri Kuncara dan menepuk-nepuk pundaknya. Kuncara malah menangkap tangan Ririn, dan dipegangnya erat-erat. Ririn gelagapan ketika Kuncara menubruk badannya, mereka terbenam di dasar sungai sambil berguling-guling berpelukan.

Dada Ririn bergemuruh. Darah Kuncara berdesir-desir. Saat itulah jantung mereka rasanya mau pecah, karena sangat bahagia. Mungkin juga karena menahan napas di dasar sungai yang airnya mengalir perlahan. Mereka menyelam berpelukan, sambil saling bersitatap di dasar sungai yang airnya jernih. Mereka saling melempar senyum di dasar sungai. Mereka menyelam lagi. Lantas menyembulkan kepala ketika paru-paru mereka membutuhkan oksigen untuk bernapas. Dada mereka hendak meledak.

Tentu napas mereka sersengal-sengal. Ketika irama degup jantung mereka sudah teratur, Ririn memeluk Kuncara dan ia membalas pelukannya. Kuncara menatap mata Ririn dalam-dalam, dan ia tersenyum. Senyuman dengan tarikan bibir yang lebar, namun tak sepenuhnya terbuka. Nakal dan liar. Penuh arti.

Begitulah. Menjelang ujian kelulusan sekolah, terjadi prahara yang memenggal kisah bahagia Ririn dan Kuncara. Ayah Kuncara yang jaksa terlibat skandal korupsi di kota itu. Ternyata ayahnya menerima sogokan uang dalam perkara-perkara di pengadilan kota. Ayahnya dipecat secara tidak hormat, tak tahan menanggung malu, Kuncara sekeluarga pindah ke kota lain. Saat berpisah, Kuncara sempat berucap, keluarga mereka pindah ke sebuah kota berhawa sejuk di Jawa Barat. Sejak saat itu, Ririn kembali berwajah murung.

 

Epilog

Untuk mencapai kota kecil ini, tidaklah mudah. Aku dua kali berganti pesawat, dan menempuh perjalanan darat yang cukup melelahkan dengan sebuah bus. Kendaraan darat inilah yang membawaku melewati bulevar yang indah dan lurus. Sepanjang jalan raya yang lebar dan sunyi, deretan pepohonan di kiri-kanan berkelebat-kelebat, seolah saling berlomba, berlari saling mendahului. Pemandangan sepanjang jalan ini mampu meluruhkan semua kelelahanku.

Sebenarnya hal yang tersulit bukanlah menempuh perjalanan jauh menuju kota kecil ini dengan sungai-sungai yang membelahnya di sana-sini. Aku terpaksa berbohong pada istri dan anak-anak, perihal perjalananku ini. Itulah hal tersulit, berbohong pada istri dan anak-anakku.

Aku katakan kepada mereka, sebagai arkeolog, seorang teman mengabarkan bahwa ia telah menemukan seonggok fosil binatang purba di sebuah anak sungai di kota ini. Aku akan membantu temanku itu. Maka istri dan anak-anakku pun mahfum adanya. Mereka mengikhlaskan kepergianku sendirian, menuju kota seribu sungai itu.

Sejatinya, beberapa bulan terakhir ini batinku begitu tersiksa. Entah kenapa, entah apa yang membuatnya tersiksa. Aku pun tak tahu. Aku hanya merasa akan mati. Sebelum hidupku segera berakhir, aku ingin mengulang masa-masa bahagia yang pernah dialami –berpuluh-puluh tahun yang lalu –oleh Kuncara, saudara kembarku.

Kuncara tewas akibat kecelakaan lalu-lintas saat ia baru saja sampai di Bandung. Bayangan akan kematian terus menerus menghantuiku. Bahkan, aku pernah diam-diam melakukan medical check-up, namun hasil cek kesehatan menunjukkan, aku baik-baik saja. Kesimpulannya, di usiaku yang 37, aku lelaki dengan tingkat kesehatan prima. Secara fisik aku bugar, mentalku rapuh. Kematian menderaku. Apakah Kuncara sedang memanggilku? Aku sangat tak tahu.

Aku selalu merasa kematian mendekatiku, bagai bayangan yang selalu menguntitku. Sebelum mati, selama masih ada kesempatan, aku ingin mengulang kebahagiaan yang hampir meledakkan dada Kuncara, yang pernah ia ceritakan padaku melalui surat-surat saat kami masih SMP dulu. Kuncara tinggal bersama ayah dan ibu di sebuah kota kecil penuh sungai, aku tinggal bersama kakek dan nenekku di kota berhawa sejuk, Bandung.

Maka, sebulan yang lalu, kutulis  perihal pengalaman Kuncara mengayuh sepeda jalan-jalan di hutan-hutan kecil dan perbukitan bersama seorang gadis berwajah murung, di blog pribadiku, seolah-olah Kuncara itu adalah aku. Kutulis, aku dan gadis berwajah murung itu bercumbu di dasar sungai, dan melakukannya berkali-kali setiap hari. Kami saling mencintai, kami saling menyayangi, kami saling membutuhkan satu sama yang lain. Dalam pembukaan tulisan di blog, dengan gamblang kukatakan, sebelum ajal menjemput, aku ingin mengulang kenangan bahagia itu bersama gadis berwajah murung itu.

Berbagai komentar bermunculan. Reaksi atas tulisanku dalam tanda kutip, sangat vulgar tentunya, bermunculan dalam bentuk  komentar-komentar tertulis dari para blogger.

Ada yang secara lugas menyatakan ingin membunuhku, agar proses kematianku dijamin pasti dan cepat. Ada yang menceramahiku dengan mengutip kalimat dari ayat-ayat suci agama. Ada yang menertawai tulisanku dengan mengatakan sebagai cabul dan sampah. Namun, ada juga yang bersimpatik. Perempuan itu, menamai dirinya Anak Seribu Sungai.

Ia memberi komentar jernih dan menyenangkan hatiku. Ia berkata, apabila segala sesuatu yang aku tulis akan benar-benar terjadi, silahkan menghubungi alamat emailnya. Aku sempat terperangah, lalu kukunjungi profil blognya, Anak Seribu Sungai. Di situ aku menemukan alamat emailnya.

Begitulah. Kini aku sedang berhadap-hadapan dengannya. Perempuan cantik berwajah murung. Kami menikmati panasnya secangkir kopi arabika di sebuah kedai kopi sederhana berlantai batubata merah, sambil melamun. Membiarkan pikiran kami bercabang dan membentuk ceritanya sendiri-sendiri. Di sebuah kota kecil yang sunyi dengan jalan-jalan lebar dan sungai-sungai yang membelah seluruh bagian kota, kupastikan besok kami akan mandi di sungai. Menyelam dan menahan napas, sambil bergumul tentunya!

Hujan mendadak reda. Kabut asap rokok pun semakin menipis, pengunjung kedai kopi mulai berangsur-angsur surut. Bangku-bangku kini kosong. Ririn dan aku tersentak dari lamunan masing-masing. Aku tersenyum dengan tarikan bibir yang lebar, namun tak sepenuhnya terbuka. Sehingga terkesan seperti senyuman nakal yang penuh arti. Ririn sangat menikmati ketika senyumku mengembang.

 

”Kuncara,” desisnya.***

 

Jakarta, 13 Agustus 2010

 

 

13 Comments to "Sepenggal Kisah di Antara Prolog dan Epilog"

  1. Handoko Widagdo  2 May, 2011 at 08:33

    BC, terima kasih. Indah.

  2. Dewi Aichi  2 May, 2011 at 08:14

    Anoew….kok malah kayak ular to he he

  3. anoew  1 May, 2011 at 21:15

    Cinta Lama Bersemi Kembali?

    ”Kuncara,” desisnya.

    Ah Ririn… (mendesis juga)

    sssh..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.