Mencari Yang Tersembunyi

Ida Cholisa

 

Entah sudah berapa kali aku harus bolak-balik ke rumah sakit. Tempat yang dahulu aku benci kini menjadi tempat “favorit” yang terpaksa aku senangi. Ya, terpaksa, karena sesungguhnya aku sangat ingin menghindarinya.

Kenyang rasanya. Kenyang dengan bermacam tindakan yang melelahkan. Kadang aku jenuh. Kadang putus asa. Kadang semangat kembali menyala. Kadang kembali kecewa, bahkan tak ada gairah tuk bertahan lama.

Pasang surut. Itu yang selalu aku rasa. Marah yang tertahan, yang terkadang ingin aku ledakkan. Tapi marah pada siapa?

Hari ini aku kembali  menuju rumah sakit. Ini gedung rumah sakit yang tak sama dengan gedung rumah sakit yang pertama. Sengaja aku memilih rumah sakit yang berbeda demi menghindari “omelan” dokter akibat “kabur”ku dari rumah sakit dua bulan silam, akibat rasa takut dan tak siap dengan operasi pengangkatan.

“Jangan takut Mbak. Hadapi semuanya, tetap semangat. Ikuti apa kata dokter.” Seorang Ibu paruh baya mantan penderita kanker yang masih terlihat cantik memberi semangat kepadaku, saat ia mendapatiku stress mendengar vonis dan saran dokter dua bulan silam.

“Jangan sekali-kali Mbak tergiur dengan pengobatan herbal, banyak kecewanya. Teman saya sampai habis-habisan tapi tak ada hasil yang menggembirakan. Akhirnya ia kembali ke dokter setelah keadaannya semakin parah.”

Aku terdiam mendengar nasehat sang Ibu tersebut. Tapi apa mau di kata, aku terlanjur takut dengan bayangan kemoterapi, sebuah tindakan yang sangat aku hindari. Itulah sebabnya aku tak berhasrat sama sekali untuk melakukannya. Sedapat mungkin aku lari dari kata operasi dan kemoterapi maupun radiasi. I’m afraid of them!

“Bu, sebelum memutuskan operasi ada baiknya Ibu simak acara di salah satu stasiun televisi.” Mudah-mudahan bisa membantu Ibu.”

Aku penasaran. Acara apa gerangan? Benar adanya, pengobatan kanker tanpa operasi di sebuah kota. Bukan memakai unsur mejik, melainkan menggunakan ramuan jitu yang konon bisa menyembuhkan kanker hingga tuntas ke akar-akarnya.

“Berapa biaya yang diperlukan untuk penghobatan?” Suamiku bertanya.

Sang terapis menyebutkan nominal belasan juta rupiah untuk setiap paket yang hanya diperuntukkan untuk beberapa hari. Untuk mencapai pengobatan tuntas bisa mencapai ratusan juta rupiah. Dan bodohnya aku, saat itu aku begitu terhipnotis dan mempercayainya begitu saja. Kurogoh kocek puluhan juta rupiah demi kesembuhan yang paripurna. Begitu optimis aku saat itu!

“Bagaimana, ada perubahan?” Sang terapis bertanya.

Aku menggeleng. Bahkan benjolan kankerku semakin membesar, hingga aku mengalami kesulitan memakai  baju yang mana yang masih muat aku pakai untuk mengajar.

Segala macam pengobatan herbal aku jalani. Demi kesembuhan. Yang penting bukan melalui operasi maupun kemoterapi. Harga gila-gilaan dari berbagai produk herbal tak jadi soal buat aku. Meski nilainya bahkan melebihi biaya operasi maupun kemoterapi, aku tetap menjalani. Entah berapa jenis herbal telah menghantam tubuhku.

Adakah kemajuan yang nampak pada kankerku?

Tidak. Bahkan benjolan di payudaraku semakin membesar. Seperti orang menyusui, bahkan lebih dari itu. Bra yang kukenakan tak lagi simetris. Itulah sebabnya setiap mengajar aku menggunakan bantalan dua buah busa di payudara kiriku, agar nampak seimbang dengan payudara kanan. Tapi tetap saja kelihatan.

Anehnya, aku tak merasakan sakit pada fisikku. Aku tak mengalami gejala-gejala seperti para pengidap kanker pada umumnya. Badanku bugar seperti tak ada apa-apa. Bahkan aku mampu mengerjakan segala macam pekerjaan tanpa ada hambatan apapun. Namun yang pasti, benjolan itu semakin besar dan hasil lab menunjukkan bahwa aku memang menderita kanker stadium 3+.

Kini, setelah pengobatan segala macam aku jalani dan tak mendapatkan hasil maksimal dalam hal ini, aku mulai gundah. Saran dokter dan puluhan rekan serta anggota keluarga lamat-lamat mulai aku resapi. Seperti mendapat kemantapan aku mulai mengiyakan perkataan mereka. Tak ada jalan lagi. Kembali ke dokter sepertinya jalan yang harus aku ambil. Mantap kukatakan diriku; aku akan jalani operasi itu. Meski aku harus kehilangan payudaraku. Mantap kujalani kemoterapi itu. Meski efek apapun aku diderita tubuhku.

Tapi ternyata, kemantapanku porak-poranda oleh sebuah kenyataan; kanker payudaraku tak bisa lagi dioperasi!

“Benjolan payudara Ibu sudah sangat besar. Tak bisa lagi dioperasi. Berbahaya.” Sang dokter berkata kepadaku, usai pemeriksaan terhadap diriku.

“Terus gimana, Dok?”

“Yah, harus dikemo dulu. Minimal tiga kali. Setelah benjolan mengecil, baru dilakukan operasi.”

Aku terdiam. Bayangan kemo yang menakutkan ternyata lebih dulu datang menghantam!

“Kalau sudah kemo selama tiga kali, tapi benjolan tak juga mengecil, nanti bagaimana, Dok?” Harap-harap cemas aku bertanya.

“Tambahin lagi dosis kemonya.” Singkat ia  menjawab.

Tuhan. Aku memekik. Bumi serasa berputar.

“Ada lagi yang mau ditanyakan? Hari ini silahkan ibu jalani pemeriksaan dari awal lagi, sebelum saya lakukan tindakan kemoterapi. Rontgen, USG, echo, serta biopsi. Untuk biopsi sekarang bukan lagi memakai jarum, tetapi dilakukan pembedahan pada payudara Ibu, diambil kelenjarnya, diperiksa kembali di lab.”

Aku luruh dalam bayangan yang melelahkan. Beruntung, dokter tak memintaku untuk dilakukan bone scan. Tapi tak tahu nanti jika menjelang operasi. Ia memintanya atau tidak. Untuk menuju kemo saja aku harus menjalani serangkaian pemeriksaan seperti ini. Speechless!

Bersama suamiku, aku menuju ruang diagnostik. Meminta tindakan echo dan segala macam. Sang petugas radiologi memberiku jadwal dengan perjanjian. Biopsi hari Senin mendatang, echo hari Selasa. USG dan rontgen serta pengambilan urine dan darah bisa hari ini.

Tuhan. Aku lelah. Lelah fisik, mental serta biaya. Aku sempat menunjukkan rasa marah. Untuk beberapa saat aku berendam dalam gejolak emosi. Ingin aku lempar botol urine yang diberikan suamiku. Rasa putus asaku sempat memporak-porandakan keteguhan suamiku. Kami terdiam dalam masing-masing gejolak perasaan. Untuk sesaat. Pada akhirnya aku bangkit. Aku ikuti rangkaian pemeriksaan. Bagian bawah daun telingaku disuntik untuk mengambil sampel darah, untuk mengetahui masa darah. Tindakan ini lazim dilakukan sebelum tindakan operasi. Kemudian pengambilan darah untuk pemeriksaan segala macam. Kemudian urine. Kemudian rontgen. Bolak-balik tak karuan.

Kami menuju mushola rumah sakit. Aku duduk di teras mushola. Kuselonjorkan kaki. Kuhempas semua kepenatan. Kubuang semua kepahitan. Aku duduk dalam ketidakberdayaan. Langit kelam. Mendung menggantung di balik awan, untuk kemudian menurunkan lebatnya hujan. Kepahitanku bergemuruh seiring derasnya hujan yang mulai runtuh…

Mataku menelanjangi langit, hingga kemudian tak sengaja kutatap tulisan indah yang terpahat di gerbang pintu masuk rumah sakit. “Dan apabila aku ditimpa penyakit, maka Allah adalah sebaik-baik penyembuh.”

Aku terkesiap. Kalimat itu begitu meresap. Selama ini aku bersandar pada berbagai macam pengobatan, tetapi sandaranku kepada Tuhan tak begitu menghujam. Aku menyapa Tuhan tapi sapaanku biasa saja. Bukan dengan sapaan lembut penuh harap, terlebih penuh cinta. Aku merindu Tuhan tapi kerinduanku tak bernafas apa-apa. Aku mencintai Tuhan tapi gairah cintaku biasa saja. Aku menempatkan dunia melebihi sang pencipta dunia. Aku membutuhkan Tuhan tapi aku sering lambat menyapaNya…

Tuhan memanggilku. Melalui sakit Ia mengingatkanku. Tuhan masih menyayangiku. Bahkan dalam sentilan yang Ia berikan kepadaku, Ia turunkan berbagai rahmat kepadaku. DiberiNya aku kesulitan, tapi kemudian diberiNya aku kemudahan. DiperlihatkanNya aku kesusahan, tapi kemudian ditampakkanNya padaku kesenangan. DiturunkanNya aku aral yang melintang, tapi dihadiahkanNya aku banyak dewa penolong yang tak terduga dan tak terbayangkan…

Hujan masih menderaskan airnya. Basah membasahi bumi. Aku menuju Tuhan, menghamparkan segenap cinta, harap dan penghambaan…

***

Kami melangkah pulang. Pikiranku dipenuhi berbagai ganjalan. Perang batin berkecamuk.

“Aku tak lagi mempercayai pengobatan herbal. Kukatakan pada dunia, jangan percaya pada janji belaka!”

“Sudahlah, Dek. Ikhlaskan saja. Jangan mengingat yang sudah lewat. Jangan menoleh ke belakang. Tatap ke depan. Mudah-mudahan apa yang sudah kita lakukan bernilai ibadah.” Suamiku menghiburku.

“Iya, tapi aku kesal pada janji sang terapis. Berapa banyak orang seperti aku yang terkuras uangnya demi janji manis mulutnya?”

“Ikhlaskan saja, Dek. Itung-itung kita memberi makan para karyawan di tempat pengobatan itu. Coba kalau kita tak sempat berobat di sana, bagaimana mereka menggaji karyawannya? Kita telah berusaha, dan ini mungkin jalan kita. Kembali ke dokter. Tak usah disesali yang sudah lewat.”

“Aku tak menyesali masalah biaya. Tapi karena terhipnotis janji penyembuhan itu, aku begini akibatnya. Fatal.”

Mobil yang dikendarai suami hampir bersenggolan dengan kijang putih yang muncul dari arah belakang. Syukurlah tak terjadi ciuman. Ah, konsentrasi suamiku terganggu dengan letupan rasa kesalku…

Kami sampai di rumah menjelang Maghrib. Kuhempaskan badanku di kursi depan TV. Duduk. Dengan beragam perasaan yang terus berkecamuk.

“Gimana, jadi operasinya kapan?” Saudara perempuanku, yang kebetulan datang untuk menemani anak-anakku, bertanya kepadaku.

“Ah, terlambat. Sudah tak bisa dioperasi.”

“Terus?”

“Suruh kemoterapi, minimal tiga kali. Setelah itu baru tindakan operasi.”

Suasana hening.

“Ini akibat kebodohanku. Lari dari dokter.”

Kegundahan terus menyergap jiwa. Tak tahu aku mesti berbuat apa. Tak ada pilihan lain. Semua serasa buntu. Gelap. Pekat. Bayangan kemoterapi dan operasi yang selama ini aku takuti, hingga sekuat tenaga aku berusaha menghindari, ternyata justru berlari kencang menghampiri. Hingga tak ada celah sedikitpun bagiku untuk bersembunyi. Apalagi berlari menjauhi.

Sungguh. Andaikan bisa aku ingin kembali memutar jarum jam. Kembali menuju ke dokter awal, dokter yang memintaku untuk dilakukan operasi pengangkatan seperti dulu. Aku tak takut lagi pada kata operasi. Tapi nasi telah menjadi bubur. Semuanya telah terlanjur. Di saat aku telah mantap memilih operasi, ternyata kondisiku tak memungkinkan lagi. Ada kegalauan di hatiku. Seandainya boleh membandingkan, tentu aku lebih memilih tindakan operasi dilanjutkan kemoterapi, daripada kemoterapi berulangkali dilanjutkan tindakan operasi. Fisikku, ya fisikku pasca kemoterapi, bakal seperti apa? Sanggupkah aku menanggung sakit pasca operasi?

Pelan tapi pasti, yang kutakuti akan datang  menghampiri. Tak bisa aku menghindari. Yang mampu aku lakukan adalah bertahan dan bersabar. Berjuang sekuat tenaga agar detik demi detik hidupku berjalan dengan penuh arti. Meski selalu naik turun perasaanku, aku tetap berusaha menjaga semangat itu, semangat untuk sembuh. Meski sebenarnya semangat itu tak selalu penuh.

Tugasku hanya berusaha. Berjuang dan berupaya. Tentang hasil biarlah menjadi urusanNya. Aku berharap aku bisa sembuh, meski tertatih-tatih aku mendapatkannya. Jika memang kesembuhan tak berpihak padaku, dan kematian pada akhirnya menghampiriku, aku pun pasrah menghadapinya. Mudah-mudahan perjuangan besarku akan dicatat sebagai amal olehNya. Mudah-mudahan rasa sakitku akan berbuah manis di alam sana.

Aku hanya berharap, baktiku sebagai istri dan ibu untuk dua anakku telah kutunaikan dengan sempurna…***

 

Bogor, Oktober 2010-

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung ibu Ida. Terima kasih mau berbagi pengalaman hidup yang luar biasa di Baltyra sini. Make yourself at home…

 

 

48 Comments to "Mencari Yang Tersembunyi"

  1. Itsmi  5 May, 2011 at 15:54

    SAW, saya kira pertanyaanmu wajar dan saya juga akan menjawab dengan serius.

    Sebagai atheist tentu saya juga sadar bahwa agama seperti Hindu yang sudah 5000 tahun, Kristen 2000 tahun dan Islam 1400 tahun itu tidak bisa menghilang dalam sekejab. Proses kesadaran, itu perlu waktu. Karena bagi saya atheist itu sama dengan kesadaran. Jadi kalau orang beragama saya mengerti. Karena keluar dari sesuatu pemikiran itu tidak mudah seperti yang di pikirkan.

    Kalau isteri, dia beragama dan tidak melihatkan di luar. Jadi hanya pada pribadinya. Jadi bukan seperti orang yang beragama pada umumnya dimana mana selalu Halleluya, GBU atau Salam Allaikum. Isteri beragama tetapi juga berpendidikan tinggi. Jadi dia tau pemikiran saya itu bukan pemikiran asal asal saja. Dan dia tau juga, efek sampingan yang negative dari agama.

    Saw, Cinta itu tidak tergantung pada agama. Untuk saya orang beragama ok ok aja, asal melakukan yang baik dan tidak merusakan orang lain. Begitu juga saya selalu katakan pada anak anak.

    Sama anak anak, kami mendidik secara netral dalam arti, kami terangkan apa artinya Kristen, Islam, Buddha, Hindu, Atheis, Agnost, Animisme dll. Begitu juga negatif dan positifnya. Jadi yang tua sudah sadar dalam hal hal ini.

    Jadi Saw, saya tidak membenci orang yang beragama, tapi tidak senang dengan orang yang bodoh. Karena orang bodoh membosankan karena selalu menutup diri dan tidak berani bertanya.

    Makanya Saw, saya menghargai pertanyaanmu.

  2. saw  5 May, 2011 at 14:20

    Itsme : boleh enggak saya nanya …

    gini lho,.. saya melihat ada dua hal yg bertentangan dengan pernyataan2 Itsme. Ini beerkaitan dengan pendidikan anak. Yg saya kenal, Itsme memiliki istri yg bertuhan. Dan kata Itsme, dikau membebaskan anak akan memilih menjadi bertuhan atau menajdi atheis. Jadi, tdk ada pendoktrinan terhadap anak berkaitan dengan ketuhanan. Untuk point ini, saya GA PERCAYA.
    buktinya : sebegitu sinisnya Itsme pada orang beragama, sehingga sering mendiskreditkan mereka sebagai orang2 yang tak berakal pintar, … masa’ trus anaknya dibiarin jadi orang2 yg tdk pinter juga??? Wah, kebayang, tiap liat anak istri berdoa, jangan2 Itsme juga bakal meradang ?

    masalahnya, ketika orang punya keyakinan bahwa berdoa kepada Tuhan bisa menentramkan hati, trus hati tenteram akan berdampak positif bagi proses pengobatan,.. ini pun Itsme tolak mentah2.

    kebayang sama saya, .. misaaaalll, anak Itsme memilih bertuhan, kemudian dia berdoa, Itsme bakal ngomong apa ya sama anaknya ? Apa juga bakal di kritik habis2an kayak kami2 yang di BAltyra ini ya ??

    hehehe,.. sorry Itsme, .. saya hanya penasaran aja.

  3. Nuchan  5 May, 2011 at 13:34

    Hahahhaha…ngakak-ngakak jumpalitan baca komennya si Itsmi No.37 hahhahhaa

    Emang kamu doang yg senang menggoda orang lain hahhahhaha
    Saya juga suka menggoda dirimu yg lucu dan kocak abis hahhahhaha
    Nga apa-apa koq…kalo Itsmi mau ngomong apa saja buat saya okay okay saja tuch hahhaha
    Malah kalo nga ada Itsmi, gairah saya lenyap untuk komentar hahhaha…kamu itu lucu tau…hahhaha…

    Kadang-kadang saya hampir yakin kalo Itsmi itu malaikat yg lagi menyamar jadi syetan hahhahhaa…

    Heh Itsmi, biarin aja bhs Indonesia mu belang bentong tapi kamu TOP BGT, karena masih setia pakai bahasa Indonesia…hahhahhaa…

    Banyak lo org Indonesia yg sudah lama di luar negeri itu kalo komen nga bisa lagi pake bhs Indonesia hhahahaha…justru kamu itu unik tau…mana atheis lagi..cerewet pulak…songong pulak….semuanya dech…

    Yah sudah salam tauco yah…silakan komen lagi yah….

    Btw gue nga terima dibilang otak gue karatan yah..emang besi apa bisa karatan segala…awas lo gue siram tauco pulak kau nanti ….hahhahhaa

    Sono latihan bhs Indonesia lagi yah..jangan bikin malu gue dong..udah tiga bulan koq bhs Indonesianya masih belang bentong…

    Jitak dulu yah..petokkkkkkkkkkkkkkssssssssssssssssssssss!!!!

  4. Itsmi  5 May, 2011 at 13:11

    Nuchan dengan komentar no 36 kepalamu memang harus di ketok, karena karatannya belum hilang….

    Pada umumnya hampir setiap artikel ada tuhan atau Allah, begitu juga komentar komentar. Kata lain Tuhan atau Allah sudah otomatisme di dalam otak penulis dan yang berkomentar.

    Saya akui sering komentar saya untuk banyak pembaca tidak bisa di ikutin karena otak tidak mampu dan juga pemikiran abstrak itu di kamus tidak ada padahal kalau saya mau percaya kata orang atau mengsugestikan, semua pembaca minimal sarjana.

    Contoh, seperti komentar orang bahwa kehamilan anak muda tidak ada kaitan dengan agama. Untuk orang yang mengakui seorang sarjana, ini pemikiran yang sangat sederhana. Begitu juga, banyak pemikiran pemikiran seperti sex, ekonomi (apa sebabnya Indonesia jadi Negara terkebelakang) dll ada kaitannya dengan agama. Karena Indonesia Negara beragama dan di tekan kan lagi dalam Pancasila. Jadi pemikiran tentu ada berdasar dari agama.

    Jadi pemikiran itu kita harus berpikir dari mana latar belakang pemikiran itu dan bagaimana teori dari latar belakang pemikiran itu. Makanya kalau baca komentar saya, baca baik baik. Saya akui, bahasa Indonesia saya tidak begitu bagus makanya tulis artikel, saya masih kesulitan karena kekurangan kata dan bahasa Indonesia tidak gampang karena masih banyak emosinya. Oh ya, komentar saya di Peony mengenai sambal taucho itu hanya sepagai godaan aja….

    Dengan pemikiran saya yang sudah terbiasa, jadi banyak orang melihat bahwa saya berkomentar hanya ngawur dan hanya berpikir bahwa berkomentar untuk melawan arus. Atau hanya merusak artikel orang.

    Karena dalam pergaulan sosial di Indonesia kritik itu tabu. Makanya negara kita tidak maju maju… tanpa kritik orang tidak berkembang….

  5. Nuchan  4 May, 2011 at 19:55

    Selamat malam waktu Jakarta Mbak Ida Cholisa…
    Pertama-tama perkenalankan nama saya Nuchan. Saya sebenarnya perempuan tulen, tapi karena nama saya cenderung aneh dan membuat para pembaca sering menduga saya ini jenis kelaminnya lelaki. Jadi kadang-kadang dipanggil Om lah,abang lah, bung lah…kadang-kadang lady boy lah pokoknya macem2 deh.

    Walaupun avatar saya sudah jelas kelihatan rambut gondrong kayak koboi kucai tapi nga ada yg mau percayalah. Secara zaman sekarang banyak juga cewe tapi ngaku cowo, atau sebaliknya cowo ngaku pulak jadi cewe…wadoh udah kebalik2 nie zaman hehhee…Tapi suwer mbak, saya perempuan tulen kog…

    Okay itu perkenalan dari saya yah….selamat bergabung di Baltyra ya mbak Ida. Semoga betah. Semoga tidak mengalami gegar budaya yah…

    Saya mau kasih masukan sedikit saja. Mungkin mbak Ida sebagai pendatang baru pasti terheran-heran lihat komen-komen yg masuk itu rada-rada unik kalau nga mau dibilang aneh dan cenderung sadis yah hehhehe

    Yg harus dicermati dan dimaklumi di Baltyra ini ya Mbak Ida :

    Isi komentar dan judul atau tema artikel itu lebih sering nga nyambung sama sekali.
    Contoh temanya ttg agama tapi komennya membahas dingklik atau apem metuthu atau beha atau seks

    Atau sebaliknya judulnya ttg seks atau apalah tapi yg dikomentari ttg agama melulu atau Tuhan melulu
    Tapi kalau yg ngomongin ttg Tuhan melulu itu di sini, cuma si ITSMI doank lo mbak Ida…

    Saya kasih gambaran sedikit ttg ITSMI. Itsmi itu mengaku manusia atheis. Tapi pesan saya ya mbak jangan percaya. Gimana mau percaya dari 500 artikel yg sudah tayang itu,Itsmi ini 70% pasti berkomentar tentang agama dan Tuhan. Kadang-kadang Tuhan diplesetin sama Itsmi ini dengan sebutan mahluk fiktif. Itsmi ini tahu sejarah dan aturan main untuk setiap agama besar yg ada di jagat raya ini…Saking hapalnya sejarah agama-agama di dunia ini, kita lagi ngomongin sambel tauco eeehhhh Itsmi malah komentar ttg Tuhan lagi Tuhan lagi..padahal apa hubungan tauco ama Tuhan yah? Tapi itulah si Itsmi mbak…

    Itsmi itu sebenarnya malaikat lagi menyamar jadi syetan mbak..Emang dia ditugaskan untuk menguji setiap orang yg percaya dan mengaku ada Tuhan…Nah Itsmi ntar suka bertanya dan membuat komen yg serba terbalik-balik mbak..kadang2 kita suka dibikin bingung dengan pertanyaan ataupun komennya yg serba nga jelas..jadi mbak harus latihan dulu ngadepin si Itsmi…

    Kalau saya berhadapan sama Itsmi itu cukup ketawa-ketawa jumpalitan ajalah..emang dia lucu dan kocak khan?
    Mana bhs Indonesianya belang bentong kayak orang lagi benerin truck hehhehehe

    Nah abis ini Itsmi pasti nongol, bawa cuka atau bawa tauco nie? (kita tunggu yah)

    Udah segitu aja ya mbak Ida…Met bergabung yah…

    Salam hangat dari jauh-Nuchan

  6. Ida Cholisa  4 May, 2011 at 19:21

    Mbak Dewi yang baik, saya telah mengijinkan tulisan saya dishare di sini. Mudah2n tanggapan yang menyertai tulisan saya adalah tanggapan yang memberikan kebaikan dan kesejukan, bukan sebaliknya. Mhn maaf jika ada kata atau kalimat saya yang salah. Terima kasih.

  7. Nuchan  4 May, 2011 at 17:07

    Itsmi Says:
    May 3rd, 2011 at 21:28

    Nuchan, benar sekali kamu, di dalam pemikiran orang beragama, harap si Itsmi masuk surga tetapi sekaligus, orang beragama bicara mengenai toleran dan cinta hahahahahah

    si Nuchan, otaknya udah mulai cair hahahahahahah

    Itsmi yg baik yg atheis yg bakal masuk neraka yg selalu bikin nuchan ngakak-ngakak jumpalitan hehehe
    Saya salah satu orang Indonesia yg masih mengaku berwarganegara Indonesia yg selalu sinis dan muak dengan orang yg mengaku beragama…Saya sering jijik lahir batin lihat orang yg mengaku beragama, tapi suka mendikte gaya hidup orang lain…

    Dalam beberapa hal saya setuju dengan Itsmi…betapa menggelikan melihat orang beragama itu, sering kotbah tentang cinta kasih tapi mulutnya setajam silet…sering merasa sok suci sok bener sendiri (kesannya sombong rohani, saya kurang tahu kamu paham tidak sombong rohani itu…maksudnya serasa surga miliknya sendiri..entah surga yg mana, saya pun kurang tahu) …saya malah jijik dan muak dengan orang2 seperti ini…pengen masuk surga koq membunuh orang lain dulu pake bom….surga yg mana??? Tuhan yg mana pulak itu menerima orang masuk surga dengan membunuh manusia lain yg dianggap kafir…Malah ada yg mengidolakan Osama bin Laden seperti Tuhan hanya karena dia bisa membunuh banyak orang kafir…dimana letak logikanya??? Hanya orang beragama yg bisa jawab…(Entah apa pulak definisi kafir di Indonesia ini)

    Kotbah soal moral dan bla..bla..bla, tapi dirinya sendiri nonton video porno..beristri banyak dimana2, yah korupsi yah tipu menipu, memperdaya orang lemah dan lain-lain…( secara atribut kesannya suci dan tak bernoda …wadohhhhh rapi jali dech…tapi implementasinya..serahkan saja kepada rumput yg bergoyang)
    Kotbah diTV kayak orang paling bener banget..tapi tingkah lakunya bikin saya mau muntah…menjijikkan…

    Yg paling lucu, Ada orang yg punya gelar atau titelnya menunjukkan seolah-olah terdidik secara akademis…tapi mulutnya setajam silet dan belati…..gelar2nya sudah penuh..yg belon ada cuma “ALM” (almarhum) saja wadohhhhh somse (sombong sekali) nga mau dianggap manusia biasa maunya dianggap manusia luar biasa…entah dimananya yg luar biasa, saya kurang tahu….seringkali mereka yg terdidik secara akademis dan plus merasa memiliki agama yg paling benar…Dan merasa penumpang VIP menuju surga..entah surga yg mana saya pun kurang tahu…tapi banyak sich manusia yg kayak gini …khususnya orang Indonesia…(Orang-orang kayak gini bicaranya sok bijak tapi jangan heran tiba2 nanti dia komen kayak malaikat yg tiba2 berubah menjadi syetan…yg begini juga ada)

    Jadi kalau ITSMI rada sinis melihat orang beragama itu, saya sangat sangat memahami cara pandang kamu sebagai orang atheis….( dalam hati saya juga sering geli melihat orang beragama yg sombongnya luar biasa…wadohhhh mereka itu lulus secara atribut-atribut doank sich)

    Udah ahhh koq kayak curhat yah…mendingan kita makan tauco dulu ya Itsmi jelek…
    Itsmi jelek, saya pergi dulu yah..mau makan2 dulu yah…
    Salam jitak jidatmu sampai modar yah…biar otakmu encer…Ciaooo!!!

  8. Dewi Aichi  4 May, 2011 at 08:23

    Selamat datang di rumah ini bu Ida…..kami senang bertambah lagi anggota keluarga, senang ibu berbagi pengalaman hidup disini….terima kasih kembali dan lam hangat..!

  9. Kornelya  4 May, 2011 at 00:45

    Itsmi, gampang nanti kita bisa saling mengenal, dari auto tato logo Baltyra di jidat masing-masing. Nanti aku kasih tanda dengan bertepuk tangan. Haahaha. Salam.

  10. SU  3 May, 2011 at 22:17

    Copas komen Kornelya di no 23. Hihihi Kornelya msh boleh copas kan? Blm di hak patenkan?Tx ya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.