Dasar China (3): Catatan Perjalanan ke Dongwang

Handoko Widagdo – Solo

 

Adat dan Pembangunan

Salah satu kesibukan yang saya lihat di semua desa-desa tradisonal yang saya kunjungi adalah membuat rumah. Jangan anda bayangkan bahwa rumah yang mereka buat berukuran 21 meter persegi seperti yang sekarang dibangun di negeri kita.

Mereka membangun rumah dengan ukuran 40 X 50 meter persegi dengan tiga lantai! “Apakah ini rumah komunal?”, saya bertanya kepada Nyima yang adalah orang Tibet. Bukan. Ini rumah untuk satu keluarga saja. Biasanya suami, istri dengan dua anak, dia menjawab. Mengapa memerlukan rumah sebesar ini jika hanya berempat?

Pada suatu kesempatan saya diajak masuk ke rumah salah satu pimpinan desa. Ternyata bangunan 40 x 50 itu terdiri atas halaman, seluas kira-kira 10 X 40 meter, bangunan utama tiga lantai. Lantai pertama dipakai untuk gudang untuk menyimpan alat-alat pertanian, pupuk, benih dan lainnya. Lantai dua untuk tempat tinggal yang berupa tempat tidur, dapur yang sekaligus tempat berkumpul keluarga dan untuk menerima tamu. Lantai tiga dipakai untuk menyimpan barley, wheat dan jagung serta hasil panen lainnya. Dasar China!

Sudah saya singgung di atas bahwa jalan-jalan yang membuka akses dari satu desa tradisional ke desa tradisional lainnya telah dibuka. Ini suatu pembangunan skala besar yang masif. Sebuah upaya yang luar biasa untuk menaklukkan alam. Namun, meski pembukaan akses dilakukan dengan sangat cepat – mobil dan hp bisa menjangkau semua desa tradisional, upaya pelestarian budaya tidak dilupakan. Kami sempat terhenti selama setengah jam karena sedang ada upacara di depan sebuah pagoda. Upacara menari ini adalah merupakan upacara ucapan Syukur.

Kami juga menemukan upaya pelestarian pembuatan karpet di salah satu desa yang kami kunjungi.

Modernitas, pembangunan masif digabung dengan pelestarian budaya? Dasar China!

 

Anak dan Perempuan

Ada yang berbeda menyaksikan anak-anak orang Tibet dengan anak-anak China di perkotaan. Anak-anak Tibet seperti kurang mendapat perhatian. Hal ini mungkin disebabkan karena kebijakan satu keluarga satu anak tidak berlaku bagi suku Tibet. Mereka rata-rata memiliki dua atau tiga anak.

Kurangnya perhatian terhadap anak-anak mungkin juga disebabkan banyaknya kesibukan desa-desa kecil tersebut. Dengan rata-rata penduduk 20-25 keluarga, maka semua tenaga harus dikerahkan untuk menghasilkan pangan yang cukup, tempat tinggal yang layak yang bisa melindungi mereka dari dinginnya hawa pegunungan dan sengatan teriknya matahari di siang hari.

Di desa-desa tradisional yang dekat dengan desa induk, biasanya ada Sd sampai kelas tiga dengan tiga guru yang tinggal di sekolah. Sementara untuk desa-desa yang jauh hanya terdapat satu guru, meski SD-nya juga sampai kelas tiga. Untuk melanjutkan sekolah mereka harus ke desa induk. Sementara untuk SMP dan SMA mereka harus masuk ke boarding school yang terdapat di kabupaten.

Perempuan Tibet sangat sibuk. Mereka terlibat dalam semua urusan. Perempuan bertanggungjawab atas ketersediaan pangan. Lelaki membantu dalam pengolahan tanah, menanam dan memanen tanaman pangan. Selebihnya pekerjaan pertanian adalah pekerjaan perempuan. Ternak adalah tanggung jawab perempuan.

Urusan rumah tangga adalah tanggung jawab perempuan. Bahkan dalam membangun rumah, perempuan dilibatkan dalam mengangkut pasir dan menyediakan makanan. Beryukurlah kepada Allah yang mengaruniakan payudara yang tidak berat kepada perempuan Tibet. Sebab mereka harus mengangkut banyak barang. Bersyukurlah kepada Allah untuk kerelaan para lelaki Tibet yang tidak terobsesi menikmati payudara besar.

 

Makanan

Menurutku tidak ada sistim pangan yang lebih efisien daripada yang ada disini. Siklus energi berputar sangat pendek. Semua bahan pangan tersedia secara lokal. Barley dan wheat serta kentang ditambah dengan daging babi dan sayuran adalah makanan mereka sehari-hari. Semua bahan tersebut tersedia disekitar pemukiman mereka. Babi diberi makan jagung yang ditanam di sekitar desa. Semua sisa makanan juga diserahkan kepada babi. Kotoran manusia dijadikan pupuk atau dimakan babi. Energi berputar dengan cepat dan sangat efisien dalam sistim ini. Hari ini masih sampah, mungkin besok sudah tersaji di meja makan. Dasar China!

Dasar China, semuanya serba luar biasa, meski tidak semua bisa dimengerti.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

97 Comments to "Dasar China (3): Catatan Perjalanan ke Dongwang"

  1. Handoko Widagdo  9 May, 2011 at 18:26

    Ayla, memangnya Flores sudah ada listrik to?

  2. Anastasia Yuliantari  9 May, 2011 at 18:23

    Komen no 92….luwih ngirit maneh nek koyo nggonku…sering giliran listrik.
    Hehehehehe.

  3. Handoko Widagdo  9 May, 2011 at 15:56

    Lha kalau BB dan BBM itu jelas diluar jamanku. Jamanku itu ya telegram dan perangko. Beda budaya kan?

  4. Andi Mangesti  9 May, 2011 at 15:23

    Bayarnya pake tulang yaaaaa… Bleki courier services… eh DP… Doggiepost

  5. Agatha  9 May, 2011 at 15:21

    JC apa itu BBM? Bleki Bleki Message?

  6. J C  9 May, 2011 at 15:08

    Hahahaha..pengamatan Agatha cespleng pas bener. Sama kayak dulu pertama kali Nokia Communicator populer, aku pernah lihat ada yang serius banget seperti mengerjakan sesuatu yang begitu penting. Aku iseng sengaja jalan dekat meja dia…eeeehhh…lagi sms…kalo sekarang mungkin lagi asik BBM atau FB’an kali ya…

  7. Agatha  9 May, 2011 at 15:04

    haha…. pak Handoko dan mba Andi lucu juga
    Tapi point (3) .. beneran looh… ***> [3. Hemat listrik di rumah… ngak nyalain AC.. lampu.. air…]
    salah satu Cara berhemat penggunaan energi di rumah… hemat bayar tagihan listrik

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.