Botok Sarang Tawon ala Kediri

Osa Kurniawan Ilham

 

Waktu saya bertumbuh dan dibesarkan di Kediri, Jawa Timur saya memiliki pengalaman yang membekas bahwa bagi orang Kediri segala hal bisa dimakan tergantung bagaimana mengolahnya. Kali ini saya mau berbagi tentang botok (nulisnya botok atau bothok ya ?!)

Bagi Anda yang masih asing dengan botok, botok adalah makanan yang diolah dengan racikan bumbu tertentu, dimasukkan ke dalam bungkus daun pisang lalu ditanak seperti kita menanak nasi. Satu hal yang tidak bisa saya lupakan, selama proses menanak ini muncullah bau harum racikan bumbunya yang begitu harum dan enak berkombinasi dengan bau harum dari daun pisang yang ditanak.

Nah di Kediri dulu terdapat banyak model botok. Dan bagi saya, ibunda adalah pakar di bidang per-botok-an ini. Segala macam botok bisa dibuat. Ada botok lamtoro dengan bahan dasar lamtoro dicampur parutan kelapa dan bumbunya, terkadang biar lengkap ditambahkan tahu atau tempe dalam potongan kecil. Saya ingat dulu kala gaji Bapak sebagai guru SD miskin sudah habis di tengah bulan, Ibunda terkadang membuat botok lamtoro. Tidak di dalam bungkus daun pisang, tapi langsung di dalam panci besar.

Jadi pada saat-saat miskin seperti itu, kala saya pulang sekolah langsung saja saya ambil nasi lalu buka panci berisi botok lamtoro. Itulah sayur, sekaligus lauk pauk kami hari itu. Terkadang kalau harga lamtoro naik, Ibunda membuat lamtoro hanya dari parutan kelapa saja tanpa lamtoro. Terkadang juga mencampurnya dengan sedikit tahu atau tempe, tetap tanpa lamtoro.

Kalau ada sedikit rejeki atau ada ayam piaraan yang sudah waktunya disembelih, Ibunda akan membuat botok ayam dengan bahan dasar daging dan jerohan ayam beserta bumbu rujaknya.

Ada botok sembukan, ini yang menarik. Bahan dasar botok ini adalah sembukan, sebuah tanaman menjalar yang biasanya tumbuh liar di pagar atau kebun, dicampur dengan parutan kelapa dan bumbunya. Botok sembukan ini rasanya unik dan gurih. Saat Anda memakannya, Anda akan terasa enak di perut. Tapi hati-hati karena sehabis itu Anda akan sering kentut dengan bau yang khas he..he…yang bisa membuat pingsan orang di sekitar Anda he..he..Tapi benar lho, botok sembukan ini bermanfaat untuk membersihkan lambung dan saluran pencernakan walau ada efek samping seperti itu.

Lalu ada botok luntas, dibuat dari daun beluntas yang biasanya dimanfaatkan sebagai pagar hidup di kampung saya. Lagi-lagi bahan dasarnya adalah parutan kelapa dan racikan bumbu yang tidak jauh berbeda dari botok-botok sebelumnya tadi. Botok luntas ini punya khasiat mengurangi bau tak sedap dari keringat Anda. Karena itu saat masa puber tiba, dulu Ibunda sering membuat botok luntas ini untuk mengurangi bau keringat saya yang minta ampun he…he..

Ada juga botok jantung pisang, yang bahan dasarnya adalah jantung pisang dengan (lagi-lagi) parutan kelapa dan racikan bumbu yang nggak jauh berbeda. Tampaknya bagi orang kampung seperti saya, kalau ada orang yang meninggal karena kelaparan itu bak orang yang ditimpa nasib yang paling sial. Wong asal punya kelapa lalu diparut, lalu punya tempe busuk, cabe, bawang merah, bawang putih berikutnya pergi ke kebun untuk cari jantung pisang, daun beluntas atau daun sembukan sudah cukup untuk membuat lauk pauk yang bergizi tinggi.

Anda tahu madu? Madu dihasilkan sebagai perasan sarang tawon yang memang sebelumnya penuh dengan madu (yang sebenarnya digunakan sebagai lumbung pangan oleh koloni tawon tersebut). Tapi terkadang ada sarang tawon yang tidak menghasilkan madu dalam jumlah banyak. Nah, bagi orang Kediri sarang tawon yang seperti ini dimanfaatkan sebagai botok sarang tawon. Penasaran ?!

Anda cukup membeli sarang tawon yang terlihat segar (biasanya di dalamnya masih terdapat beberapa tawon hidup dengan anak-anaknya yang masih berbentuk larva atau ulat. (Ulat?! he..he..) Lalu buatlah bumbu rujak dengan bahan dasar tomat, cabe, bawang merah, bawang putih, kemiri dan santan kelapa. Setelah bumbu rujak selesai, potong-potonglah sarang tawon yang sudah dibersihkan tadi dalam ukuran sedang lalu campurkan ke bumbu rujak.

Berikutnya masukkan sarang tawon dan bumbu rujak ke dalam bungkus daun pisang lalu ditanak seperti biasa. Rasanya? Ueeeenak tenan dan maknyus, kalau kata Pak Bondan he..he..

Sarang tawon ini gizinya sangat tinggi, terutama proteinnya. Karena di dalamnya ada madu dan daging ulat tawon yang berprotein tinggi. Mungkin bagi Anda yang sudah kelebihan gizi (seperti pengidap kolestrol tinggi) mungkin tidak cocok makan botok ini. Tapi kalau sekali dua kali tidak apa-apa toh, asal tidak tiap hari ?! he..he..Juga bagi Anda yang sensitif dengan serangga, mungkin Anda harus berhati-hati mencicipi menu sehat ala Kediri ini.

Seingat saya, saat terakhir mencicipi botok sarang tawon ini adalah saat saya masih di tahun pertama kuliah. Jadi kira-kira sudah 18 tahun yang lalu. Setelah mengembara ke sana ke mari tidak pernah lagi saya mencicipi sarang tawon ini. Sehingga kerinduan untuk menikmati sarang tawon itu selalu memenuhi hasrat saya kala pulang kampung.

Sayang Ibunda sudah kembali pulang ke Rumah Tuhan tahun 2007 yang lalu, meninggalkan saya yang tidak kunjung bisa memuaskan hasrat untuk menikmati botok yang menjadi salah satu keahlian Ibunda kala beliau masih bersama kami. Setiap meminta ke isteri tercinta untuk membuatkan, dia selalu mengatakan tidak tahu cara membuatnya karena memang belum pernah melihat dan memakannya.

Akhirnya kesempatan itu pun tiba. Saat pulang kampung akhir tahun lalu, saya merayu tante yang juga adik dari Ibunda untuk dibuatkan botok sarang tawon. Sang tante setuju. Lalu langsung saja saya dan isteri pergi ke Pasar Setono Betek Kediri untuk mencari sarang tawon yang masih segar dan bagus. Kami pun membeli 0,5 kg dengan harga yang cukup murah, tidak sampai Rp. 30 ribu.

Keesokan harinya tante saya yang baik hati ini rela pergi ke pasar terdekat untuk mencari bumbu untuk membuatkan pesanan botok dari keponakan tersayangnya ini. Dan bisa ditebak akhir ceritanya………akhirnya hari itu saya bisa mencicipi kembali botok sarang tawon yang saya idam-idamkan hampir 18 tahun itu. Isteri dan anak-anak juga menikmatinya, itulak kali pertama mereka mencicipi botok sarang tawon lengkap dengan ulat-ulat tawonnya itu he..he…Inilah gambar dari botok tawon yang dengan bangga saya ceritakan di atas.

Kala menulis ini saya kok jadi teringat dan rindu dengan almarhum Ibunda ya?! Terima kasih Bunda atas jasa-jasamu memelihara dan membesarkan saya dan adik-adik, dengan segala kreativitas dan jerih payahmu di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sulit saat itu. Kiranya Tuhan memangku Bunda saat ini sebagai penghargaan atas perjuangan Bunda bagi kami anak-anakmu. Amin.

 

Foto: koleksi pribadi

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 2 April 2010)

 

 

60 Comments to "Botok Sarang Tawon ala Kediri"

  1. Handoko Widagdo  10 May, 2011 at 12:37

    Bagai buntil di daun talas?

  2. Lani  5 May, 2011 at 08:49

    OKI betoooooool…….pdhal di Hawaii wokeh daun talas…….cm aku males bikinnya………maunya beli dan tinggal ngemplok

  3. Osa Kurniawan Ilham  5 May, 2011 at 08:44

    Buntil, the most delicious and spicy food in the world he..he..
    Makanan kayak gini ni sederhana tapi memang ngangeni

  4. Lani  5 May, 2011 at 01:02

    HENNIE jangan2 yg dibungkus sama daun keladi itu BUNTIL????? wadooooooh……..ngomongin ini jd ngilerrrrrrr…………kethes2 iki……pie jal???? buntil……oh buntillllllllll………….

  5. HennieTriana Oberst  5 May, 2011 at 00:42

    Lani, iya namanya beda, tapi sebenarnya makanan sejenis ya.
    Yang aku kenal cuma yang dibungkus daun keladi itu, kalau daun pisang belum pernah lihat. Soalnya memang ini nggak dikenal di Medan, kecuali di keluarga ada yang mengenalkan.
    hihihi…aku membayangkan makan tawon dan sarangnya saja sudah bergidik

  6. Lani  5 May, 2011 at 00:12

    HENNIE pelas=bothok cm namanya aja beda…….mmg kdg klu belum coba gak tau, gak mau…….aku malah aneh, pete, jengkol, gak mau makan tp bayi tawon malah suka banget disambelin enaaaaaaak, manis, dan pating kretes……

  7. HennieTriana Oberst  4 May, 2011 at 23:44

    Osa, aku baru tau ada makanan model begini, beneran sarang tawon dan bayi tawonnya dimakan? Kalau ada yang bilang sebelum nyoba, pasti aku nggak bakalan berani makannya hehehe.. Mesti dirasakan dulu baru bisa disebutkan enaknya ya.

    Makanan seperti ini aku kenal namanya Pelas. Dulu almarhumah Ibuku suka bikinnya, tapi dibungkus dengan daun keladi. Aduhhhh…aku jadi kangen Ibu

  8. Lani  4 May, 2011 at 23:26

    HAND klu dikau mertamu……..aku rak sah masak…….dilepas aja kamu iso gosek2 dewe………semuanya ada, tinggal nyomot asal rak konangan mengko malah benjoooooooot kkkkkkkkk

  9. Saras Jelita  4 May, 2011 at 23:15

    Besok kalo mampir ke Kost Ungu bawa ya Ham thanks

  10. Handoko Widagdo  4 May, 2011 at 11:19

    Lani, kalau saya mertamu, bisa langsung dilepas di dapur untuk cari coro

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Image (JPEG, max 50KB, please)