Mencari Yang Tersembunyi

Ida Cholisa

 

Entah sudah berapa kali aku harus bolak-balik ke rumah sakit. Tempat yang dahulu aku benci kini menjadi tempat “favorit” yang terpaksa aku senangi. Ya, terpaksa, karena sesungguhnya aku sangat ingin menghindarinya.

Kenyang rasanya. Kenyang dengan bermacam tindakan yang melelahkan. Kadang aku jenuh. Kadang putus asa. Kadang semangat kembali menyala. Kadang kembali kecewa, bahkan tak ada gairah tuk bertahan lama.

Pasang surut. Itu yang selalu aku rasa. Marah yang tertahan, yang terkadang ingin aku ledakkan. Tapi marah pada siapa?

Hari ini aku kembali  menuju rumah sakit. Ini gedung rumah sakit yang tak sama dengan gedung rumah sakit yang pertama. Sengaja aku memilih rumah sakit yang berbeda demi menghindari “omelan” dokter akibat “kabur”ku dari rumah sakit dua bulan silam, akibat rasa takut dan tak siap dengan operasi pengangkatan.

“Jangan takut Mbak. Hadapi semuanya, tetap semangat. Ikuti apa kata dokter.” Seorang Ibu paruh baya mantan penderita kanker yang masih terlihat cantik memberi semangat kepadaku, saat ia mendapatiku stress mendengar vonis dan saran dokter dua bulan silam.

“Jangan sekali-kali Mbak tergiur dengan pengobatan herbal, banyak kecewanya. Teman saya sampai habis-habisan tapi tak ada hasil yang menggembirakan. Akhirnya ia kembali ke dokter setelah keadaannya semakin parah.”

Aku terdiam mendengar nasehat sang Ibu tersebut. Tapi apa mau di kata, aku terlanjur takut dengan bayangan kemoterapi, sebuah tindakan yang sangat aku hindari. Itulah sebabnya aku tak berhasrat sama sekali untuk melakukannya. Sedapat mungkin aku lari dari kata operasi dan kemoterapi maupun radiasi. I’m afraid of them!

“Bu, sebelum memutuskan operasi ada baiknya Ibu simak acara di salah satu stasiun televisi.” Mudah-mudahan bisa membantu Ibu.”

Aku penasaran. Acara apa gerangan? Benar adanya, pengobatan kanker tanpa operasi di sebuah kota. Bukan memakai unsur mejik, melainkan menggunakan ramuan jitu yang konon bisa menyembuhkan kanker hingga tuntas ke akar-akarnya.

“Berapa biaya yang diperlukan untuk penghobatan?” Suamiku bertanya.

Sang terapis menyebutkan nominal belasan juta rupiah untuk setiap paket yang hanya diperuntukkan untuk beberapa hari. Untuk mencapai pengobatan tuntas bisa mencapai ratusan juta rupiah. Dan bodohnya aku, saat itu aku begitu terhipnotis dan mempercayainya begitu saja. Kurogoh kocek puluhan juta rupiah demi kesembuhan yang paripurna. Begitu optimis aku saat itu!

“Bagaimana, ada perubahan?” Sang terapis bertanya.

Aku menggeleng. Bahkan benjolan kankerku semakin membesar, hingga aku mengalami kesulitan memakai  baju yang mana yang masih muat aku pakai untuk mengajar.

Segala macam pengobatan herbal aku jalani. Demi kesembuhan. Yang penting bukan melalui operasi maupun kemoterapi. Harga gila-gilaan dari berbagai produk herbal tak jadi soal buat aku. Meski nilainya bahkan melebihi biaya operasi maupun kemoterapi, aku tetap menjalani. Entah berapa jenis herbal telah menghantam tubuhku.

Adakah kemajuan yang nampak pada kankerku?

Tidak. Bahkan benjolan di payudaraku semakin membesar. Seperti orang menyusui, bahkan lebih dari itu. Bra yang kukenakan tak lagi simetris. Itulah sebabnya setiap mengajar aku menggunakan bantalan dua buah busa di payudara kiriku, agar nampak seimbang dengan payudara kanan. Tapi tetap saja kelihatan.

Anehnya, aku tak merasakan sakit pada fisikku. Aku tak mengalami gejala-gejala seperti para pengidap kanker pada umumnya. Badanku bugar seperti tak ada apa-apa. Bahkan aku mampu mengerjakan segala macam pekerjaan tanpa ada hambatan apapun. Namun yang pasti, benjolan itu semakin besar dan hasil lab menunjukkan bahwa aku memang menderita kanker stadium 3+.

Kini, setelah pengobatan segala macam aku jalani dan tak mendapatkan hasil maksimal dalam hal ini, aku mulai gundah. Saran dokter dan puluhan rekan serta anggota keluarga lamat-lamat mulai aku resapi. Seperti mendapat kemantapan aku mulai mengiyakan perkataan mereka. Tak ada jalan lagi. Kembali ke dokter sepertinya jalan yang harus aku ambil. Mantap kukatakan diriku; aku akan jalani operasi itu. Meski aku harus kehilangan payudaraku. Mantap kujalani kemoterapi itu. Meski efek apapun aku diderita tubuhku.

Tapi ternyata, kemantapanku porak-poranda oleh sebuah kenyataan; kanker payudaraku tak bisa lagi dioperasi!

“Benjolan payudara Ibu sudah sangat besar. Tak bisa lagi dioperasi. Berbahaya.” Sang dokter berkata kepadaku, usai pemeriksaan terhadap diriku.

“Terus gimana, Dok?”

“Yah, harus dikemo dulu. Minimal tiga kali. Setelah benjolan mengecil, baru dilakukan operasi.”

Aku terdiam. Bayangan kemo yang menakutkan ternyata lebih dulu datang menghantam!

“Kalau sudah kemo selama tiga kali, tapi benjolan tak juga mengecil, nanti bagaimana, Dok?” Harap-harap cemas aku bertanya.

“Tambahin lagi dosis kemonya.” Singkat ia  menjawab.

Tuhan. Aku memekik. Bumi serasa berputar.

“Ada lagi yang mau ditanyakan? Hari ini silahkan ibu jalani pemeriksaan dari awal lagi, sebelum saya lakukan tindakan kemoterapi. Rontgen, USG, echo, serta biopsi. Untuk biopsi sekarang bukan lagi memakai jarum, tetapi dilakukan pembedahan pada payudara Ibu, diambil kelenjarnya, diperiksa kembali di lab.”

Aku luruh dalam bayangan yang melelahkan. Beruntung, dokter tak memintaku untuk dilakukan bone scan. Tapi tak tahu nanti jika menjelang operasi. Ia memintanya atau tidak. Untuk menuju kemo saja aku harus menjalani serangkaian pemeriksaan seperti ini. Speechless!

Bersama suamiku, aku menuju ruang diagnostik. Meminta tindakan echo dan segala macam. Sang petugas radiologi memberiku jadwal dengan perjanjian. Biopsi hari Senin mendatang, echo hari Selasa. USG dan rontgen serta pengambilan urine dan darah bisa hari ini.

Tuhan. Aku lelah. Lelah fisik, mental serta biaya. Aku sempat menunjukkan rasa marah. Untuk beberapa saat aku berendam dalam gejolak emosi. Ingin aku lempar botol urine yang diberikan suamiku. Rasa putus asaku sempat memporak-porandakan keteguhan suamiku. Kami terdiam dalam masing-masing gejolak perasaan. Untuk sesaat. Pada akhirnya aku bangkit. Aku ikuti rangkaian pemeriksaan. Bagian bawah daun telingaku disuntik untuk mengambil sampel darah, untuk mengetahui masa darah. Tindakan ini lazim dilakukan sebelum tindakan operasi. Kemudian pengambilan darah untuk pemeriksaan segala macam. Kemudian urine. Kemudian rontgen. Bolak-balik tak karuan.

Kami menuju mushola rumah sakit. Aku duduk di teras mushola. Kuselonjorkan kaki. Kuhempas semua kepenatan. Kubuang semua kepahitan. Aku duduk dalam ketidakberdayaan. Langit kelam. Mendung menggantung di balik awan, untuk kemudian menurunkan lebatnya hujan. Kepahitanku bergemuruh seiring derasnya hujan yang mulai runtuh…

Mataku menelanjangi langit, hingga kemudian tak sengaja kutatap tulisan indah yang terpahat di gerbang pintu masuk rumah sakit. “Dan apabila aku ditimpa penyakit, maka Allah adalah sebaik-baik penyembuh.”

Aku terkesiap. Kalimat itu begitu meresap. Selama ini aku bersandar pada berbagai macam pengobatan, tetapi sandaranku kepada Tuhan tak begitu menghujam. Aku menyapa Tuhan tapi sapaanku biasa saja. Bukan dengan sapaan lembut penuh harap, terlebih penuh cinta. Aku merindu Tuhan tapi kerinduanku tak bernafas apa-apa. Aku mencintai Tuhan tapi gairah cintaku biasa saja. Aku menempatkan dunia melebihi sang pencipta dunia. Aku membutuhkan Tuhan tapi aku sering lambat menyapaNya…

Tuhan memanggilku. Melalui sakit Ia mengingatkanku. Tuhan masih menyayangiku. Bahkan dalam sentilan yang Ia berikan kepadaku, Ia turunkan berbagai rahmat kepadaku. DiberiNya aku kesulitan, tapi kemudian diberiNya aku kemudahan. DiperlihatkanNya aku kesusahan, tapi kemudian ditampakkanNya padaku kesenangan. DiturunkanNya aku aral yang melintang, tapi dihadiahkanNya aku banyak dewa penolong yang tak terduga dan tak terbayangkan…

Hujan masih menderaskan airnya. Basah membasahi bumi. Aku menuju Tuhan, menghamparkan segenap cinta, harap dan penghambaan…

***

Kami melangkah pulang. Pikiranku dipenuhi berbagai ganjalan. Perang batin berkecamuk.

“Aku tak lagi mempercayai pengobatan herbal. Kukatakan pada dunia, jangan percaya pada janji belaka!”

“Sudahlah, Dek. Ikhlaskan saja. Jangan mengingat yang sudah lewat. Jangan menoleh ke belakang. Tatap ke depan. Mudah-mudahan apa yang sudah kita lakukan bernilai ibadah.” Suamiku menghiburku.

“Iya, tapi aku kesal pada janji sang terapis. Berapa banyak orang seperti aku yang terkuras uangnya demi janji manis mulutnya?”

“Ikhlaskan saja, Dek. Itung-itung kita memberi makan para karyawan di tempat pengobatan itu. Coba kalau kita tak sempat berobat di sana, bagaimana mereka menggaji karyawannya? Kita telah berusaha, dan ini mungkin jalan kita. Kembali ke dokter. Tak usah disesali yang sudah lewat.”

“Aku tak menyesali masalah biaya. Tapi karena terhipnotis janji penyembuhan itu, aku begini akibatnya. Fatal.”

Mobil yang dikendarai suami hampir bersenggolan dengan kijang putih yang muncul dari arah belakang. Syukurlah tak terjadi ciuman. Ah, konsentrasi suamiku terganggu dengan letupan rasa kesalku…

Kami sampai di rumah menjelang Maghrib. Kuhempaskan badanku di kursi depan TV. Duduk. Dengan beragam perasaan yang terus berkecamuk.

“Gimana, jadi operasinya kapan?” Saudara perempuanku, yang kebetulan datang untuk menemani anak-anakku, bertanya kepadaku.

“Ah, terlambat. Sudah tak bisa dioperasi.”

“Terus?”

“Suruh kemoterapi, minimal tiga kali. Setelah itu baru tindakan operasi.”

Suasana hening.

“Ini akibat kebodohanku. Lari dari dokter.”

Kegundahan terus menyergap jiwa. Tak tahu aku mesti berbuat apa. Tak ada pilihan lain. Semua serasa buntu. Gelap. Pekat. Bayangan kemoterapi dan operasi yang selama ini aku takuti, hingga sekuat tenaga aku berusaha menghindari, ternyata justru berlari kencang menghampiri. Hingga tak ada celah sedikitpun bagiku untuk bersembunyi. Apalagi berlari menjauhi.

Sungguh. Andaikan bisa aku ingin kembali memutar jarum jam. Kembali menuju ke dokter awal, dokter yang memintaku untuk dilakukan operasi pengangkatan seperti dulu. Aku tak takut lagi pada kata operasi. Tapi nasi telah menjadi bubur. Semuanya telah terlanjur. Di saat aku telah mantap memilih operasi, ternyata kondisiku tak memungkinkan lagi. Ada kegalauan di hatiku. Seandainya boleh membandingkan, tentu aku lebih memilih tindakan operasi dilanjutkan kemoterapi, daripada kemoterapi berulangkali dilanjutkan tindakan operasi. Fisikku, ya fisikku pasca kemoterapi, bakal seperti apa? Sanggupkah aku menanggung sakit pasca operasi?

Pelan tapi pasti, yang kutakuti akan datang  menghampiri. Tak bisa aku menghindari. Yang mampu aku lakukan adalah bertahan dan bersabar. Berjuang sekuat tenaga agar detik demi detik hidupku berjalan dengan penuh arti. Meski selalu naik turun perasaanku, aku tetap berusaha menjaga semangat itu, semangat untuk sembuh. Meski sebenarnya semangat itu tak selalu penuh.

Tugasku hanya berusaha. Berjuang dan berupaya. Tentang hasil biarlah menjadi urusanNya. Aku berharap aku bisa sembuh, meski tertatih-tatih aku mendapatkannya. Jika memang kesembuhan tak berpihak padaku, dan kematian pada akhirnya menghampiriku, aku pun pasrah menghadapinya. Mudah-mudahan perjuangan besarku akan dicatat sebagai amal olehNya. Mudah-mudahan rasa sakitku akan berbuah manis di alam sana.

Aku hanya berharap, baktiku sebagai istri dan ibu untuk dua anakku telah kutunaikan dengan sempurna…***

 

Bogor, Oktober 2010-

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung ibu Ida. Terima kasih mau berbagi pengalaman hidup yang luar biasa di Baltyra sini. Make yourself at home…

 

 

48 Comments to "Mencari Yang Tersembunyi"

  1. Itsmi  6 May, 2011 at 14:43

    Kornelya, nafas untuk saya itu kerjaannya kimia dan saya berada di dunia hanya kebetulan aja

  2. Ida Cholisa  6 May, 2011 at 11:15

    @Hennie; Makasih Mbak Hennie…., mari kita belajar menghargai hidup n kesehatan…

    @Kornelya; thanks friend…., sukses selalu ya…

  3. Kornelya  6 May, 2011 at 00:19

    Itsmi, selagi nafas nyangkut dibadan dan hidup berkecukupan jangan takabur, Itsmi boleh menyankal adanya Tuhan, tetapi karena rahmat karuniaNyalah Itsmi ada dan hidup.

  4. HennieTriana Oberst  6 May, 2011 at 00:12

    Selamat bergabung mbak Ida. Semoga sehat selalu.
    Terima kasih tulisannya, mengharukan.

  5. Itsmi  5 May, 2011 at 23:30

    Ida,tanpa logika, sains kita tidak mampu membuktikan omong kosong seperti apa yang kamu tulis. tanpa sain, logika, kami masih hidup di jaman batu. Dengan sain saya tau dunia jadi kecil dan kalau saya mau weekend saya berada di Indonesi.

    Ida, kamu bisa berpikir dan bersembayang sampai mulut bergabuh tetapi tanpa pengetahuan dan teknologi, kamu sudah mati dengan kanker. Ini bisa di bukttikan.

    Kalau kamu tidak mau Tuhan di debatkan, jangan sebut sebut nama Allah di sosial media karena ini terbuka untuk publik.

    Tapi, saya mengerti kamu tidak mau banyak buang kata karena memang tidak ada kata lagi….

    Mat makan bebek tapi kamu juga tau kan bahwa bebek itu juga mahluk hidup.

  6. Ida Cholisa  5 May, 2011 at 22:44

    @Non Sibi; makasih banyak ya….., salam kenal….

  7. non sibi  5 May, 2011 at 22:18

    Ibu Ida, cobaan datang ke kita karena kita pasti kuat menanggungnya. Itu saya sungguh percaya. Meskipun dinyatakan sembuh, jangan lupa kontrol rutin ke dokter ya Bu, supaya benar2 terbukti akar2 sel kanker sdh lenyap.

  8. Ida Cholisa  5 May, 2011 at 19:10

    Dear Itsme, semakin banyak dikau berpendapat, semakin ngawur ucapanmu, heheehehe….
    Akal bukan segalanya, sahabat. Akal bukan dewa. Coba lihat, jika seseorang telah kehilangan akal, bisakah ucapan2nya dipercaya? Ada yang lebih tinggi dari akal, Dialah Tuhan. Jadi kau tak bisa melihat segala sesuatu hanya berdasarkan akalmu saja.
    Sudahlah Itsme, berhentilah bicara sesuatu yang sia-sia. Tak ada gunanya berdebat. Hanya menambah pusing kepala. Perdebatan yang sia-sia tak akan ada manfaatnya, hanya membuang waktu saja. Lebih baik bicara yang lain saja. Jika kau menganggap dirimu tak bertuhan, mengapa seringkali kau singgung masalah Tuhan? Bagiku keyakinanku, bagimu keyakinanmu. Sudah, cukup itu. Sebab percuma saja membuang banyak kata, tak ada manfaatnya.
    Oke?
    Pamit dulu ya, mau makan malam nih. Lauk bebek goreng sambel korek enak banget nih….., mau?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.